
"Kalian paham kan dengan apa yang aku ucapkan tadi!"
Samuel menatap satu persatu orang orang yang ada disana, hingga tatapannya berakhir pada Inayna yang terlihat ragu untuk ikut menganggukkan kepalanya.
"Setelah aku membuka pintu ini, dan menghilangkan penghalang yang ada dibalik pintu ini, kalian segera lari."
Samuel kembali memberi arahan pada mereka, kali ini Ina terlihat sangat terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Lalu kau bagaimana Sam?"
Kali ini Ina angkat bicara, tidak mungkinkan pria ini menghadapi makhluk makhluk itu sendirian, padahal Samuel sudah berusaha untuk melindungi nyawa mereka. Lalu siapa yang akan melindungi nyawanya nanti?
"Jangan khawatir, aku akan berhati hati. C'mon guys, waktu kita tidak banyak. Sepertinya mereka sudah berhasil naik kelantai ini."
Samuel terlihat mengambil ancang ancang untuk membuka knop pintu setelah dia memperingati orang orang yang ada bersamanya.
Bahkan sebelum Samuel yakin untuk membuka pintu itu, Samuel menghirup nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Cengkraman salah satu tangannya di tongkat bassball yang dia bawa semakin erat.
"Let's go!" Samuel kembali bersuara untuk memberi arahan.
Braak!
Bugh
__ADS_1
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Saat pintu besi itu terbuka sempurna Samuel tindak menyia nyiakan waktu dan kesempatan yang ada. Pria itu memukuli salah satu makhluk itu dengan membabi buta. Bahkan Ina malah mematung dibelakang tubuh Samuel disaat rekan rekannya yang lain berlari tunggang langgang termasuk Adik dan Mamanya.
Namun apa yang dilakukan oleh Ina, gadis itu menatap nanar pada makhluk yang sudah terkapar diatas ubin putih dengan darah hitam kental yang keluar dari bagian kepalanya.
"Sam," Ina menepuk pundak Samuel saat pria itu terlihat mulai tenang dan sadar.
"Kau tidak lari?"
Ina meraih salah satu tangan Samuel yang masih terkepal erat menggenggam tongkat bassball. Ina tahu kalau saat ini Samuel masih terguncang, demi menyelamatkan mereka dia rela membunuh. Walaupun itu terpaksa namun Ina sangat mengerti kalau itu adalah hal yang sangat sulit.
"It's oke, kau tidak bersalah Sam. Keadaan yang salah, kau melakukan ini karena ingin melindungi kami dan dirimu sendiri. Jadi, jangan pernah merasa bersalah oke."
Ina mencoba meyakinkan Samuel agar pria itu tidak merasa tertekan karena rasa bersalah tengah menyelimuti hatinya. Pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia sehat terhadap makhluk makhluk itu.
Samuel berbalik, wajah pria itu terlihat pias. Bahkan dia tidak henti hentinya menatap pada telapak tangan serta makhluk yang sudah tak bergerak lagi itu.
__ADS_1
"Aku membunuhnya Nay, aku membunuh Miss Elena."
Samuel menjatuhkan tongkat bassballnya, kedua tangannya bergetar. Tatapannya terlihat takut dan gelisah, bahkan Ina dapat melihat nafas Samuel terlihat tak beraturan.
"Ssssttt, tidak apa apa, kau melakukan semua ini demi bisa bertahan hidup. Melindungi mu dan nyawa kami semua."
Ina menangkubkan kedua tangannya pada wajah pias Samuel, gadis itu menampilkan senyuman tipisnya guna menenangkan hati dan perasaan Samuel saat ini.
"Huufftt...!"
Samuel menghembuskan nafasnya kasar, dia kembali meraih tongkat bassballnya yang dia jatuhkan tadi. Satu tangannya meraih tangan Ina yang ada diwajahnya, lalu membawanya menuju bibirnya.
Cup...
"Ayo! yang lain sudah menunggu kita." Samuel terlihat mulai tenang, pria itu dengan cepat menarik lengan Inayna agar mengikuti langkahnya. Mereka menuruni tangga darurat dari pintu darurat yang mereka buka tadi.
"Kenapa kalian masih disini? bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk lari!"
Samuel ingin mengerutuki orang orang yang masih terdiam ditempatnya masing masing tanpa ada yang mau menggerakan kakinya sedikit pun. Padahal tadi Samuel dan Ina melihat kalau Aiko, Anita,Zean dan yang lainnya sudah berlari menjauh.
"Sam!"
Ina berseru pada Samuel, dia menarik ujung jaket tebal yang tengah dipakai oleh Samuel saat melihat segerombolan makhluk makhluk itu sedang berjalan kearah mereka.
__ADS_1
JANGAN LUPA BUAT DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEMOGA KALIAN SUKA, THANK'S