Tak Dapat Disentuh

Tak Dapat Disentuh
Each other


__ADS_3

Author POV


Waktu serasa bergerak dengan semu, aku tak dapat memastikan semua ini, pertanyaan dan jawaban adalah dua hal yang berkaitan namun bisa jadi hal yang menyusahkan. Di tengah tipisnya rasa kesadaran yang aku miliki, ucapannya menjadi sesuatu yang membangkitkan gelora di dalam jiwa. Sebuah rasa yang tak biasa. Tak tahu bagaimana harus ku ungkapkan, tak mengerti jika waktu mampu membalaskan. Perasaan yang membuatmu terbang jauh ke angkasa juga merupakan hal yang membuat dirimu terjun bebas terasa.


“Apa aku tidak salah dengar” (Ucap sacha tertegun)


“Apa kau yakin dengan hal yang baru saja kau ucapkan?” (Tanya dirinya lagi)


Genggaman tangan sacha yang di genggaman David mulai terlepas perlahan seiring dengan pertanyaan demi pertanyaan yang menghantui pikiran sacha saat ini.


Melihat respon sacha yang mengambil langkah mundur perlahan memberikan ide antusias di pikiran david untuk mendekap dan mengejar dirinya. Alunan nada music membuat semuanya semakin sempurna, bagaikan film-film Hollywood yang biasa kita tonton.


“Ia tentu saja” (Sahut David dengan penuh rasa keyakinan)


“Aku mencintaimu sebagaimana bumi yang mengelilingi matahari, tak bisa di pisahkan seperti dua anak jari.” (Ungkapnya sembari mengenggap tangan sacha kembali)


“Mungkin terdengar konyol, mungkin terlihat bodoh. Tetapi beginilah perasaanku padamu. Dan aku tau hal ini sudah tak dapat ku bendung lagi. Cintaku itu nyata, aku harap kau juga merasakan hal yang sama. Bijaklah bagai orang dewasa, melihat sesuatu yang ada.” (Tambahnya)


“A-ak-aku, aku..” (Respon Sacha)


“Oh god, aku.. aku,,” (Ucap Sacha yang kesulitan merangkai kata)


Tanpa di sadari, sungguh tak terduga. David mengayunkan tangannya, lalu mendaratkan jari telunjuknya tepat di bibir sacha yang sontak membuat dirinya terpojok dan tersipu malu di dalam remang cahaya kelabu.


“Hush..” (Sahut David)


“Akhirnya belum dekat” (Katanya)


“Ambilah waktu sebanyak yang kau perlukan. Like I said, I don’t mind!” (Jelasnya dengan lembut dan sentuman tipis yang menambah kadar ketampanan miliknya)


“Okay, tunggu sebentar tapi sepertinya aku harus ke toilet dahulu” (Balas sacha dengan satu tarikan nafas)


Dengan penuh rasa bingung, takut, cemas, khawatir. Semuanya bergejolak jadi satu dalam jiwa maupun raga sacha. Dirinya belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sebagian dirinya ingun meneriakan kata-kata halus, romantis, berbalas cinta. Tetapi di sisi lain, sebagian dirinya justru menyoraki agar dia tidak kegabah dan memikirkan hal ini dengan sangat baik sebelum mengambil keputusan apapun. Pertentangan dan gejolak batin yang dirasakannya sangat luar biasa, seolah ada perang di dalam dirinya sendiri. Hal ini jutsru membuat ia tak bisa mepercayai dirinya, mempercayai insting vampire yang selalu di andalkannya selama ini. “There’s a block, a wall that she can’t cross”.


“Apa hal yang baru saja ku lakukan ini terbilang konyol dan bodoh kah?” (Ucapnya sembari menatap cermin di toilet yang nampaknya taka da orang saat ini)


“Apakah aku menyinggung dan merendahkannya?” (Tanyanya pada sang bayangan cermin tersebut)


“Kenapa aku tak bisa merasa legah saat hal yang ku harapkan selama ini, cinta yang selalu ku impikan dan ku nanti-nantikan kini ada di depan mataku tapi aku malah secara tak lansung mendorongnya menjauh?” (Tanyanya lagi sembari membasuh mukanya beberapa kali dengan air)


Gejolak batin ini bertambah parah dengan pengaruh alcohol yang masih berada pada dirinya, membuatnya merasa sensitif dan emosional.


“Okay, tenang cha. Calm yourself!” (Bisiknya)


“Kau dapat melalui ini, ntah apapun keputusan yang ku ambil. Untung sekarang kau cukup gunakan waktu yang kau punya.” (Ucapnya sembari menarik nafas dan membuangnya berulang kali)


“Kau akan melalui ini, untuk sekarang jangan kegabah dulu. Kau tak bisa berpikir jernih karena kau sedang mabuk yah walau kau bisa mengontrolnya tapi kau tak bisa mengabaikan kenyataanya. It’s in your system girl!” (Tutupnya)


Setelah merasa dirinya jauh lebih siap dan sekarang sacha memutuskan tuk kembali menemui david yang dari tadi pasti tengah menunggu dirinya.

__ADS_1


“OH, Cha are you okay?” (Tanya David dengan suara khas miliknya)


“Yah, I am good” (Balas sacha sembari berusaha untuk tersenyum)


“Hmm,, Mau ikut dance challenge ini gak denganku, ada hadiahnya loh.” (Ucap david diiringi dengan menawarkan tangannya pada sacha)


“Okay, iya but this is the last one.” (Balasnya singkat)


Pemandu acara kini memulaikan challenge special malam ini. Yakni dance couple terunik akan memenangkan peenghargaan sebagai ‘the favourite couple this month’ atau ‘pasangan terfavorit bulan ini’ dan tentunya hal itu belum termasuk bonus hadiah lainnya. Setiap 20 detik juga setiap pasangan harus di rolling dengan pasangan lain secara otomatis.


“Baiklah, mulaikan musiknya” (Kata sang pemandu setelah menjelaskan syarat dan ketentuannya)


Alunan music romantis decade 80-an itu kini berputar di ikuti dengan setiap pasangan yang siap untuk menunjukan kolaborasi dance unggul mereka.


~I’ve heard all the lines~ (Aku telah mendengar semua kalimat)


~I’ve cried oh so many times~ (Aku telah menangis banyak kali)


~Those tear drops they won’t fall again~ (Air mata itu takkan jatuh lagi)


~I’m so excited cause you’re my best friend~ (Aku bersemangat karena kau sahabatku)


Rangkulan tangan david dan sacha berputar dengan lihai dan tiap kali mereka mendekat, kedua bola mata itu saling memandang satu sama lain. Tak terasa pluit telah berbunyi pertanda para pasangan harus segera roling secara cepat.


~Wonder what love was all about~ (Bertanya-tanya apa itu cinta)


~Just think back and remember dear~ (Pikirkan dan ingatlah sayang)


Walaupun sedang berdansa dengan orang lain yang tak dikenalnya, baik sacha maupun david tetap konsistem mengikuti pola ritmik pasangan dansa mereka. Namun tatapan mata diantara keduanya tak pernah berpaling satu sama lain.


~Cause it’s true love~ (Karena itu cinta sejati)


~You’re the one I’m dreaming of~ (Kamu satu-satunya yang ku impikan)


~And I’m gonna be~ (Dan aku akan menjadi)


Bunyi peluit telah terdengar dan para pasangan segera roling kembali dengan pasangan mereka masing-masing yang tentunya diringi dengan music dan gerakan dansa. Setelah beberapa kali mengalami perputaran. David dan sacha berdansa sangat intim, hamper tak ada jarak diantara bibir mereka.


~True blue, baby I love you~ (Biru yang nyata, sayang ku mencintaimu)


Sorakan kini datang tak henti-hentinya dari para tamu lain yang sedang makan malam di resto ini seiring dengan music yang telah berhenti.


“Wah, sepertinya kita samua setuju bahwa tuan dan nona inilah yang pantas menerima gelar sebagai pasangan terfavorit bulan ini” (Ucap sang pemandu acara)


“Iya..” (Teriakan dari para tamu diikuti sorakan yang terus berlanjut)


“Baiklah saya persilahkan kepada pasangan untuk naik turun dari lantai dansa” (Ucap sang pemandu acara)


Setelah dinobatkan sebagai pemenang, para tamu kunjungan kembali bersorak riak meminta david dan sacha tuk saling berciuman. Dan tentu saja hal ini membuat sacha semakin merasa tersudut dan kehilangan arah. Namun kata-kata dari david membuat sacha perlahan tenang.

__ADS_1


“Cha, fokuslah padaku. Lupakan keberadaan mereka. Anggap saja mereka bagaikan kru pemotretan yang ada di studio”


“You can do it, seperti tadi, seperti yang kita lakukan sebelumnya” (Tambahnya)


Perkataan dan aba-aba dari david membuat sacha mengikuti flow dan irima yang ada. Mendaratkan bibir penuh pesona miliknya kepada punya david. Dan untuk sesaat hal itu berhasil memberinya rasa nyaman dan getaran.


___________________________________________


“Wow, luar biasa. Aku benar-benar tak bisa membayangkannya. Andai saja aku berada disana” (Sahut Regina)


“Justru aku bersyukur kamu gak ada disana. Bisa-bisa kamu bakal ngeledek aku habis-habisan” (Ungkap Sacha)


“Nggak mungkinlah, sebagai seorang sahabat aku pasti akan mendukung jalan asmara milikmu. Paling ditambah beberapa bumbu dikit aja supaya makin spicy” (Ucap Regina)


“Tuh kan kamu langsung mulai dah” (Respon Sacha)


“Well well well, jadi gimana jawabanmu? Bakal diterima atau ngga nih?” (Tanya Regina)


“Aku tak tahu harus menjawab apa, aku tak ingin menyakitinya. Jujur aku tak tahu perasaan apa yang kurasakan ini. Is this something good or not?” (Respon balik Sacha)


“Kayaknya aku harus mikirin dengan mateng-mateng deh” (Tambahnya)


“Oh,, tapi menurutku sih yah, nih opini. Aku rasa kamu jadi overthinking deh. I mean, percikannya udah ada, api udah nyala. Mau nunggu apa lagi? Hati-hati loh yah nanti bukannya mateng, malah jadi gosong” (Ucap Regina)


.


<>


Bagaimana episode kali ini?


Please kalian jangan lupa untuk like, Vote, Komen, Subscribe karya aku ini yah!


Karena hal tersebut sungguh berarti bagi para author.


____


Next episode :


“Kayaknya aku sudah gak bisa nunggu lama. Karena semakin banyak waktu yang ku gunakan rasanya semakin sulit tuk menentukan pilihan. Sekiranya begitulah, jadi apa adanya saja. I guess this is it”


.


.


TBC.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca UNTOUCHABLE


I Love You guys :)

__ADS_1


See ya in the next episode!


__ADS_2