
Mereka berlima berlari, menyusuri lorong panjang yang akan membawa mereka menuju lift darurat. Tapi sayang perjalanan mereka tidak semulus bayangan mereka, di setiap sudut dan pintu penghubung pasti ada mayat hidup yang siap menerkam dan menjadikan bagian dari mereka.
Kelimanya berusaha mengakali dengan cara tidak mengeluarkan suara apa pun, bahkan seluruh tubuh mereka berlima bermandikan parfum. Untung saja Ina masih memilikinya beberapa botol yang dia ambil dari supermarket beberapa waktu lalu, saat berusaha kabur dari serangan mayat hidup bersama Samuel, Ibu serta Adiknya.
Dibawah arahan Samuel, mereka berempat saling membantu agar segera sampai di rooftop dan naik kedalam helikopter. Beruntung Veron terlatih mengendarainya hingga mereka bisa bernapas dengan lega, walaupun hanya sedikit.
"Merunduk!" Samuel mendesis pelan saat melihat beberapa mayat hidup tengah mengepung pintu lift yang akan membawa mereka ke rooftop. Pria itu berdecak kesal, mungkin kalau satu atau dua mayat hidup dirinya bisa menanganinya, tapi kalau lebih dari itu rasanya sulit. Apa lagi senjata yang mereka miliki hanya satu yaitu batang besi yang Samuel temukan saat kembali ke ruangan dimana Ina dan yang lainnya berada.
"Kita lewat tangga saja," usul Zean yang sedari tadi terus saja mengawasi area sekitar, terlebih arah dari belakang tubuh mereka. Zean takut kalau ada mayat hidup yang tiba tiba saja datang tanpa sepengetahuan mereka.
"Lewat tangga pun harus melewati mayat hidup itu dulu." Veron terlihat gemas. Kalau saja ditangannya ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memukul para mayat hidup sialan itu, mungkin sudah sedari tadi dia maju.
"Kau bawa mereka ke arah lift, aku akan mengalihkan perhatian para mayat hidup."
Ina sontak menoleh, belum sempat dirinya bersuara untuk melarang Samuel sudah terlebih dahulu bangkit dan keluar dari tempat persembunyian. Pria itu berjalan tegap mendekat pada para mayat hidup yang terlihat mulai terusik, mengendus dan perlahan bergerak mendekat seakan terpancing.
"HEIII KEMARI!"
TING
TING
TING
Suara detingan besi yang Samuel pukul membuat mayat hidup itu kian agresif, mereka menyerang dan bergerak luar terlebih saat Samuel berlari sembari terus memukulkan batang besi ke lantai menimbulkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga, membuat para mayat hidup itu kian brutal dan luar mengejar Samuel.
"Ayo!" Veron menarik lengan Aiko. Mereka segera menuju pintu lift, di susul oleh Zean. Namun langkah ketiganya berhenti saat melihat Ina masih terdiam dan mematung di tempatnya sembari menatap khawatir pada Samuel yang kian menjauh darinya.
"Ina!"
"Kak!"
Panggilan Aiko dan Zean bahkan tidak mampu membuat Ina tersadar. Gadis itu baru bergerak saat Zean menariknya dan membawa kakaknya mengikuti Veron dan Aiko yang sudah terlebih dahulu menuju lift.
"Kenapa kalian membiarkan Samuel pergi sendiri? Apa kalian tidak peduli-,"
"Dia akan menyusul kita nanti! Kau jangan khawatir, Samuel tidak bodoh dan lemah." tukas Veron.
Ina terdiam, dia menurut saat Zean terus menyeretnya. Ekor mata milik gadis itu terus saja tertuju pada lorong kosong yang tadi di lalu oleh Samuel untuk mengalihkan para mayat hidup.
"Sial! Liftnya terkunci. Kita tidak bisa memakainya untuk bisa sampai di rooftop dengan cepat."
Semua orang terhenyak, termasuk Ina yang sedari tadi sibuk memikirkan keadaan Samuel. Aiko maju mendekat, dia menatap tidak percaya pada pintu besi yang berulang kali di tendang oleh Veron.
"Kita lewat tangga saja!" Aiko memutuskan terlebih dahulu, dia berjalan cepat di ikuti oleh Ina dan Zean. Di belakang mereka Veron terus saja mengumpati pintu lift yang tidak dapat di bukanya.
Tangga bukan jalan yang terbaik, karena mereka yakin disana pun belum pasti aman dari serangan zombie. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada jalan lain selain lewat tangga dan lift untuk menuju rooftop.
Suara langkah mereka menggema ketika menapaki tiap undakan anak tangga. Suara bising yang bisa saja mengundang para mayat hidup untuk mengejar mereka. Tapi keempat orang itu juga tidak mungkin melangkah secara pelan pelan, karena di tuntut oleh waktu serta keadaan.
Di sisi lain, Lukman, Anita dan satu wanita berwajah oriental terlihat bergegas mengikuti langkah pria bule yang ada di depan mereka. Ketiganya terburu buru, dua kotak vaksin sudah di tangan dan mereka harus segera membawanya ke tempat yang belum terjangkit.
"Bagaimana dengan anak anak kami?" tanya Lukman dengan raut wajah khawatir.
Brant menoleh, dia menatap wajah lelah pria yang sudah mati matian membuat pencegahan virus mematikan ini. Brant sangat tahu bagaimana pria berwajah oriental itu bekerja dalam tekanannya agar vaksin yang mereka buat selesai dengan cepat.
"Putra dan keponakan ku akan membawa mereka."
__ADS_1
Lukman terdiam, wajah khawatirnya sedikit berkurang, dia melirik pada Anita dan rekannya. Kedua wanita itu masih dalam raut wajah yang sama, khawatir dan takut.
Kembali ke tempat Ina dan yang lainnya, sudah beratus-ratus anak tangga mereka naiki. Napas keempatnya tersengal, bahkan Veron sampai terbatuk karena merasa tenggorokannya mulai kering.
Dia menumpukan kedua tangannya di lutut, Veron masih berusaha menetralkan napas serta detak jantungnya.
"Aaaakkkhhh!!!"
Kedua mata Veron mendelik saat mendengar teriakan Ina dan Aiko dari lantai atas. Kedua kalinya yang lemah kembali bergerak cepat, Veron menelan salivanya susah payah saat melihat dua mayat hidup tengah menyerang ketiganya.
Braak!
Pria itu menghantamkan tong sampah yang ada di dekatnya pada salah satu Zombi. Cukup berhasil tapi sepertinya hanya mengundang makhluk itu berbuat liat dan brutal.
Zean masih kesulitan menahan serangan, dia berusaha melindungi Kakaknya agar jangan sampai tergigit oleh mayat hidup yang begitu terlihat mengerikan sekaligus menjijikan di matanya.
Braaak!
Tanpa ampun Aiko menghantam kepala makhluk itu menggunakan tabung kebakaran yang entah dia dapatkan dari mana. Mayat hidup itu tumbang, hampir saja menimpa Zean kalau saja remaja itu tidak segera menghindar. Aiko segera mengulurkan tangan pada Ina agar temannya itu segera bangun, tadi Ina sempat menyelamatkan dari serangan makhluk itu dan sekarang dia juga melakukan hal yang sama
Impas!
"Ayo, sebelum makhluk yang lainnya menyusul kemari!" Veron segera mengambil langkah. Dia berjalan terlebih dahulu setelah membantu Zean bangun, satu tangannya meraih tabung pemadam kebakaran yang ada di tangan Aiko. Sepertinya benda ini cukup untuk melumpuhkan makhluk-makhluk itu.
Rooftop tidak jauh lagi, napas mereka kian menipis. Bahkan Zean yang tadinya masih terlihat sanggup kini mulai tidak kuat lagi untuk melangkah, Ina bahkan sampai menopang Adiknya agar terus berjalan.
Braak!
Veron mendobrak pintu dengan keras, napasnya terengah, binar mata penuh kelegaan terlihat dari kedua matanya saat melihat sebuah helikopter sudah terparkir di helipad dan siap untuk di terbangkan.
"Paman," gumamnya.
Langkahnya reflek mundur, bahkan Ina dan Aiko yang berada tempat di belakang Veron hampir saja terjungkal ke belakang karena pria itu mengambil langkah dadakan.
"Kenapa? Apa ada makh- astaga!" Aiko sontak tercengang, dia ikut mundur begitu pula Ina dan Zean saat melihat dua makhluk, bukan dua tapi ada empat mayat hidup yang berjalan pincang berkeliling di dekat Helikopterr.
"Itu?"
"Ayahnya Sam," cicit Veron.
Di tempat lain Samuel masih berlari, kali ini dia tidak lagi di kejar oleh para zombi. Tapi dirinya sudah cukup jauh untuk bergegas menuju rooftop.
"Aku harus ke ruangan Ayah. Disana ada pintu yang menghubungkan langsung ke area rooftop." gumamnya.
Tanpa menunggu dia segera berlari menuju lift, langkahnya sempat terhenti saat melihat satu mayat hidup berada tidak jauh dari pintu lift.
Samuel berdecak, lagi lagi dia harus mengalihkan perhatian makhluk itu lagi seperti tadi.
Bermodalkan kunci mobil yang ada di dalam sakunya, Samuel melemparkan benda itu cukup jauh hingga menimbulkan bunyi dan menarik perhatian.
Berhasil, makhluk itu mengejar suara yang menurutnya sangat indah. Samuel bergegas keluar dan masuk kedalam lift. Hanya butuh beberapa detik dia sudah berada lantai atas, dimana kantor Ayahnya berada.
Samuel segera masuk, beruntung pintu itu tidak terkunci. Tapi lagi lagi Samuel terhenyak, dia menatap kesetiap sudut ruangan tapi tidak ada siapa pun termasuk Ayahnya.
Dimana pria tua itu? Apa Ayahnya sudah kabur?
Tanpa ingin memikirkan hal yang tidak penting, Samuel segera menekan tombol yang ada di tembok untuk membuka lemari buku yang menghubungkan tempat itu dengan rooftop.
__ADS_1
Tidak lama pintu itu terbuka, Samuel segera bergegas masuk dan tidak lupa membawa barang yang mungkin akan dia butuhkan nanti disana.
Dia menghela napas kasar, pikirannya bercabang, selain memikirkan Ayahnya yang ternyata sudah kabur, dia juga memikirkan Ina. Bagaimana keadaan gadis itu? Dia harap Ina selamat sampai ke rooftop.
Braak!
Pintu penghubung terbuka, dan ini kesekian kalinya dia terhenyak saat melihat sesuatu di depannya.
"Ayah," gumamnya.
Dia berjalan pelan, lututnya melemas saat melihat orang yang menjadi salah satu dari makhluk mengerikan itu adalah Ayahnya sendiri. Orang yang memang harus bertanggungjawab atas kekacauan di New York dan negara ini.
"SAAAMMM!"
Teriakan seseorang kembali menyadarkan Samuel, pria itu menoleh keasal suara. Kedua bola matanya kembali membulat saat melihat Ina tengah berusaha menahan tubuhnya agar tidak tersentuh makhluk itu. Sementara Veron berusaha menyalakan Helikopter yang tiba tiba bermasalah.
Bukan lagi hanya 4 makhluk melainkan begitu banyak mayat hidup disini, dan itu semua terjadi karena pintu dari arah tangga terbuka membuat mayat hidup yang masih tersisa disana mendekat.
Samuel berlari menuju Ina yang tengah mati matian menghalangi makhluk jelmaan Ayahnya.
BUGH!
Walaupun gemetar Samuel tetap menghantam kepala makhluk itu menggunakan batang besi yang di bawanya hingga tak berkutik lagi.
Ina segera bangkit dan memeluk Samuel dengan erat. Dia menangis, tangannya memukul tubuh pria yang saat ini tengah menatap kosong ke arah langit.
Helikopter mulai menyala, deru baling-baling menyadarkan Samuel agar segera bergegas pergi dari sana. Zean dan Aiko mendekat setelah berhasil menutup kembali pintu dari arah tangga dan mengalahkan beberapa mayat hidup yang berhasil keluar ke rooftop menggunakan tabung gas pemadam.
"Kau baik baik saja, Sam?"
Samuel menunduk, dia masih terdiam sembari menatap dalam pada Ina yang masih memeluknya. Sampai akhirnya Ina terhenyak saat Samuel meraup bibirnya secara tiba tiba, menyesapnya pelan sebelum kembali melepaskannya.
"Lebih baik dari pada tadi." ucapnya ringan.
Ina masih mematung, kedua matanya tidak berkedip sama sekali. Bahkan saat Samuel menarik lengannya untuk segera naik kedalam Helikopter gadis itu masih membeku.
Dia tidak menyangka kalau Samuel akan menciumnya, tepat di bibir. Ingin rasanya Ina berteriak, namun dia berusaha menahannya. Hingga akhirnya seru baling baling sebuah Helikopter yang tidak jauh dari mereka membuat Ina dan yang lainnya menatap ke arah tersebut.
"CEPATLAH, MAKHLUK ITU SEMAKIN BANYAK. KITA HARUS SEGERA KELUAR DARI KOTA INI!"
Suara teriakan itu terdengar tidak jelas, tapi mereka berlima cukup paham dan segera bergegas naik. Deru baling-baling Helikopter semakin keras, menerbangkan apa saja yang mampu diterbangkan nya. Dari atas sana mereka bisa melihat bagaimana hancurnya kota indah itu, kekacauan dimana mana, bahkan Ina dan Aiko tidak sanggup untuk menatap kebawah terus menerus.
"Ini sudah berakhir," ucap Veron, dia menghela napas kasar. Menyandarkan kepalanya di bahu Aiko, dan anehnya gadis itu tidak marah atau pun menghindar.
Begitu pula dengan Ina, dia memeluk adiknya erat, hatinya terasa lega saat melihat kedua orang tuanya ternyata ada di dalam helikopter yang sudah terbang jauh mendahului mereka.
Rasa lelah sudah berganti dengan ketenangan, walau pun kota mereka hancur, para penghuninya menjadi makhluk mengerikan karena keserakan orang orang yang tidak bertanggungjawab, tapi mereka tidak akan melupakan semua kenangan yang tertinggal disana saat mendapatkan tempat tinggal baru nantinya.
"Kau mau ikut denganku, Nay?"
Ina menoleh, dekapan pada adiknya sama sekali tidak dia lepaskan. Kedua matanya menatap dalam pada Samuel, perlahan senyumannya hadir, gadis itu mengangguk dan menikmati dekapan Samuel dari sisi tubuhnya.
Ini sudah berakhir, namun kisahnya baru saja dimulai.
TAMAT DI 1850 KATAπππππ
SAMPAI JUMPA DI CERITA OTHOR YANG LAINNYAAAAAAAππππ
__ADS_1