
*Sacha POV
Setelah aku selesai bersiap, aku segera turun menuju dimana pesta tersebut sedang berlangsung. Yah aku akui aku sedikit telat, namun yah namanya juga wanita pasti membutuhkan waktu yang lebih.
Mataku tertuju pada kerumunan yang ada di ujung sana, kakiku terus melangkah ke dalam sana.
“Wah, wah ini sangatlah menakjubkan” (Kataku dalam hati)
Dekorasinya sangat berkelas, tak sama dengan pesta biasa pada umumnya. Aku terus berjalan kedalam, jujur yah tak ada orang yang benar-benar aku kenali disini ditambah aku juga datang seorang diri.
Kakiku perlahan berhenti pada seseorang yang melambaikan tangan padaku dari jarak yang tak begitu jauh. Aku segera berjalan kearahnya. Dan rupanya itu adalah tetangga-tetangga yang tinggal di apartemen ini yang juga telah berkenalan denganku. Untung ada mereka, aku jadi memiliki teman yang dapat ku ajak bicara. Namun selang tak berapa lama mereka juga berpindah pada kenalan mereka yang lain dan yah akhirnya aku sendiri lagi.
Rasanya benar-benar mulai boring dengan keheningan yang kurasakan, aku segera berpindah dan memutuskan untuk melihat-lihat apa saja hal luar biasa yang ada di pesta ini. Disaat asik aku menatap-natap aku dengar ada beberapa sekumpulan orang yang membahas tentang fame (Ketenaran), Bisnis, Industri. Hal ini sontak membuat diriku penasaran, karena rasa penasaran ini aku memberanikan diri untuk bergabung sekaligus berkenalan dengan orang-orang tersebut.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, aku berhasil berkenalan dengan mereka, bukan hanya itu akupun juga mendapatkan kartu nama milik mereka. Aku jadi berkenalan dengan beberapa produser musik, penulis alur cerita film, fotografer, dan pemilik rumah produksi untut para talent model serta para agensi. Aku juga sedikit terbuka dimana aku katakan bahwa aku ingin menjadi salah satu model di industri, mereka menanyakan karir yang ku punya tetapi aku jawab aku belum punya karir apapun selain jadi pelajar. Mendengar hal itu mereka banyak memberikan diriku masukan, tips dan trik serta menyuruh diriku untuk coba datang ke beberapa talent agensi ataupun rumah produksi. Mereka juga merekomendasikan satu nama untukku yang pastinya langsung segera ku catat untuk jadi bahan pertimbangan.
Namun hal ini tak bertahan lama, mereka juga saling berpindah satu sama lain dan menemui para kenalan mereka. Akhirnya rasa bosan pun mulai menghantui diriku ini. Aku mencoba menghubungi Règina tapi tal ada balasan sama sekali. Jadinya aku menghabiskan waktu kosong ini dengan pergi mencicipi makanan-makanan yang tersaji di meja yang telah teratur. Setelah merasa cukup kenyang aku segera berpindah lagi ke sisi lain dari pesta ini. Yup seperti yang aku jelaskan pesta ini sangat besar dan tiap sisinya juga digunakan sebagai tempat party, seperti kalian berjalan di lorong dan setiap lorong tersebut adalah tempat pantry.
Aku mulai merasa lelah, hal ini mulai semakin membosankan. Tak ada yang bisa ku ajak ngobrol dengan nyaman. Andai aja ada Règina yang nemenin aku ataupun David pasti aku takkan merasa sehampa ini. Setelah terlalu banyak berpindah Aku pun merasa sedikit haus, dan katanya mereka punya jus anggur yang sangat enak loh namun dari tadi kok tak aku temukan yah. Aku sudah mencoba beberapa minuman disini namun aku belum menemukan jus anggur yang mereka bicarakan.
Lelah mencarinya, aku pun langsung mencari pelayan untuk menanyakan hal tersebut dan yup benar saja pelayanan mereka sangat ramah. Pelayan itu menunjukkan anggur yang aku cari itu ada di sebelah kiri pojok dari tempat aku berdiri saat ini. Suara pelayan itu memang tak terlalu terdengar jelas karena musik yang sedang terputar disini sangatlah cukup bising. Yang kudengar dari jawaban dia adalah “Pojok kiri dari sini”
Akhirnya aku menemukan nya juga, aku melihat minuman tersebut sudah tersedia digelas yang telah tertata sedemikian indahnya. Aku pun mengambil segelas dan langsung meneguknya tanpa tersisa.
“Wow minuman ini sangatlah enak dan menyegarkan, seolah aku baru saja tersengat arus listrik di sekujur tubuhku” (Pintaku)
Aku mengambil segelas lagi dan kali ini aku berusaha menikmatinya secara perlahan. Rasanya sungguh luar biasa, namun ada rasa sentuhan yang menyengat di tenggorokan tiap kali aku meneguknya, tapi aku tak peduli dan terus mengabiskan gelas kedua ku itu
“Iya rasanya agak berbeda dengan minuman yang biasa ku coba pada sebuah jus. Rasa minuman ini sangat strong” (Pikirku)
“Mungkin begini yah rasanya jus milik masyarakat kelas atas” (Pikirku)
Namun tak lama kemudian aku merasa kepalaku mulai pusing dan aku mulai merasa mual. Aku berusaha segera pergi dari pesta ini, aku ingin kembali ke apartemenku. Aku tak mau membuat kesan kampungan karena lambungku yang tak pernah mencicipi minuman masyarakat kelas atas tersebut.
Perlahan dapat kurasakan jalanku sudah tak seimbang ditambah tubuhku seperti kehilangan kesadaran secara perlahan. Yang ku ingat sebelum aku pingsan ialah aku berjalan dan berusaha duduk di pojokan agar tak terlihat oleh orang karena aku sudah tak kuat lagi.
Beberapa saat kemudian, aku merasa ada seseorang yang sedang membopong diriku. Aku masih tak memiliki tenaga untuk menegurnya, aku pun akhirnya kembali terlelap.
Tak lama setelah itu kesadaranku mulai kembali secara perlahan, sayangnya aku masih lemas. Namun hidungku mencium suatu bau yang lezat, insting Vampir ku tak dapat dibendung lagi, aku merasa jarak diantara kami cukup dekat. Aku gunakan kesempatan itu untuk mendekapnya dalam pelukanku, lalu secara tak sadar aku perlahan mulai mencium bibirnya. Ah sial dapat kurasakan kelezatannya, diriku pun semakin tak terkendali lagi. Tanpa aba-aba aku sosor kembali bibirnya, kali ini kuberikan ciuman yang lebih lama. Perlahan tapi pasti aku mulai memperdalam ciumanku ini, ku paksa buka pertahanan miliknya hingga akhirnya lidahku dapat bertemu dengan lidahnya. Seolah tak ada halangan lagi aku bermain didalam rongga mulutnya dengan hebat ntah dari mana aku mendapat petunjuk tutorialnya.
Ciuman ini berhenti dan dapat kurasakan ia mencoba mengambil udara yang ada untuk memenuhi kebutuhan pernafasannya, dan juga dapat kudengar suara degupan jantung miliknya. Bukannya merasa malu, aku justru semakin bersemangat rasanya sangatlah nikmat. Ntah apa yang merasuki diriku, aku kembali mencoba mencium dan melumat bibirnya, terus menerus semakin dalam dan semakin panas. Hingga dapat kurasakan perlahan ia membalas semua ciumanku ini. Tak kalah ganas tanganku segera masuk kedalam baju miliknya dengan sendirinya, aku meraba-raba semua yang dapat ku sentuh dari tubuh malaikat tanpa sayap yang masih tak kukenal siapa dirinya.
Rasanya benar-benar sempurna, dapat kurasakan pahatan otot di tiap-tiap inci badannya. Ntah apa yang memberanikan diriku sekarang aku justru memainkan ciuman dan lumatanku kearah lehernya sambil mencoba melepaskan baju yang ia kenakan secara perlahan. Aku mendengar ia sedikit mendesah dari semua perbuatan yang sedang kulakukan padanya. Setelah setiap kancing dari setelan ini terbuka aku kembali mencium bibirnya perlahan dan dapat kurasakan ia berusaha mengimbangi ritme dariku dan akupun sekarang berhasil membuka sepenuhnya bagian atas bajunya dan langsung ku lemparkan ke lantai. Aku kembali mencium lehernya tetapi kali ini ku berikan sedikit tanda di area sana. Dan dapat kurasakan ia dari tadi membelai rambutku perlahan.
Kini kurasakan banyak energi yang dapat aku ambil darinya hingga rasa pusing dan mualku sepenuhnya menghilang bahkan rasanya aku kembali sadar 100%. Ditengah pergulatan ciuman kami yang panas aku perlahan membuka mataku dan betapa terkejutnya diriku melihat siapa pria yang sedang aku cium ini.
Kalian mungkin tak percaya, yah sama akupun juga. Aku sedang mencium Mark tetanggaku, cowok yang selalu membuat diriku dalam masalah. Sontak aku memberhentikan ciuman panas ini secara tiba-tiba dan dapat kulihat wajah tampannya itu sedang memerah yang mungkin saja merasa malu karena sedang ku tatap.
“Astaga, tidak ini tidak mungkin” (Gerutuku)
“Mark apa ini, apa yang baru saja kita lakukan?” (Tanyaku dengan gamblang)
Namun masih dapat kulihat wajahnya begitu memerah, ia juga tak mengatakan apapun selain menundukkan sedikit kepalanya kebawah.
“Apa kita baru saja berciuman?” (Tanyaku lagi)
__ADS_1
Masih tak ada respon, lalu kemudian aku sadar bahwa aku sudah tak berada di pesta dan apartemen ini bukanlah milikku.
“Jadi kau membawaku kesini yah?” (Tanyaku dengan tegas)
“I-iya, iyaa aku membawamu kesini, soalnya aku tak tau apa password apartemenmu. Akupun tak sengaja melihatmu sedang pingsan di pojokan dan ada orang yang sedang ingin berbuat sesuatu padamu. Oleh karena itulah aku membawamu kesini” (Balasnya dengan gugup)
Sekarang mengapa aku justru tersenyum? Ntah ini karena Mark yang perhatian sampai menolongku, atau ini karena aku baru saja berhasil berciuman dengannya. Bukan, sepertinya ini karena ekspresi malu yang terlihat nampak dari wajahnya yang membuat dirinya semakin imut.
“Arggh sial, sadar Sacha, sadar!” (Marahku dalam hati)
Bukan waktunya untuk merasa terpesona sekarang, aku sudah bertindak secara mesum diluar kendaliku ini adalah hal tergila yang belum pernah ku alami sebelumnya.
“Baiklah aku ingin segera kembali ke apartemenku tolong bukakan pintunya dan makasih karena sudah menolongku” (Ucapku dengan malu)
Tak berkata apapun ia langsung melakukan semua yang ku perintahkan. Penampilanku sekarang sungguhlah berantakan dan aku langsung keluar dengan tak merapikannya dulu. Yah sekarang yang kuinginkan adalah cepat-cepat pergi dari sini karena aku tak mau dong menimbulkan hal yang lebih akward lagi dengan tetap stay disini.
Setelah pintunya terbuka aku segera keluar dan dapat kulihat tetangga seberang kami sedang memandangi kami dari arah sana.
“Oh Tuhan, Apa yang akan dia pikirkan?” (Keluhku)
Ah sial, siapapun yang melihat kami saat ini pasti akan berpikiran yang sama. Mark yang terlihat telanjang dada Ditambah penampilanku yang kacau balau.
Tak berpikir lama aku segera masuk ke apartemen milikku, aku mulai merenungi semua yang telah terjadi ini.
“Oh no kegilaan apa ini?, Mengapa aku bisa kehilangan kendali dan membiarkan insting Vampir ku bertindak semaunya? Apa yang sedang ia pikirkan tentangku saat ini?”
(Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang sedang berlarian didalam kepalaku)
“Aku benar-benar sungguh memalukan? Kenapa aku bisa semesum ini?” (Teriakku)
“Ah bodo, kok aku justru memikirkan hal-hal yany tidak-tidak” (Gerutuku)
Well untuk ukuran seorang pria, apartemen Mark benar-benar sangat bersih, semuanya serba mengkilat bahkan tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apartemen milikku.
Aku merasa sangat gerah memikirkan semua ini, sepertinya aku butuh untuk merelaksasi kan pikiranku ini di bathtub. Tak berlama lagi aku segera mengambil segala persiapan berendam lalu setelah siap aku mulai untuk berendam. Rasanya sangatlah adem dan tentram. Sempurna untuk mengurangi sedikit tekanan batin yang ada di pundak ku ini.
“Btw aku sebenarnya tak sepenuhnya salah, soalnya kalau aku ingat-ingat lagi Mark juga sepertinya menikmati hal tersebut. Buktinya ia sedikit mengerang dan membalas setiap ciunanku yah walau awalnya cuman didiamkan aja tapi tetap kan akhirnya dia balas” (Pikirku)
Sudahlah aku sedang tak ingin memikirkan semua ini sekarang. Rasanya begitu salah namun begitu benar, apa ini yah yang namanya “Best Mistake”.
Setelah merasa puas aku pun mencoba untuk berbaring di kasur empuk ku ini sambil menutup mataku perlahan melupakan semua kejadian yang telah terjadi.
----
*Mark POV
Aku perlahan menyaksikan dirinya pergi seiring aku menutup pintu ini.
“Kau bodoh Mark, hasratmu tak bisa kau bendung” (Kesalku)
Apa yang barusan kau perbuat? Bukannya malah menyadarkan tingkah cewek itu kau justru malah ikut kedalam aksi gilanya. Aku menyalakan semaunya pada diriku, walau tak sepenuhnya benar. Ia emang dia yang memulai semua aksi panas tadi dan hal itu disebabkan karena alkohol yang ia konsumsi. Sedangkan aku yang berada dalam kondisi 100% sadar tetapi tetap melakukan hal tersebut bersamanya.
“Tapi kenapa kurasakan detak jantungku berdegup dengan sangat kencang dan mengapa aku menikmati hal itu? Apa ini maksud dokter? Apa aku benar-benar sedang jatuh cinta? Apakah diriku sungguh mencintai Sacha? Atau ini hanya obsesi semata?”
(Pertanyaan-pertanyaan ini berputar-putar di dalam pikiranku namun sama sekali tak kutemukan jawabannya).
__ADS_1
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, selama ini tak ada satupun orang yang pernah menyentuh aku dengan sangat intim selain orang tuaku. Aku tak pernah membiarkan orang lain untuk melakukan hak tersebut karena aku memang sama sekali tak menyukai hal tersebut. Namun malam ini sepertinya semua pertahanan milikku sedang runtuh dan Sacha benar-benar bisa menaklukkan hal tersebut.
Dia melakukannya dengan cara teraneh yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ia mampu merubah hidupku hanya dalam sentuhan hari demi hari. Tak ada yang pernah bisa melakukan ini padaku, ditambah hal tadi sangatlah nikmat akupun berhasil terbuai dan jika tadi kesadarannya tak segera datang kami mungkin akan bertindak ke hal yang lebih jauh lagi.
Ntah kenapa? Bukannya marah sekarang aku justru sedikit memiliki rasa kagum pada dirinya. Inikah rasanya cinta?
Kalau dipikir-pikir hal ini memang kelihatan mustahil namun itulah faktanya, ia juga berhasil merebut first kiss diriku sendiri. Sayangnya aku sangat tak berpengalaman akan hal ini, makanya aku tadi tak tahu harus merespon seperti apa. Yang kulakukan hanyalah mengikuti alunan ritmenya.
“Sudahlah Mark betulkan pikiranmu!” (Kataku)
Iya benar aku sudah berpikir terlalu jauh, nyatanya kan ia melakukan itu karena pengaruh alkohol bukan karena ia sadar sepenuhnya. Toh kalau dia sadar belum tentu ia melakukan hal tadi. Dan yah ntah mengapa ku sedikit galau memikirkan hal ini. Aku tak ingin memikirkan hal ini lebih jauh lagi, aku segera berbaring ke tempat tidur dan memaksaku mataku untuk tertutup rapat. Walau susah tapi dapat kurasakan kesadaranku sedikit memudar perlahan-lahan.
*Author POV
Ini adalah malam yang panjang dan juga berat bagi Mark ataupun Sacha. Apalagi setelah aksi panas yang mereka lakukan, baik Mark ataupun Sacha tak pernah menjalin cinta sebelumnya. Mereka memang tampan dan cantik namun mereka memilih untuk stay single. Dan malam ini mereka berhasil berbagi ciuman pertama dalam hidup mereka. Sadar atau tidak hal ini mulai membangkitkan sesuatu hal yang lain dalam diri Mark dan Sacha. Perjalanan masih panjang terbentang di hadapan mereka, mampukah mereka melewati hal tersebut?
Kata orang cinta pertama adalah cinta yang spesial, kau takkan merasakan hal tersebut dengan cinta kedua dan seterusnya. Cinta pertama mampu membuat kedua pasang jiwa terbakar oleh gairah asmara. Rasanya seolah kalian menaiki rollercoaster untuk pertama kali. Semua hal hebat, hal konyol, hal gila terukir disana.
.
.
.
.
.
<>
Bagaimana episode kali ini? Semakin keren bukan?
Jangan lupa, Pastikan kalian Vote, share, subscribe dan follow!
Komentar dan masukan kalian juga jadi bahan pertimbangan aku loh
_____
Next episode:
Aku berciuman dengannya dan ntah mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diirku. Apa? Benarkah? Bagaimana bisa? Kok rasanya begitu damai
.
.
TBC
Terima kasih telah membaca karyaku ini
Pastikan kamu udah Vote, kasih bintang, dan share kisah ini yah
I love y'all
See ya in the next episode!
__ADS_1