
Lari atau tetap bertahan disini? Samuel menjadi bimbang sendiri. Kalau dia lari, Samuel tidak akan bisa membangunkan rekan rekannya. Kalau dia tetap berada disini, sudah pasti makhluk itu akan menemukannya dengan cepat.
Samuel semakin menutupkan kedua matanya saat makhluk itu semakin mendekat kearahnya, dengan cara berjalan yang tidak lajim dan sempurna. Makhluk yang berseragam anggota kepolisian itu mengendus area sekitarnya.
Hingga saat makhluk itu sedikit lagi sampai didekat Samuel, tiba tiba rak parfum yang tidak jauh dari samuel jatuh, membuat parfum yang terjajar rapih disana jatuh dan pecah. Aroma semua parfum yang pecah itu menjadi satu, bukannya membuat orang orang yang menghirupnya nyaman dengan aromanya. Namun malah membuat siapa pun yang menghirupnya akan terasa pusing.
Tetapi lain dengan makhluk yang terlihat kembali mengendus dan menjauh dari Samuel.Makhluk itu semakin mencari dimana asal aroma yang dia hirup saat ini, dan itu membuat Samuel menghembuskan nafasnya lega.
"Sam!"
Samuel mengedarkan pandangannya keseluruh area lorong saat mendengar seseorang memanggilnya. Samuel sempat menoleh kearah belakang tubuhnya untuk memastikan kalau makhluk itu sudah menjauh darinya. Pria itu menyusuri lorong yang akan membawa dia menuju rekan rekanya yang pasti masih tertidur.
"Ina! kenapa kau disini? bukannya aku sudah bilang tetap diam disana jang...,"
"Sssttt, tidak ada waktu untuk memarahiku. Sekarang mending kita bangunkan mereka sebelum makhluk itu sadar dengan keberadaan kita disini. Aku juga sudah mengambil beberapa parfum untuk menyamarkan aroma kita diluar nanti."
__ADS_1
Ina berbicara panjang lebar pada Samuel sembari memberikan satu botol parfum yang harganya lumayan mahal. Ina yakin wangi dari parfum ini tidak akan cepat hilang.
"Ma, Zen, Aiko ayo bangun!" Ina menepuk pelan pipi serta lengan ketiga orang yang masih terlelap dalam mimpi mereka masing masing.
"Ada ap..,"
Ina segera membekap mulut Aiko saat gadis itu ingin mengeluarkan suaranya, Ina hanya menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan agar Aiko tidak bersuara dan gadis itu mengangguk.
"Ayo kita keluar dari sini, pelan pelan jangan sampai mengeluarkan suara sedikit pun. Makhluk itu ada disini, kalian mengerti maksudku kan?"
Samuel mengangkat sebelah tangannya untuk mengisyaratkan mereka yang berada dibelakang tubuhnya berhenti. Setelah merasa aman Samuel membuka pintu kaca itu, lalu segera mengisyaratkan mereka agar cepat keluar.
Tanpa menunggu Ina dan yang lainnya segera mengikuti interuksi Samuel, begitu semuanya sudah keluar kini giliran Samuel yang segera berlari meninggalkan mini market tempatnya bersembunyi tadi.
Samuel bahkan tidak lupa untuk meraih pemukul bassballnya yang sengaja dia letakan diatas meja kasir.
__ADS_1
"Kita akan kemana lagi Sam?"
Ina menatap kearea sekitar, fajar mulai menyingsing dari arah barat. Sudah terlalu jauh mereka berlari, dan kini malah berlari kembali menuju area kota. Padahal mereka sejauh ini pergi untuk pergi dari kota ini, bukannya kembali.
"Kita keperusahaan Ayahku, aku yakin kita akan aman disana."
Samuel segera menarik lengan Ina, langkah keduanya diikuti oleh Anita dan Zean. Sedangkan Aiko dan yang laiinnya masih terduduk diaspal untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
"Keperusahaan Ayahmu?"
Ina kembali bertanya pada pria yang tengah mengenggam jari jari tangannya dengan erat.
"Iya, dan aku akan meminta pertanggung jawaban dari pria tua itu."
Samuel terlihat mengepalkan satu tangannya yang terbebas, sementara Ina, Anita dan Zean hanya menatap heran pada Samuel. Mereka bertiga tengah berfikir hal yang sama saat ini, jangan jangan perusahaan yang dimaksud oleh Samuel adalah perusahaan tempat Papa mereka bekerja.
__ADS_1
SEMOGA KALIAN SUKA, THANK'S