
Règina POV
“Gimana, wahana hiburannya asik bukan?” (Tanyaku)
“Gila, iya keren banget. Pokoknya campur aduklah, ntah itu rasa excited, rasa senang, rasa gugup, takut. Can’t describe, benar-benar gak bisa aku bayangkan. Begini yah rasanya tinggal dikota” (Ucap sacha dengan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa takjub)
“Makanya kamu jangan tinggal di desa mulu. Gini kan jadinya, kamu kudet banget” (Balasku)
“Iya, Iya persis kamu terlahir disini. Dasarnya loh sama-sama dari desa kok. Efek terlalu lama didarat yah neng? Sampai jadi lupa lautan” (Balasnya dengan ledekan dan sindiran halus)
“Idih, apaan sih kamu. Bukan gitu” (Balasku dengan bibir yang sedikit aku manyun kan)
“Katanya princess, kalau ngambek beneran jadi mak lampir loh” (Balasnya sembari ketawa)
“Tau ah, ga lucu.” (Balasku sembari memutar dan membelakangi Sacha)
“Mending sekarang kamu coba saja sana hubungin David, tanya dia udah sampai mana. Soalnya kalau ga macet dia seharusnya udah sampai dari tadi” (Tambahku)
“Oh iya, kamu benar juga. Tunggu coba aku telfon dia terlebih dahulu”
“Aku haus, aku mau beli minuman di kedai sebelah sana, nanti kamu nyusul aja yah. Sekalian kita nunggu dia disana” (Ucapku dan langsung melangkah pergi ke arah kedai tersebut)
Sacha POV
“Hallo David, kamu sekarang ada dimana. Udah sampai atau belum” (Ucapku di telepon setelah aku mendengar panggilan ini diangkat oleh David)
“Apa? Suara kamu ga kedengaran dengan jelas. Kamu nanya aku ada dimana?” (Balasnya dengan suara berisik, namun indra vampir milikku dapat mendengar suaranya dengan jelas walau keadaannya berisik)
“Ah iya itu maksudku” (Balasku balik)
“Oh apa?, Ga kedengaran jelas. Just info aku udah sampai disini, tolong kamu shareloc dong lokasi dan tempat kamu yang lebih akuratnya” (Balasnya sebelum tak lama kemudian mematikan telfonnya)
Aku segera mengirimkan dirinya lokasi posisi tepat kami stay saat ini. Tapi pikiranku sedikit terusik dengan suara yang tiba-tiba tertangkap oleh telingaku dari panggilan tadi. Kenapa aku seperti mendengar suara seorang wanita yang sedang memanggil nama David yah. Apa yang kudengar benar, atau aku memang beneran salah. Tapi masa sih, ini untuk pertama kalinya aku meragukan kemampuan Vampir milikku sendiri.
Tidak, tak mungkin salah. Walau aku mendengar suaranya hanya dalam waktu sepersekian detik, aku tetap harus yakin bahwa aku ga salah. Ga mungkin Indra para vampir salah, soalnya kami bukan manusia biasa yang indranya terbatas.
Daripada terus-menerus membuang waktu memikirkannya, mending aku segera menuju ke kedai dimana sacha masuk tadi. Lagi pula kalau emang benar, mungkin itu rekan kerja dia kali. Pikirku untuk membuat kepalaku terus dingin dan tetep stay positive.
----
“Kamu dari mana aja sih cha, kok lama banget?” (Tanya règina)
“Oh itu tadi cuman di tempat kamu ninggalin aku, cuman tadi suaranya sedikit berisik sehingga jadi susah untuk ngobrol di telepon sama David. Yang jelas dia udah sampai sini kok” (Balasku)
“Kan apa dugaan ku, benar-benar sesuai prediksi dariku. Dia pasti sudah sam” (Ucap règina)
“Begitulah...” (Balasku dan tiba-tiba suara panggilan tadi seolah terputar lagi dikepalaku)
“Tenang cha, jangan terlalu stress gitu. Salah satu pangeran kamu akan segera datang, ntar dia malah jadi ga suka kamu lagi” (Katanya sembari tersenyum yang penuh dengan ledekan)
Memikirkannya sedikit membuatku bete. Hal ini mulai menganggu diriku. C'mon i need to calm, harus lebih tenang. Toh David juga cuman teman aku aja ga lebih. Ingat cha GA LEBIH.
“Mending kamu pesen aja dulu minum, berhubung minuman disini rasanya lumayan lezat. Ini buku daftar menunya yang super minimalis” (Ucapnya)
“Males ah, aku pesan minuman yang kayak kamu aja.” (Ucapku sembari mengangkat tanganku memberi kode pada salah satu pegawai kedai ini)
(15 Menit kemudian)
“Mana sih David kok lama banget” (Gerutuku)
“Ya elah kamu kenapa cha? Palingan mungkin dia sedikit kesasar karena universal studios bukanlah tempat yang kecil. Tunggu aja bentar palingan dia akan datang” (Kata Règina)
“Yah tapi kan ini dah lama banget dan –“ (Ucapku yang kemudian disanggah oleh Règina dengan perkataan)
“Eh itu dia orang yang sedang kita bicarakan” (Sembari melambaikan tangannya dan memulai memberi kode pada David)
__ADS_1
Melihat tingkah Règina seperti itu akupun akhirnya juga ikut menoleh untuk memastikan perkataannya. Aku benar-benar tersenyum melihat David masuk dengan wajah charming miliknya dan penampilannya yang pasti selalu fashionable. Kini dia semakin melangkah mendekat kearah kami, tetapi melihat ada seseorang perempuan lain yang menyusul dibelakang dirinya membuat senyum yang tadinya tercetak dengan jelas di wajahku kini telah sepenuhnya berubah menjadi ekspresi masam, aku juga bahkan memalingkan pandangan diriku dari mereka.
“Ya Tuhan, aku kenapa yah? Apa aku benar-benar juga punya perasaan sama si David? Kok makin ribet yah alur hidup diriku ini. Tolong berikanlah petunjuk darimu” (Kataku dalam hati)
Perlahan ada suara yang tertangkap oleh telingaku yang membuat lamunan khusyuk milikku menjadi blur. Kata-kata dengan suara berat itu benar-benar seolah menggema di dalam telinga milikku.
“Maaf yah, aku terlambat. Soalnya tadi ada sedikit masalah di studio, Ditambah sedikit macet dan antrian disini setiap weekend benar-benar tak bisa dihitung banyaknya.” (Katanya)
Aku masih belum berani mengangkat kepalaku untuk melihat ataupun menatap dirinya. An Angel really got me today. Tapi suaranya kemudian di balas oleh suara familiar lain dengan kalem dan pastinya aku kenal siapa pemiliknya.
“Oh gitu, it’s okay! Yang penting kamu nyampe dengan selamat. It’s enough!”
“Btw sorry yah, aku gak ngomong sebelumnya bahwa aku bawah teman. Soalnya aku juga tiba-tiba bertemu dengannya pas tadi di parkiran” (Kata David)
“Jadi gitu ceritanya pantas aja ada wajah yang lumayan asing disini” (Balas Règina)
Tetapi sesutu benar-benar terasa menganggu diriku. Terlebih lagi saat aku dengar suara asing yang tak pernah ku kenal sebelumnya itu mulai membuka mulutnya untuk berbicara. Ntah keberanian dari mana yang kudapatkan kini sekarang aku malah mengangkat wajahku dan mentap cewek asing itu perlahan sambil memperhatikan gerak bibirnya berbicara.
“Halo semuanya, maaf menganggu pertemuan milik kalian. Perkenalkan nama saya Carmine frogs. Dan biasa di panggil Carrey. Aku temen yang lumayan dekat dengan David (Ucapnya yang menampilkan senyum indah sembari menunjukan sedikit gigi miliknya)
“Oh hai Carmine, namaku Règina dan ini sahabat akrabku Sacha. Kami berdua juga merupakan teman dekat David” (Ucap règina yang membalas senyum dan sapaan cewek asing tersebut)
Lihatlah cewek ini yang bersikap sok polos, bahkan tanpa dipersilahkan duduk ia langsung meletakkan bokongnya di kursi yang tersedia mengikuti David.
Tak terasa kami menghabiskan sekitar hampir 10 menit hanya dengan perbincangan yang sama sekali tidak terasa penting ini. Aku cuman bisa memperhatikan gerak gerik cewek ini yang bernama Carmine. Dia sungguh bertingkah seolah gadis lugu dan memulai bersikap sok dekat dengan kami yang sedikit membuatku merssa risih karena tak nyaman. Ditambah règina juga pakai acara membalas semua omongan dari dirinya. Tapi suatu suara lain terdengar saat ia melantunkan pertanyaannya itu pda diriku.
“Kamu kenapa Sacha? Apa kamu sedang sakit? Soalnya dari tadi kok kamu diam aja semenjak aku datang” (Tanya David pada diriku sambil menatap mataku dari tempatnya duduk)
“Sebenarnya ia, aku sedang merasa tak enak diri. Bukan bermaksud iri atau apa tetapi jujur aku ga suka dengan teman kamu itu” (Teriakku dalam hati)
“Eh nggak kok, cuman lagi berpikir-pikir aja” (Balasku)
“Emangnya apa yang sedang kamu pikirkan?” (Tanyanya balik)
“Bukan apa-apa kok, sebaiknya kita lanjut coba wahana-wahana seru lainnya yuk. Soalnya kita udah ngabisin waktu banyak kalau cuman datang kemari hanya demi untuk bercerita.” (Ucapku)
Ntah lah, jujur aku benar-benar tak suka perempuan satu ini. Dia pakai sok-sokan lagi membalas diriku, padahal yang aku singgung secara halus itu kan dirinya.
“Baiklah gimana kalau kita coba masuk wahana Monster yang berada tak jauh dari sini. Apa kalian sudah mencobanya?” (Ucap David)
“Wah ide yang bagus, kebetulan kami juga dari tadi belum memasuki tempat itu.” (Balas Règina)
“Ok kalau gitu kita sekarang kesana yuk, kamu ikut juga yah Carrey” (Ucap David)
“Baiklah, tapi jujur aku agak sedikit takut dengan hal-hal yang berbau horor ataupun thriller.” (Balas Carmine dengan expresi yang super lugu)
Ntah kenapa rasanya aku sedikit mendidih hanya dengan mendengar kata-kata darinya. Sepertinya aku harus tenang, i'm getting too emotional.
Tak lama kemudian aku dan règina membayar tagihan pesanan kami lalu segera melangkah keluar dari kedai ini.
(Sesampainya disana)
“Ini karcisnya sudah aku bayar semua” (Ucap règina)
“Makasih yah” (Ucap David)
“Padahal tadi kalau kamu belum purchase, aku bisa bayar sendiri karcis aku dan Carmine” (Tambah David)
Sumpah dah aku merasa jengkel aja denger ucapan David barusan. Rasanya darahku seperti mendidih.
“Aku merasa takut padahal kita belum masuk. Aku mohon kmu jangan jauh-jauh yah dari diriku David.” (Tutur Carmine)
Idih ganjen banget sih cewek yang satu ini. Ditambah sikap ekspresi lugunya yang pengen aku tampol dah. Soalnya benar-benar terlihat nyebelin dan mulai memuakkan.
Saat di panggil nomor karcisnya, kami semua sekarang masuk ke dalam wahana yang satu ini. Tapi belum lama aja di dalam, cewek yang bernama Carmine ini justru teriak-teriak gaje dan merangkul lengan David ke dalam pelukannya. Dan sontak emosiku kembali mendidih, aku menatap dirinya dengan penuh amarah tapi sepertinya ia mengabaikan tatapan mataku yang penuh amarah.
__ADS_1
“Sial, ini benar-benar menyebalkan. Kalau tau gini, mending cukup aku dan Règina aja” (Keluhku dalam hati)
Kalian takkan percaya hari yang dimana aku harusnya menikmati liburan dan melepaskan tekanan itu benar-benar sepertinya tak terjadi. Aku sungguh merasa tak nyaman di universal studios ini. Pasalnya di tiap wahana yang kami masuki, sikap keganjenan dan sok polos milik Carmine benar-benar tak terkontrol. Kadang ia memegang tangan David, kadan ia merangkul lengannya dan kadang ia juga memeluk tubuh David. Dan yah tak tau mengapa semua aktivitas perempuan itu sangat menggangu diriku. Rasanya seolah emosi milikku sedang meluap-luap. Dan yang membuat aku juga makin sebel adalah David justru membiarkan wanita aneh itu melancarkan semua aksinya. Aku benar-benar tak lagi menikmati trip ini.
“Wah, senangnya walau udah beberapa kali kemari, rasanya selalu beda yah dan memberikan kesan” (Ucap règina)
“Iya kamu benar deh ina” (Balas david)
“Habis ini kalian mau kemana lagi?” (Tanya David)
“Nggak tahu nih, cha kamu mau kemana lagi? (Tanya Règina)
“Kayaknya hari ini cukup sampai disana aja deh, rasanya aku lumayan letih. (Ucapku dengan menampilkan senyuman palsu yang ciamik)
“Oh gitu, ya udah sebelum balik kita makan dinner bareng di restoran pizza yang terletak tak terlalu jauh dari sini. Biar aku yang teraktir” (Tutur david)
“Beneran, asik tuh. Kita kesana yah cha” (Kata règina sambil merangkul diriku)
“Tapi sebelumnya kita pergi ke sini tempat rumah perawatan, aku kebetulan punya beberapa voucher gratis disana yang selalu aku kumpulin” (Tambah règina)
“Wah kamu suka ngumpulin yang kayak gitu juga yah. Sama aku juga loh” (Sahut Carmine)
“Iya dong, kan lumayan bisa berguna kalau kita lagi butuh. Btw aku cuman punya 3 voucher spa dan 1 voucher facial” (Ucap règina)
“Ya udah kalian yang girls ambil spa aja nanti aku tungguin aja diluar.” (Balas David)
“Jangan kayak gitu dong vid, kan règina masih punya voucher lain. Kamu bisa menggunakannya, boleh kan règina?” (Kata Carmine)
“Iya sih” (Balas Règina dengan menganggukkan kepalanya)
“Nah lumayan kamu bisa facial demi perawatan untuk menjaga ketampanan wajahmu. Intinya kalau kau ga mau ambil, aku juga ga bakal mau ambil juga” (Kata Carmine dengan sedikit tegas tapi tetap dengan expresi lugu miliknya)
“Baiklah kalau seperti itu” (Ucap David)
Melihat tingkah mereka berdua seperti ini kayaknya aku ga bakal bisa relaksasi dengan tenang. Aku harus lebih bersabar dan menahan semuanya, setidaknya cuman sampai makan malam. Walau emang aku jujur benci banget suasana seperti ini tapi yah mau di buat apa.
.
.
.
.
.
Bagaimana episode kali ini? Semakin menarik bukan.
Next episode :
“Apa Sacha beneran mulai jatuh hati ama si David, terus gimana dengan nasibnya si Mark. Terus siapa sih Carmine, kok sacha bisa-bisa merasa tak menyukai dirinya. Dan mengapa juga David tak merasa risih dengan sikap dan tingkah dari Carmine.”
Saksikan kelanjutannya di Untouchable (Tak Dapat Disentuh)
.
.
TBC
Make sure kalian Subscribe dan kasih aku Star yah. Terus support karya aku ini, dan jangan lupa share keseruannya dengan orang-orang disekitar kalian
Btw terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku ini.
__ADS_1
See ya in the next episode