
*Mark POV
Aku baru saja sampai dirumah sakit untuk menemui dokter Kevin. Dan untung saja ia cuman menyuruhku bertemu di salah satu rumah sakit yang ada di pusat kota. Untung dia tak lagi menyuruhku pergi ke rumah sakit tua dan aneh itu yang terletak di area Downtown. Kalian masih ingat bukan?
Iya sih jujur aku paham, Dokter Kevin adalah salah satu dokter spesialis terbaik di bidangnya. Tentu saja hal itu membuat dia dibutuhkan di banyak rumah sakit, tak hanya di LA terkadang ia sampai terbang ke beberapa state lain seperti DC, New York, Vegas, Texas dll.
(Mark Look)
Namun anehnya kok dia mudah yah nerima request sessions dariku. Padahal notabenenya aku ternyata cuman sakit biasa aja, kenapa dia gak serahin case aku ke dokter lain saja sehingga dia bisa fokus ke hal-hal yang lebih urgent. Aku tau-tau kalian pasti pada mikir aku ga tau diri banget, seharusnya aku bersyukur kok malah sekarang aku mempertanyakan banyak hal mengenai dirinya. I mean yeah I'm grateful, dan senang banget saat tau salah satu dokter sehebat dirinya menerima request kasusku. Mungkin aku nulisnya terlalu antusias dan sedikit dramatis, sehingga mungkin dirinya menjadi penasaran dengan persoalan yang aku hadapi. Tapi hasilnya tesnya justru mengatakan hal-hal yang aku takutkan tersebut ternyata tak terjadi, dan aku hanya mengalami masalah tekanan mental aja yang kalau aku research lagi seharusnya cukup bisa tangani melalui sesi konseling dengan ahli psikiater tanpa harus melibatkan dokter spesialis.
Dan yah memikirkan hal itu rasanya seperti ada kejanggalan yang membuatku ragu padanya. Bukan pada kemampuannya loh maksudku akan tetapi pada niat dirinya. Satu hal yang terpikir di kepalaku saat ini bahwa dia adalah salah satu dokter spesialis ahli yang masih muda dan punya banyak skill dan telah diakui, maka berarti dia juga banyak melakukan research mendalam mengenai ilmu yang dia tekuni secara mendalam. Ditambah ada fakta-fakta aneh yang berbaran di internet mengenai dirinya sendiri, ada yang mengatakan bahwa dia menikmati kasus-kasus unik yang sifatnya scary (mengerikan). Dan yah membaca tentang hal tersebut sedikit membuatku jadi was-was saat mau bertemu dirinya, karena yah bisa aja dia justru hanya ingin menggunakan diriku sebagai medium analisanya atau yang kita kenal dengan istilah kelinci percobaan.
Aku hanya berharap agar hak tersebut hanyalah mitos belaka, karena saat kau berinteraksi dengan dokter Kevin justru hal itu terkadang jadi mematahkan semua rumor di internet mengenai dirinya. Perangai yang ramah dan lemah lembut, sikap profesional yang salah ditunjukkan nya. Semua itu hanya menambah karismanya sebagai salah satu dokter yang berintegritas dan jauh dari semua kesan yang diulas oleh internet.
“Tuan Mark, Dr Kevin sudah available. Silahkan langsung masuk saja di ruangannya” (Ujar salah satu perawat)
Perkataannya sungguh membuyarkan diriku dari semua lamunan ini. Perlahan aku langkahkan kakiku memasuki ruangan miliknya dan kudengar suara berat miliknya mempersilakan diriku untuk duduk.
“Oke tuan Mark, jadi bagaimana yang kau rasakan setelah beberapa hari mengonsumsi obat dan mengikuti pesan dariku?” (Tanyanya)
“Dok, nggak usah terlalu formal. Panggil mark aja” (Ucapku)
“Ngga papa, memang ini sudah bagian dari peraturan kode etik kami” (Balasnya)
“Baiklah kalau begitu, yang mana-mana aja selama dokter nyaman” (Ucapku)
“Kenyamanan dan kepuasan pasien adalah kenyamanan bagi kami” (Balasnya dengan senyuman yang memperlihatkan gigi miliknya)
“Aku sudah mengikuti setiap pesan yang dokter kirimkan, tak lupa juga aku mengonsumsi obat itu secara rutin” (Ucapku)
“Dan yah aku merasa sedikit lebih tenang dan lebih baik dari sebelumnya” (Tambahku)
“Wah baguslah kalau begitu, yang kau perlukan hanyalah sedikit relaksasi otak, sehingga pikiranmu menjadi lebih tenang dan hal itu dapat membuat beban di pundakmu akan terasa lebih ringan” (Balasnya)
Setelah diam sejenak, akhirnya dia kembali bicara. Kali ini hal-hal yang dia tanyakan lebih berkaitan soal daily life (aktivitas keseharian) milikku. Dimulai dari apa yang aku lakukan, kegiatan berat apa yang biasa ku buat. Dan hal-hal sebagainya yang tentu saja berhubungan dengan mental ataupun kejiwaan. Jujur aku merasa sedikit ragu menceritakan segalanya kepada dirinya, yah aku tau dia pasti akan mengikuti kode etiknya. Tetapi hal ini tidaklah serta merta menurunkan perasaan gugup sekaligus rasa raguku padanya. Soalnya aku nggak terbiasa terbuka dengan orang baik itu dengan teman atau orang tuaku. Aku lebih memilih menyimpan dan menghadapi semuanya seorang diri, ntah mengapa? Seolah aku sedikit memiliki trust issue dan sedikit Anxiety pada orang-orang disekitar ku. Mungkin ini juga efek dari aku yang terlalu membangun dinding privasi yang selalu ku banggakan, sehingga takut kalau sewaktu-waktu dinding ini roboh dan orang lain dapat mengetahui tentang semua hal yang ku sembunyikan selama ini. But somehow perkataan dokter Kevin seperti ilusi ditelinga ku yang membuat diriku terus terbawa arus di tiap kata yang dari mulutnya. Dan hal ini tidak pernah terjadi dalam kehidupanku sebelumnya.
Pasca selesai ia langsung mengisi buku kontrol milikku, dan kami buat sesi pertemuan rutin seminggu sekali ditiap weekend, baik itu Sabtu ataupun Minggu. Hal ini guna untuk mencek perkembanganku secara rutin. Karena katanya kalau aku terus mengikuti nasihatnya maka semua keluhanku dapat aku selesaikan dengan lebih mudah.
“Oh ia, aku juga ingin katakan bahwa obatmu harusnya sudah diganti. Biar aku resepkan obat yang baru padamu.” (katanya)
“Memangnya kenapa dok? Bukannya obat kemarin masih ada” (Responku)
“Iya memang sebelumnya aku merumuskan obat dan vitamin padamu, namun obat suplemen itu sudah tak harus kau konsumsi lagi. Karena dilihat dari data pertemuan sesi kita hari ini maka kau tak harus mengkonsumsi nya lagi. Selain dosisnya juga terbilang cukup tinggi dan pasti akan memiliki efek jika terus kau konsumsikan setiap hari” (Ucapnya)
“Oh jadi begitu yah dok” (Balasku)
“Tentu saja, akan ku resepkan dirimu obat baru yang dosisnya sudah dikurangi. Dan obat ini harus habis sesuai jangka waktunya, karena ini hanya untuk target seminggu. Namun kau boleh tetap meneruskan minum vitamin yang kemarin itu” (Ungkapnya dengan penuh keseriusan)
__ADS_1
“Terima kasih, baik aju akan mengikuti saran darimu” (Balasku dengan sedikit senyuman)
Setelah merasa semuanya telah selesai, aku segera pamit pada dokter Kevin untuk keluarga dari ruangannya. Namun kudengar dengan jelas ia mengatakan sesuatu yang mengejutkan diriku
“Next time, berusahalah lebih rileks. Kau terlihat sedikit tegang, dan kalau bisa jangan ada hal yang kau sembunyikan dariku”
Namun ku tak merespon apapun dan segera menutup kembali pintunya dan berusaha tak menoleh kearahnya.
“Sial, bagaimana dia bisa tahu? Padahal aku sudah mencoba bersikap senormal mungkin” (Gerutuku dalam hati)
Kini aku bergegas menuju apotek yang ada dirumah sakit ini, aku hanya ingin menebus resep obatnya dan ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit ini.
(15 menit kemudian)
Kini aku telah masuk ke dalam taxi online yang telah ku pesan sebelumnya. Tak lupa juga aku singgah ke salah satu restoran vegetarian untuk memesan makanan untuk dinner ku nanti. Kalian pasti memikirkan sesuatu tapi biar aku jawab, aku bukan seorang vegetarian tapi aku menyukai beberapa makanan yang bercita rasa sayur-sayuran dan buah-buahan. Jangan pikir rasanya akan tasteless karena di restoran ini mereka menyajikannya dengan sangat nikmat, jika kalian coba pasti akan ketagihan juga sama seperti diriku.
Langit terlihat semakin gelap dan sepertinya aku masih setengah jalan dari apartemen. Hari ini lumayan cukup melelahkan, tak terasa aku benar-benar menghabiskan banyak waktu diluar.
Akhirnya driver itu memberhentikan mobilnya dan mempersilahkan diriku untuk keluar pertanda aku telah tiba di tempat tujuan. Aku pun akhirnya turun dan memberikan kode bahwa aku telah membayar tagihannya secara online, atau yang sekarang kita kenal dengan istilah dompet elektronik.
Well, tak lama kemudian aku melangkahkan kakiku untuk segera masuk ke dalam gedung bertingkat ini. Sesampainya di lift area aku segera memencet tombol naik dan tanpa tunggu lama lift itupun segera terbuka. Perlahan tapi pasti aku masuk ke dalam lift tersebut sembari memencet pilihan lantai yang akan membawaku ke lantai dimana aku tinggal saat ini.
Sekarang dapat kurasakan lift bergetar perlahan dan bar angka yang ada dimonitor perlahan berganti seiring dengan getaran mulus yang dihasilkan ruangan ini. Tak ada orang selain diriku yang berada dalam lift ini sih sehingga membuatku merasa nyaman bersandar sepuas diri di dalam lift.
Tak terasa bunyi liftpun terdengar oleh telingaku dan aku segera berdiri dan langsung keluar dari lift.
Mendadak aku terpental ke lantai, tas makanan dan obatku juga terlepas dari tanganku yang untungnya tak membuat makanan tersebut berserakan ke lantai yang pertanda makananku itu masih utuh didalam boxnya
Perlahan ku alihkan pandanganku padanya, yah itu karena aku merasa suara ini sungguh familiar. Dan benar saja dia adalah satu-satunya orang yang terprediksi di kepalaku. Bukannya karena aku sedang memikirkan dirinya tapi fakta bahwa dilantai ini hanya terdapat apartemenku dan apartemen miliknya, tak ada orang lain melainkan tetangga seberang apartemen. Dan mustahil bukan jika tetangga sebelah menaiki lift apartemen yang menuju area jelas-jelas hanya dimiliki oleh 2 orang.
“Astaga, lagi-lagi ternyata dirimu. Apa kau tak bisa sama sekali tak membuat kesalahan? Dasar ceroboh!” (Kataku)
“Maaf, kan sudah kubilang aku minta maaf. Sungguh aku tak sengaja” (Ucapnya dengan muka memelas dan penuh perasaan bersalah)
Kulihat dia segera mengumpulkan semua barangku termasuk tas obat yang sekarang sedang berceceran di lantai.
“Sudahlah, biar diriku saja. Pergi saja sana” (Kataku)
“Diamlah, biarkan aku bertanggung jawab” (Balasnya)
“Cih gadis ini benar-benar keras kepala. Ngeyel banget dibilangin” (Gerutuku dalam hati)
Tak ingin kalah darinya, aku segera mendekat dan mengumpulkan semua barangku yang kini sedang berserekan. Namun justru hal ini mengantarkan kami pada satu insiden kecil. Disaat jarak kami yang begitu dekat aku tak sengaja sempat menyentuh tangannya beberapa kali dan yang paling mengejutkan aku tak menyadari dia sedang berusaha berdiri sedangkan aku sedang bergerak kearah kiri, which is tapat ke arah dia yang ingin berdiri. Benar-benar tak dipercaya dan diluar nalar pikirku. Bibir kami sempat bertemu walau sesaat, dan sekejap aku merasakan hal yang luar biasa seolah waktu berhenti selama beberapa detik dan aku dapat mendengarkan langsung degupan jantung didalam dadaku.
Ujung bibirnya tepat mengenai sudut kiri bibirku sehingga menciptakan ciuman yang nampaknya semu itu terjadi dan lagi ini diluar kehendak kami. Walau dia mencoba bersikap tenang dan berpura-pura seolah tak terjadi sesuatu, justru aku dapat melihat sesuatu di dalam matanya. Ia nampak sedikit gugup dan tersipu malu sedangkan diriku yang sepertinya sedang menahan mukaku yang perlahan tapi pasti berubah menjadi merah.
“Apa itu? Kenapa banyak obat didalam tas plastik itu?” (Tanyanya menunjuk ke arah tas obatku, selagi mencoba melupakan kejadian sesaat yang barusan terjadi)
“Bukan apa-apa” (Balasku secara dingin)
__ADS_1
“Apa kau sedang sakit? Kalau boleh tau kau sedang sakit apa? Apa kau dari dokter? Mau coba kerumah sakit?” (Tanyanya padaku secara lirih dengan sedikit tersendat pertanda ia gugup)
Namun justru aku sepertinya belum bisa move on dengan kejadian sepersekian detik itu. Rasanya sungguh tak terduga dan masih sangat berputar-putar dikepalaku. Tapi kini justru sekarang ntah mengapa aku merasa nyaman dan sedikit dag dig dug mendengar ucapannya yang sepertinya menandakan bahwa ia peduli dan cukup perhatian padaku.
“Itu... Itu bukanlah urusanmu” (Balasku singkat dengan tatapan tunduk karena tak berani menatap matanya secara langsung)
“Tapi.. kalau sakit jangan ditutup-tutupi, kalau aku bisa bantu pasti akan ku bantu. Lagipula kitakan tetangga-aan” (Ucapnya dengan nada yang halus)
“Sudahlah dari pada pikirkan tentang itu Kenapa kau menabrak diriku? Emang aku sekecil apa Sampai tak terlihat oleh kedua matamu itu” (Balasku padanya, mencoba menutupi wajah merah dan perasaanku yang sepertinya sedang meluap-luap)
“Oh itu, maaf. Aku tadi ingin mengembalikan jaket milik David yang ia pinjamkan padaku” (Ucapnya dengan nada sanduh)
Mendengar nama cowok lain yang keluar dari bibirnya justru malah membuat tempramen darahku mendadak naik. Seketika teringat kembali momen dimana aku melihat pria itu mengantarkan dirinya pulang tempo hari. Tau tau mengapa aku merasa tak suka mendengarnya berbicara tentang pria itu, apalagi dengan nada sedikit memuji pria itu yang belum tau ntah kebaikannya memiliki maksud terselebung ataupun tidak.
Tanpa mengatakan apapun lagi, aku segera mengambil barang milikku dan mencoba berdiri lalu langsung melangkah masuk menuju pintu apartemen milikku. Ku dengar dia masih berbicara namun aku tak lagi memperhatikan kata apapun yang keluar dari mulutnya. Yang kutahu sekarang aku sedang merasa panas dan jantungku i mean hatiku merasa sedikit sakit. Saat ku mencoba menutup pintu dapat kulihat dirinya mencoba melangkah ke arah pintuku tapi aku tak meresponnya, justru aku langsung segera menutup dan mengunci pintu ini.
Didalam kegelapan ruangan ini yang sedikit dingin ini aku mempertanyakan semua kelakuan tingkahku barusan.
“Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa semuanya begitu rumit? Oh Tuhan berikan aku petunjuk” (Keluh kesahku)
.
.
.
.
.
Bagaimana episode kali ini menurut kalian?
Jujur aku sedikit sulit untuk mengerjakan episode yang satu ini. Tak tahu mengapa ide-ide terus keluar masuk dari kepalaku sehingga aku benar-benar butuh waktu 4 hari untuk menyelesaikannya.
.
.
TBC
Mohon maaf yah apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam episode kali ini. Sorry juga kalau banyak typo yang berhamburan, padahal aku udah berusaha sebisaku.
Terima kasih telah meluangkan waktu kalian untuk membaca karyaku
Please budayakan Subscribe, like, Follow, Vote, Comment dan share keseruannya dengan orang-orang disekitar kalian.
I LOVE YOU!!
__ADS_1
See ya in the next episode!