Tak Dapat Disentuh

Tak Dapat Disentuh
Make It Simple


__ADS_3

Règina POV


“Ah rasanya benar-benar menyenangkan, kita berpisah disini yah. Sampai jumpa” (Ucapku)


“Apa kalian yakin tak perlu aku antar?” (Kata David)


“Iya sepertinya tak usah, aku bareng dengan règina aja” (Ucap Sacha dengan menampilkan senyuman manis yang terlihat palsu dimataku)


“Kalau begitu kami duluan yah. Bye David, bye Carmine.” (Kataku)


Aku segera pergi menarik tangan Sacha untuk menjauh dari mereka. Dan masih dapat kulihat dengan jelas David melambaikan tangan sedangkan Carmine terus tersenyum lugu.


Setelah merasa berjalan cukup jauh dan meninggalkan mereka. Akupun berhenti dan melepaskan tarikan tangan sacha dari tanganku.


“Kamu kenapa sih pakai tarik-tarik tanganku segala? Emangnya kita mau kemana sih?” (Tutur Sacha)


“Harusnya aku yang nanya kayak gitu sama kamu. Sudah jangan bawel aku mau bawa kamu ke acara konser” (Balasku)


“Apa? Kamu yakin? Sekarang?” (Tanyanya dengan sedikit gugup)


“Ya iyalah, masa Minggu depan. Nah aku beli tiketnya untuk sekarang” (Balasku)


“Emang konser mana dan kapak kau beli tiketnya?” (Tanyanya lagi)


“Gini yah aku liat kamu sepertinya sedang badmood jadi pas tadi makan di restoran, aku liat masih ada tiket terakhir yang di flash sale. Jadi aku langsung booking dah, mumpung harganya juga jadi miring. Kayaknya mereka mau nge-habisin tiketnya deh. Konser di Grammy musem malam ini, aku liat yang nyanyi salah satu artist kelas atas loh. Terus juga ini kayak small vanue gitu, jadi ga bakal serame kayak konser pada umumnya. Jadi jarak kita ngelihat tuh musisi makin dekat.” (Balasku)


Sacha terdiam beberapa saat dan langsung segera memeluk diriku sembari berkata


“Thanks ya! Aku ga tau harus bersyukur kayak gimana punya bestie (sahabat) seperti kamu. Walau kadang kamu sedikit aneh, dan bertingkah dramatis, plus juga sering usil, tapi ternyata didalamnya hati kamu sebaik ini” (Ucapnya dengan nada yang lembut)


“Iya aku tau kalau aku baik, dan juga peduli apalagi sama orang yang udah super dekat sama aku. Tapi kalau bisa kalimat darimu itu sedikit di filter dong. Soalnya tajam banget dah.” (Balasku sambil berusaha menjauhkan kepala sacha dari dadaku)


“Tapi itu kan kenyataan, aku nggak mengada-ada.” (Ucapnya sambil tertawa)


“Sekali lagi kamu ledek aku, bakal ku telfon si Carmine dan David buat datang kesini juga. Aku punya loh kontak mereka berdua” (Balasku dengan senyum jahat)


“Ah jangan gitu, kalau kau sampai undang mereka aku bakal pergi sendiri nih dan langsung pulang” (Ucapnya dengan memanyunkan bibirnya)


“Iya, iya deh. Dari pada merajuk, kamu lebih baik segera pesan taxi online untuk mengantarkan kita kesana, soalnya ponselku baterainya tinggal sedikit dan lagipula Ntar konsernya sudah keburu dimulai lagi.” (Balasku).


(Setelah selesai konser)


“Wah suara penyanyi itu ternyata sangat terdengar indah saat menyanyikan lagu miliknya saat live. Aku jadi heran kenapa banyak berita gosip kalau dia ga bisa menyanyi live” (Ucapku)


“Yah tentu saja, itu pasti para haters dan orang-orang yang mencoba mengambil keuntungan dari namanya. Sudah biasalah hal seperti itu terjadi di industri, apalagi kalau kau membuat satu kesalahan secara publik maka internet takkan pernah akan melupakannya.” (Tutur sacha)


“Waduh parah yah! Eh ngomong-ngomong gimana dengan tawaran model yang diajukan padamu. Apa kau berniat mengambilnya?” (Kataku)


“Aku masih belum tau sih, jujur aku sangat ingin mengambilnya tetapi aku juga ga boleh kegabah. Aku harus ikutin saran dari David. Yah aku harus mempelajari kontraknya terlebih dahulu sebelum mendatangani nya” (Balasnya)


“Baiklah kalau keputusanmu seperti itu, aku pasti akan selalu mendukung dirimu. Tenang saja!” (Ucapku)


“Makasih yah, keberadaan kamu disisiku benar-benar sangat berarti” (Balasnya sambil memelukku lagi)


“Kita langsung pulang kan?” (Katanya)


“Belum Sacha, masa langsung pulang. Satu lagi kita singgah ke Walk of Fame yuk. Pasti malam gini suasana disana sangat indah, aku juga udah memesan taxi untuk kesana. Kita tunggu di kursi taman depan itu yuk” (Balasku)


“Baiklah, terserah kamu saja. Aku akan ikut selama hal itu menyenangkan.” (Tutur Sacha)


“Well, kamu kenapa sih tadi? Sepertinya merasa bete semenjak dari kita masih di universal studios. Aku perhatikan kamu sepertinya gak suka dengan gelagat atau tingkah Carmine. Apa kamu cemburu yah karena Carmine selalu menempel sama David?” (Tanyaku)


“Bukan seperti itu juga, tapi somehow aku kayak ga suka liat expresi dn tingkah lugu milik Carmine. Rasanya itu sungguh FAKE! Aku bisa liat jelas bahwa sikap dia itu palsu banget, seolah dia nyembunyiin sesuatu. Ditambah dia benar-benar ganjen dan bersikap rendah. C'mon berani banget dia gandeng-gandeng lengan David, pakai acara pelukan lagi.” (Ucapnya dengan expresi marah, seolah sacha benar-benar ingin meledak)


“Sabar, tenangkan dirimu. Tarik nafas dalam-dalam terus hembuskan keluar. Gini deh perubahan sikap kamu tadi itu cukup mencolok ntah David sadae atau tidak dengan hal itu. Kalau boleh jujur aku juga sebenarnya kurang sjma dengan Carmine, walau aku akui sikapnya manis dam watak lugunya itu menarik tapi tingkahnya yang begitu ganjen benar-benar merusak image gadis polos yang melekat pada dirinya. Somehow dia jadi kelihatan bad gitu” (Ucapku)


“Nah Itukan apa, kamu sendiri juga mampu merasakannya bukan. Jadi bukan cuman aku sendiri yang merasa risih dengan tingkah dirinya” (Katanya)


“Tentu saja aku harus setuju dengan dirimu soal hal itu. Tetapi caramu merespon dia benar-benar sangat tak bagus, kamu kelihatan sungguh panas dengan semua gerak gerik Carmine dan mungkin saja dia sadar dan menggunakan hal itu untuk membuat dirimu meledak. Tapi untunglah kamu masih sedikit terkontrol. Gini girl, kita harus main cantik dan jangan ikut bersikap murahan seperti Carmine. Kita harus buat cowok yang ngejar diri kita bukan sebaliknya. Namun pastinya kamu harus pandai dalam permainan tarik ulur itu, jika kamu ingin menang. Biarkan si Carmine melakukan apa yang dia mau, dan kita juga akan ikut bermain tapi dengan cara kita sendiri.” (Ucapku dengan wajah penuh keseriusan)


“Wah ide kamu juga ternyata benar, aku nggak tahu kamu memiliki pikiran seperti itu” (Responnya kagum)

__ADS_1


“Yup begitulah! Btw kamu emangnya yakin kalau kamu menyukai David dan akan memilihnya ketimbang Mark?” (Tanyaku)


“Jujur aku masih belum tahu dengan perasaanku ini. Aku tak tahu apakah ini murni cinta atau hanya sekedar rasa kagum yang berlebih. Karena sosok David yang lebih kayak seorang Angel benar-benar mampu membuat diriku takjub di setiap aksinya.” (Balasnya)


“Begini, saranku sebaiknya kau segera ambil langkah pasti. Tentukan apa yang hatimu inginkan sehingga kamu bisa menggapai apa yang kamu harapkan.” (Ucapku)


“Baiklah sepertinya taxi pesanan kita sudah datang, yuk let’s go ke chapter selanjutnya dari liburan ini.” (Tambahku)


Kami akhirnya segera masuk dan pergi menuju Walk of Fame. Aku terus memperhatikan ekspresi Sacha. Dia benar-benar merasa sangat bahagia. Kami juga mengambil banyak foto hari ini, mungkin cukup untuk memenuhi semua galeri yang ada dalam memori ini.


Melihat orang yang kalian pedulikan bahagia pasti juga membuat kita sendiri ikutan bahagia. Setelah merasa cukup bersenang-senang, kami segera pulang kembali ke apartemen Sacha. Yup aku masih berencana untuk menginap disana. Aku mau habisin waktu weekend ini bareng dia. Dari pada di rumah sendirian sedangkan kakak sering telat pulang. Kakak selalu super sibuk dan juga orang tuaku sudah lama tak balik lagi ke Los Angeles.


****


(Keesokan harinya)


David POV


Aku terbangun pagi ini lebih awal lagi. Dan ntah mengapa rasanya sulit bagiku untuk tidur semalam. Yang ada di kapalaku terus-terusan hanyalah bayangan sacha. Dapat kurasakan sifatnya benar-benar berubah kemarin. Rasanya dia jadi lebih bersikap dingin dan sedihnya aku tak tau apa alasannya.


Aku tak mau orang yang aku sayangi berubah menjadi dingin seperti itu, hal ini benar-benar menganggu diriku. Andai Sacha memberitahukan apa yang terjadi sehingga sikapnya berubah. Kan kalau aku tahu mungkin aku dapat berusaha menjaga atau tak membiarkan hal seperti itu sampai terjadi. Sial sepertinya aku harus mencari tahu sendiri apa penyebab dari perubahan sikap Sacha kemarin. Yah aku punya ide bagaimana kalau aku berusaha mencari tahu jawabannya melalui Règina, toh diakan sahabat Sacha dan hubungan diantara mereka berdua terbilang sangat erat.


Iya kebetulan aku juga tak memiliki jadwal pemotretan hari ini jadi aku bisa menunggu mereka di ruang gym saja.


------


Tak terasa 40 menit telah berlalu dan aku masih belum melihat bayangan kedatangan mereka. Baik itu Sacha maupun sahabatnya Règina. Sambil terus menunggu mereka aku terus berlanjut untuk berlatih. Tak tahu ntah apa yang merasuki diriku, aku benar-benar melampiaskan semua perasaanku kepada alat-alat yang ada di gym ini seperti pada barbel dan alat lainnya.


Hingga aku tak sengaja menoleh ke arah kiri dan aku melihat secara samar bahwa itu sepertinya adalah règina. Aku pun menghentikan aksiku yang dari tadi sibuk bergulat dengan alat-alat berat ini. Perlahan tapi pasti aku melangkahkan kedua kaki ini mengikuti sosok yang sekilas terlihat tersebut.


“Eh ternyata David, kamu ngagetin aku aja” (Ucap règina)


Yup ternyata apa yany aku lihat tadi tidaklah salah. Sosok tersebut beneran adalah règina.


“Oh maaf, aku tak bermaksud untuk mengejutkan atau membuat dirimu takut”(Balasku)


“Iya ngga papa kok” (Ungkapnya)


“Tentu saja, mengapa tidak? Sacha juga ada di sebelah sana. Mau aku panggilkan?” (Tuturnya)


“Eh.. sebenarnya aku hanya ingin mengobrol berdua dengan dirimu. Apa kau tak keberatan?” (Ungkapku)


“Berdua? Ngga sih, emangnya kamu mau ngomong apa?” (Tanyanya)


“Kita bisa ngobrol disebelah sana? Soalnya tak enak banyak orang yang lalu lalang disekitar sini” (Balasku)


Tanpa berpanjang lebar kata lagi ku segera melangkah ke arah yang tadi sempat aku tunjuk dan dapat kurasakan Règina juga mengikuti diriku dari belakang.


“Okay jadi apa yang ingin kau katakan?” (Tanyanya)


“Begini, kau taukan kemarin kita have fun bareng di universal studios, tempat perawatan hingga makan malam bersama. Tapi sepertinya aku menyadari ada hal aneh dari gelagat atau tingkah sacha, pasalnya kemarin maaf yah tapi aku marasa dia bersikap sedikit dingin padaku. Benar-benar berbeda dari biasanya” (Kataku)


“Oh oke, jadi terus kenapa?” (Tanyanya lagi)


“Begini, aku memanggilmu ingin membicarakan hal tersebut denganmu. Karena kau cukup dekat dengan sacha jadi aku ingin menanyakan, apa kau sadar tingkah Sacha kemarin sedikit berbeda? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Apa dia ada mengatakan sesuatu tentangku padamu?” (Ungkapku dengan ekspresi kebingungan)


“Bagaimana yah.. aku tak tahu harus mulai dari mana” (Balasnya)


“Jadi benar yah dugaan dan perkiraan aku.” (Responku)


“Sebenarnya Sacha gak cerita apapun sih, dia lebih ke tipe yang memendam semuanya sendiri. Tapi yah sebagai sahabatnya yang merupakan orang yang sangat dekat dengannya aku juga merasakan perubahan sikap dia kemarin.” (Ucapnya)


“Benarkah? Sudah kuduga bukan hanya aku pasti yang merasakan hal ini. Emangnya dia kenapa?” (Responku balik)


“Dari hasil analisa aku yah, soalnya aku juga tak ingin mencecarnya dengan pemikiranku yang terkadang ngawur ini sepertinya dia ada masalah deh dengan temanmu kemarin. Duh Siapa namanya? Ah si Carmine deh” (Ungkapnya)


“Ada masalah? Masalah apa emangnya? Kok aku ngga tahu apa-apa yah (Jawabku dengan begitu polos)


“Ini cuman dugaan aku aja tapi sepertinya Sacha sedikit cemburu pada Carmine, soalnya kemarin dirinya benar-benar sangat menempel denganmu. Seolah-olah kalian itu seperti pasangan yang sedang kasmaran. Padahal dia cuman temanmu bukan?” (Ucapnya dengan serius)


“Oh jadi begitu, iya sih Carmine cuman temanku, kami juga biasanya tak terlalu dekat tapi aku tak tau mengapa kemarin dia begitu sangat dekat padaku” (Tuturku)

__ADS_1


“Ini cuman opiniku tapi apa kau tak merasa tingkah Carmine kemarin tak berlebihan? I mean kalau kau emang punya perasaan pada Carmine juga it’s okay sih, aku minta maaf kalau itu beneran.” (Katanya)


“Nggak kok, seperti yang aku bilang kami cuman temanan doang. That’s it dan nggak lebih” (Ucapku)


Kami terdiam sebentar hingga aku mendengar règina kembali bersuara


“eh itu Sacha, dia berjalan kemari” (Ucapnya yang membuat kepalaku Otomatis terangkat ke atas lalu mulai menatap dirinya)


“Oh kamu disini toh ina, pantesan aku nungguin disana dari tadi kamu gak balik-balik, katanya cuman mau toliet ternyata kamu nyangkut disini” (Tutur Sacha)


“Pagi Sacha” (Ucapku sambil menampilkan senyuman manis di wajahku)


“Oh pagi juga, David yah..” (Balasnya)


“Sorry yah kamu jadi nunggu, padahal aku yang tadi ngajak règina kemari.” (Ungkapku)


“Ah iya, nggak papa kok” (Tuturnya)


“Kalian masih libur weekend kan? Gimana kalau kita jalan-jalan lagi hari ini, tapi kali kita bertiga aja” (Ucapku)


“Iya, tapi kalau aku sih terserah Sacha aja” (Sahut règina)


“Jadi gimana Sacha, kamu mau nggak?” (Tambahanya)


“Boleh sih tapi jangan sampai malam soalnya besok kan harus masuk sekolah lagi” (Tutur Sacha)


“Baiklah, kalau begitu kita jalan-jalannya sampai sore aja gimana?” (Kataku)


“Boleh tuh, kita mau kemana aja vid?” (Sahut règina)


“Kita bisa pergi ke Hollywood sign, pantai Santa Monica, Farmers market, dan Olivia street” (Ucapku)


“Wah nice, ide kamu keren. Kamu mau ke sana cha?” (Ucap règina)


“Aku terserah aja, tergantung orang yang bawa.” (Tuturnya)


“Tenang, disini kan kamu punya 2 tour guide ada aku dan Règina” (Ungkapku)


“Oke deh, kita ketemu pukul 10 di lobi yah” (Ucapnya)


Benar-benar sempurna, akhirnya aku telah berhasil membujuk Sacha. Dan aku juga tahu apa penyebab perubahan sikapnya kemarin. Ternyata dia cemburu, wah memikirkannya saja sudah membuat pipiku merona. Benar-benar tak ku sangka ternyata Sacha mulai tertarik padaku, yah walaupun ini hanya opini Règina sih. But yeah still okay. Yang jelas aku punya harapan


---


Tak terasa kami semua benar-benar menghabiskan waktu bersama. Kali ini aku makin memberanikan diri untuk mengambil banyak langkah besar untuk urusan kedekatan diriku dengan Sacha. Dan aku senang bisa melihat sacha tersenyum kembali dan sifatnya yang kembali menghangat. Liburan mingguan kali ini benar-benar jauh dari kata membosankan, sempurna.


.


.


.


.


.



Next Episode :


“Jadi kamu benar-benar mau mengambil keputusan itu. Baiklah aku akan mendampingi dirimu sesuai dengan janjiku sebelumnya. Aku takkan meninggalkan dirimu sendirian. Akan aku pastikan hal itu. Terima kasih yah, kamu benar-benar luar biasa”


.


.


TBC


Please Follow aku dan subscribe karya ini, star please aku tunggu. jangan lupa share keseruan kalian dengan teman-teman.


Stay tune yah di Untouchable (Tak Dapat Disentuh)

__ADS_1


See ya in the next episode!


__ADS_2