
Elena berjalan disebuah kafe kecil tapi sangat elegan yang biasanya ramai pengunjung tetapi kali ini, seperti biasanya mereka berkumpul Putri, Budi dan Elena. Elena sudah meminta persetujuan tadi dengan Delvin bahwa ia akan pergi bersama sahabatnya diakhir pekan, Delvin mengusulkan bahwa bodyguardnya akan menjaganya dari bahaya tetapi Elena menolak dengan alasan ia tidak akan pulang malam karena hanya berkumpul biasa seperti sahabat-sahabat yang lain.
Elena tersenyum ketika mengingat Budi dan Putri akrab satu sama lain bahkan ketika mereka menumpah susu dikantin kampus, Elena cekikikan mengingatnya.
Sebuah nada dering milik Elena berbunyi menandakan bahwa ada sesorang menotifikasinya dengan alasan tertentu, seperti pribafi ataupun sosial. Elena segera merogoh sakunya dan mengaktifkan ponselnya yang sejak daritadi berbunyi yang membuat risih Elena.
Grup Sahabat Sejatiku~
Putri
" kalian kok lama amat?! udah sejam nih kutunggu"
Budi
" Yang sabar dong Put, ini lagi dijalan"
__ADS_1
Elena
" Aku segera otw kesana sekarang, jangan marah dulu dong ini aku bawain oleh-oleh pasti kamu suka"
Putri
" yaudah cepetan! Jangan lama-lama gak nerima alesan gak jelas!"
Aku tersenyum tipis dan segera berjalan dengan kafe minimalis itu yang tidak jauh lagi dengan jarakku yang perlu kutempuh. Oh ya, kalian mau tau apa hadiah yang kubawa buat dia? Ya, pasti cake buatanku lah! dia suka banget kalo udah ngebahas cake. Hahah dasar ya tukang makan.
" m...maaf, aku gak sengaja nabrak kamu Bud!" Cerocosku menundukkan sedikit kepalaku dan tidak menatapnya lekat karena ini memang murni kesalahanku. Budi mengusap kepalaku lembut dan tersenyum hangat. Aku tersipu malu. Budi terkekeh pelan menatapku dan tersenyum hangat
" Gapapa, ini juga salahku yang gak lihat jalan, haha yuk kita masuk nanti si nenek marah tuh ama kita" canda Budi. Aku terkekeh pelah dan segera mengangguk.
Sementara Delvin...
__ADS_1
Delvin berjalan diruangan pribadinya dengan gelisah bercampur aduk dengan khawatir, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Elena apa dia baik-baik saja? Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama dia?. Delvin tak sadar bahwa Ben sudah menunggunya dan menyaksikan tingkah kekonyolan sahabatnya ini. Ia tersenyum tipis mengingat sahabatnya mengkhawatirkan seseorang, tidak seperti biasanya.
" Vin, kau tidak seperti biasanya ya?" Tanya Ben yang membuat Delvin terkejut dengan kehadirannya.
" Sejak kapan kau disana?" Tanya Delvin terkejut. Ben berdiri dan menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
" Sejak menyaksikan kekonyolanmu yang aneh, Vin aku tahu kau mencintai Elena, tetapi kau tidak bisa mengungkapkannya kan?" Tanya Ben tersenyum sumringah melihat Delvin terkejut dengan pertanyaannya itu. Delvin tersenyum pahit dan melihat dari kaca jendela ruang pribadi miliknya itu dan menatap jalanan yang mulai ramai dengan aktivitas para insan.
" aku tidak tahu dengan perasaanku, kadang-kadang aku merasa heran dengan diriku sendiri, pertama mungkin dengan sifatju padanya. Entah kenapa, kadang aku ingin menyakitinya sampai menangis ataupun kadang ingin memeluknya erat tak ingin melepaskannya takut ia akan meninggalkanku dan mengkhianatiku sama seperti Carol" jelas Delvin dengan lesu. Ben tahu sahabatnya diluar tegas tetapi sifat dalamnya sangatlah rapuh, jika ia mencintai seseorang maka ia tidak bisa melupakannya sampai kapanpun.
" Percayalah, kau pasti bisa mengungkapkannya dan menerimanya disisimu sampai kau menjelang ada keriputan diwajahmu" ucap Ben menatap Delvin tegas dan menghempaskan bokongnya disofa yang empuk milik Delvin.
Delvin menghela nafas sejenak dan memejamkan matanya untuk sesaat.
" Mungkin aku telah jatuh cinta padanya, aku ingin dia tidak bisa pergi dari sisiku sampai saatnya tiba" Batin Delvin
__ADS_1
Penasaran dengan kelanjutannya? Ikuti terus ceritanya dan jangan lewatkan like, coment and share ya. Maaf typo masih bertebaran harap maklum ya saya lagi sibuk akhir2 ini jadi hanya terinspirasi sampai disini saja. Oh ya, jangan menjiplak hasil karya saya tanpa sepengatahuan saya jika tidak kalian akan didenda oleh pihak Noveltoon. Sekian selamat membaca😉