Takdir Bersama

Takdir Bersama
Eps.23


__ADS_3

Elena memapah ibunya yang tak kuasa menahan air matanya karena ayah sudah pergi. Bgeitu pula dengan Leo yang digendong oleh Delvin.


" Sudah bu, tenanglah. Semoga ayah baik-baik saja disana dan tenang disisi tuhan ya bu" Ucapku sambil menenangkan ibu dan mengelus punggungnya lembut. Delvin tersenyum hangat padaku, aku meliriknya sekilas dan membalas senyumannya dengan manis.


" Mas kenapa senyum-senyum gitu? Ini orang lagi sedih juga" Ujarku menyipitkan mata dan melihatnya tajam pada Delvin. Mas Delvin mengendong erat Leo dan pergi begitu saja masuk mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun


" Ibu, ayo.. Malam ini kita makan bersama saja direstaurant ya bu, itu pasti menyenangkan jika makan bersama seperti dulu" ujarku memapah ibu kemobil. Ibu tampak bahagia dan berseri-seri menatapku. Aku langsung membuka pintu mobil dan memapah ibu kesana begitu pula denganku. Leo menatapku tersenyum bahagia.


" sepertinya kak Delvin suka sama kakak ya!? Lihat kak Delvin senyam senyum daritadi" goda Leo kepada Delvin dan memukul pergelangan tangannya yang sedang menyetir. Ibu juga tersenyum lembut padaku. Aku tersipu malu melihat Leo menggodaku seperti ini


" Hush! Anak kecil tau apa hah?" Tanyaku sambil menatap jalanan yang ramai. Ya, ini adalah malam minggu, malam yang penuh arti bagi orang yang pacaran saja sih. Aku tersenyum menatap para pengendara motor dengan tertawa bahagia bersama pasangannya masing-masing.


" mas Delvin, kita makan sama-sama aja ya malam ini, kan bagus kalau makan rame-rame " Ucapku sambil menatap Mas Delvin yang sedang fokus menyetir tanpa melihat wajahku sedikitpun


" Memangnya kita akan makan dimana?" Tanya Delvin yang tetap setia menyetir tanpa menoleh kepada kami.


" Bagaimana kalau kita makan nasi goreng aja di warung bang mamat?" Tanyaku dengan bahagia, ibu memukul bahuku pelan agar tidak terlalu bahagia nanti jadi sedih lho.

__ADS_1


" Kamu mau pergi ketempat seperti itu? Lebih baik di restaurant aja gimana?" Tanya Delvin mengajukan pendapat dan sesekali menoleh padaku. Aku menggeleng sigap.


" Gak, aku gak mau kami mau yang sederhana aja tetapi enak. Daripada tempat mewah tapi makanannya dikit, cuma dihias doang tuh makanan" Cerocos Elena tanpa henti. Delvin menghela nafas pasrah dan mengangguk pelan.


" Baiklah kali ini saja ya." Ucap Delvin dengan raut wajah yang terpaksa. Leo meloncat gembira ia mencium pipi putih milik Delvin.


" yey! Rupanya kak Delvin gak pelit! Ayo kita makan enak!" Teriak Leo gembira. Ibu dan aku tertawa bersama melihat tingkah lucu Leo. Delvin tersenyum bahagia menatap kami.


Sampailah kami di warung bang mamat...


Aku segera memapah ibu keluar dan Leo berlari riang menggapai tangannya ditangan kekar milik Delvin.


" Hahah, nanti kamu bakal punya adek bayi kok. Yang sabar ya" Ucap Delvin Elena menatapnya dengan mata membara dan sedikit emosi.


" Delvin, coba ulangi yang kamu katakan!" Ucap Elena emosi. Delvin menelan salivannya dan tersenyum canggung. Ibu mencubit lenganku pelan.


" Udah, gak boleh bersikap kayak gitu ama suamimu, suamimu kan gak salah kalau bilang akan punya adek bayi sebentar lagi. Ibu dan Leo juga gak sabar menantikannya" goda Ibu Hana kepadaku. Aku menghela nafas pasrah dan menatap Delvin dengan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


" Lihat saja nanti Delvin" Gumam Elena pelan dan tersenyum pahit.


Kami segera duduk dibangku yang kosong yang ada disudut dan langsung memesan makanan yaitu nasi goreng, Selama pesanan para wanita tersenyum menatap Delvin yang begitu tampan dan sempurna ia bahkan sangat sempurna daripada bayangan menjijikkan wanita centil lah istilahnya.


" Eh sis! Lihat tuh ada cogan mirip Suho" Ucap wanita A


" iya, wah ganteng banget, tapi siapa tuh cewek kok kucel amat gak cocok deh buat dia ya gak?" Ucap Wanita B. Merasa geram aku menggebrak meja kuat-kuat hingga bang Mamat dan lainnya menatapku heran dan bingung.


" Heh cewek sialan! Kalau ngomong tuh dilihat dulu dong! Noh, itu suamiku tau. Aku dengar apa yang kalian katakan! kau bilang aku kucel? cermin dulu noh disana" Ucapku emosi pada mereka dan segera menghela nafas pasrah ketika mas Delvin menarik kerah lengan bajuku. Aku mengangguk dan kembali duduk.


" Ish cewek gak tahu diri kali ya? Bilang itu suaminya, mungkin dia gak waras ayo kita pergi dari sini" ajak wanita A tadi. Aku menatap mereka dengan tatapan sinis. Seenak jidat kalau lihat suami orang, makanya kalau ngomong tuh ngaca dulu baru menggosip. Dasar.


Pesanan kami pun datang...


Kami segera memakannya lahahp tanpa bersuara hanya dentingan sendok, piring, dan gelas yang saling berbunyi bahkan kami tetap setia dalam diam. Hingga sosok itu datang menghampiri kami.


Siapa sosok misterius tadi? Apakah Carol? Atau Johnson?

__ADS_1


Saksikan terus kisahnya disini! Berikan like, vote dan favorite ya. Maaf typo masih bertebaran dimana-mana harap maklum ya readers. Sekian


__ADS_2