Tak Dapat Disentuh

Tak Dapat Disentuh
Shady Dream


__ADS_3

Sacha POV


Latihan hari ini selesai sangat awal dari biasanya. Yah aku sih mengerti karena Mr. George sedang kurang sehat. Namun walau begitu, beliau tetap untuk stay bersikap profesional. Dan untunglah dalam seminggu terakhir ini, aku berkembang dengan sangat baik. Rasanya aku semakin mahir dan ahli dalam bidang ini. Jika aku bisa terus buat progres yang positif maka potensi untuk aku di debutkan pastinya akan semakin besar.


Supir taksi online itu menurunkanku di taman kompleks depan dan sisanya aku berjalan sampai ke gedung apartemenku itu. Rasanya sih pak supir itu merupakan driver baru dan ia juga tak begitu kenal dengan lokasi disini. Sepertinya ia tak berasal dari LA. Namun ia mungkin malu untuk mengatakannya padaku, secara aku juga seorang cewek. Mungkin dia gak pengen buat orang-orang jadi parno tiba-tiba. Aku bisa percaya diri mengatakan hal seperti ini karena beberapa kali dia salah belokan dan mengambil jalan yang lebih padat dibanding dengan mengambil jalan pintas yang lebih cepat. Beberapa kali aku juga membantu dirinya dalam memberikan arah.


Setelah berjalan beberapa lama, tak terasa akhirnya aku sampai juga di area gedung apartemen dimana aku tinggal setiap harinya di sini.


Dari jauh mataku menatap bayangan seseorang yang sudah sangat familiar di mataku ini. Lalu aku mulai memutuskan untuk menghampiri dirinya tersebut. Aku perlahan melangkah kearah dimana ia tengah berdiri lalu aku menyentuh pundaknya dari belakang. Seketika aku merasakan aura getaran rasa takut dan kecemasan terpancar dari tubuh Mark. Sepertinya ia sedang merasakan sesuatu yang tak disukai oleh dirinya dan aku dapat merasakan energi tersebut dengan sangat jelas.


Dan yah seperti biasanya Mark langsung memarahi diriku, menghujani aku dengan kata-kata pedas yang ntah mengapa aku sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Jadi sudah tak ku ambil pusing lagi. Kini yang jadi perhatian malah ada hal apa yang sedang terjadi dengannya. Aku mengajak dirinya untuk menceritakan segalanya, tapi yah dasar Mark orangnya ga begitu mau terbuka dan memilih untuk semuanya mau di simpan aja sendiri. Butuh usaha ekstra memaksa dirinya dan untung saja dirinya menurut. Kami pun pergi ke salah satu cafe yang ada di apartemen ini.


“Okay, kamu mau pesan apa?” (Tanyaku)


“Nggak aku masih kenyang. Lagipula ngapain aku juga nurutin kamu kesini. Harusnya sekarang aku udah balik ke apartemen milikku.” (Ucapnya)


“Ya udah balik aja sana, tapi nyatanya nggak gitu bukan? Mending kamu duduk tenang aja, jangan bawel. Biar ku pesankan minuman terenak yang ada disini” (Ucapku)


“Emang kamu tau apa minuman terbaik yang disediakan di cafe ini? Pasti Kamu udah biasa yah singgah disini” (Katanya)


“Nggak kok, malahan ini baru pertama kali aku kemari” (Balasku)


“Apa?? Ku kira kamu sudah sering kesini. Jadi dari tadi kamu membual aja yah” (Katanya)


“Nggak kok, firasat aku itu selalu terbaik. Kalau ga percaya kamu liat aja.” (Balasku padanya)


Dia ga tahu aku sebenarnya menggunakan kemampuan Vampir milikku, aku mengandalkan telingaku ini yang merupakan salah satu indra tersensitif milik para vampir. Aku mendengar perbincangan para kustomer lain yang sedang memesan sesuatu. Dan dari situ aku jadi tau menu apa yang best seller di tempat ini. Setelah tahu dengan pasti aku memanggil pelayan lalu langsung memesan menu tersebut.


“Kamu yakin? Bagaimana jika rasanya tak enak?” (Tanyanya)


“Begini, kamu gak perlu banyak tanya. Coba aja dulu nanti. Kalau ternyata rasanya sedap, kau akan terbuka dan menceritakan semuanya padaku.” (Ucapku)


“Jadi kau menantang diriku?” (Tanyanya dengan suara yang sangat serius)


“Tentu saja, selama kau takkan berpura-pura berbohong karena tak ingin menerima kekalahan dariku” (Ucapku dengan memberikan senyuman yang semanis mungkin)


“Baiklah. Tapi kalau kau kalah, kau jangan lagi dekat padaku. Sebisa mungkin jaga jarakmu dariku seminggu kedepan. karena kau tak pernah bisa pergi bukan?” (Balasnya sembari menyindir halus diriku)


“Okay deal. Tapi harus jujur yah. Aku tau loh kalau kamu bohong” (Responku balik padanya)


Tak lama kemudian pelayan tersebut datang membawa pesanan yang tadi sudah aku pesan. Lalu tanpa berlama-lama lagi, aku persilahkan Mark untuk mencicipinya terlebih dahulu. Saat melihat ekspresi raut wajahnya maka aku pun juga segera meminum minuman yang aku pesan tersebut. Yah aku memesannya 2 gelas.


“Jadi bagaimana?” (Tanyaku dengan nada yang meledek)


Mark terdiam selama beberapa menit, kemudian ia mengatakan sesuatu


“Baiklah aku kalah, kau benar minuman ini memang lumayan lezat. Sekarang apa kau puas?”


“Just, Chill dude. Pilihan aku gak salah bukan?” (Tanyaku lagi padanya)


“Harus ku akui, rasanya lumayan. Pilihanmu tidak buruk-buruk juga” (Balasnya)


“Udahlah akui aja. Sacha is the best. Kata-kata itu gak sulit deh setahu aku untuk di ucapkan” (Tuturku)

__ADS_1


“Sudahlah dengan basa-basi ini. Jadi apa yang kau inginkan?” (Ucap Mark yang langsung to the point)


“Baiklah, ceritakan padaku apa yang terjadi padamu?” (Tanyaku dengan jelas)


“Apa? Nda ada apapun yabg terjadi kok” (Balasnya dengan berbohong)


“Aku tau kau sedang berbohong, mending sekarang kamu jujur aja dan beritahu aku yang sebenarnya. Soalnya Raut muka dan tingkah lakumu benar-benar reaksinya berbanding terbalik dari apa yang barusan kau ucapkan” (Tekanku dengan jelas)


“Baiklah aku menyerah, akan aku ceritakan kejadian yang sebenarnya. Tadi aku tak sengaja bertemu dengan dokter Kevin disalah satu restoran makanan cepat saji yang berada tak jauh dari sekolah. Spupu dokter mu itu bertingkah sangat aneh dan mencurigakan. Seolah-olah ia sedang mempunyai niat terselubung. Aku tak berperasangka buruk tapi begitulah kejadian yang sebenarnya. Kau mungkin tak percaya jika melihat tindakannya secara langsung.” (Ucap mark yang aku sanggah tiba-tiba)


“Apa kau yakin? Memangnya apa yang dia lakukan?”


“Sama seperti yang kau lakukan tadi dia menyentuh pundak ku secara langsung oada awalnya dan dirinya langsung saja duduk disebelah diriku. Ditambah saat sedang makan ntah mengapa aku merasakan dia sedang menatapi diriku seolah aku adalah hiburan dimatanya. Belum lagi dia terkadang menyentuhku secara sengaja. Hal itu sangat membuat diriku merasa tak nyaman. Soalnya jujur aku tak memiliki masalah jika dokter kevin adalah salah seorang yang menyukai sesama jenis. I'm totally fine dengan orang-orang kayak mereka. Tapi bukankah ini sudah kelewat batas? Haruskah aku menjelaskan padanya bahwa aku bukanlah seorang yang menyukai sesama jenis seperti yang dia pikirkan ? Tapi disatu sisi aku tak ingin menyakiti ataupun melukai perasaan miliknya karena beliau sudah berjasa membantu diriku selama ini. Namun kalau jujur aku ingin semua ini berkahir. Rasanya aku tak ingin lagi mengikuti sesi perawatan dengan dokter Kevin. Aku ingin hidupku kembali normal tanpa berpikir bahwa aku adalah anak yang memiliki masalah” (Lanjutnya)


“Begini, aku sama dokter kevin hanyalah sepupu jauh. Dan lagi kami sudah lama gak saling kontak satu sama lain sejak aku masih kecil. Karena bisa dibilang bahwa dirinya adalah salah satu teman main di masa kecilku. Dari hasil test milikmu sebelumnya, aku pikir kau sudah cukup membaik dan kau tak perlu menyalakan dirimu sendiri. Kau hanya harus lebih terbuka saja. Aku rasa kau membutuhkan seseorang yang dapat kau ajak berbagi” (Ucapku yang dengan tak sadar menggenggam kedua tangan Mark)


“Maaf kalau lancang atau malah menambah beban milikmu, tapi bisakah kau bantu diriku agar terlepas dari semua ini. Aku sudah mulai lelah mengikuti terapi seperti ini setiap minggunya. At least kau bisa coba bicara dengan sepupu doktermu itu. Mungkin saja dia akan mendengar dirimu” (Respon Mark yang secara tak sadar juga ikut mengencangkan kedua genggaman tangannya pada tangannya padaku)


“Baiklah, akan aku coba. Asalkan kau cukup berjanji agar lebih terbuka padaku. Soalnya aku tak bisa membantu menyelesaikan masalahmu jika kau bersikap tertutup.” (Kataku sembari menatap kedua bola mata miliknya)


“Well, mungkin bisa ku pertimbangkan. Tapi tolong lepaskan tanganmu dari kedua tanganku” (Kata Mark yang mulai sadar dengan kejadian yang ada)


“Btw masih ada satu hal yang ingin ku bicarakan dengan dirimu” (Tuturku dengan tegas)


“Memangnya hal apa lagi yang ingin kau ketahui? Apa semua pembicaraan ini masih kurang cukup bagimu?” (Kata Mark)


Well, sepertinya tipikal pembawaan Mark yang ngeselin sudah balik lagi. Padahal baru saja aku melihat sisi lain dari dirinya yang lembut tapi sekarang sudah balik aja versi mark yang ini. Memang benar yah kata orang gak ada orang yang bisa berubah hanya dalam satu malam.


“Apa kau yakin dengan kata yang barusan kau ucapkan? Apa kau sedang mengajak diriku untuk menjadi temanmu?” (Ucap Mark sambil meminum minuman yang ada di depannya)


“Tentu saja, dan aku melakukan semua ini karena aku peduli, lagi pula kita juga tetanggaan bukan. So Mark Steward kamu mau gak jadi temanku dan akhiri semua kekacauan yang ada diantara kita?” (Balasku dengan menawarkan kedua tanganku padanya)


“Apa aku gak salah dengar?” (Tanyanya balik)


“Nggak kok, aku mengajak dirimu untuk berteman. Apa kau mau?” (Balasku lagi)


“Raih kedua tanganku ini. Jika kau bersedia untuk memulai semua awal baru. Let's live with a single piece! Gimana? Apa kau kau mau atau kau mau tetap stay dengan sikap ego milikmu ?”


“Baru kali ini ada orang yang menawarkan pertemanan denganku tetapi sambil menyinggung orang yang diajaknya” (Balas Mark sambil tertawa)


“Aku lagi nggak bercanda, kok malah tertawa” (Ucapku yang mulai cemberut)


“Yah soalnya ini mirip dengan perjanjian deal kerja sama bisnis. Jadi sampai kapan kontrak ini berakhir nona Blowsé?” (Ucapnya sambil tertawa lagi)


“Aku hanya mencoba lebih realistis tau. Soalnya hal yang biasa selalu gak pernah mempan denganmu. Tapi mana ada pertemanan yang diperjualbelikan dalam bisnis. Ini hanya konteksnya aja tapi isinya tetap sama. So mau ngga? Keburu basi loh tawarannya.” (Tuturku)


“Baiklah, hal yang kau bilang sebenarnya sedikit konyol tapi hal itu ada benarnya. So yes, jawabanku ia. Aku mau berteman dengan dirimu. Aku harap kau tak menusuk diriku dari belakang” (Ucap Mark)


“Tentu saja tidak, aku bukanlah seorang yang munafik seperti itu. Semuanya aman kok ditanganku. Kau tak perlu khawatir untuk berbicara atau mengeluarkan semua unek-unek yang ada di pundakmu. Aku akan berusaha untuk selalu mendengarkannya.” (Kataku dengan bahasa yang halus)


“So, what’s next? Kita tukaran nomer telepon gitu. Supaya bisa saling kontak. Tapi aku orangnya sangat menjunjung tinggi privasi dan aku harap kau tak melanggar batasan itu.” (Tutur Mark)


“Nggak perlu, sebenarnya aku sudah memiliki kontak nomer milikmu. So biar nanti aku hubungin kamu aja.” (Ucapku yang segera berdiri meninggalkan Mark disana, laku aku segera membayar bill atau tagihan pesanan kami)

__ADS_1


Mark kaget dan bersikap sangat heran dan penasaran. Semuanya tergambar di raut wajahnya. Namun seolah dia terpaku disana. Setelah saat aku usi membayar tagihan kami aku segera pergi dari cafe ini, tak lupa aku berbalik untuk mengedipkan mata pada mark dan tak lupa pula juga melambaikan tangan.


Mark sontak terbagun dari sikap bekunya. Lalu kini dia berusaha mengejar diriku. Aku memencet tombol lift namun aku juga mendengar suara teriakan mark yang terus-terusan mengucap


“Sacha, Sacha, Sacha tunggu aku. Jelaskan yang sebenarnya”


Saat lift terbuka aku segera melangkah masuk kedalam dan aku melihat dia berlari dari arah sana mengejar diriku. Namun sayangnya aku duluan memencet tombol lift tersebut dan perlahan pintu ini mulai menutup.


Betapa kagetnya aku saat pintu lift ini hampir tertutup sempurna kaki Mark justru menahan pintunya sehingga pintu tersebut perlahan kembali terbuka. Mark terus mengatakan


“Hei dari mana bisa kau mendapat kontak nomerku. Setahuku aku tak pernah membagikannya denganmu. Kau sudah tak bisa lari lagi. Cepat katakan kebenarannya.”


Ntah mengapa aku justru senang melihat tingkah usilku pada dirinya. Kini aku perlahan mendekat kearah terlinga Mark lalu berbisik pelan


“Kau mau tahu dari mana aku mendapatkan kontakmu?”


“Sebenarnya, sebenarnya..”


Tanpa Mark sadari tanganku kembali memencet tombol di dalan lift tersebut, dan saat pintu lift kembali menutup aku mendorong Mark keluar yang otomatis membuat pintu ini berhasil rapat kembali dan usaha Mark untuk menahannya gagal.


“Rasanya benar-benar sungguh menyenangkan” (Gumamku)


.


.


.


.


.



Bagaimana menurut kalian episode/chapter kali ini?


Beritahu aku opini dan pendapat kalian di kolom komen yah!


Make sure kamu juga vote cerita ini agar supaya aku rajin update!


.


.


TBC


Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca ‘UNTOUCHABLE'


I love you guys so so much!


Please follow aku juga dong!


See ya in the next Episode!

__ADS_1


__ADS_2