
*Règina POV
...Aku menerima chat dari Sacha, akupun langsung membalasnya. Kami janji akan bertemu ditaman, tapi sebelum itu aku harus melakukan pengumpulan tugas ke ruang guru. Karena luar biasa dalam menjunjung kedisiplinan, hampir setiap Homework (PR) itu harus dikerjakan paling lambat 4-5 hari. Tapi biasa tergantung gurunya lagi, hal ini bisa jadi cepat juga bisa jadi lambat. Yang penting jangan pernah sampai genap seminggu.
Anyway setelah mengumpulkan tugas dengan guru, aku segera berjalan melangkah ke taman dimana tadi aku sudah berjanji untuk bertemu Sacha.
Tak lama setelah sampai, dapat ku lihat dirinya dari kejauhan. Karena perasaan yang tak dapat di bendung, aku pun segera lari dengan penuh semangat menuju ke arah dirinya. Kami langsung berpelukan seolah-olah kami telah terpisahkan bertahun-tahun.
Setelah itu kami akhirnya duduk berdua, dan perlahan Sacha mulai menceritakan keluh kesah nya padaku. Namun yang namanya Sacha gak akan mudah bercerita segampang itu, iya selalu bermain dengan kata-kata dan gerak-gerik tubuhnya. namun aku pun mulai memancing dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Kalian tahu? Betapa terkejutnya diriku mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Benar-benar tak bisa dipercaya, aku benar-benar syok dibuatnya.
“Oh apakah bulan dan matahari telah bersatu, karena nampaknya romeo dan juliet telah bertemu. Seolah tak ada badai yang bergerumuh” (Pikirku)
Sekarang aku memaksa dia untuk menceritakan setiap detailnya. Ini fenomena langka dan aku harus mendengarnya dengan baik.
Tak berlangsung lama, Sacha kembali membuka mulutnya dan kali ini dia menjelaskannya secara perlahan dengan rileks dan lebih santai. Namun dapat kulihat mukanya sedikit memerah karena perasaan malu yang berusaha disembunyikan nya.
“Yang benar ca, Wah apa itu sungguh terjadi? Soalnya kuu benar-benar tak bisa percaya apa yang telingaku baru saja dengarkan?” (Ucapku)
“I-iya.. Begit-tulah..” (Balasnya dengan sedikit gugup)
“Sudahlah kau tak harus khawatir? Yah kalaupun takdir telah berkata dan panah cupid telah terlepas, biarkanlah hal itu. nikmati saja setiap langkah yang ada di depanmu toh bukan kamu yang minta.” (Ucapku)
“Apa sih maksudmu? Kok ribet banget ya, kamu terlalu banyak nonton FTV nih. Jangan halu deh, ini cuman insiden biasa.” (Balasnya)
“Baiklah, oke tak perlu harus marah. Jangan sensi gitu jadi cewek, yah kalau jodoh ya gimana? Toh kamu kan gak bisa nolak lagi.” (Ucapku)
“Ih.. kamu apa-apaan sih? Sebel deh, kok doain aku yang nggak-nggak” (Balasnya dengan muka ketus)
“Oke oke sudahlah aku kan hanya memberikan opiniku. Intinya kau tak harus khawatir, karena ini bukan salahmu sepenuhnya. Seperti yang kau katakan kau sendiri sedang dalam pengaruh minuman itu kan.” (Ucapku)
“Itu kamu sudah paham, begitulah andai saja dia memikirkan seperti itu, namun masalahnya aku tak tahu apa yang ada di pikiran nya saat ini. Apakah dia kan merasa aneh padaku? Atau mungkin merasa jijik padaku, apa malah menganggap aku adalah cewek mesum yang tak tahu malu. Memikirkannya saja sudah menjadikan beban di kepalaku” (Balasnya)
“Hmm, Well kalau dipikir-pikir lagi memang kamu sih yang salah. Siapa suruh main langsung minum aja, nggak dicari tahu dulu itu minuman apa. Gimana coba kalo orang lain menaruh racun di dalamnya?” (Ucapku)
“Ahh, jangan gitu deh kok kamu malah jadi nyalahin aku. Kan udah aku bilang aku nggak tahu, aku pikir itu hanya minuman jus biasa. Aku tak pernah tahu bahwa itu adalah alkohol” (Balasnya)
“Itu sih kamu tinggalnya nggak pindah-pindah, tetep stay di kampung jadi nih kamu nggak tahu bahwa alkohol itu tak selamanya adalah jenis minuman yang pahit atau rasanya tak enak. di zaman sekarang bahkan banyak loh alkohol itu justru rasanya lezat, tapi walaupun begitu yang namanya alkohol tetap akan memberikan efek memabukkan.” (Ucapku)
“Oke deh, harus ku akuiin aku telah salah. Jadi gimana dong? Apakah aku harus minta maaf kepada Mark? Apa aku harus menemuinya dan menjelaskan padanya rasa penyesalan ku? Tapi bagaimana kalau dia justru tak menerimanya?” (Balasnya)
“Sudahlah, kau berpikir terlalu panjang coba saja dulu. Siapa tahu dia nggak seburuk yang kamu pikirkan. Daripada memikirkan respon darinya, mending kamu harus kuatkan dulu deh dirimu. Soalnya mana bisa kamu cara dengannya sedangkan kamu tak berani untuk menemuinya.” (Ucapku)
“Baiklah, akan segera aku coba. Kamu benar setidaknya aku sudah berusaha, daripada diam saja dan gak tahu apa hasilnya.” (Balasnya)
“Daripada manyun terus, mending kita jalan yuk, lalu makan deh di Wendy’s.” (Ucapku)
Dan akhirnya dia setuju dengan ideku, yah setidaknya hal ini dapat sedikit membantu dirinya dalam mengalihkan perhatiannya.
Setelah sampai di sana kami benar-benar memesan banyak makanan, rasa lapar ini tak dapat dihindari lagi. Melihat dia kembali tersenyum, aku memberanikan diri menanyakan sesuatu tentangnya. Jujur aku masih penasaran tentang satu pria lain dari kisah ini.
“Oh iya kamu kan pernah menceritakan padaku soal temanmu itu, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengannya?” (Tanyaku dengan penuh penasaran)
“Hmm maksud kamu David? Kalau sama dia sih lancar-lancar aja. Nggak ada masalah yang begitu serius” (Balasnya)
“Apa maksudmu dengan gak ada masalah yang begitu serius? Apa ada sesuatu yang masih belum kau ceritakan padaku soal dirinya” (Ucapku)
Aku melihat Sacha sedikit syok mendengar perkataan dariku. Dan ntah mengapa melihat sikapnya aku semakin yakin ada sesuatu yang telah terjadi.
__ADS_1
“Ayolah cerita dong soal dirinya?” (Tanyaku dengan muka memelas)
Dengan ragu dan perasaan malu dia menjawabku “Hanya insiden kecil kok”
“Apa? Insiden kecil telah terjadi? Namun aku ngga tau apapun. Tega yah kamu, masa sama sahabat sendiri main nyimpen rahasia” (Ucapku dengan sedikit meraju)
“Jangan ngambek gitu, aku minta maaf deh. Soalnya hal ini juga masih terbilang baru, kejadiannya terjadi dengan sangat cepat.”
Akhirnya Sacha mulai membuka mulutnya dan menceritakan kejadian yang satu ini padaku secara gamblang.
Aku benar-benar syok setengah mati mendengarkan ucapannya, aku baru tau hal yang terjadi antara pria itu dengan sacha. Aku benar-benar tak habis pikir, hal apa saja yang telah dialami sahabatku ini. Ini sungguh diluar ekspektasi ku.
Setelah perlahan aku cerna dengan baik setiap omongan yang telah keluar dari mulut Sacha. Kemudian aku berkata
“Wah, kamu enak, kamu beruntung banget! Orang lain pada berusaha keras untuk mendapatkan seorang pasangan, justru kamu malah dapat dua. Mana keduanya cogan dan sexy lagi. Kok aku jadi iri yah” (Ucapku)
“Apa sih kamu sembarangan banget kalo ngomong! Justru hal kayak gini berat tahu. Mana akward lagi, yang satu mana terekspos dengan mudah pahatan lekukan otot ditubuhnya dihadapan ku dan yang satu lagi malah telah berciuman denganku” (Balasnya)
“Itu namanya jackpot dan kau seharusnya bersyukur bukannya ngomel tak jelas” (Ucapku)
Dapat kulihat ekspresi wajahnya yang begitu syok mendengarkan perkataanku. Matanya melotot kearah diriku sambil berkata
“Kamu kesambet apa sih? Kok ngelantur sih omanganmu. Gaje banget!”
Akupun justru membalasnya dengan ledekan dan gaya mimik muka yang ditekuk
“Yah terserah aku. Kamu jangan sok bersikap innocent deh, padahal nyatanya kau sendiri toh juga sempat memanfaatkan nya”
Wajahnya memerah dan ia terlihat kesal. Ia pun berkata
“Gini nih kalo orangnya terlalu Jones. Jomblo seumur hidup aja belagu banget, pikirannya asal ngeres aja nggak bisa...”
“Eh siapa yang Jones seumur hidup, bukan aku loh. Duh i can’t releated to your problem girl. Aku udah pernah loh pacaran” (Balasku menghentikan ucapan pedas darinya)
“Ja-Jadi kamu beneran sudah pernah pacaran?” (Tanyanya dengan muka heran yang penuh dengan kebimbangan)
“Ya ialah, aku udah pernah. Makanya jangan sok manggil orang jones kalau ga tau apa-apa, sekarang kena dah kamu sama perkataan sendiri” (Ucapku)
Mukanya benar-benar menunjukkan ekspresi penuh pertanyaan. Ia kembali mengatakan
“Iya deh sorry, tapi bener ina kamu dah pernah pacaran? Berapa jumlah mantan kamu?”
“Tentu saja udah. Kamu baru tahu kan! Mantanku satu” (Balasku)
“Terus apa kalian masih berhubungan sampai sekarang? Kapan dan dimana kau bertemu dengannya? Bagaimana kisah asmara kalian? Dan..”
“Wait dah, bibir itu nggak bisa direm yah ngomongnya. Kamu nanya atau malah nge-introgasi aku” (Balasku)
“Iya deh sorry, kamu sendiri bilang jangan ada rahasia diantara kita tapi ternyata kamu tak pernah menceritakan padaku soal hubungan asmara yang kau miliki.” (Balasnya)
“Cepat ceritakan padaku sekarang, aku akan memesan menu tambahan.” (Tambahnya)
“Baiklah, oke.. kami pacaran selama 2 tahun. Namanya Daniel Ricciardo, ia seumuran kita tapi tua setahun dariku. Aku bertemu dengannya saat masih berada di middle school, iya merupakan salah satu pengagum rahasiaku. Tiap hari aku selalu dikirimin nya entah itu puisi, syair ataupun lirik lagu yang ditulis langsung olehnya. Dia membuat tiap hariku berasa damai. Awalnya aku tak tahu bahwa dia yang mengirimkan itu, kupikir itu hanyalah datang dari anak Nerd yang biasa terkenal di sekolahku dulu. Dan dia sama sekali bukan anak Nerd, ia cukup pintar, rajin berolahraga dan pecinta golf. Ia juga cukup populer di sekolahan. Tentu saja aku syok ketika mengetahui bahwa dialah yang selama ini mengirimkan semua itu padaku. Jujur aku tahu bahwa dia adalah seorang anak seni, namun karena kepopuleran nya tentu tak sedikit cewek yang berusaha mendekatinya. Singkat cerita dia menembak aku, dia menyatakan perasaannya pada diriku dengan alunan ukulele ditangannya, ia menyanyikan salah satu lagu yang ia pernah kirimkan padaku, lalu akupun menerimanya” (Ucapku)
“Wah begitu ternyata, dia kelihatan cukup romantis yah! Terus-terus silahkan lanjutkan kisahnya” (Ucapnya)
“Baikalah, awalnya kami berpacaran secara rahasia. Tak pernah ada yang mengetahui hubungan kami. Kami bersikap sedemikian normalnya, dan aku juga terus bersabar melihat dirinya yang tiap hari didekati oleh banyak siswi lainnya. 11 bulan pun berlalu, tepat di hari ini anniversary kami, ia mengajak diriku ke ruang musik dan kemudian ia segera memainkan piano dengan sangat handal, tak lupa ia menyanyikan lagi favorit aku. Tetapi kami sedang tak beruntung, beberapa orang murid memergoki kami sedang berduaan disana. Tak menunggu lama, hanya beberapa hari para siswa dan siswi mulai mengetahui kebenaran ini. Namun kami berusaha tetap menyembunyikan dan tak mengakuinya. Tetapi 2 Minggu setelahnya mereka mendapati kami sedang nonton berdua di bioskop. Terus mau tak mau kami akhirnya menceritakan kebenarannya, walau tak begitu detail. Kami pikir dengan hal itu kami dapat meredam setiap pertanyaan mereka. Tapi nyatanya kami salah, mereka justru semakin menjadi-jadi. Bahkan penggemar siswi daniel juga tak segan-segan untuk menghina diriku, mereka mencibir aku, menggosipkan ku dan sebagainya. Dalam seminggu namaku menjadi populer di sekolah ini, namun bukan karena hal baik melainkan karena semua hinaan dan hujatan mereka. Tetapi aku tak ambil pusing aku hanya mendiamkan mereka, jusuf karena hal itu daniel tak pernah lagi mengajakku kencan secara diam-diam. Kini ia justru semakin terbuka dan tak tanggung-tanggung iya kadang sering bersikap romantis denganku di sekolah” (Ucapku)
“Wah tipikal idaman banget, dia tetap merangkul kamu walau dunia menolak hubungan kalian. Bagaimana selanjutnya?” (Balasnya)
“Tak lama 1 tahun 6 bulan pun telah berlalu, aku jadi memiliki banyak musuh di sekolah. Dan mulai saat ini mereka memandangku dengan tatapan yang penuh hina, lalu beberapa dari mereka mulai membuli aku di sekolah. Awalnya dari hal biasa kini bertambah besar dan merambat ke fisik. Tetapi aku menahan semua lukanya demi orang yang aku sayangi. Aku lalui 9 bulan ini dengan bulian yang luar biasa, sampai akhirnya kakak ku tau tentang semua ini. Ia pun menyuruh ku mengakhiri hubungan ini, tapi aku yang keras kepala justru kekeh nggak mau. Namun kakak orangnya cukup keras, iapun akhirnya memaksa dan mengancam Daniel untuk mengakhiri hubungan kami dan itu berhasil. Kakak juga melaporkan setiap tindakan murid ini ke pihak berwajib sehingga akhirnya sekolah mendapat teguran dari polisi dan anak-anak yang membuli juga dikeluarkan dari sekolah. Tapi aku tetap memendam rasa ini, sekarang disekolahkan Daniel tak lagi mau berbicara denganku, bahkan ia menjaga jarak dariku. Dan lebih parahnya baru 2 bulan setelah hubungan kami berakhir, terdengar rumor ia berpacaran dengan seorang siswi anak marching band. Aku pun merasa sakit mendengarkan itu, sampai akhirnya aku putuskan untuk pindah sekolah demi untuk melupakan Daniel dari hidupku.” (Ucapku)
__ADS_1
Sacha tak merespon ku lagi, dia justru malah memeluk diriku dan mengambil beberapa tisu untuk membersihkan air mata yang tak kurasa perlahan menetes dari mataku. Iapun menenangkan ku, tak lupa juga ia memberikan beberapa nasihat agar aku tak bersedih.
*Sacha POV
Aku benar-benar tak tahu bahwa sahabatku ini juga telah mengalami banyak hal. Sekarang aku bahkan mempertanyakan status persahabatan ku, selama ini seolah hanya diriku lah yang menyalurkan semua rasa keluh kesahku. Bahkan aku tak begitu bertanya tentang masalah yang dihadapi oleh ina.
Saat ku dengar ceritanya yang semakin sedih, dapat ku lihat juga air matanya perlahan menetes. Aku tak bisa membiarkan dia sedih, tak tahan lagi aku pun segera memeluknya dan mengelap air matanya.
Setelah merasa cukup tenang, akupun mengajak dirinya keluar dari sini. Lagipula dari tadi hanya kami customer yang makan berjam-jam, customer lain sudah keluar masuk silih berganti. Siapa yang makan di tempat fast food berlama-lama?
Setelah membayar semuanya, kami perlahan melangkah keluar. Didepan aku memeriksa ponselku dan ternyata David sedang mengechat diriku banyak banget dan isi chat terakhir darinya adalah
“Sacha, lagi sibuk? Kalau nggak mau tidak mampir ke studio hari ini?”
Wah ini luar biasa, sekalian aku bisa ajak Règina untuk pergi kesana menemaniku
“Ehem, kamu kenapa kok senyum senyum gitu?” (Ucapnya yang membuyarkan lamunanku)
“Emang kamu habis terima chat dari siapa? Apa itu dari cowok yang menciummu atau cowok seksi yang satunya lagi?” (Ucapnya)
Sontak mukaku memerah mendengarkan perkataan darinya. Ntah mengapa hal yang dibilangnya justru sama sekali tak salah? Ada apa denganku? Kenapa aku senang menerima chat dari David?
.
.
.
.
.
<>
Bagaimana episode kali ini?
Beritahu aku opini kalian di kolom komentar yah!
Sorry kalau typo!
____
Next episode :
Wah dia tampan? Benar-benar sungguh menggoda! Apa kau mau ikut audisi casting denganku?
.
.
TBC
Thanks yang udah support aku dan meluangkan waktu kalian untuk membaca karyaku ini
I love you all!
Please follow, subscribe, like, vote dan share yah
Setiap respon kalian benar-benar berarti bagi penulis.
__ADS_1
See ya in the next episode!