
Elena berjalan mendekati suaminya itu yang tengah kebingungan antar istrinya atau kekasih yang dicintainya. ia perlahan mendekati Delvin dan memegang bahu besar milik Delvin
" Mas Delvin, nasi gorengnya sudah siap? Mas mau makan disini atau dimeja makan aja?" Tanya Elena lembut dan menatap mata Delvin lekat. Delvin terkejut dan segera berdiri canggung
" Udah siap ya nasi gorengnya? Yaudah, yuk kita makan dimeja makan aja" Ajak Delvin memegang tangan mungil milik Elena. Elena tersipu malu ketika Delvin begitu lembut padanya. Selama ini, ia mengharapkan belas kasihan dan perhatian Delvin terhadapnya ia tak meminta lebih dari itu.
Selama makan, Elena dan Delvin tidak mengeluarkan suara dan mengomentari satu sama lain, hanya terdengar sebuah dentingan sendok, gelas dan piring. Delvin menatap Elena begitu lama, ia tak tahu harus ,mengambil keputusan yang mana yang harus ia pilih, karena jika keputusannya salah tamatlah riwayatnya. Ia masih sangat jelas ingat tentang Ben yang bernasihat padanya.
" Lebih baik memilih Elena daripada Carol cewek matre yang hanya mementingkan uangnya saja" Batin Ben seingat Delvin. Elena mengambil beberapa gelas kotor miliknya dan dibawa kewastafel untuk dicuci. Delvin segera membantunya.
" Mas Delvin duduk saja, gak usah dibantu aku bisa kok" Ucap Elena sambil fokus mencuci piring dan gelas kotor miliknya dan punyaku.
" Gak, aku tetap mau bantu. Ngomong-ngomong kamu ada kegiatan apa aja hari ini? Gak kuliah?" Tanya Delvin sambil mengambil spons cuci piring dari tangan Elena
" Aku ada jadwal kuliah hari ini, terus habis ini aku mau jenguk ayah kerumah sakit, kalau mas gak pergi kantor?" Tanya Elena lirih menata piring yang sudah bersih kerak tempatnya. Delvin menatap istrinya itu lekat-lekat dan mencium kening putih milik Elena dengan lembut dan hangat. Elena tersipu melihat tingkah laku Delvin yang begitu lembut padanya.
__ADS_1
" Gak, aku lagi gak ada jadwal kekantor pagi ini, nanti siang ada meeting bersama perusahaan chaewon nanti" Jelas Delvin menghirup aroma wangi tubuh istri mungilnya itu. Elena berjalan dan duduk sebentat dimeja makan sambil memikirkan cara agar ayah tetap bersamanya. Delvin mengikutinya dan menatap istrinya itu dengan begitu gemas. Sepertinya ia sudah memutuskan untuk menemani istrinya kerumah sakit.
" Bagaimana cara ayah tetap sembuh mas Delvin?" Tanya Elena lesu, ia terus memikirkan cara yang ada didalam otaknya bahkan jika itu yang bersangkutan kepada dirinya ia bersedia kapan saja.
" Aku sudah menyuruh asisten pribadiku untuk mencari golongan darah yang sama seperti ayahmu, kau tenang saja tak usah cemas yang berlebihan. Positif thinking" Jelas Delvin beranjak dan kemudian berjalan menaiki anak tangga perlahan.
" Mas Delvin, jangan repot-repot gitu, aku gak mau berhutang budi sama mas" Ujar Elena mengejar Delvin yang sudah sampai didepan pintu ruang kerja pribadi miliknya.Ia menoleh dan menatap istrinya itu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
" Turuti saja, kau tidak mau ayahmu meninggal kan? Aku hanya membantumu, sekarang jangan berkomentar lagi langsung berkemas menuju rumah sakit sekarang" Titah Delvin. Elena ingin mengangkat suara tapi belum sempat, Delvin langsung memasuki ruang kerja miliknya. Elena berjalan menghampiri pintu ruang kerja pribadi milik Delvin dan berkata
Sedangkan Carol...
Carol melempar ponsel miliknya itu dengan kasar dan menatapnya dengan tatapan ingin membunuh. Rencana yang ia susun begitu rapi hancur dengan mudah ketika Delvin tidak datang kepadanya. Ia berjalan dengan penuh amarah dan membuang semua aksesoris yang tergeletak dinakas samping milik tempat tidurnya
" delvin! Kamu malah memilih wanita sialan itu! Tunggu saja akan pembalasanku Delvin! Tunggu saja!" Pekik Carol sehingga membuat seantaro rumahnya bergetar hebat, ia tak peduli dan langsung menghubungi orang kepercayaannya.
__ADS_1
Carol
" Siapkan rencana plan B, kali ini harus berhasil. Delvin harus seutuhnya menjadi milikku, segala resikonya!" Titah Carol kepada orang kepercayaannya itu
....
" Baik! Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan sayang, kita lihat nanti bagaimana Delvin merangkak bersujud memohon kepadamu" ucap orang misterius diseberang sana. Carol tersenyum dengan penuh sumringah dan kemenangan
" ya, kita lihat saja nanti Elena!" Ucap lirih Carol dan menyipitkan matanya.
Dan tertawa dengan penuh kebahagiaan. Ia akan menang dan mrenggut semua yang ada pada Elena.
Bagaimana penasaran dengan cerita selanjutnya?
Ikuti terus cerita ini, jangan lupa rate, like, and share ya, Sekian. Maaf typo masih bertebaran.
__ADS_1