
Mark POV
Tak terasa satu Minggu telah berlalu. Aku berhasil menjalani semuanya dengan sedikit tenang. Aku selalu berhasil untuk kabur dari Sacha. Aku tahu pasti tipe orang sepertinya tak mudah menyerah. Tapi yah mau di buat seperti apapun toh dia takkan pernah berubah jika memang bukan karena keinginannya sendiri, tak peduli seberapa keras aku mendorong dirinya menjauh. Tapi sebetulnya kalau mau jujur, saat ini aku masih tak tahu dan tak begitu yakin tentang bagaimana perasaanku pada Sacha. Keberadaan dirinya yang akhir-akhir ini semakin menempel juga lama-lama tak membuat diriku jenuh. Lama-lama ntah mengapa rasanya rasa kebencian yang aku miliki terhadapnya semakin berkurang dan tinggal sedikit. Rasanya aku tak begitu semeledak dulu saat bertemu dengan dirinya. Aku tak tahu ini pertanda yang baik atau tidak.
Seperti biasa aku menjalani rutinitas sehari-hari ku dengan normal. Aku tetap terus rajin ke gym, tetap lanjut ke sekolah, dan mengikuti perawatan yang dilakukan oleh dokter Kevin. Cuman sejak kejadian tempo hari kala itu, aku jadi mulai melakukan banyak research dan mulai sering membaca buku tentang hal-hal yang berkaitan dengan 'penyakit' yang ku alami ini. Pastinya disamping belajar untuk persiapan ujian kelulusan tentunya.
“Oh my Gosh, ternyata waktu pendaftaran untuk ujian TSA sudah hampir habis dan aku masih belum mendaftarkan diriku” (Gumamku)
Bagi kalian yang gak tahu, TSA adalah ujian yang diadakan khusus bagi pelajar yang udah di senior year untuk terus lanjut perguruan tinggi. Dan tentunya memiliki ketentuan dan persyaratan yang khusus juga. Aku belum tahu apa pilihan yang akan aku ambil. Soalnya belakang ini pikiranku sedang mendua. Di satu sisi aku ingin mengambil jurusan bisnis untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha keluargaku yang ada disini, cause maybe somehow kita bisa kembali ke level dimana kami jaya seperti sewaktu di UK. Tapi disisi lain, aku sangat ingin mengambil jurusan sastra, karena hobi yang aku sukai adalah menulis. Aku umumnya selalu menjuarai setiap kompetisi sastra baik itu yang ada di sekolah ataupun antar state dan town lainnya. Aku ingin menjadi salah seorang penulis yang hebat.
“Oh Mark, kok kamu dari tadi berdiri disini ? Apa kamu belum memasukkan formulir untuk pendaftaran ujian TSA ?” (Ucap salah seorang teman sekelas aku yang membuat semua lamunan ku sirna)
“Daniella ternyata, kamu membuatku sedikit kaget. Ia nih, aku sama sekali belum memasukkan berkas pendaftaran ku sama sekali.” (Ucapku)
“What? Seriusan Mark? Kalau gitu mending kamu segera mengurusnya. Karena batas pendaftarannya hanya sampai besok loh.” (Katanya)
“Iya, nanti aku coba usahain. Karena ternyata awalnya aku salah lihat tanggal. Aku mengira batas jadwalnya 5 hari lagi, ternyata batasnya adalah besok.” (Tuturku)
“Oh ya udah, mending sebentar pulang kamu siapain memang aja, terus jangan lupa untuk bawa besok. Dan kalau ada apapun yang ingin kamu tanyakan atau kamu butuhkan, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi diriku. Aku selalu available kok” (Ucapnya dengan senyuman manis yang nampak di wajahnya)
“Baiklah, Terima kasih” (Kataku)
Tunggu dulu, apa barusan aku mengucapkan 'terima kasih', what? Kejadian seperti ini sangatlah langka terjadi padaku. Apa aku sekarang sudah mulai melembek yah? Padahal biasanya para cewek tak begitu berani nenyampari diriku secara langsung saat sendiri. Tetapi semuanya benar-benar berubah akhir-akhir ini. Dan sepertinya aku tak begitu merasakan perubahan yang terjadi pada diriku sendiri. Kalau di ingat-ingat lagi, hal seperti ini awalnya terjadi saat awal aku mulai mengikuti perawatan dengan dokter Kevin. Kalau memang semuanya benar, berarti seharusnya aku sudah semakin membaik dan tak memerlukan perawatan tambahan dari dirinya. Aku tak perlu harus datang ke rumah sakit tersebut setiap minggunya. Tapi kalau memang itu benar mengapa dokter Kevin justru malah menjadwalkan pertemuan kami kembali. Kenapa rasa curiga ku kepadanya kambuh lagi? Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan.
------
Bel pulang pun telah berbunyi, para siswa dan siswi mulai keluar dari kelas mereka satu persatu. Begitupun denganku, dan sekarang aki berjalan keluar, Tak tahu kemana kaki ini membawaku melangkah. Soalnya aku sedang tak merasa ingin untuk segera kembali pulang ke apartemenku. Tak terasa aku sampai pada salah satu restoran makanan cepat saji yang berada tak jauh dari sekolah. Setelah aku memesan, aku duduk disalah tempat yang ada di pojokan sendirian. Tak tahu mengapa aku merasa gunda dan aku tak tahu penyebabnya apa. Ntah itu karena persiapan program ujian TSA yang belum aku urus, atau karena rasa kecurigaan baru yang timbul di benakku terkait hal yang berkaitan dengan dokter Kevin. Atau mungkin ada hal lainnya? Ntahlah, so far hanya itu yang sedang aku pikirkan saat ini.
(15 menit kemudian)
Terasa ada seseorang yang sedang menyentuh pundak ku dari belakang dan aku sontak kaget lalu segera menoleh ke arah belakang.
“Wah ternyata beneran Mark yah.”
Suaranya yang terdengar lembut dan familiar di telinga milikku ini. Dan benar saja saat aku menaikkan kepala ke atas untuk melihat wajahnya, ia justru malah menarik salah satu kursi yang berbeda tepat didepan ku dan langsung senaknya duduk walau tanpa aba-aba atau ajakan. Mungkin yang kalian duga dan pikirkan sangatlah salah. Ia adalah dokter kevin. Benar-benar sangat terduga bukan?
“Oh dokter kevin, kau ada disini juga?” (Ucapku)
“Iya, Kenapa emangnya? Kalau boleh panggil Kevin saja, kita sedang tak berada di rumah sakit atau di ruanganku. (Ucapnya dengan sedikit tertawa)
“Tidak, dok, eh maksudnya Kevin. Maaf belum terbiasa.” (Ucapku sambil tersenyum lebar yang tentu saja palsu)
Aku benar-benar sedang tak berharap bertemu siapapun. Apalagi jika orang itu adalah dokter Kevin yang kini sedang ku curigai lagi.
“Maaf tapi aku nggak sedang menganggu waktu privasi milikmu bukan?” (Tanyanya)
“Tentu saja, tak papa dok, eh maksudnya Kevin. (Ucapku padanya)
__ADS_1
Tentu saja dalam hati rasanya aku sungguh ingin menolak dirinya. Sebenarnya aku ingin mengatakan padanya bahwa ia sungguh menganggu dan mengusik keberadaan diriku yang tenang disini. Rasanya aku ingin mengusirnya. Karena pasalnya dari tadi gelagat dirinya sangat aneh dan tak seperti biasanya. Aku tak tahu mengapa ia dari tadi seperti sedang menatap dan memandangi wajahku. Bahkan terkadang sesekali tangannya mencuri kesempatan untuk menyentuhku.
“Maaf dok, tapi apa kau biasa makan ditempat seperti ini? Apa kau tak memiliki jadwal dengan pasienmu?” (Ucapku dengan sedikit tegas pada dirinya)
“Oh jujur sebenarnya tidak. Bahkan ini pertama kali aku datang ketempat seperti ini. Karena kebetulan aku sedang lapar dan melihat ada tempat makan jadi aku singgah kemari. Dan yup kau benar sebenarnya aku memiliki jadwal yang cukup padat hari ini, tapi beberapa pasien sedang memiliki kesibukan pribadi dan membatalkan sesi pertemuan mereka. Jadinya aku memiliki sedikit kelonggaran waktu. (Balasnya dengan nada yang santai)
Yah sebenarnya, kalau melihat kondisimu seperti ini sekarang dan mungkin jika aku jadi pasien tersebut yah pastinya aku juga akan membatalkan sesi pertemuan diriku dengannya. Tapi masalahnya hal ini bukanlah sekedar andaiaan tapi aku memang juga adalah salah satu pasien dirinya.
Tingkahnya aneh dan seperti orang nafsuaan. Aku tak menghakimi jika Dokter Kevin adalah salah seorang penyuka sesama jenis. I'm fine with that. Toh itu hidup-hidup dia dan lagipula ia juga cukup dewasa untuk memutuskan apa yang baik bagi dirinya atau tidak. Yang lebih menakutkan adalah bagaimana jika sebenarnya dia adalah seorang Psycho. Hal itu jauh lebih menakutkan pastinya.
Notif di ponselku berbunyi. Dan itu adalah email yang masuk dari tim TSA yang sedang aku tanyakan sebelumnya terkait beberapa hal yang rasanya masih kurang jelas bagiku. Dan aku memanfaatkan notif tersebut untuk segera meninggalkan dokter Kevin.
“Well, sorry dok, maksudku Kevin. Aku ada urusan mendadak jadi sepertinya aku harus segera pergi” (Ucapku)
“Oh pasti sesuatu dari notif itu yah?” (Tanyanya yang secara tak langsung menyentuh tanganku)
“Iya, begitulah. Aku duluan yah Kev” (Ucapku lalu segera pergi menjauh dan meninggalkan dirinya)
----
Aku masih tak bisa melupakan kejadian tadi. Dapat kurasakan dengan jelas, ada sesuatu aneh dari dokter Kevin. Dan aku belum pernah melihat sisi dirinya yang seperti itu selama ini. Namun aku tetap mencoba stay positif. Karena aku tau aku punya tendensi untuk panic attack. Setelah keluar dari restoran tersebut aku berjalan cepat menjauh dari tempat tersebut lalu segera memesan taxi online.
Setibanya di wilayah apartemen ku, perlahan aku turun dengan sedikit lega. Akhirnya aku berhasil kabur darinya. Namun sesuatu menyentuh diriku dari belakang saat aku sedang berjalan masuk kedalam gedung ini. Kini aku kuatkan diriku dan perlahan berbalik lalu melihat siapa sosok yang tiba-tiba ada di belakangku dan langsung menyentuh diriku.
“Hello Mark, kamu kenapa sih?”
“Kamu bikin kaget aja! Kamu ngapain sih pakai asal nyentuh-nyentuh aku” (Ucapku)
“Biasa aja, gak usah sok Untouchable deh.” (katanya)
“Emang kenyataannya aku gak suka disentuh, apalagi jika sentuhan itu datang dari orang asing” (Tuturku)
“Apa maksudmu aku? Apa aku masih orang asing bagimu?” (Ucapnya dengan geram)
“Chill, no drama please! Kamu bikin kaget aja” (Tuturku)
“Biasa aja dong, kamu kayak seperti orang habis dikejar hantu. Soalnya kamu terlihat sedikit sedang panik” (Ucapnya sambil mencoba menyentuh dahiku)
“Harus yah pakai nyentuh langsung? Yah gimana aku mau tenang jika hantu-hantu seperti kalian tiba-tiba pop up di kehidupanku. Dan disaat aku mendorong untuk menjauh justru kalian malah semakin dekat.” (Kataku)
“Wait, kalian? Apa maksudmu? Bisa jelaskan lebih detail?” (Tanyanya)
“Sudahlah. Lagi pula ini bukanlah urusanmu sama sekali” (Balasku)
“Kamu harus diseret yah baru mau buka mulut. Ayo cepat kita masuk kedalam, kau bisa ceritakan semuanya padaku. Tinggal pilih mau didalam apartemen ku atau di apartemen milikmu.” (Ucapnya)
“Kamu seenaknya aja yah ngomong gak direm dan pakai acara narik tangan segala. Lagipula ngapain harus sampai didalam apartemen segala. Di lobi kan juga bisa.” (Kataku)
__ADS_1
“What? Lobi? Are you out of your mind? Kalau gitu mending kita pergi ke cafe yang ada di apartemen ini. Cerita disina jauh lebih baik” (Ucapnya sambil kembali menarik tanganku)
Setelah dipaksa olehnya berulang kali, akhirnya aku mulai menceritakan semua kejadian yang telah terjadi padanya. Termasuk hal yang barusan aku alami. Aku juga menceritakan tentang rasa kecurigaan diriku pada sepupu dokternya itu.
....
“Begini aku lelah terus-terusan bertengkar dengan dirimu. Apa kau tak berniat mengurangi satu musuhmu. Bahkan aku bisa jadi partner yang bisa membantumu” (Ucapnya)
“Apa kau yakin dengan kata yang barusan kau ucapkan? Apa kau sedang mengajak diriku untuk menjadi temanmu?” (Ucapku sambil menyeduh teh yang ada di depanku)
“Tentu saja, dan aku melakukan semua ini karena aku peduli, lagi pula kita juga tetanggaan bukan. So Mark Steward kamu mau gak jadi temanku dan akhiri semua kekacauan yang ada diantara kita?” (Balasnya)
“Apa aku gak salah dengar?” (Tanyaku balik)
“Nggak kok, aku mengajak dirimu untuk berteman. Apa kau mau?” (Balasnya lagi)
.
.
.
.
.
Bagaimana episode kali ini Menurut kalian?
Aku minta maaf jika ada kesalahan kata Ataupun kalimat.
_______
Next episode :
Aku gak percaya Kevin sudah melakukan semua hal itu. Dan rasanya aku masih gak bisa percaya apa yang baru saja aku dengarkan itu. Parahnya lagi aku juga tak mengetahui hal apa saja yang sedang ia rencanakan. Tapi apapun itu aku harus menghentikan langkahnya.
.
.
TBC
Jangan lupa Vote, Komen Follow/Subscribe aku juga yah jika kalian pengen aku tetap terus bisa update cerita ini.
Terima kasih untuk kalian yang telah meluangkan waktunya untuk membaca karyaku ini.
__ADS_1
See ya in the next episode!