
Sacha POV
Semuanya berjalan dengan damai, rasanya setiap hari penuh dengan hal-hal baru. Kesibukan dan situasi seperti yang harus aku jalani setiap harinya.
“Tolong di percepat lagi soalnya proses pemotretan sudah harus di mulai sejak 10 menit yang lalu” (Ucap salah satu juru kameramen saat masuk di ruang riasku)
“Baik tuan, ini juga baru saja selesai” (Balas oleh salah satu penata riasku)
Kini aku langkahkan kakiku ke dalam ruangan set pemotretan dan dapat kulihat ratusan alat penerangan yang dikenal dengan sebutan Flashlight itu bersinar dengan terang. Mereka mengarahkan diriku tepat ke arah kamera utama berada dan tanpa menunggu lama lagi aku menunjukkan keahlian diriku. Tubuhku mulai bergerak mengikuti insting para model sesuai dengan seperti apa kami diajar sebelumnya. Hal ini berlangsung sekitar 45 hingga 60 menit untuk satu sesi pemotretan. Dan untung saja hari ini pemotretan aku tak begitu banyak sehingga aku tak harus berlarut sampai terlalu malam di studio.
Tapi sebenarnya di balik ketenangan yang aku rasakan belakangan ini masih terdapat suatu hal yang mengganjal bagiku. Yah hal yang masih terus membayangi diriku sejak peristiwa yang terjadi pada malam itu. Sebagian diriku merasa risau dan khawatir bahwa semua ketakutan yang aku rasakan itu menjadi suatu kenyataan. Memikirkannya saja sudah terasa salah.
Mungkin kalian berpikiran tentang hal yang sama denganku karena sejak saat itu sampai hari setiap kali ada kekosongan dan kejenuhan di dalam diriku aku selalu terpikirkan persoalan yang satu ini. Ucapan Carmine di saat terakhir aku bertemu dengan dirinya tetapi lebih tepatnya sih ancaman yang keluar dari bibir jahatnya itu.
Flashback singkat soal apa yang terjadi pada malam itu :
“Terus mengapa? Dirimu impresif.” (Ucapku sembari tertawa)
“Yah lumayan Tapi bagaimana kalau mereka semua tahu yang sebenarnya? Bagaimana jika dunia tahu akan kenyataan tentang dirimu?” (Respon Carmine)
“Haha, Lelucon macam apa yang kau hadiahkan padaku. Tapi sayangnya hal itu basi, apa kau pikir orang akan percaya dengan omongan dirimu. Maaf jangan tersinggung tapi orang normal mana yang akan menganggap dirimu waras” (Ledekku)
“Silahkan tertawa sepuasmu. Nikmati waktu yang kau miliki selagi kau masih bisa bersinar tapi saat itu tiba baik kau sadar ataupun tidak aku akan menjadi salah satu orang yang kan menyoraki dirimu. Dan saat itu tiba pastikan kau kan mengingat apa yang kukatakan malam ini” (Balas Carmine dengan menampakkan senyuman jahatnya itu)
“Jadi ceritanya kau mengancam diriku? Emangnya kita hidup di zaman mana? Apa kau pikir aku akan takut dengan hal itu?” (Tanyaku balas sembari menggertak dirinya)
“Baiklah camkan saja kata-kata yang barusan aku ucapkan, karena kau takkan tahu kapan lagi kita kan bertemu. Tapi anggap saja saat hal itu terjadi, cukup kau tahu bahwa hal tersebut adalah hadiah dariku” (Jawaban Carmine dengan nyengir)
Sejak saat itu aku berusaha memantau kegiatan dan aktivitas Carmine tapi 2 minggu belakangan ini dia sudah lagi tak berada dalam pengawasanku. Padahal aku sudah berusaha keras melacak dam mencari informasi soal dirinya tapi yang selalu ku temukan hanyalah jalan berujung yang tak memiliki akhir. Seolah Carmine benar-benar menghapus seluruh jejak keberadaan dirinya. Hal inilah yang membuat diriku risau akan tentang semua ini. Aku sekarang hanya bisa berharap agar dirinya tak berulah sama sekali.
David POV
Tak terasa terlalu banyak waktu yang telah berlalu dan aku sudah memutuskan untuk memantapkan hati ini. Aku tak ingin berlama-lama lagi tetapi di satu sisi yang lain aku juga tak ingin mengacaukan semua ini dengan memaksakan semua kemauanku pada dirinya. Iya aku memang merasa dirinya adalah hal yang tepat untuk diriku. Aku mencintai dirinya itulah hal yang aku tahu, aku sungguh menyayangi dirinya dan aku merasa sudah cukup bersabar selama ini. Aku tak ingin berlama-lama lagi, rasanya aku tak sanggup jika tiba-tiba ada pria lain yang mencuri hatinya dariku. Jika hal tersebut sampai terjadi pasti hati ini akan tersayat-sayat dan aku tak tau apakah ada rumah sakit yang dapat menangani lukaku nantinya. Yah walau jujur aku juga belum tahu apa yang sungguh di rasakan Sacha terhadap diriku. Yah aku bisa melihat gerak-geriknya tetapi kata Règina Sacha juga kebetulan sedang begitu dekat dengan seorang pria yang bernama Mark. Aku tak mengenal siapa pria itu yang sebenarnya tetapi aku sudah coba untuk mengawasi gerak-geriknya belakangan ini.
Anyway, aku telah merencanakan makan malam romantis dengan Sacha sepulang dirinya dari studio di suatu tempat. Yah akhir-akhir ini kami cukup sering menghabiskan banyak waktu bersama dan ku harap ini adalah progres yang baik.
[Beberapa Jam Kemudian]
David mengirimkan beberapa pesan ke Sacha,
David : Cha, aku udah sampai didepan nih..
Sacha : Oh tunggu bentar yah.
David : Oke aku tunggu di mobil yah
Yah aku akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah mobil untuk memudahkan akses transportasi ku. Awalnya aku tak ada niatan untuk membeli kendaraan soalnya aku memiliki rencana untuk berpindah-pindah kota. Tapi kini semuanya berbeda sekarang, hatiku telah menemukan hal yang diinginkannya oleh karena itu aku memutuskan untuk stay dan membiarkan kaki ini melangkah mengikuti ke mana arah takdir membawaku pergi. Namun jika nantinya hasil tak sesuai harapan maka aku rela menjadi seorang yang terhempas pergi, selama Sacha bahagia aku akan berusaha okay dan kan menerima semua keputusan dirinya dengan ikhlas.
Seseorang membuka pintu mobilku dan segera masuk ke dalam, suara halus dan lembut miliknya bagaikan sebuah alunan nada di telingaku, paras dan auranya selalu bersinerigi.
“Maaf yah agak lama, soalnya ada sedikit kesalahan teknis” Ucapnya.
“Kamu pasti sudah menunggu dengan lama” Tambahnya.
__ADS_1
Lihatlah dirinya sangat manis, ia merasa bersalah dan ntah mengapa dirinya jutsru terlihat sangat polos.
“Gak kok, gak papa. I’ll do anything for you” Kataku.
“Ah-aah, You’re sweet!” Sanggahnya balik.
Sembari memasang sabuk pengaman, dirinya bertanya “ngomong-ngomong, kita mau ngapain malam ini?
“Aku sebenarnya sedang lapar” – Balasku sembari tersenyum
“Dan ku berpikir ingin mengajak dirimu makan malam. Gimana kamu bersedia ngga dinner bareng aku?” Ucapku.
“What a lovely idea!” Sahutnya.
“Gak usah bersikap formal, aku pasti mau kok. Ditambah aku juga lumayan laper” Tambahnya dengan sedikit tertawa.
“Apa kau punya prefensi khusus akan hal itu?, I mean apa kau ingin makan sesuatu yang special malam ini?” Tanyaku.
“..Hmm..”
“Kayaknya ngga deh, aku gak tau pengen makan apa.” Kata Sacha.
“Aku ikut kamu aja” Tambahnya sembari tersenyum.
“Apa kamu yakin?” Tanyaku balik.
“Tentu saja.. Kau kan memiliki selera yang sangat baik dan aku tak pernah meragukan hal itu.” Balasnya.
<>
Sacha POV
“Iya. Emangnya kenapa? Kamu gak suka yah tempat ini” Balasnya dengan suara raspy miliknya.
“Nggak bukannya begitu. Aku gak percaya aja. I mean lihatlah aku, gak ada tampang pantas untuk memasuki restoran yang fancy itu” Ucapku.
“Kamu terlihat cantik kok, dan gak kalah bersaing dengan para wanita di dalam sana. Jangan rendahkan dirimu” Ungkapnya.
Untuk sesaat aku merasa nyaman mendengar semua perkataan yang terlontar dari pria ini.
“Nggak bisa di tempat yang lain yah Vid?” Tanyaku dengan penuh perasaan ragu dan gugup.
“Kenapa? Kamu merasa gak nyaman yah. Boleh kok tapi aku sudah pesan tempat di resto ini. Tapi kalau kamu mau pindah aku bisa masuk tuk batalin aja bookingan aku yang sebelumnya” Jawabnya mengisyaratkan sebuah senyum tipis dengan pahatan rasa kekecewaan yang bisa aku tangkap.
“Oh my Lord,, why? Tuhan mengapa kau tempatkan aku di posisi seperti ini” Teriak ku dalam hati.
Begini yah bukannya aku orang yang picky atau apa, tapi restoran ini masuk dalam jejeran resto termhal yang ada di LA. Orang yang datang kesini pasti para keturunan konglomerat. Dan jika seandainya kalian bisa melihatku. Aku yang cuman pakai hoodie dan celana training gimana pantas untuk masuk ke dalam sana, diantara para kerumunan wanita modern dengan gaun dan perhiasan mahal. Mereka pastilah orang-orang kelas A. dan pastinya penampilanku akan merusak selera mereka yang sedang makan. Ditambah kenapa aku orangnya peka banget sih. Kan sekarang aku jadi merasa bersalah. Aku bisa melihat rasa kecewa bercampur sedih milik David yang tersembunyi dibalik wajah tampan miliknya. Sekarang aku jadi merasa gak enakan dengannya.
“Yah kalau gitu janganlah. Kamu udah terlanjur pesan tempat disini”
Ntah keberanian dari mana yang sedang terselip di bibirku, sehingga aku sangat berani mengatakan hal tersebut.
“Kamu yakin? Beberapa menit yang tadi kamu pingin untuk pindah, kok sekarang berubah?” Tanyanya memastikan.
__ADS_1
“Yah,, gini kalau mau jujur sih, aku mau-mau aja dinner bareng kamu disini. Tapi sayangnya penampilan aku gak sama sekali mendukung. I mean, kamu saja terlihat casual, stylish dan sangat enak dipandang. Sedangkan aku justru malah mirip seperti sebuah pemabantu bersanding denganmu” Ucapku.
“Oh jadi itu masalahnya. Kamu ngomong dong dari tadi.” Balasnya sembari tertawa kecil.
“Kamu tau kan aku seorang model baru, bisa-bisa para klien takkan mau lagi mengontrak diriku, jika seandainya para orang yang ada disini berhasil mengekspos diriku” Taktiku menggunakan alasan ini agar supaya David mau merubah pikirannya.
“Kalau soal itu kamu jangan khawatir, aku punya solusinya” Ungkapnya.
“Maksud kamu?” sanggah ku balik.
“Ini adalah jum’at malam dan umumnya disini mereka menerapkan aturan dress code dihari tersebut. Dan bagi pengunjung yang tidak sesuai dengan aturan, biasanya mereka menawarkan untuk penyewaan dress yang sesuai dengan aturan yang berlaku” Ungkapnya.
Aku yang teralalu kampungan jutsru malah manggut-manggut mendengar penjelasan darinya.
“Dan tenanglah aku juga sudah menghandle persoalan itu, dirimu tak perlu harus khawatir.” Katanya.
“Baiklah kalau begitu” Balasku.
Kami akhirnya turun dari mobil dan kami menuju sebuah side door. Aku hanyalah mengikuti langkah kaki David sedangkan tangannya dari tadi sudah mengenggam tangan milikku. Tak tau mengapa aku kembali merasa nyaman, belum ada orang yang memperlakukan diriku seistimewa ini.
Sesampainya didalam para staf langsung memandu kami selepas hal yang dibisikan david kepada mereka. Akhirnya genggaman kami terlepas, aku mengikuti staff wanita yang memanduku ke sebuah ruang ganti dan tata rias. Kelihaiaan mereka sangat luar biasa, tak perlu diragukan lagi. Gerakkan mereka bagaikan sebuah mantra sihir, saking merasa begitu rileks aku tak menyadari mereka telah mengganti pakaianku dengan sebuah dress yang berwarna seperti bunga mawar dan rambut serta make up aku semuanya menjadi on point 100%, sepatu santai yang ku pakai sebelumnya kini berubah menjadi sebuah high heels.
Setelah merasa telah siap, mereka akhirnya mengarahkanku ke sebuah ruangan besar di resto ini yang desainnya sangat berbeda, begitu natural lengkap dengan alunan music romantic dan pancaran nada dari air mancur yang berada di tengah ruangan itu. Selepas itu mataku segera berbalik ke sebuah menja yang telah diberitahukan oleh para pegawai tadi. Dan david terlihat sangat tampan dengan sebuah jas di pojok sana. Tanpa sadar aku melangkahkan kaki ini menuju arah dia dengan wajah yang penuh senyum, seolah hati ini berbunga-bunga.
“Kamu terlihat sangat cantik Sacha” Ucapnya.
Kali ini penakanan ditiap kata yang keluar dari mulut david seolah memancarkan satu inisial lain, dan aku jelas dapat merasakan hal tersebut sejak tadi. Don’t know why I kinda see those sparks fly.
“Ah kamu bisa aja. Thanks btw, kamu juga terlihat tampan” Kataku.
.
.
.
<<>>
_____________
Next Episode :
“Aku sudah memiliki perasaan ini sejak lama. Rasa seolah aku dapat mendengar sesuatu di kesunyian, perasaan yang selalu aku bawah setiap pulang, rasa yang dapat memberiku penglihatan walau disaat gelap. semua jalan mengarahkan driku padamu, mereka membisikan nama dirimu”
.
.
TBC
Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca karya aku.
Enjoy yah!
__ADS_1
See ya in the next episode!