Tak Dapat Disentuh

Tak Dapat Disentuh
Grab that stuff


__ADS_3

Sacha POV


Aku sudah tak bisa menahan lagi, sampai kapan aku harus mengurung diri secara terus-terusan. This is not something good. Aku gak bisa keluar dengan tenang, rasanya jauh lebih mengerikan dari pada di kejar-kejar oleh debth collector atau seorang rentenir. Bukannya aku tipe orang yang memiliki hutang yah. Tapi yah kalian tahu sendiri aku tinggal di satu gedung apartemen yang sama dengan dirinya dan ntah mengapa hal itu benar-benar mampu menghantui diriku. Aku tak bisa melihat wajahnya walau itu untuk sesaat, aku takut mulutku ini bisa saja keceplosan dan akan mengatakan hal yang tidak-tidak saat bertemu dengannya. Oh tuhan kenapa hal ini tak berakhir dengan begitu mudah.


“Sampai kapan?” itu adalah pertanyaan yang sudah berhari-hari terngiang di dalam pikiranku. Andai saja jatuh cinta itu mudah. Sekarang aku paham mengapa banyak hubungan terkadang mirip bagaikan berenang di dalam arus. Sebagian orang mungkin akan berhasil mencapai ujung. Namun jika mereka, sang pasangan itu bisa menggapainya. Karena nyatanya di sisi lain tak sedikit pula hubungan tersebut malah tersangkut hanyut tanpa pernah melihat sebuah ujung.


Mudah untuk mengatakan namun sulit untuk mengekpresikan. Dalam sebagian orang inilah kasus yang tengah terjadi. Akan tetapi untuk ku adalah hal yang sebaliknya. Aku bisa melihat dan merasakan gejolak perasaan itu namun sulit bagi aku untuk menuturkan perasaanya. “Aku Juga Mencintaimu” adalah tiga kata semu dalam kalimat singkat yang sudah sangat umum digunakan dalam keseharian. Lalu mengapa lidah ini berkeluh dan tak mampu untuk melontarkannya. Apakah harus mengucapkan tiga kata itu, apakah ada sebuah anjuran atau apakah hal itu merupakan sebuah kewajiban ? Damn it’s killing me.


Hal simple ini sudah jadi beban di pundak aku sejak malam itu, malam di mana dirinya mengutarakan segalanya. Serasa aku tak memilki kuasa akan diriku sendiri. Menghanyutkan semua pikiran ini dalam kesibukan-kesibukan rutinitas harian sepertu sekolah, modeling dan hal lainnya. Jadi kalian berhentilah merasa iri pada orang-orang yang mudah mendapatkan cinta, karena nyatanya tak semua dari mereka mampu mengenggam ataupun mempertahakan cinta yang mereka dapat.


10 hari mungkin terdengar singkat, tapi bagiku yang memikul semua ini seperti beban hal itu pastilah mendatangkan banyak keresehan di dalam diri ini. Dirinya mungkin merasakan ke absenan diriku dalam kehidupannya. I mean, sejak kejadian itu ntah mengapa aku malah menarik diri dan menciptakan jarak yang lebar tiap hari. Aku selalu berandai-andai, mungkinkah dirinya memikirkan diriku. Apa pendapatnya megenai situasi kami saat ini. Tapi justru cabang-cabang pikiran inilah yang membuatku justru merasa semuanya semakin berat. Sejak malam itu dirinya mengirimkan bunga di pagi hari dengan note kecil yang bertuliskan “Thanks for the night”. Dan ini mungkin terdengar kasar, tapi parahnya aku sama sekali tak menjawab atau mengatakan hal apapun padanya bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Itulah salah satu yang membuatku merasa buruk terlebih lagi dirinya tak pernah membahasnya dan aku juga tak berani mengambil langkah tuk memulai topic pembahasannya. Tak hanya sampai disitu, aku beberapa kali hampir sempat berpapasan dengan dirinya. Dan konyolnya aku malah bersikap bodoh seperti mengumpet atau berpura-pura seolah tak melihat dirinya. Semua niatan dan planning baiknya untuk diriku juga sudah aku tolak mentah-menatah. Tawaran makan, jalan-jalan, antar-jemput dan lain-lainnya. Belum juga sudah berapa banyak panggilan darinya yang sengaja tak aku angkat. Intensitas chat kami menurun dengan drastis. Aku tak pernah memulai chat dengan dirinya seperti dahulu, bahkan aku juga membalas chat darinya dengan sangat jarang.


Lihatlah, bagaimana cinta telah menggrogoti diriku perlahan. Semua hal bodoh dan konyol itu yang aku lakukan hanya semata-mata karena aku belum bisa memberikan jawaban yang pasti, dan aku tak mau sesuatu yang tak pasti itu akan menyakiti dirinya. Tapi niat baik tak selalu berjalan dengan baik pula bukan. Aku pastinya sudah gagal memenuhi semua standar untuk menjadi seorang kekasih idaman. (At least for now. So don’t judge me. I’m suffer enough)


Satu hal baik yang terjadi padaku selama belakangan ini yakni, hubungan aku dengan si judes mark itu semakin baik aja. Maksud aku yah hubungan persahabatan di antara kami. Dirinya benar-benar pengalih pikiran yang handal. Oleh karena itu aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan dirinya. Menjumpai sisi-sisi lain dari dirinya menurutku sih mengesankan. Dirinya selalu berhasil membuat aku takjub. Di tambah dirinya juga enak. Jangan langsung ngeres dulu yah. Energi yang di hantarkan oleh tubuh mark benar-benar merupakan suatu energy sedap yang luar biasa. Intensitas gejolak yang aku rasakan hamper tak terbendung. Dirinya bagaikan sebuah varian menu special yang tersedia di resto-resto ternama kelas atas yang begitu mengunggah selera. Aku dekat dengannya bukan untuk menjadikan dirinya objek makanan loh yah, tapi emang karena niatan tulus yang murni. Tetapi yah gitu kadang diri ini khilaf aja main nyerobot untuk menyentuh dan merasakannya.


Namun aku bertekad mengakhiri lingkaran kejar-kejaran kucing dan tikus ini. Aku tak bisa terus berlari dari masalah yang aku hadfapi Setidaknya aku akan meminta maaf atas semua perbuatanku. Aku lelah bermain di dalam game ini. Kalau bukan untuk David setidaknya untuk diriku sendiri.


“Kayaknya aku sudah gak bisa nunggu lama. Karena semakin banyak waktu yang ku gunakan rasanya semakin sulit tuk menentukan pilihan. Sekiranya begitulah, jadi apa adanya saja. I guess this is it” (Ucapku pada pantulan diriku di kaca cermin ini)


Karena factor dorongan batin, oleh karena itu berinisiatif mengajak david ke happy land. Sebuah tempat yang menyenangkan untuk melepas suka duka atau istilah gaulnya perasaan galau.

__ADS_1


David POV


Aku tak sanggup meratapi semuanya, hancurlah harapan. Awalnya ku pikir ini adalah sesuatu yang baru. Namun sepertinya prediksiku salah total. Aku kalah mutlak. Karena sekarang sebagian diriku justru sedang mengutuk aku akibat hal yang aku perbuat. Mereka meneriaki bahwa seharusnya aku tak harus menyatakan semuanya dan membuat sacha menjadi terkejut. Tapi apalah dayaku, aku juga tak bisa menahan luapan dari perasaan yang aku miliki sendiri.


Rasanya menyiksa, aku tak tahu sampai kappa hal ini harus berlanjut. Sampai kapan aku harus menunggu kebenaran di tengah rasa ketidakpastian. Di tambah gerak gerik dirinya seolah memberiku sinyal yang buruk. Aku mengirimkannya sebuah buket bunga dengan niatan untuk menenankan hatinya. Tetapi apa yang aku dapatkan. Tak ada apapun, bahkan walau itu hanya sekedar ucapan terima kasih.


Aku bukannya sedang mencoba untuk menghitung-hitung setiap hal tetapi aku merasa seperti di campakan, merasa seperti sedang di buang. Walau jelas aku sama sekali tak bisa menerima ataupun membenarkan feeling yang aku punya di dasar lubuk hati ini.


Tetapi aku juga tak bisa menutup mata dengan mudah untuk mengabaikan bahwa hal-hal yang ada disekitar sedang mengalami perubahan drastis. Aku berusaha mendekat padanya tetapi dia justru menolak secara halus semua upaya bantuan yang aku tawarkan. Beberapa kali aku juga mendapati kami yang hampir sempat berpapasan namun dirinya justru bersikap seolah tak melihat keberadaanku. Belum lagi dia juga sudah mengabaikan setiap panggilan telepon dariku, bahkan dirinya jadi jarang untuk nge-chat denganku. Tak sedikit pesanku di biarkan tanpa balasan.


Aku sangat ingin menemuinya secara langsung dan ingin mengeluarkan semua unek-unek yang ada di pundakku ini. Tetapi aku sadar bahwa diriku sendirilah yang memberikan dia waktu untuk berpikir. Aku tak ingin menjadi seorang pria yang memaksakan perasaanku. Hal tersebutlah yang selalu membuatku mundur tiap kali aku mencoba untuk menyampari dirinya secara langsung.


Dan juga hal apa yang harus ku minta. Dia tak memiliki kewajiban untuk menuruti permintaanku. Siapakah aku di dunia yang fana ini. “Mengemis cinta” bukanlah sifatku. Masa-masa seperti itu telah berlalu saat aku dulu dimasa junior school ataupun high school. Pria dengan wibawa yang memgang kata-katanya. Setidaknya hal itu yang aku pelajari.


.


.



Bagaimana episode kali ini?

__ADS_1


Please kalian jangan lupa untuk like, Vote, Komen, Subscribe karya aku ini yah!


Karena hal tersebut sungguh berarti bagi para author.


____


Next Episode :


“Aku berdiri disini meminta maaf atas semua kelakuanku yang mungkin menurutmu terlihat konyol dan bagaikan anak-anak. Aku mungkin tak dapat memenuhi semua ekspektasi dan menjadi panggilan hatimu. Mungkin aku tak layak, tak pernah pantas.”


.


.


.


TBC.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca UNTOUCHABLE


I Love You guys :)

__ADS_1


See ya in the next episode!


__ADS_2