Tak Dapat Disentuh

Tak Dapat Disentuh
Stone Heart


__ADS_3

Mark POV


Aku benar-benar merasa semakin membaik dalam kurun waktu belakangan ini. Semuanya nampak lumayan oke. Dan untungnya semua medicine yang aku jalani sungguh membantu meringankan beban dan tekanan yang ada di pundak ku. Rasa-rasanya kini aku dapat bernafas dengan sedikit lega. Tak ada hal yang harus aku takutkan lagi, tetapi bukan berarti sesi pengobatan ku dengan dokter Kevin telah berakhir. Ia tetap terus memintaku datang menemui dirinya setiap Minggu di jam biasanya. Yah walau kadang sedikit molor karena jadwal dokter Kevin yang begitu padat.


Jujur aku sebenarnya merasa pengobatan ini tak harus dilanjutkan lagi, pasalnya aku yang sekarang benar-benar sudah merasa baikan. Tapi aku tak tau mengapa dokter Kevin seolah membuat treatment ini menjadi lebih panjang. Ntah lah aku juga tak tau, mungkin ini hanyalah asumsi dariku semata. Lagipula apa motif yang direncanakan Dokter Kevin? Selama ini aku justru nyaman-nyaman aja sama beliau. Bahkan jauh dari semua gosip dan rumor yang bertebaran di internet mengenai dirinya.


“Hello? Oh ternyata kamu ngumpet dan sembunyi disini” (suara lantang yang terdengar langsung ditelinga ku itu sungguh membuatku kaget)


“Kok diam sih.. memangnya kamu kenapa? Masih sakit? Bukannya aku dengar katanya pengobatan mu berjalan dengan lancar dan seharusnya kau baik-baik saja bukan?” (Ucapnya lagi yang kini mulai mengembalikan kesadaranku secara sepenuhnya)


“Hai, kok diam aja sih. Aku dari tadi capek loh ngoceh terus-terusan tapi kamu gak respon dengan satu katapun” (Tambahnya)


“Pertama, kamu ngapain ada disini juga? Dan mengapa kau terus membuntuti ku seperti seorang stalker?. Kedua, memangnya kau nggak bisa yah kalau tiap kali bicara dengan diriku, volume suaramu di kontrol terlebih dahulu. Kau tahu, kau hampir saja membuat gendang telingaku ini pecah. Dan ketiga, aku gak pernah ada urusan denganmu. So tinggalkan aku sekarang atau akau yang bakal pergi dari sini.” (Balasku dengan tegas sembari memberikan tatapan langsung dimatanya)


“Chill dude! Ga perlu harus pakai emosi juga kali. Lagipula kamu berlebihan sekali jadi orang..” (Ucapnya yang segera terpotong oleh kata dariku)


“Terus kenapa? Apa kau ada masalah juga dengan hal itu? Toh ini badan-badan milikku. So mengapa harus kamu yang jealous?”


“Oh my gosh! Relax! Aku nggak tau kau bangun dari sisi yang mana di tidurmu hari ini. Tapi dari caramu bersikap, aku sungguh berpikir kau seharusnya juga harus mendaftarkan dirimu di kelas tata krama. Agar supaya kau memiliki sedikit pengetahuan tentang apa yang namanya “sopan santun” itu.” (Ungkapnya dengan sedikit geram)


“Sudalah, ga perlu basa-basi lagi. Sebenarnya kau ada perlu apa sehingga kau nenyampari diriku?” (Balasku dengan sikap yang cuek)


“Ayolah bung, c'mon jangan terus menghindar dariku. Aku pikir kita sudah berada disisi yang sama.” (Tuturnya dengan sedikit melembut)


“Aku nggak tau apa maksud dan niatan dirimu. So sebaiknya kamu tetap menjaga jarak denganku.” (Balasku)


“Kamu kenapa sih? Kok mendadak jadi dingin kembali? Aku nggak tau apa sebenarnya masalahmu denganku tapi apapun itu, aku pikir kita sudah mengatasinya. Bukankah kita sudah saling menjernihkan dinding kesalahpahaman yang ada diantara kita.” (Responnya dengan tutur kata yang tegas tapi masih berirama lembut)

__ADS_1


Oh sial aku tak tau mengapa aku kembali merasakan semua perasaan aneh ini setiap kali aku berada dekat dengannya. Kadang aku merasa bahwa sepertinya Sacha lah yang membuat semua hal yang terjadi ini menjadi semakin rumit. Aku berpikir dialah sumber permasalahanku. Dialah asal muasal semua keanehan ini terjadi. Semuanya tampak semakin ribet, aku tak tahu mengapa apa yang pikiranku ini katakan tak selalu sejalan dengan apa yang hatiku inginkan. Oh god help me!


“Mark, hello Mark. Kita lagi ngobrol loh tapi kok kamu ngayal lagi. Sepertinya kau benar-benar harus diperiksa kembali dengan dokter kevin. Aku khawatir jangan-jangan ada syaraf diakal mu yang mungkin sedang terganggu” (Ucapnya yang tanpa sadar menggenggam tanganku dengan hangat)


“Memangnya siapa bilang seperti itu. Kamu sebaiknya jangan sekedar ngasal deh. Karena itu semua gak real, gak nyata sacha. Ditambah bukannya itu hanya anggapan dan asumsi dirimu sendiri bukan?” (Kataku)


“Sejak kapan kau mulai jadi bersikap sok peduli denganku?” (Tambahku)


“Jujur aku sebenarnya tak ingin bersikap peduli padamu. Aku bahkan sangat ingin untuk menolakmu menjauh. Tapi entah mengapa rasanya selalu tak bisa kulakukan. Seolah hati dan pikiran sedang bekerja namun tak sejalan. Aku tak tahu bagaimana mendeskripsikannya lebih detail dengan kata. Tapi yang aku tau aku hanya mengikuti insting dari hatiku. Ditambah aku selalu melihat kau sendirian. Kau sepertinya tak memiliki teman akrab bukan? Kau tak punya sahabat yang dapat kau ajak bertukar isi hati dan pikiranmu. Dan lagipula selain kita berada disini, disekolah yang sama. Kita juga tinggal di tempat yang sama, dilantai yang sama. Bahkan hanya bersebelahan tembok. Dan tapi..” (Ungkapnya dengan nada sedikit penuh isak yang nampak bergejolak dimatanya)


“Tapi apa?” (Umpanku balik sembari mencoba mengabaikan apa yang kulihat itu)


“Aku berpikir bahwa kita sudah menjadi cukup dekat. Sehingga mungkin kita bisa berteman. Lagipula itukan tak ada buruknya” (Tuturnya secara perlahan dengan kontrol nafas yang sedikit berat)


“Tolong deh, sebaiknya kau menjauh saja. Hentikan semua yang ingin kau lakukan terhadap diriku. Aku masih mampu untuk menghandle semuanya sebisaku. Aku masih merasa mampu dan tak butuh pertolongan ataupun belas kasihan dari siapapun termasuk dirimu. Aku hargai keinginan dan niatmu tapi aku gak bisa. Dan bukan berarti karena aku sempat menceritakan beberapa hal kepadamu maka aku otomatis membiarkanmu masuk dalam hidupku. Bukan berarti kau juga otomatis menjadi teman atau sahabatku.” (Ucapku lalu segera pergi meninggalkan dirinya)


Aku tak pernah menduga akan merasakan sesuatu seabsurd ini. Dan setelah pencerahan atau nasihat dari dokter Kevin sebenarnya sudah memberikanku beberapa hint dan clue tetapi aku tak tau mengapa aku benar-benar tak ingin melihat hal itu dengan jelas. Aku tak tahu mengapa aku tetap terus mendorongnya menjauh. Bukannya malah terbuka dan menerima realita yang ada. I guess, mungkin ego atau hal apapun yang ada dalam diriku ini benar-benar merasa terusik dengan hal ini. So That’s why aku coba terus-terusan menerima putaran takdir yang ada. I thought i’m strong enough. But maybe i don’t.


Bel masuk akhirnya berbunyi. Tanpa berpikir apapun lagi kini aku segera melangkah menuju kelas berikutnya yang harus aku ikuti hari ini. Aku sungguh melangkah tanpa menoleh kebelakang. Yup rasanya sedikit berat, tapi aku harus mengambilnya.


***


Kalian mungkin bertanya-tanya apa yang tengah terjadi. Beberapa hal telah terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini. Tapi khususnya sekitar 5 hari yang lalu, semua hal ini terjadi secara tak terduga. Padahal selama beberapa minggu terakhir aku terus menjaga jarak dari Sacha. Aku benar-benar pastiin bahwa aku melakukan semuanya sendirian. Itulah mengapa tak ada satupun orang yang kuberi tahu tentang treatment yang sedang aku jalani. Karena jujur aku tak suka mencari simpati dari orang lain. Dan aku juga benar-benar benci dengan yang namanya “dikasihani”. Rasanya benar-benar menggelikan. Hal ini secara tak langsung membuat diriku kembali mengingat hal-hal yang seharusnya sudah ku lupakan saat masa kecil. Semua tekanan dari mereka benar-benar berhasil mempengaruhi diriku di masa kecil.


Oleh karena itu aku tak suka dan tak mau membebani orang lain sama sekali. Aku benci melihat kepedulian mereka yang fake itu. Mereka yang selalu menggunakan istilah “rasa iba” atau hal sejenisnya. Mereka, orang-orang Itu pandai sekali berakting. Mereka mampu menyembunyikan wajah mereka dengan topeng yang bernama “rasa kemanusiaan”. Padahal nyatanya tak seperti itu, mereka sendiri sangat khawatir dalam mengeluarkan koin yang mereka punya. Dan yah aku benar-benar sangat sadar apa yang terjadi semasa kecilku ini sungguh mempengaruhi diriku hingga saat ini. Mungkin itu juga satu dari alasan-alasan mengapa aku tak mudah mempercayai orang lain.


.

__ADS_1


.


.


.


.



Next Episode :


“Kau, bagaimana bisa kau mengetahui diriku berada disini. Oh God kamu pasti benar-benar membuntuti aku. Harusnya aku tau kenapa akhir-akhir ini kau terlihat selalu saja mengawasi diriku”


.


.


TBC


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca episode ini


Mohon maaf jika ada kesalahan kata seperti typo dan hal lainnya yang terdapat dalam episode/chapter ini.


Please yang belum subscribe tolong dong subscribe dan share starnya untuk terus help aku buat semangat menulis untuk kalian semua.


See ya in the next episode!

__ADS_1


__ADS_2