
Sacha POV
Aku tak tahu harus mulai dari mana, semuanya terjadi dengan begitu saja. Aku bahkan tak tahu apakah ini adalah hal yang benar atau justru ini adalah sebuah jeratan yang mungkin akan aku sesali. Oh tuhan bisakah rasa kenikmatan ini bertahan, apakah ini masa depan dari semua doaku. Pertanyaan dan pemikiran ini berputar di kepalaku tanpa henti. Semuanya membawaku kembali ke detik-detik momen itu terjadi, bersinar, bercahaya lalu meledak.
Ternyata bunyi nada alarm ini telah membangungkan tidur cantik milik ku. Kini aku mulai dapat melihat jelas perbedaan diantara demensi fakta dan mimpi. Ilusi yang menyatukanya perlahan memudar, harapan dan rintangan adalah dua hal yang tak dapat di pisahkan. “Hari baru tantangan yang seru” Bisakah aku menghadapinya?
Kesadaranku seakan pulih seratus persen di iringi dengan guyuran air yang membasahi diriku. Mata yang setengah terpejam tadi, kini sekarang terbuka dengan sangat lebar. Alunan music yang berputar menambah candu dan perlahan memberi geteran pada hati ini.
Setelah menyelesaikan sesi mandi yang awalnya hanya niat buat cuci muka, kini aku merasa sangat segar. Ponselku berdering dan dari headline yang terlihat aku sangat mengenali notif dari siapa ini berasal. Yah kalian mungkin sudah sangat familiar dengan sosoknya. Siapa lagi kalau bukan sahabatku si Regina. Isi chat darinya jelas menunjukan bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju kemari, bukan lebih tepatnya dia baru saja sampai di depan gedung apartemen ini. Dengan sigap aku segera melepas kimono (baju mandi) ini lalu hendak masuk ke closet (Ruang pakaiaan) untuk berganti.
Setelah merasa siap aku segera keluar untuk membukakan seseorang yang dari tadi membunyikan bel apartemen milik ku. Dan yup bener sekali bukan lain sosoknya adalah Regina.
Regina POV
Aku tak habis pikir deh dengan saudaraku, sifatnya begitu memaksa. Karena tak sanggup mendengar tausiah ceramah panjang darinya aku justru kabur tanpa pikir panjang. Mungkin dirinya ntar malah tambah kesel. Bodo amatlah, punya abang susah banget yah. Coba aja aku punya saudara kandung perempuan pasti bakal asik dan mudah untuk mengerti.
Well aku sebenarnya nyosor aja taksi di depan dan suruh jalan, sekarang aku bingung mau kemana. Dan juga bapak ini dari tadi terus-terusan menanyakan alamat yang dituju, udah kayak kurir aja deh. Karena gak mau ribet lagi aku spontan nyebut alamat apartemen sacha. Semoga aja dia ada disana, soalnya dari tadi aku hubungi tapi masih gak ada balasan.
Sahabatku yang satu itu udah jadi super sibuk, dia udah gak punya waktu untuk main-main bareng aku. Kan jadi nyebelin, aku gak suka hidup yang seperti ini.
Sesampainya aku di depan apartemen, aku segera turun dan bayar tuh taxi, lalu segera masuk ke dalam. Aku sudah familiar disini, maka tak heran tiap kali aku datang pasti tuh para sekuriti akan selalu tersenyum ataupun terkadang mereka menyapa, walau tanpa menanyakan hal apapun lagi padaku.
Tapi disaat ku lewat, aku mendengar ada suara yang memanggil-manggil nama diriku.
“Regina, Regina” (Sahutnya)
Aku kemudian segera berbalik menegok ke belakang. Oh ternyata dirinya, salah satu cogan yang selalu berada di sekitar kehidupan sacha.
“Oh David, good morning” (Balasku)
“Pagi juga ina” (Kata David)
“Mau ketemu Sacha yah?” (Tanya dirinya)
“Hehe, iya nih” (Balasku balik)
“Kamu habis work out yah, tuh keringetan” (Tambahku)
“Iya aku habis dari gym, dan sekarang pengen jogging di luar aja sebelum istirahat” (Ucapnya)
“Well kalau kami nanti udah ketemu sacha, jangan lupa aku titp salam yah” (Tambahnya)
“Oke tenang aja, ntar ku sampaikan. Btw Selamat berolahraga” (Ucapku)
Akhirnya kami melmabaikan tangan dan saling berpisah.
“What a gentle man!” (Pikirku)
Sacha beruntung banget dia punya opsi pilihan cogan yang selain tampan tapi juga pada baik (Kecuali si Mark itu), tapi somehow kimesteri mereka benar-benar ngeh banget lah. Kapan yah waktu ku untuk bersinar? Aku masih belum putus harapan bahwa suatu hari nanti my Mr. Right akan segera datang.
Setelah sampai di lantai apart milik sacha, aku melihat di luar ada kurir yang dari tadi pencetin tuh bel lonceng tapi gak ada tanda-tanda sacha membukakan pintu. Untuk sesaat aku berpikir nih pasti apes, sacha mungkin saja gak ada di apart miliknya saat ini.
Aku pun memberanikan diri tuk bertanya
“Excuse me, ini paketan bunga buat nona Blowse?” (Tanyaku memastikan pada sang kurir)
“Iya betul nona, saya ingin mengantarkan paket ini kepadanya, tapi dari tadi gak ada yang bukain pintu apart ini. Sepertinya pemiliknya sedang tidak berada disini” (Jelasnya)
“Apa nona kenal dengan pemilik yang tinggal di apart ini?” (Tanya sang kurir sembari menunjuk-nunjuk apart milik sacha)
“Oh bener, kebetulan iya aku mengenal pemiliknya.” (Balasku dengan polos)
“Kalau begitu bolehkah saya menitipkan paketan ini dengan nona saja?” (Tanya lagi)
“Hmm..” (Pikirku)
“Aku hendak menghubungi tetangga sebelahnya untuk menitipkan paketan ini” (Tambahnya)
“Iya boleh titip dengan saya saja” (Ucapku)
Ntah keberanian dari mana yang ku dapatkan mengucapkan kalimat tadi. Aku sendiri sekarang justru merasa ragu apakah sacha berada didalam ataukah tidak.
“Kenapa aku mau mengambil tanggung jawab ini saat aku punya opsi untuk menolak” (Pikirku)
“Baiklah tolong isi tanda penerima dan tanda tangan di sebelah sini” (Ucap pemuda yang merupakan seorang kurir itu)
__ADS_1
Dan lagi-lagi kebodohanku malah menuntunku mengikuti kata dirinya. Aku benar-benar merasa gak bisa menolak, kurir ini lumayan tampan dan cute. Seolah paras wajahnya berbisik untuk jangan menolak diriku di dalam telingaku. Di tambah untuk seorang pemuda seumuran denganku, sangat jarak tuk menemukan seseorang yang bisa menghormati orang lain seperti hal yang baru saja dilakukan dirinya. Mungkin efek menjomblo telah menghantui sisi kekosongan diriku selama ini.
“Baiklah ini paketannya” (Ucapnya sembari perlahan memindahkannya ke tangankua)
“Terima kasih yah nona Welsh” (Tambahnya)
“Oh iya sama-sama” (Balasku sembari tersenyum manis)
Kini sosoknya pergi meninggalkan aku dengan paketan bunga ini, aku berdoa saja semoga sacha berada dalam apartemennya ini agar aku tak harus repot membawa paketan ini pulang, ku bunyikan terus tuh bel tanpa henti hingga ku dengar ada bunyi bukaan pintu dari dalam.
“Kamu bukannya lama banget sih, udah pegel nih tangan” (Kataku)
“Eits, kamu baru datang aja udah marah-marah. Nyantai dong be calm” (Balas Sacha)
“Sorry tadi aku sedang mandi” (Tambahnya sembari mempersilahkan aku masuk)
“Iya-iya deh. Tapi kenapa kamu gak bales satupun chat dari aku” (Tegurku)
“Kan ceritanya aku lagi mandi, yah mana bisa lah aku ngebales.” (Tutur Sacha)
“Well btw makasih dah kamu sudah repot-repot bawaiin buket bunga kemari” (Sahut sacha sembari membawakan cemilan untuk kami)
“What a good best friend!” (Ungkapnya lalu memeluk diriku)
“Eh, apaan sih. I mean as much as I want that credits, tapi bukan aku orang yang bawaiin kamu bunga” (Jelasku)
Sacha lalu melepas pelukannya dengan ekspresi wajah yang bingung dan shock di saat yang bersamaan.
“Terus kalau bukan dari kamu, dari siapa dong?” (Tanyanya dengan wajah penuh rasa penasaran)
“Tapi saat ku bukakan pintu tadi, yah kamu yang pegang tuh buket, dan perasaan gak ada orang lain deh” (Tambahnya)
“Ya iya emang gak ada orang lain, soalnya saat aku sampai didepan tadi, aku liat tuh kurir udah coba berulang-ulang pencet bel kamu tapi gak ada respon dari dalam.” (Bantahku)
“Harusnya nih aku yang nanya, kamu dapet paketan bunga dari siapa?” (Tuturku)
Author POV
Pertanyaan yang diajukan regina membuat kepala sacha berpikir dua kali ekstra lebih keras. Dirinya mencoba mengulik-ulik isi memori yang ada didalam kepalanya sendiri. Tanpa tunggu lama kilasan memori (potongan demi potongan) itu tercetak jelas kembali diingatan dirinya,
“Aku beneran gak percaya, for a sec I thought it was just..” Sacha tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
“Apa yang terjadi woy?” (respon Regina)
“Apa yang gak bisa kamu percaya?” (Tanyanya lagi)
Sacha segera mengambil segelas minuman yang dihantarnya tadi dan menghabisinya hanya dalam sekali teguk.
“No.. No It can’t be” (Sahutnya)
“Apanya yang gak mungkin?” (Tegur Regina)
“Aku piker itu semua hanyalah baying-bayang mimpiku saja” (Ucap sacha)
“Apaan sih? Cerita dong, jangan bikin penasaran mulu. (Ungkap Regina)
Dengan satu tarikan nafas yang dalam sacha kini berbalik dan menatap regina secara langsung. Dririnya berkata “Semalam aku makan malam dengan David”
“And then..” (Potong Regina)
Di saat sacha membuka mulutnya untuk menlanjutkan kalimatnya, regina memotongya dan berkata “Jangan bilang itu bukan malam biasa”
Raut wajah sacha perlahan berubah dan memerah. Mendapatkan sinyal dari sacha, regina paham betul kemana arah perbincangan mereka saat ini.
“Kok kamu gak cerita sih ke aku” (Ucapnya)
“Nanti aku tangkep basah baru mau buka mulut. Katanya kita sahabat” (Tambahnya sembari merajuk)
“Bukan kayak gitu ina, tapi aku bener-bener gak habis piker semuanya beneran terjadi. Yang ku tahu semua itu hanyalah bayangan bunga tidurku, aku tak menganggap itu sebuah kenyataan” (Jelas Sacha)
Setelah saling menenangkan, sacha menceritakan semua kronologi yang di ingatnya pada malam itu. Dimulai dari david yang membawanya ‘dinner’ di sebuah resto ternama, hingga dress code yang mereka kenakan dan hal lainnya.
“Di malam itu aku merasa hanyut, tempat dan suasananya sangatlah romantic. I can’t even help myself.” (Kata Sacha)
“Terus gimana bisa kamu gak ingat segalanya?” (Tanya Regina)
__ADS_1
“Malam itu aku mengorder sebuah makanan dan minuman yang mengandung alcohol, dan tololnya lagi david sudah mencoba untuk memperingatiku akan tetapi aku justru men ‘shush’ dirinya.” (Ungkap sacha)
“Duh kok kamu bisa ceroboh gitu sih? Emang gak dibaca gitu” (Tanyanya lagi)
“Sudah aku baca dengan jelas, namun di menu itu berbahasa italia, so gimana aku bisa paham” (Balas Sacha yang mencoba membela dirinya)
“Terus gimana kelanjutannya? Apa kamu langsung mabuk?” (Tanya Regina dengan ekpresi wajah yang sangat penasaran)
“Untungnya ngga sih, aku gak mabuk seketika itu. Mungkin mereka menggunakan alcohol jenis khusus dan muungkin saja kadarnya juga rendah” (Balas sacha)
“Setelah itu ada sesi dansa, dan yah aku berdansa dengan David dengan lantunan music yang indah. Tapi lama kelamaan efek alkoholnya mulai muncul, namun aku masih dalam kategori lumayan sadar yah, ntah mengapa aku jadi gak mawas diri.” (Tambahnya)
“Maksud kamu? Emangnya apa yang terjadi?” (Kata Regina)
“Ntah hasrat dan keberanian dari mana yang aku dapat, aku justru kehilangan kontrol diri dan langsung terjun mencium david tepat dibagian intim itu” (Ucap Sacha)
“Bibirnya benar-benar memberiku sensasi rasa candu yang membuatku tak bisa berhenti. Aku mengingat hal itu terjadi kala lagu lover dari penyanyi taylor swift sedang dimainkan.” (Tambahku)
“Kamu luar biasa banget, baru juga ngedate, udah langsung nyosor aja” (Balas regina sembari tertawa)
“Ih kamu ngeledekin, aku gak suka” (Respon sacha)
“iya-iya. Maksud aku positif kok” (Ungkap Regina)
“itu bukan hal terburuknya” (Lanjut Sacha)
“Maksud kamu? Emang kelanjutannya gimana lagi” (Tanya Regina)
“Disaat keadaan menyentuh level tertentu yang tak terduga lagi, kesadaranku perlahan mulai tenggelam seiring waktu berjalan. Namun masih bisa sedikit ku control denga baik. Pokoknya gak malu-maluiin dah.” (Jelas Sacha)
“Wow untuk seorang pemula, kamu kuat juga yah terhadap alcohol” (Interupsi Regina)
“Sebenarnya ini bukan pertama kali sih aku konsumsi alkohol secara tak sengaja” (Balasan untuk sanggahan Regina)
“Wait, jadi kamu udah pernah konsumsi alkohol sebelumnya. Ooh you’re a bad gurl” (Potong Regina lagi)
“Kamu mau aku lanjut cerita atau nggak sih?” (Tanya Sacha balik)
“iya lanjut dah, jangan digantungin.” (Respon Regina)
Saat malam berlanjut situasi dan kondisi telah menyentuh titik maksimalnya. David tak lagi mampu menahan dirinya, mendapat serangan dari sacha ia malah justru membalasnya. Seakan memberikan lampu hijau kepada sacha untuk terus jalan. Selepas aksi ringan mereka, david tak lagi sanggup un tuk menahan dirinya. Kali ini membawa sacha ke tempat yang sedikit lebih sunyi dan gak seramai sebelumnya. Ia membiarkan seluruh hasrat yang ada pada dirinya keluar. Iya, sebagian dari tebakan kalian mungkin benar. Tapi sebagian yang lain mungkin salah (oops kamu nacal).
Dengan momen yang tepat penuh dengan suasana atau kondisi yang romantis, kedua orang muda ini menenggalamkan dirinya dengan sempurna. David akhirnya menguturan seluruh perasaannya tanpa ada satupun yang di tahannya lagi.
“Aku sudah memiliki perasaan ini sejak lama. Rasa seolah aku dapat mendengar sesuatu di kesunyian, perasaan yang selalu aku bawah setiap pulang, rasa yang dapat memberiku penglihatan walau disaat gelap. semua jalan mengarahkan diriku padamu, mereka membisikan nama dirimu”
“Aku ingin mengajukan satu pertanyaan penting padamu. Apapun keputusanmu aku akan menerimanya walaupun mungkin jika itu sulit. Kau juga tak harus menjawabnya sekarang. Ambilah waktu sebanyak yang kau perlukan, aku akan menunggu kepastianya”
“Hal yang ku maksud adalah..”
“Maukah dirimu menjadi pasanganku, menjadi kekasih hatiku, tempatku berlabuh?”
.
.
.
Next Episode :
“Aku tak tahu harus menjawab apa, aku tak ingin menyakitinya. Jujur aku tak tahu perasaan apa yang kurasakan ini. Is this something good or not?”
.
.
TBC
Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca karya aku.
Enjoy yah!
See ya in the next episode!
__ADS_1