Takdir Bersama

Takdir Bersama
Eps. 19


__ADS_3

Delvin dan Elena sedang didalam perjalanan menuju rumah sakit yang berada ditengah pusat kota, mereka ingin menjenguk kondisi ayah Elena.


Selama dalam perjalanan mereka memilih tetap bungkam terutama Elena yang menutup mulutnya rapat-rapat agar tak salah bicara ketika berhadapan dengan pria es dingin disampingnya ini. Delvin juga sibuk menyetir dan fokus sekali pada aktivitasnya sehingga ia melupakan kehadiran sosok gadis mungil disampingnya ini. Elena menatap pepohonan dan pemandangan pagi yang begitu indah pada saat ini, ia lebih setia melihat pemandangan daripada melihat suaminya itu yang lupa dengan keberadaannya. Tiba mereka dikejutkan oleh sebuah nada dering yang entah milik siapa itu.


" Itu nada dering siapa mas? Apa punya mas Delvin?" Tanya Elena menatap suaminya itu dengan raut wajah kebingungan. Delvin merogohkan saku miliknya dan menatap layar ponsel itu dengan sigap karena sedang menyetir.


Delvin menggeleng dan kembali memasukkan ponselnya didalam saku celana miliknya


" Bukan milikku, itu pasti punyamu" Jelas Delvin dengan nada suaranya yang dingin ia tetap fokus menyetir tidak melihat Elena yang menatapnya semenjak daritadi.


" Wah, iya" Ucap Elena tersenyum dan segera mengangkat telefon itu yang ternyata dari ibunya.


Elena


" Ibu ada apa? Bagaimana kabar ayah?" Tanya Elena cemas, ya semenjak tadi ia sangat cemas dengan ayahnya yang sedang kondisinya tak baik.


Ibu Hana


" Gawat nak! kondisi ayah kian memburuk, tadi infusnya ada yang cabut, tetapi dokter gak ada yang menyadari" Pekik Ibu Hana panik, Elena menutup telinganya dan menenangkan ibunya

__ADS_1


Elena


" Tenang bu, ibu yang tenang dulu ya. Aku akan segera kesana. Coba ibu tanya dengan security CCTV siapa yang tega melakukan ini pada kita oke bu?" Jelas Elena menenangkan ibunya dengan perlahan, sebenarnya ia juga panik tapi ia bisa mengendalikan kepanikannya dengan bersabar. Lalu, ia mematikan ponselnya dan memegang lengan kekar milik Delvin


" Mas, kita harus cepat kesana dalam 30menit, tolong mas Delvin" Ucap Elena sambil bermohon yang tak jelas.


" Oke, aku akan menambahkan kecepatan. Pakai sabuk pengamanmu ok" Titah Delvin dan menancapkan mobilnya mantap.


Sesampainya dirumah sakit....


Elena keluar dan berlari dengan penuh kecemasan yang sejak tadi melandanya. Ia berlari, dan terus berlari dan tak mempedulikan apa kata orang terhadapnya. Delvin mengejar Elena yang berlari dengan begitu panik dan segera mengikuti Elena dimana ia pergi. Elena terus berlari dan tak mempedulikan sosok pria tampan yang sedang mengikutinya dari belakang, pikirannya penuh dengan memori dengan kebersamaan ayahnya.


Sampailah mereka didepan pintu pasien 15.


ya, itu adalah kamar ayahnya. Segera ia membuka pintu tersebut dan tak mempedulikan Delvin yang sedang kelelahan mengejarnya.


Ia terkejut dengan suasana suara tangis tersedù-sedu milik ibu dan adiknya Leo. Begitu pula dengan Delvin yang merasa kebingungan dengan keluarga Elena bahkan ayahnya juga ada disana terkulai lemas menatap sosok pria paruh baya yang menutup mata tersenyum.


Elena berjalan mendekati ayah Johnson, ibu dan Leo.

__ADS_1


" ibu, ada apa ini? Kenapa kalian menangis?" Tanya Elena yang hampir meneteskan air matanya jikalau ayahnya terjadi sesuatu yang membuat hatinya sakit terluka. Ibu Hana menatap putri sulungnya itu dan segera memeluk erat putrinya itu sambil terisak. Perasaan Elena mengatakan ada yang tidak beres yang akan datang padanya.


" ibu ceritakan padaku apa yang terjadi? Apa ayah baik-baik saja?" Tanyaku dengan begitu polosnya. Ayah Johnson mendekati Delvin dan berbisik sesuatu sehingga mereka keluar dari ruangan itu membiarkan kami melepaskan rindu.


Ibu tetap setia diam dan terisak, aku semakin bingung, kenapa ibu menangis? Apa yang terjadi?


" Ibu, ceritakan padaku, aku sudah tidak sabar apakah ayah baik-baik saja?" Tanyaku yang kemudian digelengkan kepala oleh ibu.


" Ayah telah pulang dan tidak akan kembali lagi bersama kita sayang, maafkan ibu seharusnya ibu menjaga ayah dengan baik" Isak Ibu menangis tanpa henti. Aku terkulai lemas dan segera mengusap wajah pria paruh baya yang tersenyum tanpa dosa itu


" Ayah! Kenapa ayah meninggalkan kami! Aku rindu ayah, ayah jangan pergi! Ayah sudah janji kepada Elen! Elen juga sudah penuhi permintaan ayah untuk menunaikan pernikahan ini dan menjadi anak yang baik ayah! Kumohon jangan tinggalkan Elen! hiks... hiks... Ayah! Ayah!" Pekikku keras, aku tak peduli apa komentar orang terhadapku, aku tak peduli mereka membenciku, aku tak peduli dengan semua bualan yang mereka katakan. Aku ingin ayah tetap hidup. Hatiku hancur ketika melihat ayah seperti ini, mengingat ayah selalu membahagiakanku dan Leo, perjuangan ayah kepadaku tanpa lelah. Aku ingin ayah tetap bersamaku.


" Ayah, aku sudah penuhi janjimu, tolong kembalilah! Aku tak terima! Aku tak terima ayah seperti ini, jika saja aku yang meninggal ibu! Aku tak ingin ayah meninggalkanku dahulu! Ayah!" isakku memeluk mayat pria paruh baya itu dengan erat. Hening, itulah yang kurasakan ayah tak menjawabku. Sedangkan ibu dan Leo mendekatiku dan memelukku erat.


" Kakak, aku gak mau ayah pergi! Aku gak mau ibu" Ucap Leo meneteskan benda bening yang ada disudut kedua mata indah miliknya. Aku tetap setia memeluk ayahku dan bertekad akan membunuh orang yang telah sengaja membunuh dan mencanut alat pernafasan ayahku.


" Aku akan membunuhmu nanti, beraninya kamu membunuh ayahku. Aku gak akan membuarkan ibuku menjadi korbannya lagi." Batinku menghapus benda bening yang ada dimataku.


Siapa dalang yang membunuh ayah Elena? Penasaran?

__ADS_1


Ikuti terus ceritanya di sini ya, klik coment favorite and like. maaf typo masih bertebaran disudut paragraphnya. Saya akan giat lebih belajar lagi. sekian.


__ADS_2