
Elena terduduk lemas di bangku halte yang sekarang sepi. Ia tidak tahu harus berbuat apa, bahkan ketika melihat suaminya bersama wanita lain ia tidak bisa berkata apapun. Padahal ia berhak untuk mengusir wanita yang merebut suaminya itu tetapi apalah dayanya yang tidak ada tandingan dengan kekasih Delvin. Perlahan, sudut mata Elena mulai memburam dan meneteskan air bening yang suci sejak tadi ia tahan untuk tidak merusak nama dan citra Delvin. Ia menangis dengan terisak ditengah kebisingan kota Jakarta itu ia tak sanggup untuk menahan emosi yang sering ia tahan itu, karena ia bukan wanita yang kuat
" Apa salahku padanya? hiks.... hiks... Kenapa ia sangat membenciku?" Isak Elena yang tak jelas, ia terus menumpahkan rasa emosinya yang meluap itu.
" Aku istrinya, tetapi.... hiks ... hiks... Aku tak bisa apa-apa dalam membanggakan suamiku" Ucap Elena sambil terisak yang tak karuan, tibalah sosok yang tinggi, wajahnya putih bersih, hidung mancung dan tubuhnya atletisnya yang kekar mendekati Elena yang sedang menangis di tengah kebisingan para warga sana. Ya, siapa lagi kalau bukan Budi. Budi sudah lama menyimpan perasaan terhadap Elena, namun ia tak bisa mengungkapkannya kepada Elena karena tak ingin kehilangan lagi seperti kekasihnya yang dulu.
" Elena? Apa kau Elena?" Tanya Budi mendekati Elena pelan. Elena terkejut dan segera menghapus air matanya sigap melihat sosok pria yang mendekatinya dengan raut wajah yang bingung.
" Budi? Kenapa kau ada disini?" Tanya Elena dengan mata merah membengkak akibat tangis tadi. Budi terkejut melihatku, dan segera duduk disampingku memegang wajahku erat, ia tak sanggup melihatku seperti ini. Hatinya terluka.
" Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?" Tanya Budi mengalihkan pembicaraan. Aku tersenyum baik-baik saja, agar ia tak mencemaskanku
" Aku... aku gak menangis kok, siapa bilang menangis" Ucapku dengan tersenyum lembut. Budi mengusap kepalaku dengan lembut
__ADS_1
" Aku tau kamu berbohong padaku, aku sudah lama mengenalmu. Ceritakan padaku apa yang terjadi, mungkin aku bisa membantumu?"Jelas Budi dengan percaya diri. Aku tersenyum
" Kau tak usah mencemaskanku, aku baik-baik saja.. kau lihat!" Ucapku sambil menunjukkan sebuah senyuman penuh arti. Budi mencubit pipiku dengan tatapan gemas
" Apa artinya sahabat kalau tak membantu sahabatnya? Aku bukan orang seperti itu, cepat ceritakan padaku! Aku akan memaksa kamu membuka suara" Tegas Budi dengan tatapannya menyelidik sesuatu.
" Baiklah, tapi kau harus janji padaku, jangan ceritakan ini pada Putri okay" Ucapku sambil mengancungkan jari kelingkingku dengan tersenyum ramah, Budi menggapai jari kelingkingku dengan tatapan tegasnya yang menjadi ciri khasnya.
" Sebenarnya Bud, aku sudah menikah, ayahku menyuruhku untuk membalas budi pada sahabatnya yang telah membantunya" Jelas Elena lesu. Seketika hati Budi hancur mendengarnya, ia sudah terlambat untuk menyatakan perasaannya
" Mungkin memang Elena bukan takdirku, padahal Elena adalah wanita yang berbeda" Gumam Budi dengan tatapan sendu. Elena menatap Budi heran dan bingung
" Ada apa denganmu Budi? Apa kau sakit?" Tanya Elena penasaran. Budi hanya menggeleng dan tersenyum, ia pandai menutupi perasaannya bahkan ketika ia merasa emosi kepada orang lain.
__ADS_1
" Coba jelaskan padaku, sebenarnya apa yang terjadi" Ucapnya mengalihkan pembicaraan. Aku hanya tersenyum tipis melihatnya
" Yah,.. setelah itu kami menjadi sepasang suami istri. Dan ketika kau tanya kemarin aku absen dikampus, itu karena aku sedang resepsi. Maafkan aku telah membohongimu dengan Putri, tapi kau janji ya jangan ceritakan ini pada Putri" Ujar Elena lirih dengan tatapannya yang terpaksa dengan pernikahan ini. Budi melihat Elena sekilas dan mengelus pundakku sambil tersenyum
" setiap manusia pasti akan diberikan suatu cobaan dibatas kemampuan manusia tersebut, tapi tuhan tidak akan memberikan suatu cobaan jika diluar batas kadar kemampuan manusia tersebut. Kau pasti bisa menghadapi ini, yang sabar ya Elen" Jelasnya panjang sambil menatap langit malam yang indah, aku meliriknya dengan tatapan lembut dan tersenyum
" Terima kasih sarannya, kau memang sahabatku yang aku cintai" Jelasku menepuk bahu Budi. Budi hanya tersenyum dan tertawa menanggapinya
" Tenang saja, suatu saat aku akan menyatakan perasaanku, jika waktunya telah tiba.. Aku akan menunggumu Elen" Gumam Budi pelan
Bagaimana kisah selanjutnya?
Ikuti terus ceritanya, dan jangan lupa rate, like and share.. Jangan lupa follow akun instagram author ya roxymillien. Thank you readers telah votenya😁😢
__ADS_1