Takdir Bersama

Takdir Bersama
Eps. 17


__ADS_3

Elena terkulai lemas diatas lantai setelah mendengar kabar yang disampaikan ibunya. Ia menghela nafas frustasi dan memeluk lututnya kuat meneteskan sebuah benda bening disudut matanya. Sungguh menyakitkan untuknya bagi seorang gadis sepertinya. Delvin mendekatinya dan melihatnya yang sedang terkulai lemas tak berdaya. Sebenarnya apa yang terjadi?


" Apa yang harus kulakukan?" Ucapnya lirih sambil terisak tak karuan. Delvin yang melihatnya mengusap pundaknya pelan


" Apa yang terjadi?" Tanya Delvin pelan. Elena semakin menangis sejadi-jadinya. Delvin segera mendekapnya erat sedangkan Elena semakin menangis didalam dekapan hangat milik Delvin. Bagaimana bisa sekarang ia begitu lembut kepada Elena? Apa hatinya telah setuju menerima Elena disampingnya? Mungkin sedikit.


" Hiks...hiks... Ayah! hiks... jangan tinggalkan... aku" Ucap Elena lirih, sungguh gadis itu sekarang tidak berdaya. Menangis tersedu-sedu seperti ini, bahkan ia belum mengisi perutnya dengan makanan. Delvin menatapnya bingung, Ayah? Apa yang terjadi pada ayah Elena?


" Tumpahkanlah semua emosimu padaku sepuasnya, setelah itu kau bisa menceritakannya padaku Elena, istriku." Bisik Delvin pelan ditelinga Elena yang begitu merah. Elena berhenti menangis ketika mendengar itu dari mulut Delvin. Ia tak percaya sosok pria es dingin itu mau perhatian padanya.


" Memangnya kau tak keberatan mendengar ceritaku?" Tanya Elena menatap mata biru milik Delvin. ya, Delvin memang keturunan blasteran dari ayahnya dan almarhumah ibunya. Delvin mengangguk mantap dan segera memapah Elena pelan keruang tamu. Ia siap untuk mendengarkan sebuah cerita yang siap akan mengubah hidupnya 100 derajat nanti. Elena membuka mulutnya dengan suara yang parau ia mulai menceritakan sebuah kabar yang di ceritakan oleh ibunya tadi.


" Aku terkejut ketika mendengar ayahku sempat koma tadi. Kata dokter, beliau harus segera ditangani tapi tidak ada darah yang cocok untuknya" Jelas Elena yang tampak lesu. Delvin menatap mata hazel milik istri mungilnya itu dengan lekat. Ia hanya bisa mendengarkan sampai cerita itu habis.

__ADS_1


" Setelah 24jam tidak menemukan darah yang cocok untuknya, beliau akan pulang dan tidak akan pernah kembali pada sisi kami Delvin! Aku gak mau ayah meninggal! Ayah sudah banyak berkorban demi kami, banting tulang pada siang hari dan menafkahi kami agar kami bahagia.. tapi... aku gak mau seperti ini Delvin!" Ujar Elena meneteskan kembali benda bening itu dari sudut matanya. Ia memeluk Delvin erat-erat, sedangkan Delvin menatapnya pasrah dan iba terhadapnya.


" Sabar ya, ayahmu pasti bisa melewati ujian yang berat ini, tetapi memangnya apa darah ayahmu sampai susah sekali untuk menemukannya?" Tanya Delvin penasaran, semenjak tadi ia tidak berani untuk bertanya hal yang tidak-tidak pada Elena, ia tak ingin istri mungilnya itu nangis kembali.


" Darah ayahku itu adalah AB, darah itu sangat susah mencarinya sekarang, apalagi orang sekarang enggak banyak yang mendapatkan darah AB seperti ayahku" Jelas Elena singkat, ia tak mau menjelaskannya panjang lebar lagi. Delvin menngangguk dan segera menelefon Len, asisten pribadinya itu untuk mencari darah yang serupa seperti Ayah Elena.


Delvin


" Carikan untukku darah AB, tak perlu lama! Aku tak suka menerima alasan yang tak jelas" Titah Delvin dingin.


" Baik tuan muda, saya akan mencarinya secepat mungkin." Patuh Len.


Delvin segera menutup telefon itu dan menatap manik mata hazel milik Elena yang menertawainya.

__ADS_1


" Kau tak bisa lebih lembut sedikit ya mas Delvin? hahah dari sekian banyak pria, baru kali ini aku menemukan pria sedingin mas Delvin" Ucapku sambil cekikikan tanpa henti. Delvin mencubit pipi gembulku dengan geram


" Aku memang sudah seperti ini dari sononya, jadi berhentilah berkomentar yang tidak-tidak atau akan kukasih pelajaran seperti tadi malam, mau!?" Tegas Delvin. Aku menggeleng dengan sigap setelah mengingat kejadian tadi malam yang mengerikan. Tiba-tiba kami dibuat kaget oleh nada dering milik Delvin, Delvin segera merogoh sakunya dan mengambil ponsel miliknya itu.


" Sekarang giliran kamu mas Delvin! Nanti pasti ada yang misteri nih" Ucap Elena sambil cekikikan tak jelas. Tanpa menghiraukan Elena ia segera mengangkat telefon itu. siapa lagi kalau bukan Carol


" Kenapa sayang?" Tanya Delvin lembut, ia mengubah nada bicaranya menjadi lembut didepan Carol.


" Hiks..., sakit Delvin... sakit" rintih Carol. Delvin terkejut mendengar rintihan Carol yang sedikit mencurigakan sih faktanya.


" Dimana sakitnya sayang?" Tanya Delvin cemas, Elena yang melihatnya langsung pindah dan menyiapkan kembali nasi goreng yang tunda tadi.


" Kepalau sakit sekali Delvin! Tolong temani aku" Ucap Carol manja. Delvin bingung dan segera mengiyakan permintaannya, ia bingung yang mana yang harus ia pilih, istri atau kekasihnya yang ia cintai?

__ADS_1


Saksikan kisah berikutnya disini ya!


Maaf jika masih ada typo yang bertebaran, saya akan lebih giat belajar dan memperbaikinya lagi. Sekian


__ADS_2