Tak Dapat Disentuh

Tak Dapat Disentuh
Same Day


__ADS_3

Sacha POV


“Sacha kau harus mendengarkan dan mengikuti perkataan beserta arahan dariku. Aku tak ingin ada keluhan lagi” (Ucapnya)


“Baik maafkan aku Mrs. Snord. Aku akan mencoba lagi, kan ku usahakan hal yang terbaik.” (Balasku)


“Yup, sudah seharusnya seperti itu. Aku tak ingin dengar komplain lagi dari tuan Stewart. Kau benar-benar bisa dapat surat peringatan jika masih terdapat kesalahan lagi.” (Ucapnya)


“Baiklah maafkan aku. Aku janji akan berlatih jauh lebih keras lagi” (Balasku dengan sedikit memelas)


“Sudahlah aku tak ingin mendengar ucapan maaf darimu lagi, lagipula aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sebaiknya kau juga segera kembali ke ruangan traine milikmu. Soalnya kelas pertemuan akan dimulai sekitar lima menit lagi” (Ucapnya dengan tegas)


Aku pun segera beranjak pergi dari ruangan mrs. Snord, tanpa menoleh kebelakang. Aku benar-benar tak tahan selalu berhadapan dengan dirinya. Ntah mengapa rasa takut ini selalu datang setiap aku melangkahkan kaki ke ruangannya. Orang yang masuk keruangan Mrs. Snord pasti selalu berakhir dengan raut wajah yang masam bahkan tak jarang ada yang sampai mewek dibuatnya. Para traine atau para karyawan yang bekerja dibawah kepemimpinan dirinya pasti sudah tak asing lagi dengan hal ini.


Kalian mungkin belum mengenal dirinya, tetapi disini dia orang yang cukup disegani. Nama lengkapnya adalah Miley Snord, namun ia hanya ingin dipanggil dengan nama nona atau mrs. Snord. Sepertinya dia adalah tipe orang yang sangat bangga dengan nama keluarga miliknya. Btw dia adalah penanggung jawab Devisi Manajemen Karya di perusahaan ini. Oleh karena itu setiap karyawan dan trainee yang bekerja di bidang ini pasti akan selalu melihat dirinya.


Menurutku dirinya sedikit menyebalkan, aku selalu merasa kurang enak setiap berada didekatnya. Yah aku sih paham dia sebenarnya hanya menerapkan aturan yang ada secara disiplin. Wait tapi Kayaknya bukan sekedar disiplin lagi deh tetapi super displin. Oleh karena itu mereka yang sering masuk ke dalam ruangan miliknya adalah orang-orang yang terkadang melakukan pelanggaran. Sekecil apapun itu, Mrs Snord pasti akan menceramahi dirimu habis-habisan tanpa pandang bulu.


Well begitupun juga dengan diriku. Sebenarnya aku sudah mulai bekerja di perusahaan ini selama beberapa minggu belakangan ini. Dan ternyata hal ini tak seperti dugaanku, yang terjadi sangatlah jauh dari semua ekspektasi yang selalu aku pikirkan. Dunia industri ternyata benar-benar sangat keras, setelah mendatangani kontrak kala itu aku sudah ke terima jadi bahagian dari perusahaan ini. Tak semua orang yang mendatangani kontrak langsung menjadi terkenal ataupun langsung dirilis ke pasar. Tak seperti itu kisahnya, realita ternyata lebih keras daripada sekedar imajinasi.


Kegiatan trainee ini sudah berjalan kurang lebih enam mingguan sejak hari dimana aku menandatangani kontrak tawaran untuk menjadi model. Awalnya kupikir ini ga bakal sulit tetapi justru sebaliknya, hal ini sangatlah susah. Kami dituntut untuk mampu melakukan banyak hal. Dan hal ini lumayan melelahkan, terlebih lagi aku selalu kena teguran dikarenakan aku tak melakukannya dengan baik. But i'm not going to give up. Demi impianku maka aku takkan menyerah, aku harus melakukannya dengan sangat baik. Sehingga mereka akan melihat potensi besarku dan akhirnya aku bisa debut.


“Hello, nona Blowsé? Nona Blowsé? Sachaaa... Sachaaa...” (Teriak seseorang di kupingku yang seketika membuat lamunanku ini menjadi buyar)


“Oh Maaf coach George. Tadi sepertinya aku sedang memikirkan sesuatu” (Ucapku sedikit menunduk)


“Maaf, maaf. Hanya itu yang kau tahu dan terus-terusan kau ucapkan. Aku sudah benar-benar lelah mendengarnya. Apa kau tak menghitung berapa banyak kau ucapkan kata tersebut pada diriku atas semua kesalahan yang terus kau lakukan” (Ucap George Stewart)


“Tapi sungguh, aku benar-benar tak sengaja melakukannya” (Balasku dengan ucapan yang lemah lembut)


“Sudahlah, aku tak ingin mendengar alasan konyol darimu. Jujur aku heran banget kenapa bisa Mr. Ford bisa kepikiran untuk nawarin kontrak untuk jadi model kepada dirimu. Aku tak tahu apa yang dia lihat dari dalam dirimu. Karena so far aku tak melihat pontensi apapun yang kau miliki. Ditambah kemampuanmu benar-benar sangat minim dan memerlukan waktu yang extra untuk mengajari dirimu” (Ungkapnya yang seketika membuat hatiku ini terluka)


“Well, sudahlah. Kau ada disini karena kau sudah mendatangani kontrak dan kau telah menjadi trainee resmi. Jadi aku tak ingin kau mengacau di kelasku. Karena aku seorang yang sangat profesional dan aku harap kau pun akan bersikap demikian. Selama aku jadi coach, ga pernah ada satupun murid yang aku ajari itu gagal. So please aku harap kau dapat improve dirimu dengan baik karena aku tak ingin karena ulahmu, seluruh reputasi yang sudah ku bangun bertahun-tahun lamanya akan hancur dalam sekejap.” (Tuturnya)


Setelah menyelesaikan omelan nya, akhirnya ia mulai kembali melatih diriku. Yah masih di hal-hal dasar yang sama sih, seperti tentang keseimbangan, cara berjalan, gerak melangkah, postur dan posisi tubuh serta dinamika wajah dalam memancarkan setiap emosi.


Yah walau sebenarnya latihanku gak berjalan mulus-mulus banget but i'm glad that i already improve so much. Meski lagi-lagi aku harus menahan diri dan menerima setiap lontaran yang dikeluarkan oleh coach George pada diriku.


Sekarang kelasku telah berakhir, jam telah menunjukkan pukul 9 dan itu pertanda saatnya untuk kembali pulang. Aku pun segera membereskan setiap barang milikku dan memasukkannya ke dalam ransel yang aku bawa ke setiap pertemuan trainee ku biasa.

__ADS_1


(Ting, ting. Ponselku berdering)


Aku segera mengecek notifikasi tersebut dan ternyata itu adalah chat dari David.


“Hey, how’s your day?” (chat David)


“Haha sama aja kok kayak hari-hari sebelumnya. Nothing really good happened” (Responku)


“Ouch. So everything is just stay the same, right?” (Chatnya)


“Tentu saja. What’s new about it? Lol” (Responku balik)


“Well kalau gitu coba sekarang kamu jalan kedepan aja, aku punya surprise untuk kamu tonight. Please don’t be too long” (Chatnya)


“Memangnya ada apa sih di depan? Kok sepertinya kamu ngotot banget hehe” (Responku)


“Sudah deh Cha.. don’t ask too much! Kan namanya surprise, masa aku kasih tau sih. Yang ada kamu harus tebak” (Chatnya)


“Oke deh kalau gitu mau kamu. Aku sih yes aja.. haha” (Responku)


David POV


Hari ini rasanya semua pekerjaanku selesai lebih awal, jadi aku make sure bahwa Sacha masih ada di tempat dia trainee. Aku menghubungi dirinya dan katanya ia emang masih disana. So aku berencana ingin membuat suatu kejutan untuk dirinya buat malam ini. Pasalnya pekerjaan dan beban yang dipikul oleh Sacha lumayan cukup berat. Dan aku yakin bahwa sebenarnya dia juga kelelahan dengan semua kehidupan barunya ini. Yah walau sebenarnya aku gak pernah lihat seorang Sacha kelelahan secara langsung. Soalnya dia selalu terlihat fresh, manis dan cute dimataku ini.


Dan instingku mengatakan ini hal yang kurang baik, pasalnya aku menyukai dirinya dan aku harus pastikan bahwa dia safe baik itu bersama atau tidak bersama diriku. Awalnya aku ingin mengungkapkan perasaan yang kurasakan ini pada dirinya tetapi aku melihat dia sepertinya sedang sedikit stress dan tertekan belakangan ini. Tentu pastinya aku tak ingin jadi menambah beban yang dipikul olehnya. Maka oleh karena itu, aku harus membuat momen-momen seperti ini berhasil. Setidaknya aku dapat mengalihkan perhatiannya walau hanya untuk sesaat.


Well aku udah memesan meja dan menu di restoran yang tak jauh dari tempat pelatihan Sacha. So sehingga sebelum kami nonton, aku akan pastikan bahwa rasa lapar Sacha takkan menjadi hambatan sama sekali.


Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju perusahaan tersebut. Merasa jarakku sudah semakin dekat, aku pun mulai mengechat Sacha. Aku harus pastikan lagi bahwa ia benar-benar belum pulang. Dan aku senang ternyata dia merespon chatku dengan jawaban yang ingin aku dengarkan.


Setelah sampai aku menunggu Sacha di kursi taman depan perusahaan tersebut hingga ia keluar.


“David” (Ucap suara lembut yang sudah familiar ditelinga ku ini)


“Oh Sacha, Hi (Balasku sambil menatap kearah mata indahnya)


“Kamu ngapain disini? I mean ada perlu apa?” (Tanyanya)


“Nggak, cuman lagi pengen liat kamu aja. Btw kamu udah makan belum?” (Responku)

__ADS_1


“Oh.. belum sih,, aku lapar. Gimana denganmu?” (Tanyanya balik)


“Sama, aku juga belum.” (Balasku dengan sedikit tersenyum)


“Oh kalau gitu yuk makan bareng” (Ajaknya)


“Wait, tapi mau makan apa? Kayaknya kalau jam seperti ini semua tempat pasti pada ramai” (Tambahnya)


“Tenang aja. Aku udah booking tempat disalah satu restoran Mexico yang tak jauh dari sini.” (Ucapku)


“Wah, thank you David. Kamu beneran yang terbaik dah” (Balasnya yang tak sadar langsung memeluk diriku dengan sedikit erat)


Well, aku bahagia bisa melihat sacha tersenyum lagi. Tandanya aku berhasil membuat dirinya lupa akan bebannya. Yah walau itu just for a moment. Kami akhirnya pergi makan bareng setelah itu aku memberitahu padanya bahwa aku telah memesan tiket nonton berdua.


Raut ekspresinya benar-benar sangat cerah. Ia tak henti-hentinya terus tersenyum padaku. Dan yah aku senang rencanaku malam ini benar-benar terwujud dengan mulus. It just like date for us! And one of the moment that I won’t forgot.


.


.


.


.



Next Episode :


“Ayolah, c'mon jangan terus menghindar dariku. Aku pikir kita sudah berada disisi yang sama. Memangnya siapa bilang seperti ini, bukannya itu hanya anggapan dan asumsi dirimu sendiri bukan?”


.


.


TBC


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca episode ini


Mohon maaf jika ada kesalahan kata seperti typo dan hal lainnya yang terdapat dalam episode/chapter ini.

__ADS_1


Please yang belum subscribe tolong dong subscribe dan share starnya untuk terus help aku buat semangat menulis untuk kalian semua.


See ya in the next episode!


__ADS_2