
*Mark POV
Tak terasa matahari perlahan mulai memancarkan sinarnya. Dengan keadaan yang masih setengah tidur aku mengusap kedua mataku dam mencoba untuk bangun. Saat kesadaran diriku mulai kembali seketika semua kenangan-kenangan semalam mulai mengisi setiap ruang di pikiranku. Mengingat kembali adegan panas yang telah membuat diriku hanyut didalamnya.
“Sial, kenapa hal itu harus terjadi?” (Umpatku)
Sekarang semuanya terasa benar-benar canggung. Aku pun tak tau lagi apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku.
“Tapi.. Kalau di pikir-pikir lagi hal kemarin itu sangat aneh, pasalnya baik dia dan aku sama-sama tak begitu saling kenal mungkin kami pun hanya sekedar saling tahu nama saja tetapi hal yang kami perbuat semalam lumayan luar biasa” (Gumamku)
Kok bisa gini yah, padahal kami tak pernah ada rencana One Night Stand tapi kami hampir saja melakukannya.
Semakin di pikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Apakah yang kulakukan itu hanya berdasarkan nafsu semata? Atau aku melakukannya atas dasar cinta?
Sudahlah tak perlu dijadikan beban, mending aku pergi ke gym untuk olahraga supaya bisa ngalihin hal ini dari benakku.
Seketika keluar dari apartemen, ntah mengapa hal yang pertama ku tatap adalah pintu apartemennya, apartemen milik Sacha.
“Astaga hal ini takkan berlangsung mudah” (pikirku)
Sesampainya di gym akupun segera memulai aktivitas olahraga ku. Dimulai dari angkat beban, sit up dan hal lainnya.
(40 menit kemudian)
Ha.. rasanya puas juga, seolah beban di benakku terasa sedikit berkurang dan tak terlalu menekan.
“Memang benar yah kata sebagian orang, bahwa berolahraga dapat menyebabkan kita lebih rileks dan mengurangi beban pikiran” (Gumamku)
Well, aku putuskan tuk bersihkan diriku di kamar kecil yang ada di gym ini. Aku perlahan membuka semua pakaian ku lalu membersihkan diriku dibawah guyuran air shower. Setelah itu dilanjutkan dengan aktivitas mandi pada umumnya. Saat semua terasa selesai akupun mengambil handuk untuk keringkan tubuhku. Lalu mulai memperhatikan tubuhku di cermin.
“Oh No! Big No! Apa ini? Tanda apa ini yang ada di sekujur leherku?” (Jeritku secara kaget)
Dapat kulihat jelas tanda-tanda ini terpoles di leherku dan menjalar sedikit kebagian dada. Warna ruam kemerahan, sedikit kebiruan dan agak menggelap. Itulah yang dapat ku deskripsikan terkait hal ini.
“Jangan bilang setiap tanda bekas yang ada di sekitar leher dan dadaku ini adalah akibat ulah aksi panas kami semalam” (Pikirku)
“Apa ini sungguh lahir dari hal tersebut? I mean apa ini dari ciuman yang Sacha berikan untukku” (Tanyaku dalam hati)
Pantas saja aku melihat beberapa orang di gym yang melihat diriku sedikit tersenyum seperti meledek. Kini ku tahu apa alasannya. Pasti karena hal ini! Mereka menertawakan tanda-tanda kemerahan ini yant ada di leherku.
(Btw ini looknya)
“Kayaknya ini cukup parah deh. Aku harus menutupinya. Iya tak mungkin aku pergi ke sekolah dengan tanda seperti ini disekitar leherku.”
Ku ambil ponselku dan aku search di internet cara untuk menyamarkan bekas ini. Setelah aku tahu, maka aku segera bergegas pergi dari sini.
“Ah ini dia caranya! Jadi butuh sedikit make up yah untuk menyamarkan bekasnya. Tak ada cara lain aku harus pergi Target sekarang juga dan mencari make up yang aku butuhkan” (Pintaku)
----
Setelah sampai di Target (supermaket US), aku segera menanyakan kepada salah satu pegawai disana dimana tempat section make up. Mereka pun mengantarkanku kesana.
“Sial, ah terlalu banyak jenis make up disini. Dan lagi aku tau apa yang aku cari itu ada disini atau tidak” (Gerutuku)
Seketika ada salah satu pegawai yang mendatangiku, ia berkata
“Selamat pagi mas! Ada yang bisa di bantu? Kelihatannya anda sedang bingung"
Awalanya aku kaget dan sedikit merasa malu namun Aku pun perlahan mengangguk sebagai tanda jawaban atas pertanyaan darinya.
“Memangnya sedang cari apa tuan?” (katanya)
Aku membuka ponselku dan menunjukkan hal yang ku maksud itu padanya.
“Oh ini foundation dan concealer, Maaf tuan tapi merk jenis ini sudah tak lagi dijual di target”
Aku pun mengangguk perlahan sok tau lalu aku bertanya
“Terus ini bagaimana?”
“Kalau tuan memang sedang mencari foundation atau concealer kami punya stok jenisnya tapi tidak untuk merk ini” (Balasnya)
“Oh begitu, terus bisakah kau tunjukkan hal yang kau maksud itu” (Ucapku)
“Tentu tuan, ikut saya dia ada dibagian sebelah pojok” (Balasnya)
Aku pun mengikutinya dan kegetnya diriku ternyata hal yang dia maksud itu sangat banyak di jual disini.
“Baiklah tuan butuh yang jenis apa? Terus nomer warna berapa?” (Tanyanya padaku)
Aku mendadak bingung, aku tak tau harus menjawab apa. Kemudian ku dengar ia bersuara lagi.
“Begini sepertinya tuan masih sangat awam yah. Ada beberapa jenis yang terkait dengan foundation ataupun concealer, terus nomor itu bermaksud sebagai warna tone kulit”
Yah cukup memakan waktu memang, tapi aku mendengarkan dan mengikuti semua yang dia sarankan. Kami mengetes beberapa nomer sampai akhirnya mendapatkan tone yang sesuai dengan kulitku.
“Yang ini bagus tuan, lebih tahan lama dan mampu menyamakarkan tanda yang ada dileher tuan dengan baik” (Katanya)
Aku pun syok mendengar ucapannya. Ternyata dia sudah tau maksudku mencari dan membeli produk ini sejak awal. Mukaku mendadak memerah, aku tak bersuara apapun lagi. Setelah kudapatkan apa yang aku cari aku segera kekasir untuk membayarkannya terus bergegas kembali ke apartemen ku untuk mulai bersiap ke sekolah.
----
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, aku sungguh merasa lega. Aku bisa keluar dari sana secepat mungkin. Karena aku sungguh tak tahan melihat orang-orang menatapku dengan senyuman yang seperti meledek. Oh itu sangat menganggu, sungguh membuatku tak merasa nyaman.
Well, untung hari ini aku tak memiliki kelas di awal pagi. Karena kalau tidak jelaslah aku sudah pasti terlambat dan aku tak suka hal tersebut.
Dengan adanya kelonggaran waktu seperti ini aku bisa memanfaatkan nya untuk segera menggunakan apa saja yang ku beli dari target untuk menutupi semua bekas yang menjadi bahan ledekan orang orang ini.
Awalnya aku tak tau cara mengenakannya tetapi berkat video tutorial beauty Guru yang ada di internet hasilnya pun berhasil dan sesuai dengan yang ku harapkan. Setelah siap akupun segera berangkat menuju sekolah.
*****
*Sacha POV
Tak terasa cahaya matahari sudah sangat bersinar dan hal itu secara spontan membangunkan diriku. Aku yang masih dalam kondisi setengah sadar segera melihat ke arah jam.
Sontak aku terkejut dan segera lompat dari kasur hangatku ini. Waktu telah menunjukkan pukul 7.30 dan aku memiliki 2 kelas hari ini. Ditambah tak lama lagi akan segera masuk.
Merasa tak punya waktu banyak aku segera bersiap-siap, disaat-saat kondisi seperti ini kemampuan Vampir ku sangatlah aku butuhkan. Mau tak mau aku menggunakan kemampuan penyegaran yang aku punyai.
Setelah merasa sepenuhnya siap aku segera keluar dari apartemenku dan tak sadar mataku justru menatap pertama kali ke arah pintu apartemen milik Mark.
Lihatlah aku sekarang bagaikan seorang kekasih yang menunggu ucapan selamat pagi.
“Bangun, sadarlah Sacha! Apa kau sudah lupa pada kejadian semalam?” (rontaku dalam batin)
Sudah tak ada banyak waktu lagi yang ku punya, aku segera melesat menggunakan kemampuan Vampir ku untuk mengarungi setiap atap bangunan-bangunan tinggi yang ada disini. Kemampuan dan kekuatanku tetap sigap dan handal seperti biasanya walaupun aku jarang menggunakannya.
Setelah tiba di sekolah aku segera berlari menuju ruang kelasku. Dapat kulihat guru yang akan mengajar hari ini sedang berjalan menuju ke kelasku. Namun dengan cepat aku berhasil tiba terlebih dahulu dibandingkan dengan guru tersebut.
“Untunglah aku masih tepat waktu” (Legaku)
Segera aku menaruh tasku disalah satu kursi yang kosong lalu langsung mendudukinya. Tak lama guru wanita itu segera masuk ke ruangan kelas dan langsung memulai pelajaran hari ini.
Namun ntah mengapa dari tadi aku tak konsen dengan apapun yang dijelaskan, pikiranku melayang kemana-mana.
Aku terpikir lagi soal kejadian semalam, sekarang aku sangat malu untuk berbicara ataupun menemui Mark. Aku tak tau lagi apa yang mungkin dia pikirkan tentang diriku. Padahal aku sudah berusaha untuk memperbaiki citraku didepannya tapi ntah mengapa setiap kali ku berusaha melakukan sesuatu pasti hasilnya takkan sesuai dengan keinginanku, ketika hal itu menyangkut Mark.
“Oh Dewi Fortuna, dimanakah engkau? Takdir apa yang sedang bersenda gurau dengan ini” (Gumamku)
Well kalau dipikir-pikir lagi memang aku juga salah, bahkan aku yang memulai semua itu. Aku sudah bertindak sangat mesum terhadapnya. Dan parahnya aku tak mengatakan permintaan maaf ataupun permohonan menyesal sama sekali. Justru aku merasa seolah sesuatu dalam diriku sedang berkobar-kobar tiap kali aku menyentuh dirinya.
“Oh Tuhan salahkah hal ini?” (Tanyaku dalam hati)
“Sacha.. Sacha.. Sacha.. Sachaaaaaaaaaaaa!”
Terdengar suara dan teriakan yang mengejutkan diriku, seketika aku seolah terbangun dari khayalan ilusi lamunanku itu. Kini dapat kulihat para siswa dan guru sedang menatap dan menoleh kearah diriku.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau hanya asik melamun?” (Tanyanya dengan tegas)
Aku gugup dan tak tau harus memberikan jawaban apa padanya. Aku coba untuk membuat alasan yang kukarang untuk mencoba menjawabnya namun baru sepatah kata keluar dari bibirku dia sudah menyanggaku.
Sontak aku terkejut, ntah dari mana ia bisa mengetahui apa isi dari pikiranku.
“Apa kau pikir aku yang dari tadi berdiri dan menjelaskan materi didepan sini seperti sedang mendongeng untukmu?” (Tanyanya lagi)
“Tidak bu.. bukan seperti itu, tapi..” (Balasku)
“Hentikan, siapa yang menyuruhmu untuk menjawabku? Apa kau tak memiliki tata krama?” (Ucapnya)
“Jangan pasang tampang so cantik milikmu dikelasku, segera kemasi barangmu dan keluar dari kelas ini” (Tambahnya)
Aku speechless banget, tak tau harus berkata atau memikirkan apapun. Aku tau aku berbuat salah tapi aku tak pernah bisa dibentak dan dipermalukan seperti ini. Ingat bukan aku sudah menjelaskan alasannya dulu? (Lihat episode or chapter 3/4)
Hatiku terasah goyah, dapat kurasakan air mataku mulai jatuh perlahan. Aku mencoba menahannya, kini aku membereskan semua barangku dan berjalan dengan cepat keluar dari kelas ini.
“Lihatlah dia, baru ditegur sedikit sudah emosional. Padahal masih murid baru, dia benar-benar mengangkatkan kakinya untuk keluar dari kelas ini.”
Hanya itu ucapan terakhir darinya yang sempat aku dengerkan. Kini aku berlari ke WC yang berada tak jauh dari kelasku. Aku mengeluarkan semua isak tangisku disana, didalam salah satu kamar kecil.
Setelah merasa cukup lega aku membersihkan dan merapikan diriku kembali.
“Kau harus kuat Sacha, Kau tinggal seorang diri sekarang tak ada yang dapat kau andalkan selain dirimu” (Kataku)
Iya benar, aku harus kuat. Ini hanyalah satu dari ujian hidup yang sedang datang padaku. Aku berusaha untuk kembali tersenyum riang.
Well, waktu yang ada masih banyak aku memanfaatkannya untuk pergi ke kantin. Aku memesan beberapa varian menu.
“Wah benar yah kata mereka, kalau lagi bad mood itu dilampiaskan ke makanan sungguh dapat membuat sebagian berkurang” (Gumamku)
Setelah puas aku makan dan kenyang aku sedikit terpikir kejadian dikelas tadi. Sebenarnya kalau dilihat-lihat ini ujungnya kembali lagi ke momen antara diriku dengan Mark. Aku jadi di omelin guru karena aku memikirkan Mark.
Well, bicara tentang Mark aku sama sekali belum berjumpa dengannya. Mungkin karena pagi tadi aku juga tak sempat berolahraga di gym apartemen. Tapi apa iya aku berani bertemu dengannya pasca kejadian semalam?
Emosiku kembali naik dan turun seperti rollercoaster. Aku beneran galau dibuat semua permasalahan ini. Tapi mau bagaimanpun aku harus berani seenggaknya mencoba menyelesaikan permasalahan ini.
Tak lama aku mendengar bel telah berbunyi pertanda jam kelas pertama telah selesai. Dan bel tadi bermakna sekarang adalah jam istirahat.
Dapat kulihat para siswa mulai berdatangan ke kantin, aku pun segera berdiri dan membayar semua makanan yang ku pesan.
Baru berjalan beberapa langkah, aku dihadang oleh beberapa senior yang mencoba menggoda ku. Mereka mengatakan banyak kalimat-kalimat gombal yang ntah mengapa terdengar basi di telinganya. Aku mencoba merespon mereka secara baik dengan memberikan senyuman palsuku.
Namun tak lama kemudian aku melihat sosok mark dan kawan-kawannya mulai berjalan kearah sini.
“Oh No! Gawat ini darurat.” (pikirku)
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi aku beralasan pada senior-senior yang sedang merayuku saat ini untuk segera kabur. Aku bilang bahwa aku dipanggil ke kantor akibat tak konsentrasi di kelas. Yup aku harus berbohong demi meloloskan diriku dari apa yang mungkin tak bisa ku bayangkan akan terjadi jika aku tetap stay disini.
Aku segera berlari ke arah lain agar supaya tak bertemu Mark, Aku pun tanpa sadar masuk ke perpustakaan. Yah mungkin saat ini tempat ini adalah tempat terbaik yang aku butuhkan.
“Wait a minute, kok aku lari lagi yah? Kok aku malah menghindar, padahal tadinya aku sudah optimis mau bertemu dengannya tapi sepertinya nyaliku tak sebesar itu” (Gumamku)
Tak terasa aku menunggu bel masuk berbunyi sambil membaca buku yang ada di perpustakaan. Selepas bel berbunyi aku bersiap untuk segera masuk ke kelasku yang lain lagi. Dan untungnya kali ini berjalan dengan lancar.
Setelah semua kelasku berakhir, aku segera pergi untuk menemui Règina. Aku udah rindu tak menemui dirinya. Aku mencoba menghubungi dirinya dan dia membalasnya. Dia menyuruh ku untuk menunggu ditaman saja, dia akan segera menyusul.
(10 menit kemudian)
Aku melihat sosok Règina yang lari kearah ku. Sontak aku pun berdiri dan kami berpelukan seperti seorang sahabat yang sudah terpisah beberapa tahun. Padahal nyatanya kami hanya tak bertemu selama sehari lebih tapi rasa kangennya itu loh luar biasa. Apa begini yah rasanya jika kita memiliki orang yang spesial. Rasanya seolah tak mampu berpisah dengan lama.
Setelah berbasa-basi, akupun mulai menceritakan keluh kesah ku padanya.
“Ina,, aku pen beri tahu kamu satu rahasia aku yang sudah jadi beban batin bagiku.”
“Apa itu? Emangnya kau habis nyolong?” (Katanya)
“Bukan, bukan seperti itu. Tapi..” (Balasku)
“Apasih cha, to the point dong. Kamu kenapa? Jangan canggung didepan ku” (Ucapnya)
“Baiklah, aku tak tau harus mulai darimana tetapi kau harus percaya dulu bahwa aku melakukannya dengan tanpa sadar” (Balasku)
“Iya.. Iya.. cepat ceritakan! Jangan buat aku semakin penasaran. Kamu kenapa emangnya? Habis ciuman dan bermesraan dengan seorang pria?” (Ucapnya)
Mukaku sontak berwarna merah, aku merasa malu. Tak tahu dari mana ia tau semuanya.
“Iya begitulah..” (Balasku balik)
“Apanya yang begitu? Jangan ribet dah, apa maksudmu dengan..” (Katanya)
Sontak dia terdiam mencerna semuanya dengan baik lalu dia memukulku sambil mengatakan
“Apa? Jadi kau beneran telah berciuman dengan seseorang? Siapa pangeran beruntung itu? Atau jangan-jangan kau guna-guna lagi cowok itu. Apa dia tampan?” (Tanyanya)
“Bukan, bukan seperti itu. Kau mengenal orangnya dia adalah Mark tetanggaku itu” (Balasku)
“Apaaaaaaa? Benarkah?? Jadi kalian telah melakukan nya? Bagaimana bisa? Oh tuhan lindungilah kepolosanku ini dari kisah sensual temanku” (Ucapnya dengan begitu dramatis)
“Règina, Tolong tenang dong! Apa kau lupa kita sedang ditaman, hentikan sikapmu malu-maluin banget. Lihat orang-orang mulai memperhatikan kita” (Tuturku)
“Kau lebay banget. Tumben kau punya malu, waktu berciuman dengan Mark malumu ada dimana girl?” (Tanyanya)
Wajahku sontak memerah lagi, sial habis aku di kerjain oleh Règina. Aku benar-benar merasa sangat malu.
“Lanjutkan bagaimana detailnya?” (Tambahnya)
Akhirnya perlahan aku mulai menceritakan semuanya secara detail padanya. Namun tak mudah menjelaskan pada règina, soalnya ia bereaksi terlalu berlebih-lebihan. Tapi aku menceritakan semuanya dengan sangat terbuka.
“Apa?? Ini gila, aku benar-benar tak percaya, Apa ini nyata?” (ucapnya)
.
.
.
.
.
<>
Budayakan Vote, Subscribe, follow, like, komen. Karena hal itu benar-benar sangat berharga bagi penulis, kami juga bisa tau bagaimana respon dan opini kalian terkait karya kami. Terima kasih
____
Next Episode :
Aku benar-benar tak habis percaya apa yang telingaku telah dengarkan?, Apa aku merasakan cinta? Apakah ini rasanya jatuh cinta?
.
.
TBC
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca karyaku.
Kalian terbaik dah!!
Aku mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekeliruan pada tiap kata atau kalimat.
Pengumuman :
Info update Setiap hari kerja (Senin-Kamis), soalnya jadwalku padat banget kalau mau up setiap hari.
Terima kasih atas pengertiannya.
I Love You All!!
__ADS_1
See ya in the next episode!