
*Mark POV
Kelasku telah berakhir hari ini, aku tak memiliki jadwal apapun. Namun ntah mengapa seharian ini aku terus terpikir tentang Sacha. Aku tak melihatnya di gym pagi ini, aku juga tak melihatnya di sekitar sekolah. Aku tak tahu apa yang kurasakan tetapi jauh di dalam lubuk hati aku merasakan sesuatu. Perasaan yang sedikit mengganggu ini, beginikah rasanya galau?
Semuanya semakin tak karuan lagi, awalnya aku berusaha menjauhi dirinya. Tetapi tak tau kenapa aku justru malah semakin dekat dengannya. Ditambah setelah aksi perciuman kami, seolah ada hal yang tengah mengubah pandanganku tentangnya. Disatu isi ada hasrat yang terus merasuki ku secara perlahan.
Sekarang rasanya aku sangat ingin menjernihkan persoalan ini, setidaknya jika ini hanya kesalahan biarlah itu tetap jadi kesalahan. Aku tak berharap soal kelanjutannya. Biarkan semuanya stay diposisi sebelumnya. Tetapi jika ternyata hal ini justru berakhir diluar kendaliku maka aku tak tau lagi harus berucap apa.
“Apasih yang kupikirkan, mengapa aku malah memikirkan hal yang tidak-tidak?. C'mon Mark this is ain’t right! Kau harus berpikir secara logis jangan hanya mengandalkan perasaan yang tak jelas” (Gumamku)
Yang tak bisa aku ubah saat ini adalah aksi ciuman panas kami, karena nasi telah berubah menjadi bubur. So suka atau tidak aku harus terima.
“Yeah sepertinya aku akan minta maaf dengan gadis itu, bahwa aku sebenarnya hanya terbawa suasana. Aku tak seharusnya mencium dirinya.” (Batinku)
Lagipula toh dia duluan yang main nyosor aja nih bibir, aku tau dia lagi dalam keadaan mabuk tetapi tetap saja dia yang melakukannya duluan. Toh siapa yang nyuruh dia minum alkohol? Secara dia belum cukup umur lagi.
“Kau harus berani Mark, clear kan persoalan ini. Supaya kau juga bisa lepas dari beban batin ini” (Pintaku)
(Ring ring) ponselku berbunyi
Segera kubuka dan lihat apa isi notif tersebut.
“Hi Mark, this is doctor Kevin. Kalau ada waktu kau bisa ke rumah sakit ini sekarang. Kita akan melakukan sesi lanjutan dan check up perkembangan mu. Lalu mungkin setelah itu kita bisa atur jadwal rutin sehingga aku tak harus mengejutkan dirimu dengan tiap email yang aku kirim. Sesuai yang aku bilang diawal aku akan membantumu melalui semua proses ini. Terima kasih”
(Itulah isi email yang ku terima dari dokter Kevin)
“Baik dok, akan segera ku usahakan. Mungkin aku akan sampai dengan sedikit terlambat. But still i'm coming. Thanks” (Balasku melalui email)
“Okay see you there! Jangan lupa buku kontrol rutin itu kamu bawa” (email dari dokter Kevin)
----
*Règina
(Look Règina saat ini)
Aku melihat mukanya yang terus-terusan memerah, ntah mengapa hal ini justru nampak sangat lucu di mataku. Tiap kali melihat Sacha malu akibat ulah bibir ganasku ini.
“Hello girl? Kenapa kok diem aja?” (Ucapku)
“Ina, stop deh ledekin aku!” (Ucapnya dengan protes)
“Kenapa emangnya? Apa cowok-cowok milikmu itu lebih penting yah sekarang daripada diriku?” (Ucapku dengan mimik wajah yang dramatis)
“Sudah, kalau kamu tetap lanjut yah aku bakal tinggalin disini” (Katanya)
“Ellah.. emangnya kamu yang punya LA? Sok banget gitu main ngusir-ngusir orang sembarangan aja” (Jawabku dengan masam)
“Iya emang benar LA bukankah milikku, tetapi salah satu studio Hollywood yang akan aku datangi dengan tiket emas yang ada di tanganku saat ini tak bisa di share dengan mudah” (Ucapnya dengan membanggakan diri)
“Dan aku berhak mengajak siapapun yang aku inginkan, so be nice or you’re not gonna be there!” (Tambahnya)
“Kok gitu sih, kamu jahat banget! Katanya diriku ini sahabat kamu, teman sehidup semati. Tapi kok aku dicampakkan saat lagi senang-senangnya” (Jawabku dengan ketus)
“Makanya berhenti ledekin aku melulu, dan mungkin aku akan mempertimbangkan dirimu untuk ikut denganku” (balasnya)
“Baiklah baiklah, oke aku nggak akan ledekin kamu lagi. Tapi janji ya ajak aku ke sana, harus pergi bareng aku nggak boleh tidak” (Ucapku dengan tegas)
“Buset kamu memohon atau malah ngancem dan memaksa sih” (Katanya)
“Yaelah, sorry. Aku cuman kebablasan aja, kamu taukan aku excited banget.” (Balasku dengan sedikit memelas)
“Ya udah, kalau mau ikut jangan sok deh. Hentikan ejekan dirimu” (Ucapnya dengan tegas)
“Iya.. iya.. btw emangnya studio mana sih yang kamu mau pergikan ? Sampai tingkahmu jadi belagu gitu” (Tanyaku)
“Salah satu studio besar di LA, David yang mengundang diriku kesana” (Jawabnya dengan senyuman merona di pipinya)
“Oh ternyata gitu toh, kamu diajak si David yang kamu lihat almost naked itu?” (Tanyaku dengan lirikan mata yang tajam)
“Apasih gaje deh kamu!” (Balasnya dengan wajah yang kembali memerah)
“Biasa aja, kan aku cuman bilang faktanya doang” (Ucapku dengan senyuman berseri)
“Sudah deh, cukup! Kalau kamu lanjutin lagi aku benar-benar gak ajak kamu” (Balasnya dengan tegas)
__ADS_1
“Eitsss dah jangan gitu. Oke oke aku bakal kontrol bibir sexy ini” (Ucapku dengan sikap memelas)
Setelah puas bercanda, Sacha akhirnya benar-benar mengajakku ke sana. Ia segera memesan taxi online lalu kamipun sekarang berangkat kesana. Tak dapat ku sembunyikan aura bahagia yang sedang terpancar di wajahku, berpikir bahwa mungkin saja aku dapat menemui salah satu pangeran impian dari seberang dunia sana. Yah setidaknya kalau nggak mungkin aku bisa dapat job. Mungkin banyak yang butuh kemampuan IT milikku.
(20 menit kemudian)
Akhirnya kami sampai disalah satu gedung besar ditengah kota ini. Dari luar kelihatan biasa aja sih, nothing really special. Secara tiap gedung yang ada di pusat kota memang nampak sama dengan gedung lainnya.
Kini aku menapakkan kaki ku mengikuti langkah kaki Sacha. Walau ada beberapa hal pertanyaan yang terlintas dibenak ku namun semuanya aku tahan, tak ada yang terucap dari mulutku. Aku tak ingin menganggu senyuman yang saat ini sedang bersinar di wajah Sacha. Karena bagaimanapun kebahagiaannya juga adalah kebahagiaan dirku.
Wow diriku terkejut saat melangkah masuk ke dalam, setiap gemerlap cahaya berada di sepanjang ruangan ini. Dapat tertangkap oleh mata milikku kilauaan cahaya kamera yang sedang beradu dengan setiap bintang yang tengah beraksi di panggung peperangan itu. Lekukan tiap tubuh dari para model begitu terpancar secara frontal, aura ketangkasan dan sisi anggun disertai daya pikat mereka juga ikut memancar keluar. Tak ada kata-kata yang dapat menggambarkan kesempurnaan paras dan keelokan para malaikat tanpa sayap tersebut. Para pria yang melihat pemandangan ini akan sekejap mata jatuh hati pada keindahan mereka, dan para wanita yang melihat pasti akan merasa iri dengan kesempurnaan yang dimiliki mereka, seolah tak ada satupun cacat yang terlihat. Dari ujung rambut hingga ujung kaki terlihat amazing, everything is so perfect.
“Sacha kok aku jadi iri sih melihat mereka. Aku benar-benar merasa jelek dan sungguh keterbelakang dari para malaikat tanpa sayap itu” (Bisikku)
“Jangan bikin malu dah kamu disini, katanya udah lama tinggal di LA tapi kok tingkahmu kayak kampungan banget. Aku aja orang yang notabenenya berasal dari kampung biasa aja kok” (Balasnya dengan sedikit mengejekku)
“Bukan gitu, walau lama di LA, tapi aku ngga pernah lihat yang kayak gini secara langsung. Kamu tau kan ini bukan bidang keahlian milikku” (Balasku dengan perasaan kesal)
“Yaudah, mending kamu kontrol diri dulu. Setelah itu ntar aku jelasin.” (Ucapnya dengan begitu enteng)
Tak begitu lama setelah kami duduk di sofa ini, terlihat seorang pria menuju kearah kami. Dan wow dia terlihat luar biasa, keren abis dah. Apa dia seorang fotografer? Karena aku lihat di mengalungi sebuah kamera di lehernya. Sebenarnya dari pada jadi seorang kameramen, justru parasnya lebih cocok menjadi seorang model. Aku aja yang orang awam dapat lihat paras tampannya, ia juga lumayan tinggi dan cara jalannya sempurna, ditambah seolah ada aura besar didalam dirinya.
Lamunanku buyar ketika Pria itu menyapa Sacha dan Sacha pun juga membalasnya. Aku masih terpukau dengan parasnya, tak tau harus berkata apa. Mulutku diam seolah terkunci rapat. Yang dapat kudengarkan hanyalah percakapan mereka.
Betapa terkejutnya aku saat tau sosok yang ada didepan ku saat ini ternyata adalah seorang David. Wow dia terlihat jauh lebih tampan dari namanya, aku tak pernah membayangkan ini sedikitpun. Yup aku memang telah tahu siapa itu David, tetapi aku tak pernah melihat rupa ataupun foto dirinya. Dia terlihat jauh lebih sempurna dari lamunanku selama ini. Kini dapat ku pahami sedikit perasaan yang sacha rasakan. Pantas saja ia begitu galau, apalagi ia dihadapkan dengan 2 malaikat tanpa sayap yang tiba-tiba hadir di hidupnya. David tak kalah cakep dari Mark, dan tentunya ini adalah hal sulit bagi Sacha untuk memilih. Aku benar-benar tak bisa membayangkan diriku yang berada diposisi dirinya.
“Hai perkenalkan aku David” (Ucapnya dengan suara berat khas pria secara lemah lembut
Jujur hal ini membuat diriku super terkejut, kini aku malah salah tingkah dan membalasnya)
“Ooh Ha-hai juga, pe-perkenalkan namaku Règina” (Ucapku dengan gagu dan sedikit gugup)
Kok aku malah kampungan banget sih, mana dari tadi aku merasa keringat dingin ngga jelas. Sumpah rasanya menyiksa banget. Tak lama setelah itu David pamit izin untuk melanjutkan pekerjaannya kembali but here I am masih membeku menatap dirinya.
“Woyy, kenapa kamu?” (Teriak Sacha yang perlahan mengembalikan keadaan diriku)
“Gilaa buset, luar biasa, amazing. Dia kok tampan banget, kenalanmu sungguh tak terduga ca” (Ucapku)
“Hahaha kamu kena juga rupanya, pasti kamu bisa bayangin betapa tertekannya diriku saat ini” (Katanya)
“Hmm lumayan lah. Seleramu luar biasa, aku kagum banget” (Balasku)
“Oh tentang itu, yang kamu lihat tadi itu sebenarnya hanyalah ilusi. Mereka tak sesempurna yang terlihat. Justru mereka itu udah di traine untuk jadi yang terbaik dari yang terbaik. Lagipula itukan hanya didepan frame, hanya didepan kamera. It's not really real actually” (Katanya)
“Bahkan terkadang mereka dipaksa untuk tampil seautentik mungkin hanya demi mengikuti tren dan keinginan publik. Dala. Kehidupan nyata mana ada yang sempurna kayak gitu.” (Tambahnya)
“Wah benarkah itu?” (Tanyaku tak percaya)
“Tentu saja, hal ini sudah merupakan bagian dari job mereka. Dan pastinya mereka harus bersikap profesional bukan” (Balasnya)
“Jadi begitu, pantas saja mereka semua yang nampak di media terlihat sempurna. Ternyata hal itu adalah settingan semata saja yah” (Tanggapku)
“Sebenarnya tak semua publik figur begitu, hanya saja hal ini sering terjadi dengan dunia para model. Mereka dituntut lebih extra, karena satu-satunya yang menjadi art dari mereka adalah hasil foto shoot nya. Beda dengan para aktor/aktris yang memiliki kemampuan akting sebagai modal art nya maupun para musisi, suara dan kemampuan mereka yang lain adalah talent yang menjadi art utama mereka. Namun hanya saja terkadang para model mudah terbuai dengan hal itu, tak sedikit loh dari mereka menganggap diri mereka sempurna” (Balasnya)
Aku pun hanya manggut-manggut mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut sahabatku itu.
Kami berada di studio ini cukup lama, tetapi perlahan-lahan aku mulai mengenal beberapa orang yang ada disini. Aku berjalan mengelilingi studio ini dan aku mendengar para kru mengatakan bahwa “It’s time for rest!” mereka lalu beristirahat, tak lupa juga aku dengar mereka mengatakan tentang satu sesi terakhir yang sepertinya dibuat spesial.
Setelah lama berada di ruangan yang sangat dingin ini, perlahan aku merasa kebelet. Aku pun mencari Sacha dan menanyakan padanya soal toilet yang ada di studio ini. Ia pun menjelaskannya padaku namun karena rasa ini sungguh tak tertahankan, akupun akhirnya segera cabut tanpa mendengar ataupun memerhatikan detail-detail yang Sacha ucapkan.
Akhirnya aku sampai pada sebuah koridor dan dipintu tersebut tertulis kata “Toilet”, tanpa pikir panjang akupun bergegas masuk ke dalam sana.
“Arghhhhh, apa itu? Apa yang kau lakukan disini?” (Teriakku secara kaget)
“Kenakan celana mu dengan baik” (Suruh ku)
Betapa terkejutnya diriku saat melangkah masuk kedalam toilet ini mataku justru langsung dikejutkan oleh pemandangan asing yang luar biasa.
Aku melihat seorang pria dengan resleting terbuka, sepertinya ia sedang mencoba untuk membetulkan kembali posisi celananya. Namun semuanya terlambat karena mataku telah menyoroti bagian junior yang berbeda di selangkangannya. Respon yang kulakukan hanyalah segera mengangkat kedua tangan milikku untuk menutupi kesucian mataku.
Tetapi masih terlihat secara samar ukuran rudalnya yang nampak cukup gede. Karena kaget, ia pun juga akhirnya salah tingkah. Dan hal itu justru memberikan waktu lebih bagi aset miliknya terpampang secara jelas.
“Maaf, maafkan diriku. Jujur aku tak sengaja” (Hanya itu yang tertangkap telingaku, ucap kata darinya)
Karena tak ingin harga diriku terus jatuh semakin rendah lagi, maka aku segera membalikkan badanku dan mencoba melangkah keluar. Tetapi kalian takkan percaya apa yang sedang ku tatap saat ini. Hal ini benar-benar diluar prediksi.
Aku melihat Sacha berdiri mematung di belakangku dari tadi yang sepertinya tak kusadari kalau aku tak berbalik. Mulutnya terbuka kaget dengan mata yang terus memandangi kejadian yang mataku baru saja lihat. Tetapi sepertinya sacha melihat semuanya jauh dengan lebih jelas dari pada kilas pandanganku sesaat.
*Sacha POV
__ADS_1
(Terdengar suara teriakan Règina dari arah toilet)
Aku pun segera berlari menyusul nya dengan cepat. Dan yah benar saja, aku melihat dia berdiri malu di dalam sana.
“Astaga!!!” (Jeritku dalam hati)
Mulutku tak dapat menjelaskan apa yang sedang mataku tangkap saat ini, aku menjadi diam kaku tanpa kata. Dapat terlihat jelas di benakku, sebuah rudal yang sedang ter-expos di udara. Namun ntah mengapa aku terus memandangi nya, aku tak tau harus bersiap apa. Tetapi mataku jauh lebih terkejut dalam menganalisa sosok pandangan yang kini berdiri beberapa meter dariku. Yup dia terlihat sangat familiar, kepalaku perlahan memandangnya dari area vitalnya yang membuat diriku terpaku hingga area wajah miliknya.
“Oh No, Ngga mungkin!” (Teriak batinku)
Ini benar-benar tak terduga, aku sungguh tak habis pikir apa yang kini terlihat di pandanganku. Sosok tersebut ternyata adalah seorang yang jelas ku kenal dan bagi kalian juga mungkin tak asing lagi. Dia adalah David.
Beberapa detik kemudian aku tersadar dan melihat ina memandangiku dengan perasaan super terkejut. Ntah dia terkejut melihat diriku yang kini ada di hadapannya atau mungkin ia terkejut melihat apa yang sedang ku lakukan dengan memandangi sosok yang ada dibelakangnya. Yang ku tahu dia hanya menarik lenganku terus kami berdua sama-sama melangkah keluar dari toilet ini. Bahkan dari tadi mataku masih tak berkedip sedikitpun, saking terkejutnya diriku melihat fenomena langka tersebut.
5 menit pun berlalu, sosok pria tersebut menyusul keluar lalu memecah keheningan kami berdua.
“Maaf aku tak sengaja” (Ucapnya dengan halus)
Namun tak ada respon apapun yang keluar dari mulut kami. Lalu ia melanjutkan kalimatnya
“Mengapa kalian masuk kesana? Ada urusan apa emangnya? Apa kalian nggak tahu itu adalah toilet cowok”
Tak ada yang bisa menggambarkan raut wajahku saat ini setelah mendengarkan perkataan David. Mataku melirik ke règina, ia terlihat sangat malu. Wajahnya benar-benar memerah. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, dia hanya menundukkan pandangannya kebawah.
“Sorry David, sebenarnya kami tak ada kepentingan di dalam sana.” (Balasku memecah keheningan ini setelah terdiam sedikit lama)
“Tadi Règina merasa kebelet dan ia sudah tak tahan, awalnya ia bertanya padaku dan aku pun sudah menjelaskan padanya tetapi maklumlah dia masih baru terus dia sudah benar-benar tak tahan lagi sehingga mungkin dia salah masuk toilet” (Ucapku mencoba menjernihkan permasalahan ini)
“Oh jadi begitu.., baiklah lain kali kalian harus lebih hati-hati lagi” (Jawabnya)
“Kalau begitu, aku ijin untuk melanjutkan pekerjaan ku” (tambahnya dengan senyuman hangat)
“Ca.. ca.., aku sungguh tak kuat lagi, jadi pria tadi yang kulihat di toilet itu adalah David. Rasanya aku ingin segera pingsan” (Ungkap règina yang terlihat pucat)
“Sudahlah hentikan tingkahmu, segera masuk ke toilet sana dan rapikan penampilan mu. Kau tak ingin ada orang lain yang tahu soal ini bukan” (Balasku)
Règina pun mengikuti semua instruksi dariku. Aku menunggunya sembari duduk di kursi yang terletak tak jauh dari toilet cewek.
Apa ini? Perasaan apa yang kurasakan?, Sontak hal tadi kembali mengingatkan kejadian tempo hari saat aku melihat tubuh David yang almost naked. Kini bagian yang tersensor waktu itu sudah nampam jelas di kedua mata milikku.
Ukuran yang besar, badan yang ideal, postur tubuh yang tinggi ditambah wajah yang tampan dan didukung sifat gentle dan ramah. Benar-benar sempurna, yup tak ada kata yang cocok selain hal tersebut.
“Wait a minute, kok aku jadi muja muji dirinya sih! Oh tidak-tidak this is not right. Tapi apa iya aku merasakan sesuatu? Apa ada kemungkinan kalau aku jatuh cinta padanya? Pada sosok sempurna yang dimiliki David.” (Pikiran batinku)
.
.
.
.
.
<>
Bagaimana episode kali ini?
Please kalian jangan lupa untuk like, Vote, Komen, Subscribe karya aku ini yah!
Karena hal tersebut sungguh berarti bagi para author.
____
Next episode :
Apa benar aku jatuh hati padanya? Apa perasaan ini adalah cinta atau hanya rasa kagum semata? Yang kutahu hasrat dalam diriku ini semakin membesar walau belum menemukan jawaban yang pasti.
.
.
TBC.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca UNTOUCHABLE
I Love You guys :)
See ya in the next episode!
__ADS_1