
Pagi pun tiba, matahari menyinari seluruh ruangan Elena, namun, Elena masih tetap tidak sadar akan hal itu, ia sangat kelelahan dengan kejadian pada malam lalu. Sebenarnya sih, sekarang ia malas untuk bangun dan berdandan untuk pernikahan.
" Semoga hari ini gak perlu nikah deh! Aku ingin kembali pada masa kebahagiaanku!" Gumam Elena sambil membuka sebelah mata kanannya yang masih tertutup. Terkejut, Leo masuk sambil membawakan sebuah baju pengantin yang cantik untuk Elena. sepertinya cocok dan pas untuknya
" Kak! Ayo bangun! Hari ini hari yang sangat spesial buat kakak" Teriak Leo sekencang\-kencangnya. Aku tak peduli, kemudian kuambilkan selimut untuk menutupi wajah dan telingaku dari gangguan Leo
" *Hari yang istimewa pala lu! Aku gak mau nikah! Kembalikan kebahagaiaanku*!" Gerutu Elena sambil menggoyangkan badannya didalam selimut, membuat Leo bingung dan heran dengan sikap kakaknya yang gila. Leo mendorong Elena sampai ia mencium lantai
" Dasar adik durhaka! Beraninya menendang bokongku! Sini kau!" Teriakku sambil menjewer telinga putih Leo. Leo meringis kesakitan dan memohon untuk melepaskannya.
" Maaf maaf kak! Lepasin telingaku! Atau kulaporin kamu dengan ibu" Ejek Leo sembari menjulurkan lidahnya. Sehingga membuatku tambah kesal.
" Sepertinya kamu gak bisa diampuni lagi ya! Coba lapor! Akan kutendang kamu nanti!" Pekik Elena yang kehabisan suara. Ibu muncul dengan menjewer telinga kami berdua. Membuatku tak tahan dan ingin melepaskan diriku dari jeweran ibu
" Ibu ampun bu! Tolong lepaskan" Ucapku sambil memohon untuk melepaskan jeweran yang Legend ini. Bahkan Leo pun sama.
__ADS_1
" Kalian berdua! Pagi\-pagi udah ribut aja! Elena bukankah hari ini hari pernikahanmu? Kenapa belum siap?! Cepat sana!" Titah ibu menyuruhku untuk segera bersiap, aku segera mengangguk cepat agar aku tak dijewer lagi oleh ibu.
" Dan kau Leo! Kenapa tadi bangunin kakak kamu kasar? Bukankah ibu sudah mengajarkan sopan santun untukmu? Sekarang, jangan basa\-basi ayo cepat mandi dan berkemas" Titah ibu pada Leo, Leo menelan salivannya pelan. ia sangat takut jika sudah berhadapan dengan ibu.
Setelah selesai dimake\-up, aku segera memakai baju khas spesial ini. Tak terbayangkan olehku, sekarang aku akan menjadi istri orang lain dan memakai baju pernikahan yang super mewah ini.
" Ibu nanti akan menemaniku kan?" tanyaku. Ibu mengangguk sambil membetulkan sebuah aksesoris cantik ditelingaku. Aku memakai sekadar foundation, bedak dan sedikit eyeliner, sehingga tampak cerah sedikit daripada tak sama sekali ya kan?
" Nanti, jangan buat kesalahan apapun ya! Kamu harus anggun didepan kamera, jangan terlalu banyak merepotkan suamimu." Jelas ibu sambil menambahkan sedikit eyeshadow pada mata kanan dan kiriku. Aku mengangguk dengan cepat dan berdiri didepan cermin untuk melihat apakah sudah selesai. Aku tak menyangka, bahwa aku sangat cantik selama ini, terus kenapa aku gak percaya diri pas kuliah?
" Wah, anak ibu cantik aeperti Putri, nanti bagaimana calon suaminya ya?" Goda ibu padaku, aku memukul pelan lengan ibu karena menahan malu. Aku segera berangkat kepernikahan yang megah itu.
Delvin menunggu calon istrinya yang tak kunjung muncul, hari ini ia memakai setelan jas tuxedo yang sangat pas dibadan atletisnya, alis tebal, dagu terbelah, dan sorot matanya yang tegas sehingga tak ada yang berani menatapnya sekalipun. Sejujurnya, ia sudah pernah melihat muka Elena didokumen data pribadi miliknya, tetapi ia belum puas jika belum dilihat langsung.
Dua menit kemudian...
sebuah mobil limosin berhenti didepan acara pernikahan tersebut. Seorang gadis mungil, imut, cantik dan anggun keluar dari mobil itu dan dibimbing oleh seorang wanita tua. Ia berjalan dengan sangat anggun sampai kaum adam terpesona dengan keanggunan dan kecantikan yang ia miliki. Ia melangkah menuju Delvin berada dan menghampirinya.Delvin melihat Elena dengan muka tersipu, ia tak pernah melihat wanita yang secantik Elena. Langsung ia membuang muka itu dan memasang muka ala khas dari dirinya.
" Maaf tadi aku ada sedikit kendala." Jawab Elena sambil menatap mata biru Delvin. Elena tersipu melihat wajah tampan suaminya itu. Sejujurnya ia sangat bersyukur dengan calon suaminya yang ganteng, seluruh ruangan ini semua melihat pasangan yang sangat cocok dan serasi ini. Bahkan ayah dan ibunya takjub melihatnya dan Delvin
" Hari ini kau harus banyak tersenyum, jika tidak para wartawan akan mengambil cerita yang tidak-tidak padaku." Bisik Delvin ditelinga Elena, membuat ia tersipu malu. Ia segera menunduk dan mengangguk.
__ADS_1
" *Memang apa urusannya itu denganku? Citra yang bakalan rusak itu kan kamu bukan aku*" Gerutu Elena kesal, ia tak berani berbicara seperti itu didepan pria yang akan menjadi suaminya sekarang. Setelah akad nikah, Delvin segara menyapa para tamu yang hadir begitupula dengan Elena yang tak henti\-hentinya tersenyum.
" Gara \-gara senyum rak henti\-henti, ni muka jadi sobek dah, nih cowok satu gak capek\-capek apa ya? Buat acara semegah ini pula. Halah, orang kaya mah bebas" Gumam Elena sambil sesekali melirik Delvin yang sudah sah menjadi suaminya. Sebenarnya, Elena tidak percaya akan hal ini. Naik panggung mentapa orang, memakai baju wedding, dan harus tersenyum sampai mau rusak wajah. Elena sangat kelelahan dengan banyaknya tamu yang hadir, padahal kan cuma sedikit, kerabat dan saudara doang tetapi tak henti\-hentinya datang, sehingga membuat kaki Elena sakit dan pegal. Ia sebenarnya tak kuat lagi menahan itu, tapi apalah dayanya. Dia harus menuruti kata suami dengan baik. Delvin melihat Elena yang tidak bisa berdiri dengan tegas lagi, membuat ia merasa menyiksa Elena.
" Kau duduk saja disana! Aku akan menyapa para tamu, lagipula ini tamu gak ada yang penting. Hanya tinggal teman saja" Jelas Delvin sambil menyuruh Elena untuk duduk disana, Delvin tidak mau melihat perempuan yang lemah didepannya. Ia tak mau merepotkan dirinya dengan gadis bodoh seperti Elena.
Elena berjalan dengan susah payah untuk duduk dikursi yang khas untuknya. Ia duduk disana sambil menunggu Delvin
" Itu orang gak ada bantu kek dikit! Dasar cowok batu es" Gumam Elena sambil memijat kaki bengkaknya akibat sepatu high heels yang tinggi itu, sejujurnya ia tak pernah memakai sepatu tinggi seperti itu membuatnya tak terbiasa untuk memakai sepatu seperti itu. Tiba-tiba, datanglah seorang wanita berambut terurai cantik dan bentuk tubuh sempurna menghampiriku sambil memegang cowok bule yang disampingnya. Aku terkejut, dan segera berdiri untuk menyalaminya, tetapi cewek itu tak peduli
" Kau istri Delvin? Cih! Murahan!" Hina wanita itu. Elena hanya bersabar untuk mendengar kata-kata yang menyakitkan untuknya
" Memangnya kau siapa nona? Datang dan mengataiku seperti ini? Kau pikir kau lebih cantik?" Tanyaku yang sepertinya wanita itu ingin memukulku lalu dicegah oleh pacarnya. Namun, wanita itu menghampiriku dan menyuruh pacarnya menjauh
" Berani sekali ya? Baru jadi cewek orang tajir dikit udah sok! Dengar ya! Delvin dulu itu pacarku, aku adalah Carol! Mantan Delvin, tetapi karena aku kuliah di California, aku putus dengannya dan kudengar ia sudah menikah dengan gadis murahan sepertimu?" Hina Carol dan memandangku dengan tatapan meremehkan. Ya, sebenarnya tubuh, kecantikan, aku memang tak sebanding dengannya, tetapi aku masih punya harga diri. Aku tidak mau, harga diriku diinjak-injak oleh wanita seperti ini
" Oh begitu? Memang aku tak sebanding denganmu, tetapi Delvin itu sekarang sudah menjadi suamiku, jadi kau jangan campuri lagi urusan rumah tangga kami. Karena aku akan menyebutmu perempuan ****** nantinya, dan kau jangan menyesal dan menangis ya! Siapa suruh kau membuang Delvin " Jelasku . Carol tampak marah dan kemudian melayangkan sebuah pukulan untukku, tetapi Delvin duluan datang untuk menghentikannya
" Carol? Kenapa kau disini?" Tanya Delvin yang kemudian memeluk Carol. Apa Delvin tidak tahu kalau istrinya ada dibelakangnya? apa ia tak menanyakanku?
" Delvin selamat ya! Tadi aku hanya mengucapkan selamat, tetapi istrimu hampir memukulku" Jelas Carol sambil melirikku dengan tatapan sinis. Aku membela diriku sekuat tenaga agar tak menjadi kesalahpahaman diriku
" Tidak Delvin! Aku tidak berbuat apa-apa padanya, malah sebaliknya" Ucapku, Delvin menatapku dingin
" Kupikir kau wanita yang baik, tak kusangka rupanya kau bermuka dua ya. Keluar sekarang!" Titah Delvin sambil mendorong Elena sekuatnya hingga ia tersungkur ditanah dan melihat Carol tersenyum dengan penuh kemenangan. Elena ingin menangis tetapi ia tak mau mempermalukan dirinya sendirim hingga ia berdiri dan berjalan keluar dari gedung mewah itu. Sendirian...
Baca Kelanjutannya diepisode berikutnya! Jangan lupa like rate and share ya! Maaf masih banyak typo diseluruh cerita, saya akan giat lagi untuk belajar memperbaikinya! Thank tou✋
__ADS_1