
Ian kemudian kembali kekediamannya sembari terus memikirkan perkataan Bryan tentang Nisa yang banyak sekali yang mengagumi.
Akankah jujur mengakuinya atau hanya diam memendam rasa itu.
Bryan yang ada disampingnya pun hanya diam memperhatikan, ia hanya akan mendengarkan kala sahabatnya itu ingin berbagi, tapi jika tidak! ia pun tidak ingin bertanya, mengingat masing-masing orang punya privasi.
"Ayo Bry, untuk malam ini lho tinggal disini dulu ya! lho masuk saja seperti biasa, pilih kamar yang lho suka. "sahut ian ketika mereka sampai diparkiran villa mewah tersebut.
"Oke Bro, dengan senang hati, karena tidak ada kediaman yang paling nyaman selain kediaman lho ini.
"Aish, terus apa kabar dengan rumah lho yang bak bintang lima itu hm?
"Kabarnya baik, cuma salahnya dia karena tidak berada ditempat yang asri seperti disini dikelilingi pegunungan dan sawah.
"Itukan rumah kediaman orang tua lho, nanti saja kalau lho sudah berkeluarga, punya rumah sendiri, ya lho bikin sesuai keinginan lho nantinya.
"Hahaha, sayangnya gue anak tunggal! yang tidak akan dibenarkan keluar dari rumah meski sudah menikah nantinya, kecuali ya! Nikah tanpa direstui hehe.
"Ngaco, mau lho dikeluarkan dari hak waris?
"Jangan sampai lah.
Pranggg, pranggg
Percakapan mereka terhenti kala mendengar kegaduhan disertai barang pecah dilantai dua gedung mewah tersebut, tanpa fikir panjang mereka berdua berlari kelantai yang dimaksud menggunakan tangga, karena begitu paniknya mereka jadi lupa kalau kediaman mewah tersebut memiliki lift.
"Bukk, bukk, tanpa fikir panjang ian langsung menghadiahi sang papi dengan dua kali tonjokan diwajah dan perut, yang sontak membuat papi William tersungkur kelantai menerima serangan mendadak dari sang putra, sudut bibirnya berdarah dan beliau terlihat tidak bisa berdiri, ia terus memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, karena kerasnya hantaman yang mengenainya.
Namun ian melakukan hal tersebut kepada papinya bukan tanpa alasan! mana ada seorang anak yang tega melihat maminya disiksa? dan itu malah dilakukan oleh seseorang yang berstatus sehidup semati bersamanya! tubuh Mami Sharen sekarang berubah warna menjadi ungu karena cambukan ikat pinggang, dan berwarna merah karena sebagian dari bekas pukulan tersebut mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Berdiri Pi, pukul ian kalau itu bisa membuat papi senang
"Ian, jangan seperti itu nak, ini sepenuhnya salah mommy, dan mommy memang pantas untuk mendapatkannya, "sahut mommy Sharen ditengah kesakitannya
"Apa dengan memperlakukan mommy seperti itu bisa membuat papi lega, iya? "sahutnya dengan geram
"Cih, justru apa yang didapatkan mommymu sekarang ini belum ada apa-apanya dibandingkan dulu mommymu memperlakukan seorang perempuan, terlebih lagi perempuan itu sedang mengandung, "sahut papi William menyudutkan putranya.
"Papi jangan memfitnah mommy! mommy seorang yang sangat lembut, jadi tidak mungkin beliau melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.
"Jadi kamu fikir papi tukang fitnah? yang menuduh sembarangan lalu menghakimi tanpa mencari tahu kebenarannya, begitu? Papi masih ingat kamu selalu berkata, satu kesakitan yang orang perbuat kepada kita! maka harus kita balas dengan seribu kesakitan.
Dan kamu tahu? mommymu sudah menyakiti seseorang seribu kali lipat bahkan mencoba membunuhnya, sayangnya umur seseorang tersebut tertolong.
Mau percaya atau tidak itu terserah kamu! kamu masih ingin tinggal bersama mommymu atau tidak! keputusan sepenuhnya ada padamu.
"Papi mau kemana? "tanya ian kemudian
"Untuk sementara papi ingin tinggal ditempat lain dulu! sembari memikirkan langkah apa yang selanjutnya akan papi jalani, karena suatu hubungan yang diawali dengan kecurangan dan kebohongan sama sekali tidak ada gunanya.
Papi William kemudian meninggalkan mereka bertiga masih dengan perasaan marah yang belum juga mereda.
ian pun sedikit demi sedikit seakan mulai membenarkan kata-kata sang papi, namun fikirannya masih mencerna! kata-kata atau sekiranya perbuatan apa yang telah dilakukan mommynya dimasa lalu? sehingga bisa saja sewaktu-waktu mengancam keutuhan keluarga yang telah dibina selama berpuluh-puluh tahun tersebut.
Karena tidak mungkin untuk sekarang mengintrogasi sang mommy mengingat keadaannya yang sekarang! ianpun kemudian mengikuti jejak sang papi untuk berlalu dari tempat tersebut, tanpa berniat sama sekali menolong mommynya bahkan melirikpun tidak.
Bryan yang melihat ian berlalu langsung mencegahnya, "setidaknya kita bawa dulu mommy sharen kerumah sakit, "sahutnya kemudian.
Tanpa menoleh ia hanya berucap, "nanti akan ada yang membawanya
__ADS_1
Bryan hanya geleng-geleng kepala menyaksikan drama keluarga tersebut. betapa tidak? pertengkaran hebat dan sadis rumah tangga yang hanya disaksikannya di film-film ternyata ada didunia nyata, dan malah sahabatnya sendirilah yang mengalaminya.
"Keluarga seperti ini yang mau menjadikan sang Hafidzah cantik dan manis itu sebagai nyonya rumah? oh no! "batin Bryan.
"Ton, mommy ada dilantai atas! kamu bawa dia ke rumah sakit sekarang, "titahnya kepada sang kepercayaan
"Baik tuan muda, "jawabnya
"Sekarang kita akan kemana? "tanya Bryan ketika ia mulai menggerakkan setir kendaraan mewah tersebut.
"Kita kemension Rezky saja! tapi sebelum itu kita cari makan terlebih dulu, aku lapar. yang hanya dijawab "Oke oleh Bryan.
"Jangan difikirkan bro! semua orang hidup itu punya masalah, "sahut Bryan ketika menyaksikan sahabat disampingnya itu hanya diam sembari melamun.
"Entahlah Bry! tapi aku sakit melihat kedua orang tuaku seperti tadi, dan kepada siapa aku harus bertanya tentang kejadian dimasa lalu itu? tapi kenapa aku masih ragu kalau mommy yang melakukan sesuatu yang disebutkan papi tadi.
"Tapi papi lho juga bukanlah orang stress, yang menghakimi seseorang jika tidak ada kesalahan serius, terlebih seorang perempuan. dan apa lho ingat? kata-kata papi William, "jangan sekali-kali kalian menyakiti seorang perempuan, baik itu tutur kata ataupun perbuatan. tapi melihat beliau semarah tadi, jujur aku seakan tidak sanggup menapakkan kaki di bumi, ini untuk pertama kalinya saya melihat papi William semarah itu.
"Huhh belum juga selesai urusan untuk mendapatkan simpati dari sang Hafidzah. ini malah muncul kenyataan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
"Yang sabar tuan muda! biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka masing-masing, lho harus lebih bijak dalam menanggapi pertengkaran kedua orang tua lho, harusnya sebagai anak, lho harus berada ditengah-tengah, tanpa memihak salah satu diantara mereka, sebesar apapun kesalahan yang mereka lakukan baik dimasa lalu biarpun masa sekarang? sekali lagi aku haturkan bro, bukan wewenang kita untuk menghakiminya,
"Alhamdulillah sampai juga, "sahut Bryan ketika ia sampai di sebuah parkiran restoran mewah.
"Selamat datang tuan muda, "sahut pegawai restoran tersebut, yang menyadari jika yang baru saja memasuki tempat mereka adalah sang tuan muda Altarna.
Ian dan Bryan hanya mengangguk, aura seorang Presdir langsung tertancap didalam diri keduanya setelah beberapa tahun tidak tidak kemana-mana dan sangat jarang terlihat oleh khalayak
Pandangan ian kemudian tertuju pada sosok yang agak jauh dari dirinya, sosok yang belasan tahun ia cari-cari, "sepertinya keberuntungan memihak padaku, dan apa yang terjadi dimasa lalu? sepertinya akan segera kuketahui, "sahut ian
__ADS_1