
-Dibalik sikap diam lo. Lo pasti sedang menutupi rasa sakit di hati lo.-
Rachel Lucia
°°°°°
Alarm dari jam beker berwarna hitam pun berbunyi, mencoba membangunkan pemiliknya yang kini sedang tertidur pulas tanpa menghiraukan cahaya matahari yang sudah menerobos masuk melalui celah - celah jendela kamarnya. Gadis itu merasa terganggu dan segera meraih jam beker di nakas lalu melemparnya ke karpet yang menyelimuti lantai kamarnya.
Berisik banget sih! Batinnya kesal.
Baru saja gadis itu ingin melanjutkan tidurnya, terdengar suara ketukan pada pintu kamar yang membuatnya menggerutu kesal karena tidurnya terganggu.
Tok... Tok... Tok...
"Apalagi sih nih? Ganggu aja" gerutu gadis itu sambil bangkit dari tempat tidurnya lalu membuka pintu.
"Siapa? " tanyanya dengan mata terpejam.
"Bi Ira, non"
"Ada apa, bi?"
"Tadi nyonya minta saya untuk bangunin non, karena hari ini hari pertama non sekolah. Nyonya tidak ingin non Caitlin terlambat."
"Sekolah? Oh iya, hampir aja lupa. Makasih yah bi" Caitlin mengusap wajahnya kasar.
"Iya, non. Saya permisi"
Caitlin bergegas menutup kembali pintu kamar, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Caitlin menghampiri keluarganya yang sedang sarapan di meja makan.
"Morning" sapanya lalu duduk disamping Diana, Mommy nya.
"Morning" jawab mereka kompak terkecuali Joshua. Mendengar itu Caitlin tersenyum miris karena tahu Joshua tidak menjawabnya bahkan tidak ingin berbicara padanya.
Caitlin mengambil dua lembar roti tawar lalu mengolesinya dengan selai coklat kesukaannya dan meminum segelas susu sebagai sarapnnya. Mereka sarapan dalam diam tak ada satupun yang bersuara, sampai Kenan yang memulai.
"Hari ini Caitlin dan Joshua berangkat bareng Kak Alan. Kalian tidak ada yang boleh bawa kendaraan hari ini." pinta Kenan membuat Caitlin dan Joshua menatap kearahnya seakan tak terima.
"Tapi---" ucapan Caitlin terpotong.
"Enggak bisa!" jawab Joshua.
"Tidak ada penolakan, atau fasilitas kalian daddy sita selama sebulan"
"What?" ucap Caitlin dan Joshua bersamaan.
"Just today dear!" timpal Diana.
"Oke, oke" jawab Caitlin pasrah.
"Hhaaiishh" Joshua mendengus kesal.
Dalam perjalanan, ketiganya sibuk dengan kegiatannya sendiri. Alan fokus dengan jalanan didepannya, Joshua sibuk dengan game di iphonenya dan Caitlin yang memandang gedung - gedung tinggi pencakar langit melalui kaca mobil di sebelah kirinya.
Sebuah mobil range rover berwarna merah Memasuki pekarangan sekolah SMA tunas Harapan. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Joshua keluar dari mobil Alan.
🌿🌿🌿
"Ka, aku turun dulu." pamit Caitlin sambil mencium punggung tangan Alan.
"Yeah, have a nice day" jawab Alan.
Setelah itu, Caitlin segera keluar dari mobil lalu mengejar Joshua yang sudah mendahuluinya sejak tadi.
"Ka Willy tunggu!" panggilnya sambil berlari mengejar Joshua. Mendengar Caitlin memanggilnya, dengan cepat ia mempercepat langkah kakinya.
"Kak Willy tunggu!" panggil Caitlin lagi dengan napas terengah karena berlari.
Karena kesal Joshua pun berhenti lalu membalikan tubuhnya dan menatap tajam Caitlin di hadapannya.
"Jangan pernah panggil gue dengan nama itu di sekolah! Dan jangan pernah ganggu gue selama di sekolah!" tegas Joshua dengan nada suara yang meninggi. Dia kembali berjalan menuju kelasnya tanpa menghiraukan gadis yang pernah menjadi salah satu kebahagiaannya.
"Maaf, tapi aku cuma mau nanya ruang Kepala Sekolah dimana? Aku enggak tau" jawabnya pelan namun masih terdengar oleh telinga Joshua.
Melihat sikap Joshua yang tidak ingin diganggu, Caitlin memutuskan untuk mencari ruang Kepala Sekolah sendirian. Sudah hampir sepuluh menit gadis itu belum bisa menemukan ruang Kepala Sekolah, dan tak satu orang pun terlihat di koridor yang ia lewati.
Caitlin merasa lelah duduk di bangku sambil bersandar di tembok dekat mading.
Dimana sih ruangannya?
Seorang laki - laki memperhatikannya dari kejauhan dan menyuruh seseorang untuk membantu gadis yang sedang kebingungan mencari ruang Kepala Sekolah.
"Heh! Kamu?" panggil laki - laki itu pada seorang perempuan di hadapannya.
"Saya kak?" Tanya perempuan itu.
"Iya, kamu"
__ADS_1
"Ada apa ka?
"Saya butuh bantuan kamu" jawab laki - laki itu lalu mendekati perempuan itu dan membisikan sesuatu padanya.
"Baik ka"
"Dan kamu jangan bilang kalo saya yang suruh kamu" pinta laki - laki itu dan mendapat anggukan dari perempuan yang ia mintai bantuan.
"Ya udah sana!"
Perempuan itu pun pergi meninggalkan laki - laki itu, dan melaksanakan perintah yang diberikan olehnya.
"Permisi, pasti lo lagi cari ruang kepala sekolah yah?" Ucapnya pada seorang perempuan berparas cantik seperti model yang sedang duduk sambil mendengarkan lagu melalui headphone yang ia lingkarkan di lehernya. Dan orang yang ditanya hanya menggangguk pelan.
"Ayo ikut gue!" ajak perempuan itu dan hanya mendapat anggukan dari perempuan yang ada di hadapannya.
Kedua perempuan itu, jalan beriringan menuju ruang Kepala Sekolah tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.
"Lo pasti anak baru, kalo boleh tau nama lo siapa?" tanya perempuan yang sedang melaksanakan perintah dari kakak kelasnya.
"Caitlin Emma Gibson" jawab perempuan disampingnya.
"Oh, nama lo bagus juga. Kalo gue Rachel Lucia. Panggil aja Rachel." ucap perempuan itu lagi dan hanya mendapat anggukan kecil dari perempuan disampingnya.
"Eh tunggu, tunggu. Nama lo tadi 'Caitlin Emma Gibson' berarti lo anak dari Kenan Gibson pengusaha terkenal itu dong?" tanyanya membuat Caitlin jengah.
"Hmmm" jawab Caitlin dingin.
"Wow, enggak nyangka banget bisa ketemu sama anaknya. Ternyata lebih cantik aslinya daripada di TV" comelnya. Namun, sama sekali tak mendapat jawaban dari Caitlin.
Caitlin mulai merasa terganggu dengan pertanyaan perempuan itu lontarkan padanya. Itu sangat mengusiknya.
"Dimana ruang Kepsek?" Tanya Caitlin ketus.
"Itu udah deket" jawab Rachel sambil menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Saat sampai di depan ruangan Kepala Sekolah, Rachel menghentikan langkahnya dan meninggalkan Caitlin yang hendak masuk ke ruangan itu.
"Yang ini ruangannya! Kalo gitu gue ke kelas dulu. Bye" pamit Rachel lalu berbalik menuju kelasnya.
"Thank's" ucap Caitlin dengan senyuman indahnya.
Astaga cantik banget, ini manusia apa malaikat ? Cantik banget. Rachel berdecak kagum dalam hatinya.
Tok... Tok... Tok...
Caitlin mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah, lalu masuk ke ruangan itu.
"Iya, ada apa?"
"Eh... saya---" ucapan Caitlin terpotong.
"Kamu sudah datang?" tanya seorang laki - laki tua yang datang dari ruangan lainnya yang terhubung dengan ruang Kepala Sekolah.
"Sud--. Grandpa?" teriaknya karena terkejut lalu berlari memeluk laki - laki tua itu.
"Kau sudah besar,tambah tinggi dan tambah cantik" puji laki - laki tua itu.
"Cait kangen banget sama grandpa." ucapnya sambil melepas pelukannya pada laki - laki tua itu.
"Grandpa juga kangen sama cucu grandpa yang cantik ini." ucapnya sambil menggoda cucu perempuannya.
Caitlin hanya menanggapi kakeknya itu dengan memberikan senyum sumringahnya.
"Bu Rahayu perkenalkan ini cucu saya sekaligus siswa baru di sekolah ini. Dan Caitlin ini Bu Rahayu selaku Kepala Sekolah SMA Tunas Harapan" jelas laki - laki tua itu.
"Caitlin Emma Gibson."
"Yah, Sebentar saya lihat data kamu dulu." ucap Bu Rahayu sambil membolak - balikan kertas pada map.
"Baik, bu."
"Cait, Grandpa pergi dulu. Baik - baik di sekolah. Bu Rahayu jika sudah ketemu datanya tolong antarkan Caitlin ke kelasnya."
"Baik, pak Aldian" Aldian pun meninggalkan ruangan itu.
"Caitlin? Mari ikut ibu! Kamu akan masuk kelas XI IPA1" Ucap Bu Rahayu dan Caitlin mengangguk mengerti.
Bu Rahayu berjalan menuju kelas XI Ipa1 dengan diikuti Caitlin dari belakang. Sesampainya di kelas itu, Bu Rahayu memberi salam dan mengatakan sesuatu.
"Selamat Pagi, anak - anak" Seru Bu Rahayu dari ambang pintu.
"Pagi, bu Rahayu" jawab siswa kelas XI Ipa1 bersamaan.
"Ibu minta perhatiannya sebentar, hari ini kalian kedatangan murid baru dari Los Angeles." ucap Bu Rahayu terhenti sejenak dan kembali melanjutkan pembicaraannya. "Ibu persilakan untuk kamu memperkenalkan diri. Mari!" ucapnya lalu Caitlin masuk ke kelas dan memperkenalkan dirinya.
"Hai, Perkenalkan nama saya Caitlin Emma Gibson. Kalian bisa panggil saya Caitlin."
"Gila, tuh cewek cantik banget." Seru salah satu siswa.
__ADS_1
"Ya sudah, Caitlin. Kamu duduk disamping David." Pinta Bu Rahayu yang membuat David mendongakkan kepalanya.
"Kalian jangan berisik sebentar lagi Pak Jaya akan masuk!"
Caitlin berjalan menuju tempat duduk yang berada di barisan kedua dari belakang. Saat Caitlin duduk, Devan menggeser kursinya menjauh seperti tidak suka. Tak lama setelah Caitlin duduk di tempatnya Bu Rahayu pun pergi meninggalkan kelas mereka. Lalu laki - laki yang duduk disamping Caitlin pergi keluar kelas dan meninggalkan pesan untuk temannya.
"Roy, kalo pak Jaya nanyain, bilang gue ke toilet." Ujarnya lalu pergi.
Caitlin hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Dan bergumam dalam hati kecilnya.
Huh arrogant!
"Hai cewek, boleh kenalan enggak?" Seru laki - laki itu sembari menyodorkan tangan ke hadapan Caitlin. Caitlin hanya menggangguk dan menjabat tangannya. Dan mereka masing - masing menyebutkan namanya.
"Caitlin"
"Roy."
Saat Roy ingin melanjutkan pembicaraan datang tiga perempuan centil ke hadapan Caitlin dengan tatapan tajam mereka namun Caitlin tak gentar sedikitpun.
"Minggir!" Bentak salah satu dari mereka kepada Roy.
"Apaan sih kalian bertiga? Ganggu kesenangan orang aja." Ujar Roy yang kemudian kembali ke tempatnya yang dibelakang David.
"Oh iya, kenalin kita bertiga 'The Red Velvet'. Dan lo tau?" Ucap perempuan itu lagi. Caitlin hanya menggeleng heran.
"Kita bertiga itu cewek paling hits di sekolah ini jadi kalo lo mau ngehits kayak kita lo bisa gabung bareng 'The Red Velvet'. Lagian muka lo juga masuk kriteria geng kita. Jarang - jarang lho kita yang ngajak gabung, biasanya mah pada ngemis - ngemis buat gabung sama kita." Ujarnya lagi yang membuat Caitlin semakin yakin kalau mereka orang yang kepedean dan sombong.
"Oh gitu yah? Sayangnya gue enggak mau. Maaf." Jawab Caitlin sedikit angkuh yang membuat amarah 'The Red Velvet' memuncak namun Caitlin tak peduli.
"Lo enggak tahu kita siapa? Gue Jasmin, Grace ,dan Fanny cewek paling berpengaruh di sekolah ini. Dan kita bisa aja keluarin lo dari sekolah ini." ujar Jasmin mengancam.
"I don't care" Jawab Caitlin sambil menaikan sebelah alisnya.
"Songong banget sih lo! Awas aj--" ucapan Jasmin terpotong.
"Woi! Pak Jaya otw ke kelas." Teriak Stella dan membuat siswa XI IPA 1 berhamburan kembali ke tempat duduk mereka masing - masing termasuk The Red Velvet.
"Awas lo yah!" ancam Grace.
"Selamat pagi anak - anak." Sapa Pak Jaya saat masuk ke kelas.
"Pagi, pak" Sapa siswa kelas XI IPA 1 serentak.
Saat Pak Jaya hendak memulai pelajaran Matematika, seseorang datang dari pintu dan kemudian duduk di tempatnya.
"Darimana kamu David?" Tanya Pak Joko yang membuat David mendongakan kepalanya cepat.
"toilet." Jawabnya singkat.
Caitlin memperhatikan penjelasan dari Pak Jaya dengan serius, karena Caitlin sangat menyukai pelajaran berhitung yaitu Matematika, Fisika, dan Kimia. Tapi, itu bukan berarti pelajaran yang lain dia tidak bisa. Dari SD ia selalu mendapat juara di kelasnya. Pak Jaya meminta salah satu orang untuk mengerjakan soal di papan tulis dan Caitlin dengan cepat mengacungkan tangannya bertanda ia ingin mengerjakan soal itu. Pak Jaya mempersilahkan Caitlin maju dan mengerjakan soal tersebut. Dengan cepat ia mengerjakan soal itu secara rinci menggunakan cara sesuai penjelasan yang diberikan Pak Jaya sebelumnya. Saat Caitlin kembali duduk, Pak Jaya membahas jawaban yang benar dari soal itu dan ternyata soal yang dikerjakan Caitlin jawabannya benar. Caitlin sangat senang karena ia bisa mengerjakan soal di hari pertama di sekolah dan di hadapan teman barunya.
Bel istirahat telah berbunyi dan waktunya semua siswa mendatangi kantin untuk makan siang.
"Hai Cait? Lo mau ke kantin enggak?" Tanya Roy yang menghampiri David.
"Enggak usah Roy, makasih." Jawab Caitlin yang melipat kedua tangannya di meja dan menyembunyikan wajahnya.
"Hei, lo cewek yang tadi pagi kan? Masih ingat kan? Gue Rachel Lucia." Seru Rachel yang muncul dari arah belakang karena gadis itu duduk di sudut belakang dan menyodorkan tangannya.
Caitlin mendongakkan kepalanya dan menggangguk pelan.
"Kantin yuk?" Ajak Rachel dengan menaikan kedua alisnya. Caitlin mengangguk setuju dan melangkah menuju kantin bersama. Di kantin Stella sudah menunggu kedatangan Rachel. Stella dan Rachel sudah berteman sejak mereka SMP.
"Darimana aja sih lo, hel?" Tanya Stella yang melahap Siomay.
"Nih gue habis kenalan sama Caitlin. Udah kenal belum lo?" Jawab Rachel yang menempatkan bokong di kursi kayu panjang dan diikuti Caitlin disampingnya.
"Oh. Kenalin gue Stella." Seru Stella yang menyodorkan tangannya dan senyum sumeringah. Caitlin membalas senyumnya dan menjabat tangan Stella.
"Caitlin".
"Lo mau pesan apa Cait?" Tanya Rachel yang menyeruput es teh manis milik Stella.
"Es jeruk aja satu" Jawab Caitlin seraya memberi uang lima puluh ribu miliknya.
"Lo enggak makan?" Tanya Rachel lagi.
"Enggak" Ujarnya canggung.
"Oh iya Cait kapan - kapan kita main bareng yuk." Ujar Stella antusias.
"Kemana?" Tanya Caitlin datar.
"Kemana aja." Jawab Stella.
"Oh iya, Caitlin kalo lo di gangguin The Red Velvet lagi bilang aja sama kita kita." Tambah Rachel mengingat kejadian di kelas tadi pagi.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Tbc
200116