Tak Dapat Disentuh

Tak Dapat Disentuh
Cute As Hell


__ADS_3

(Flashback On)


Sacha POV


Sekitar sepuluh hari yang lalu, aku benar-benar memastikan diri untuk terlibat dalam melakukan hal-hal ini. Yah tak tahu mengapa? Aku benar-benar terjun tanpa alasan yang sama sekali tak ku dapatkan. Akan tetapi aku percaya pada insting hati nurani ku. Aku sadar bahwa belakangan ini Mark menjaga jarak dariku. Dan yah aku akui aku sedikit terlena dengan hal itu dan lebih fokus mengejar setiap 'sign' yang ada didepan ku. Something real yang dapat ku sentuh. tetapi tetap saja, ini tak dapat menutup kenyataan yang sebenarnya sedang ku sembunyikan secara tak langsung. Rasanya di setiap hal yang aku gapai terasa tak utuh, selalu saja ada sesuatu yang membuatnya terasa kurang.


Sesuatu tersebut adalah hal yang selalu aku coba tuk hindari. Tapi nyatanya 'dia' tak pernah benar-benar pergi dari pikiranku dan kesucian hati ini. But still aku gak tau apa hubungannya atau apa maksud dari semua kegilaan dan kesengsaraan batin tanpa ujung ini. Rasanya sungguh melelahkan, andai saja para vampir masih memiliki kemampuan untuk mematikan emosi maka mungkin saja aku sudah menggapai hal tersebut.


Secara tak sadar aku terus saja memperhatikan setiap pola dan jarak yang dia buat. Aku memastikan kali ini aku takkan salah langkah dalam menggapainya.


Dari situ aku jadi tau aktivitas apa saja yang ia lakukan. Walau tak sepenuhnya benar. Yah karena aku kan juga memiliki kegiatan lain dann ditambah kini aku juga seorang trainee, dan aku sangat membutuhkan ini untuk meraih mimpi serta karirku sendiri nantinya.


Aku tau ia sedang sakit, dan aku selalu kepikiran tentang hal itu semenjak aki secara tak sengaja menabrak dirinya dan melihat isi tas obat-obatan tersebut. Aku tau dengan pasti jika aku menanyakan hal ini padanya walau dengan memaksa, dia pasti tak akan membuka mulutnya untuk bercerita padaku. Terlebih lagi kami terkadang sering terlibat insiden-insiden kecil yang sedikit berbeda. Dan mungkin saja bukan tapi pasti dia menandai diriku sebagai 'musuh' di daftar harian jurnalnya.


Well seharusnya aku tak perlu mempermasalahkan hal tersebut tetapi..., Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam putaran hidup ini. Aku biasanya mudah untuk mengabaikan detail-detail kecil yang tak penting bagiku tapi kali ini agak sedikit berbeda. Somehow aku terus melakukan hal-hal yang pikiranku katakan untuk jangan lakukan. Sepertinya aksi yang kini sedang aku lakukan tanpa sepengetahuannya.


Kayaknya aku benar-benar mulai kehilangan akal, karena tak tau mengapa aku selalu membuntuti Mark secara diam-diam dan aku berusaha sebisa mungkin agar tak membuat dirinya curiga.


Dari situ aku jadi tahu bahwa ternyata setiap minggu, Mark selalu pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Karena rasa penasaran yang tak terbendung lagi, kini aku benar-benar memutuskan untuk mengikutinya sampai kesana. Sebenarnya aku melakukan hal lain yang belum ku beritahukan kepada kalian. Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, aku sungguh mengambil langkah melakukan hal ini. Percaya atau tidak aku bisa dibilang masuk tanpa ijin ke apartemen milik Mark dan berusaha mengulik semua informasi yang perlukan. Di sanalah aku mengetahui banyak hal, mulai dari aktivitas harian yang kini ia ambil, berkas data pribadi hingga ke buku medical check up milik Mark.


Aku melihat dan membaca segalanya. Awalnya aku merasa sedikit aneh karena tertulis di buku tersebut dibahagian kolom keterangan 'penyakit yang diderita' adalah hal-hal yang jelas aku tak tahu. Tapu sepertinya Mark mengalami semacam gangguan pengaruh mental atau kejiwaan. Aku benar-benar tak percaya karena dari luar nampaknya ia sehat-sehat saja. Tetapi dia memiliki hal lain yang benar-benar mengejutkan. Ditambah dia memang bersikap lumayan dingin, so everything somehow kinda make sense.

__ADS_1


Tapi karena rasa penasaran yang masih melanda diriku ini, aku nekat untuk kembali memasuki apartemen miliknya tanpa izin. Sebenarnya apartemen kan memiliki kunci password yang aman, tetapi berkat règina aku dapat menghandle semuanya dengan baik. Aku meminta bantuan hack darinya untuk melancarkan aksi gilaku ini. Dan tentunya aku tak berkata jujur oada règina, karena aku ingin memastikan semuanya sendiri. Aku tak ingin membawa namanya kedalam kerumitan dan aksi konyolku ini. Btw aku juga meminjam sebuah alat 'coding' dari règina yang berfungsi untuk menyalin semua data dari komputer ataupun laptop yang terenskripsi sekalipun. Karena alat tersebut sudah di program dan diberikan chip khusus didalamnya. Dan jika kalian bertanya apa Règina mau saja meminjamkan alat seperti ini dengan mudah kepadaku, maka jawabannya tidak. Dia mengajukan banyak pertanyaan tetapi aku berhasil meyakinkan dirinya bahwa aku hanya ingin menggunakannya untuk menghapus data kesalahanku yang ada di perusahaan dimana aku sedang trainee dan aku berjanji akan mereset dan mengembalikan alat ini padanya.


Well, tapi sayangnya aksi yang kulakukan untuk kedua kali ini nyaris tak berjalan lancar. Mark hampir mendapati diriku sedang berada dalam kamar apartemennya malam itu.


Sekitar malam rabu, aku memasuki apartemen mark untuk yang kedua kali. Aku segera mencari hal-hal yang perlu aku ketahui. Tapi sialnya ternyata Mark sedang berada di dalam apartemennya kala itu. Dia hampir saja memergoki diriku yang sedang mencoba mengutak-atik laptop miliknya. Tetapi untung saja karena indraku yang tajam aku dapat menghindari dirinya dan segera bersembunyi di bawah tempat tidur miliknya. Dan yah sesuai dugaanku laptop miliknya terkunci oleh sebuah password yang sepertinya bukan kata sandi biasa melainkan suatu program security pengaman yang biasa digunakan para 'hacker-ish'. Tetapi aku tak menyerah, aku segera mencolokkan alat milik regina yang berbentuk seperti flashdisk ini kedalam laptop milik mark. Ditambah karena merasa tak begitu aman aku segera keluar dari kolong kasur ini dan segera melesat ke kamar mandi. Soalnya Mark terlihat sedang mondar-mandir di setiap ruangan yang tentunya membuat diriku sangat cemas jika ia nantinya akan mendapati diriku disini.


Disinilah aku, di kamar mandi Mark yang baunya sangat maskulin. Aku kembali menyalakan laptop miliknya tersebut lalu mengikuti beberapa instruksi yang sempat diajarkan oleh Règina sebelumnya. Yup ntah apa yang merasuki diriku, seharusnya aku menghentikan aksiku ini dan segera mencari jalan keluar. Tetapi rasa penasaranku menuntut diriku untuk berbuat lebih. Maka yeah aku ambil resiko ini dan memastikan setidaknya aku mendapatkan hal apapun yang aku inginkan dari laptop milik mark.


Proses loading dilayar laptop ini akhirnya mulai berjalan secara perlahan. Dan aku harus menunggu prosesnya hingga selesai 100 persen. Namun mendadak sesuatu sedikit mengalihkan perhatianku, pasalnya aku mendengar langkah kaki yang sedang berjalan kearah kamar mandi ini. Karena merasa panik aku perlahan melangkah dan bersembunyi di bathtub milik Mark. Tapi dapat kudengar pasti pintu itu berbunyi dan seseorang sedang melangkah masuk kedalamnya. Harapan ku dia hanyalah untuk sekedar buang air saja. Tapi sialnya dia tidak melakukan hal itu, melainkan dia sepertinya ingin mandi.


Tak lama kemudian suara musik berbunyi dan perlahan aku melihat bayangan seseorang yang aku yakini adalah Mark kini masuk ke ruangan shower miliknya. Syukurlah dia memutuskan untuk mandi dan bukannya berendam. Karena kalau tidak, dia pasti sudah menjumpai diriku disini. Suara guyuran air terdengar berbunyi dari ruangan shower yang berada tak jauh dari bathub ini. Setelah memastikan semua data terkopi dari laptop Mark, kini aku segera bergegas keluar dari kamar mandi ini. Tetapi langkahku terberhenti dan menoleh kearah samping kanan, disana di dalam ruang shower kaca aku melihat mark sedang mandi disana. Bayangan dirinya memang terlihat sedikit pudar 'blur' tapi tiap pahatan otot yang ada itu masih bisa nampak dengan jelas dimata milikku.


Tak tahu mengapa aku sedikit terbuai oleh hal tersebut hingga aku mendengar ia mematikan kran air yang seketika membuat pikiran warasku kembali dan tanpa berlama-lama lagi aku segera keluar dari kamar mandi ini. Dan syukurlah dia tak menyadari sesuatu, aku lalu meletakkan laptop miliknya di atas kasurnya lalu segera bergegas keluar dari apartemen miliknya.


Aku menarik udara segar untuk mengisi kembali paru-paru milikku yang rasanya tadi sempat bekerja dengan kurang baik. Setelah merasa sedikit tenang, aku perlahan masuk ke apartemen milikku.


Rasa penasaran kembali menggodaku, dan tanpa menunggu apapun lagi, kini aku meraih laptopku dari atas meja lalu segera mencolok hak tersebut untuk memeriksa hal apa saja yang aku dapatkan dari sosok seorang mark. Dan yah aku membuka filenya satu persatu. Sepertinya aku memiliki pekerjaan rumah tambahan malam ini.


Akhirnya aku mulai membuka dan mengkopi ke dalam laptopku beberapa informasi yang ku anggap penting. Selebihnya segera ku hapus agar tak membuat règina curiga. Tetapi hal yang paling menarik perhatianku ini adalah bukti rekaman medis milik Mark dengan seorang dokter. Dan kalau dilihat-lihat sepertinya mereka memang cukup akrab. Namun ada satu hal yang mengganjal pada batinku ini. Nama dokter yang menangani Mark terdengar sangat familiar. Dan ntah mengapa aku jadu terdorong untuk mencari tahu informasi lanjut mengenai aktivitas mereka. Btw dari rekaman medis ini aku melihat bahwa mereka akan mengadakan pertemuan Minggu ini untuk pemeriksaan mark Secara lanjut. Dan instingku mengatakan bahwa aku harus kesana, aku haru mengikuti Mark kesana.


<>

__ADS_1


Bagaimana episode kali ini?


Beritahu aku opini kalian di kolom komentar yah!


Sorry kalau typo!


____


Next episode :


“Yah aku harus berani mengambil langkah ini, tunggu sepertinya aku mengenal sosoknya itu. Kamu? Aoa yang kau lakukan disini? Oh sial sepertinya aku mengenal siapa pria itu.”


TBC


Thanks yang udah support aku dan meluangkan waktu kalian untuk membaca karyaku ini


I love you all!


Please follow, subscribe, like, vote dan share yah


Setiap respon kalian benar-benar berarti bagi penulis.

__ADS_1


See ya in the next episode!


__ADS_2