
Elena menatap Leo dan ibunya dengan raut wajah yang sedih dan tatapan yang lesu. Ia harus bagaimana? Siapa yang tega membunuh ayahnya yang tidak ada dosa kepada mereka? Apa aalah kami padanya? Bahkan kami tidak pernah mengusik kehidupannya.
" Ibu, sudah lihat rekaman CCTV hari ini? Tanyaku antusias, aku ingin sekali memastikan siapa pelaku dalang yang membunuh ayahku setega ini. Ibu tampak kebingungan dan menggelengkan kepalanya pelan sambil memeluk Leo yang masih meteskan rindunya kepada ayah. Mungkin ia, masih mengingat jelas bagaimana ayah tertawa bersama kami.
" Baiklah, ibu tenang dulu disini ya, aku kan mencari tahu sendiri siapa pembunuh itu" Jelasku menatap ibu Hana dengan tegas. Leo menarik-narik bajuku kuat.
" Kakak, aku juga mau ikut, aku ingin melihat siapa pembunuhnya kak" Rengek Leo menghapus air matanya sigap setelah aku menoleh padanya dan menyeimbangkan tubuhku.
" Kamu jaga ibu ya dek, nanti kakak akan nyusul kok" Ucapku sambil tersenyum lembut dan membelai sosok anak kecil yang tanpa dosa itu. Leo mengangguk.
" Baiklah, kakak hati-hati ya. Kakak harus berjuang!" Ucap anak kecil itu mantap sambil mengancungkan tangannya kiri dan kanannya secara bersamaan dan menampakkan senyum imutnya yang tidak akan kulupakan.
" Iya dek, sekarang kakak pergi dulu ya. Jaga ibu baik-baik ya" titah ku padanya. Aku segera berjalan dan keluar dari ruang pasien bau obat iyu sehingga menyengat pernapasanku. Aku menoleh pada ayah Johnson dan Delvin. Mas Delvin menatapku dengan mata lesu, yang tak biasanya. Aku perlahan mendekati mereka.
" Ayah, mas Delvin. Jangan sedih lagi ya, ayah pasti baik-baik saja disisi tuhan sana. Kita berdoa yang terbaik untuknya ya ayah Johnson." Tegasku dan diangguki mereka dengan setuju.
__ADS_1
" Kamu memang anak yang kuat sayang, jadi rencana kamu hari ini apa menantuku?" Tanya Ayah Johnson mengerutkan keningnya yang tampak bersih bersamaan dengan Delvin. Aku mengangkat alisku tegas, dan menepuk bahu Delvin menatap matanya lekat.
" Rencanaku kali ini adalah, aku ingin melihat pelaku yang tega melakukan ini pada saat kita belum datang kesini. Oh ya, ayah Johnson apakah anda melihat siapa yang masuk ruang pasien ini tadi pagi pukul 09:45?" tanyaku menyelidiki sesuatu, kemungkinan kecurigaanku benar bahwa dalang dibalik semua ini pasti Carol. Tapi kita harus menyelidikinya sebelum menfitnahnya tanpa bukti yang jelas dari pihak berwenang. Ayah Johnson mengerutkan keningnya mencoba mengingat sesuatu.
" Hmm,, Sepertinya tadi ada dua orang perawat yang mencurigakan masuk keruang pasien ini. Yang pertama perempuan memakai kacamata, dan yang kedua laki-laki dengan tubuh yang tinggi dan rambutnya yang pirang" Jelas Johnson berdiri dan menepuk tangannya kuat membuat para pengunjung melihat kami dengan tatapan aneh.
" Kuta tidak tahu apa-apa disini Elena, ayo kita pergi keruang security untuk memastikan lebih lanjut apa benar dari dugaan papa" Ajak Delvin mengenggam jari jemariku. Aku mengangguk setuju dan diikuti oleh Papa Johnson dibelakang kami.
Tibalah kami diruang security CCTV...
" Pak, tolong ulang rekaman pada sabtu pagi waktu 09:45. Saya ingin memastikan sesuatu yang terjadi tadi pagi" Jelas Elena. Bapak itu mendorong tubuhku keras dan terjatuh kedalam pelukan Delvin yang menangkapku sigap.
" Memangnya siapa kalian, datang tanpa mengetuk dan seenaknya memerintahku seperti ini? Masih muda sudah berani ya nyuruh-nyuruh saya" Teriak bapak itu . Ayah Johnson mendekati bapak itu dan memegang bahunya kuat.
" Beraninya memegang menantuku yang cantik dengan tangan kotormu itu, cepat buka atau kau ingin segera kulapor pada atasan bahwa kau mendorong salah satu pengunjung pasien disini? Saya sanggup melaporkannya!" Ucap Johnson yang menatap bapak itu tajam dengan mata elang yang khas miliknya. Bapak itu ketakutan dan segera membuka apa yang tadi kuperintahkan.
__ADS_1
" Ini pak" Ujar bapak itu sambil membungkuk dan mempersilahkan kami menatap CCTV itu dengan tatapan serius.
" Tunggu! Coba pausekan bagian yang ini" Ucap Delvin menyipitkan matanya, ia merasa familkar dengan sosok tersebut. Badan, lekuk tubuhnya, mata dan semua itu ia dapat mengenalinya dalam sekejap.
" Bukankah ini Carol!? Buat apa dia kesini?!" teriak Delvin menunjuk layar CCTV itu dengan tatapan membelalak tak percaya bahwa kekasihnya ini rela membunuh nyawa yang tidak berdosa.
" Aku sudah mencurigainya tadi. Berarti dalang dari semua ini adalah kekasih mas Delvin" Ujarku menatap Delvin lekat begitupula dengan Delvin. Johnson menatap putra sulungnya itu dengan tatapan emosi.
" Ayah sudah bilang sama kamu jangan pacaran sama dia! Ayah sudah menduganya bakal seperti ini, apa yang kurang dari Elena?" teriak Johnson dengan penuh emosi. Sedangkan Delvin menunduk bersalah dan tetap setia membungkam mulutnya mendengarkan segala ocehan papa.
" Tunggu ayah, delvin. Lihat rencana mereka. Bukankah itu suntik racun yang membuat seluruh organ pernafasan tidak berfungsi?" Jelaskj menatap layar kaca itu penuh penyelidikan. Johnson mengangguk.
" Ayah, mas Delvin sepertinya aku punya rencana dengan pembalasan dendam ini" Ucapku sambil menampakkan senyum sumringah menatap mas Delvin.
Apa yang bakal terjadi setelahnya? Apa rencana Elena setelah ini?
__ADS_1
Saksikan terus kisahnya hanya disini, jangan lupa beri vote ya readers. Saya akan lebih giat lagi untuk mengupdate novel ini. Sekian