SURVIVE

SURVIVE
Embarassing


__ADS_3

-Hal memalukan dan konyol yang pernah lo lakukan suatu saat nanti akan diingat oleh orang lain saat orang itu merindukan lo-


Rachel Lucia


°°°°°


Caitlin yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu terkejut, saat melihat Joshua berjalan dengan sedikit berlari menuju kamarnya dan membanting keras pintu kamarnya.


Kak Willy? Dia kenapa? Tanya Caitlin dalam hati.


Caitlin berniat membuat makanan kesukaan Joshua agar amarah kakaknya bisa mereda. Caitlin pun segera ke dapur dan menyiapkan bahan - bahan untuk membuat makanan kesukaan kakaknya yaitu ; pancake rasa moccachino. Karena Joshua sangat suka rasa moccachino.


Setelah pancake moccachino sudah siap, Caitlin meminta Bibi Ira untuk mengantarnya ke kamar Joshua. Karena Caitlin tidak mau jika dia yang mengantarnya Joshua malah tak mau memakannya bahkan menerimanya. Bibi Ira pun menuruti permintaannya dan tak lupa ia berpesan pada Bibi Ira untuk tidak memberitahu bahwa dirinyalah yang membuat pancake tersebut.


Bibi Ira juga menyetujuinya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Joshua.


Tok...Tok...Tok


"Siapa?" Teriak Joshua dingin.


"Bi Ira, den." Jawab Bi Ira sedikit gemetar.


Joshua membuka pintu dan bertanya lagi.


"Ada apa bi?" Tanyanya yang menurunkan nada bicaranya.


"Ini buat den Joshua." Jawab Bi Ira lalu menyodorkan nampan yang berisi segelas susu putih dan sepiring pancake moccachino ke hadapan Joshua.


"Makasih bi. Siapa yang bikin?" Tanya Joshua lagi.


"Ehhh,,,, sasasaya den." Jawab Bibi Ira gugup.


"Beneran?" Tanya Joshua lagi sambil melahap pancake kesukaannya itu. Namun, ia menyadari Bibi Ira berbohong padanya.


"Iya den, beneran." Jawab Bibi Ira lagi.


"Joshua bisa bedain mana buatan gadis itu sama buatan Bi Ira. Ini pasti buatan Caitlin kan? Jujur aja bi" Tanya Joshua meyakinkan Bibi Ina.


"Iya, den itu buatan non Cait. Maaf, bibi terpaksa bohong. Ini permintaan non Caitlin, soalnya non Caitlin takut kalo bibi jujur den Joshua enggak mau makan pancakenya. Maaf den." Jawab Bibi Ira dengan jujur.


"Oh" Ujar Joshua santai dan mulut membentuk 'o'.


"Ya udah bibi ke dapur dulu ya den." Pamit Bibi Ira yang kemudian meninggalkan Joshus.


"Bi, panggilin Caitlin suruh ke kamar Joshua sekarang." Ujar Joshua kemudian menutup pintu kamarnya.


Den Joshua enggak marah? Tumben? Batin Bibi Ira heran.


Saat bertemu Caitlin di dapur Bibi Ira segera memberitahu gadis itu jika Joshua sedang menunggunya di kamar. Caitlin terkejut dan tidak percaya dengan apa yang diceritakan okeh Bibi Ira bagaimana mungkin Joshua tidak marah sama sekali ketika tahu pancake itu ia yang buat.


Kak Willy enggak marah? Kok tumben, Tanyanya dalam hati bingung.


Caitlin menuruti permintaan Joshua untuk menghampirinya di kamar. Sejujurnya perasaan Caitlin tidak karuan disatu sisi ia merasa senang tapi disisi lain ia juga merasa takut jika Joshua akan memarahinya lagi. Caitlin tetap memberanikan diri datang ke kamar Joshua dengan tubuh gemetar ia mengetuk pintu kamar kakaknya itu lalu menekan kenop pintu ke bawah. Joshua melihat ke ambang pintu, ia melihat orang yang ia tunggu sudah datang. Kemudian, laki - laki itu mempersilahkan Caitlin duduk dan mulai berbicara.


"Mau lo apa?" Tanya Joshua yang asik melahap pancake moccachino buatan Caitlin.


"Maksud ka Willy?" Tanya Caitlin yang merasa bingung dengan pertanyaan yang dikatakan Laki - laki di hadapannya.


"Yah, mau lo apa? Selama ini kan lo selalu ngejar - ngejar buat ngejelasin sesuatu, apa yang mau lo jelasin?" Tanya Joshua yang membuat Caitlin gugup. Caitlin bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Joshua, namun laki - laku itu menahannya.


"Mau kemana? Katanya lo mau ngejelasin semuanya, sekarang gue udah mau denger penjelasan lo. Kenapa lo malah pergi?" Ujar Joshua sedikit ketus. Caitlin tidak menggubrisnya dan memilih untuk meninggalkan kamar itu. Gadis itu merasa heran dengan sikap kakaknya yang tiba - tiba berubah manis kepadanya.

__ADS_1


Kenapa tiba - tiba dia baik kayak gitu ke gue? Enggak kayak biasanya. Apa ada yang dia rencanain?


🌿🌿🌿


Caitlin merentangkan tangannya lebar - lebar lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Gadis itu selalu bangun siang saat hari minggu tiba. Ia berjalan menuju balkon kamarnya untuk merasakan udara pagi ini. Caitlin memejamkan matanya dan merasakan segemelintir udara pagi menerpa tubuhnya. Terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya , Caitlin cepat - cepat menghentikan kegiatannya dan segera membukakan pintu kamarnya. Terlihat wanita paruh baya dengan nampan di tangannya yang berisikan segelas susu putih dan nasi goreng serta segelas air putih yang ia bawakan untuk gadis itu. Dengan cepat Caitlin mengambil alih nampan yang Bibi Ira bawakan lalu meletakkannya di meja belajar.


"Makasih yah, bi." Ujar Caitlin yang kembali menutup pintu kamarnya. Gadis itu menarik handuk putih dari jemuran lalu bergegas untuk membersihkan tubuhnya sebelum ia sarapan dan melakukan aktifitasnya hari ini.


"Mau kemana? Katanya lo mau ngejelasin semuanya, sekarang gue udah mau denger penjelasan lo. Kenapa lo malah pergi?" Perkataan Joshua semalam masih terngiang di telinganya. Caitlin bingung harus bagaimana sekarang ? Apa dia harus menjelaskan semuanya sekarang? Tapi, kenapa tiba - tiba Caitlin merasa tidak yakin jika Joshua akan percaya padanya.


Enggak, jangan sekarang. Gue belum siap.


Caitlin merasa bosan dan mencoba mencari aktivitas yang membuatnya sedikit lelah, pikirannya tertuju pada samsak yang ada di lantai bawah dekat kolam renang. Gadis itu segera menuju lantai bawah untuk melatih kemampuan bela dirinya. Ia merindukan melakukan pukulan - pukulan kearah samsak berwarna hitam milik Alan karena sudah lama ia tidak berlatih. Caitlin melilitkan sebuah kain putih di kedua tangannya untuk membalut tangannya agar tidak lecet saat bersentuhan dengan samsak. Tangannya terus memukul samsak dan bergantian dengan tendangan - tendangan disaat bersamaan Caitlin menyalurkan semua emosinya pada samsak itu. Gadis itu memukul samsak itu tanpa henti, gerakannya semakin cepat dan wajahnya kini memerah menandakan ia meluapkan emosinya dan berteriak lalu memeluk samsak yang tadi ia pukuli untuk menenangkan dirinya.


"Arrghh" Teriak Caitlin.


Seorang laki - laki memperhatikan kegiatan Caitlin yang sedang latihan dari dapur karena dapur dan halaman tempat gadis itu berlatih hanya disekat pintu kaca. Laki - laki itu bisa melihat kesedihan dan emosi yang berusaha Caitlin luapkan, ia tersenyum miris Melihat gadis itu karena dirinya tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya.


"Davin lo ngapain sih? Ngambil minum doang kok lama banget" Tegur Kevin sambil menepuk bahu Davin membuat laki - laki itu mengalihkan pandangannya dari Caitlin. Davin tak menjawab dan memilih membawa minuman ke kamar Joshua. Namun, Joshua menyadari jika sahabatnya Davin sedang memperhatikan adik perempuannya yang sedang latihan bela diri di halaman belakang.


🌿🌿🌿


"David? Bunda bisa minta tolong sama kamu?" Tanya Nadia lembut.


"Minta tolong apa?" Tukas David yang mengalihkan pandangan dari ponselnya dan menatap sang ibu.


"Kamu bisa jemput kakak kamu di rumah Joshua?" Tanya Nadia yang terdengar seperti permohonan.


"Jemput Kak Davin?" Tanyanya memastikan dan Nadia hanya menggangguk sebagai jawaban.


"Oke."


Setibanya di rumah Joshua, David menekan bel sebanyak tiga kali. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan wanita paruh baya yang menyambut kedatangannya. Bibi Ira mempersilahkannya masuk terlebih dahulu sebelum ia menanyakan maksud kedatangannya.


"Ingin bertemu siapa den?" Tanya Bibi Ira canggung.


"Saya kesini mau jemput kaka saya, Davin." Jawab David cepat.


"Oh mas Davin? Ya sudah kalo begitu biar bibi panggilkan dulu. Tunggu sebentar, den." Ujar Bibi Ira yang pergi menuju kamar Joshua.


Saat David sedang melihat sekelilingnya, perhatiannya terhenti pada sosok perempuan yang sudah rapih dengan jaket bomber berwarna putih dan sedang menenteng helm putih di tangan kanannya.


Caitlin? David menyebut nama perempuan itu dalam hatinya.


David terus memperhatikan gerak - geriknya seperti sedang mencari seseorang.


Bi Ira kemana sih? Gumam Caitlin dalam hatinya sambil menyandarkan punggungnya ke tembok dan berkacak pinggang.


"Non Caitlin?" Seru Bi Ira yang membuat gadis pemilik nama itu terkejut.


"Bi Ira, Cait mau pergi dulu sebentar. Kalo kak Alan nanyain bilang aja Caitlin ke rumah teman." Pamit Caitlin lalu mencium punggung tangan Bibi Ira. Gadis itu berjalan melewati ruang tamu ia menghentikan langkahnya saat melihat laki - laki yang tak asing lagi baginya.


"David?" Panggilnya yang sontak membuat laki - laki itu membalikan tubuhnya.


"Ngapain lo disini?" Tanya Caitlin penasaran lalu mendekat kearah David.


"Jemput ka Davin" Jawabnya singkat. Dan Caitlin hanya manggut - manggut dengan mulut yang membentuk 'o'. Setelah mendengar itu, Caitlin berspekulasi jika David adalah adik dari Davin.


"Kalo gitu gue tinggal yah" pamit Caitlin. Lalu gadis itu melangkah menjauh dan pergi meninggalkan David yang kini menatap kearahnya tanpa gadis itu ketahui. Saat Caitlin hendak menyalakan mesin motornya  ia melihat pemandangan hubungan adik kakak yang begitu akrab antara Davin dan David. Ia tak menyangka laki - laki yang dingin seperti David ternyata sangat menghormati kakaknya. Seketika ia terbenam dalam pikirannya yang berkata seandainya saja hubungan dirinya dan Joshua bisa seakrab mereka.


Seandainya aja gue dan kak Willy bisa seakrab mereka. Dan bisa kayak dulu lagi. Gue kangen lo kak Willy. Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Caitlin melajukan motornya saat mobil Davin sudah tak terlihat di depan pagar rumahnya. Gadis itu menarik cukup dalam gas motor dan membuat motor melaju sangat kencang. Tanpa disadari Caitlin melewati mobil Davin dan David yang lebih dulu meninggalkan rumahnya. Davin maupun David terkejut melihatnya mereka tak percaya bahwa Caitlin sangat mahir mengendarai motor ninja yang biasanya dikemudikan oleh laki - laki.


"Itu kan Caitlin" Ucap Davin spontan.


Boleh juga tuh cewek. Batin David.


🌿🌿🌿


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi dan Caitlin sudah bangun lebih dulu, karena tidak biasanya ia dapat bangun sepagi ini pada hari senin. Caitlin beranjak dari ranjangnya lalu pergi menuju dapur untuk menyiapkan sesuatu. Sesekali gadis itu menguap dan mengerjapkan matanya yang masih terasa berat.


Caitlin menyiapkan bahan - bahan untuk membuat nasi goreng, kali ini ia membuat nasi goreng untuk seseorang yang telah berbaik hati menolongnya sebagai tanda terima kasihnya.


Setelah selesai membuat nasi goreng, Caitlin kembali ke kamar dan bersiap - siap berangkat ke sekolah.


Diana yang hendak membangunkan Caitlin terkejut saat melihat anak perempuannya sudah terduduk di meja rias untuk memakai make up seadanya. Caitlin tidak suka memakai make up yang berat - berat hanya dengan bedak baby dan lip balm yang ia kenakan saat sekolah maupun berpergian.


"Good morning, mom. I get up early today" Sapa Caitlin.


"Good morning too. How odd!" Jawab Diana dengan wajah heran karena tidak biasanya anak perempuannya bangun di pagi hari seperti ini. Caitlin hanya memamerkan giginya saat mendengar respon dari Diana yang terlihat heran.


Caitlin sudah siap lalu ia menuju meja makan untuk sarapan yang sudah menjadi kebiasaan Caitlin dan keluarganya di pagi hari sebelum mereka melakukan aktivitas.


Seperti biasa gadis itu meminum susu dan melahap dua roti yang sudah diolesi selai coklat lalu bergegas berangkat ke sekolah tak lupa ia berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya, Alan, dan juga Bibi Ira. Hari ini Caitlin berangkat ke sekolah dengan mengendarai mobil miliknya yang di hadiahkan sang ayah saat ia berulang tahun yang ke 15 tahun.


Saat sebuah mobil mewah BMW i8 berwarna putih memasuki pekarangan sekolah, seluruh siswa terkejut dan perhatian mereka terfokus pada pemilik mobil ketika melihat Caitlin yang keluar dari mobil itu.


🌿🌿🌿


Tak peduli dengan seluruh siswa yang menatapnya, Caitlin segera mencari keberadaan seseorang yang hendak ia berikan nasi goreng buatannya sebagai tanda terima kasih. Di koridor kelas XII gadis itu memutar lehernya ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan orang itu. Lalu matanya tertuju pada empat orang laki - laki yang tengah berbincang - bincang dan sesekali tertawa. Caitlin tersenyum saat ia melihat orang itu ada diantara empat orang laki - laki itu. Namun, gadis itu merasa tubuh menegang saat melihat salah satu dari mereka adalah Joshua, kakaknya. Caitlin menghentikan langkahnya dan tiba - tiba  Caitlin membalikkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan mereka, saat itu juga Caitlin mengurungkan niatnya untuk memberikan nasi goreng kepada orang itu. Tetapi, salah satu dari mereka melihat gadis itu lalu memanggilnya.


"Caitlin!" Teriak Evan yang merupakan salah satu dari mereka.


Caitlin mengigit bibir bawahnya karena ia merasa gugup. Lalu ia membalikkan tubuhnya perlahan dan menatap keempat orang laki - laki itu.


"Lo ngapain disini?" Tanya Kevin yang berjalan mendekati Caitlin.


"Gu-gue mau ngasih ini buat ka Davin. So--" Ucap terpotong.


"Dav, ceritanya sekarang lo mau nge-gebet adeknya sih Joshua?" Ejek Evan yang menaikan satu alisnya.


"Apaan sih? Gue ngasih ini karena kemarin dia udah nolongin gue, cuma sebagai tanda terima kasih enggak lebih kok. Ya udah gue balik ke kelas dulu, permisi." Jawab Caitlin rinci lalu meninggalkan keempat orang itu.


Lucu juga tuh cewek kalo lagi gugup. Komentar Davin dalam hati sambil menunjukan sudut bibir yang tertarik keatas.


Joshua yang memperhatikan sikap adik perempuannya itu hanya tersenyum tipis.


Cait, Cait kamu masih lugu kayak dulu.  Gumam Joshua dalam hatinya.


"Aduh! Malu - maluin banget sih gue. Iihh" Bisik Caitlin pada dirinya sendiri sembari memukul kening berkali - kali. Tanpa sadar David yang ada di hadapannya saat ini hanya memperhatikan tingkah konyol Caitlin sambil tersenyum tipis. David berdehem dan membuat Caitlin terkejut. Kali ini gadis itu merasa apa yang sudah ia lakukan itu sangat bodoh dan memalukan. Caitlin hanya tersenyum lima jari dan menggaruk tenguknya yang tak gatal saat ia tertangkap basah.


Awkward! She is so awkward but her cute. Batin David.


Oh... Damn! This is so embarrassing. Hufftt. Umpat Caitlin dalam hati.


Caitlin berlari masuk ke kelas, ia merasa sangat malu. Hari ini adalah hari yang memalukan bagi dirinya.


Oh God ! Today is embarrassing day for me. Aarrgghh. Gerutunya dalam hati.


🌹🌹🌹


Tbc

__ADS_1


__ADS_2