
Ditempat lain nun jauh disana, rencana matang tinggal menunggu eksekusi.
"Mami melihat sendiri kan? ian sepertinya memang sangat mengagumi perempuan sholehah tersebut, "sahut Ocha
"Kamu benar Ca! tidak sia-sia kamu belajar dengan mami, perempuan itu jadi umpan yang tepat untuk kita menguasai stempel itu, karena jika benar ian menyukainya ia pasti akan berkorban untuknya "sahut Mami Miranda sembari tersenyum
"Tapi perempuan itu perempuan baik-baik tan, dan dia tidak mengetahui apapun tentang yang terjadi antara kita dan Altarna, jadi untuk apa kita melibatkannya? "sahut Shelena menyela
"Jangan bodoh kamu Shel! kalau memang kamu tidak mau perempuan itu jadi korban, sekarang juga kamu menemui ian dan meminta stempel itu, apa bisa?
"Ya jelas tidak bisa dong Tan, maksudku apa tidak ada cara yang lain?
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu apa-apa Shel, selama ini kamu fikir rencana yang gagal itu bukan cara apa? terus cara seperti apa lagi yang harus kita tempuh? selain melibatkan perempuan yang disukai ian itu? lagipula bukannya cara itu malah akan menguntungkanmu?
"Menguntungkanku maksud Tante? bukannya yang sangat berambisi untuk memiliki semuanya adalah Tante?
"Haha, memang benar Tante yang berambisi ingin memiliki semua aset Altarna, tapi kamu sangat menginginkan pemiliknya bukan? namun bodohnya kamu tidak berambisi untuk memilikinya malah diam saja namun terus menangis setiap saat, bukankah itu sangat bodoh. hanya menangisi namun tidak berusaha?
Entah mengapa ucapan Tante Miranda seakan merasuk kedalam sanubari Shelena, akal sehatnya kembali tidak bisa membedakan langkah tepat yang harus ditempuhnya.
"Terus apa yang harus kita lakukan? sahutnya kemudian
"Bagus, ini baru kemenakan Tante.
"Santai saja dulu, kita harus cari informasi terlebih dulu kapan perempuan itu keluar dari pesantren, karena terlalu beresiko melakukannya didalam.
,,,,,,,,,,,,,,,,
Sementara yang terjadi kepada mereka yang lagi perjalanan pulang
"Ka Bryan, boleh tolong mampir sebentar di persimpangan depan sana ya? "sahut Nisa
"Tidak salah didepan sana Nis? "sahut Bryan meyakinkan
"Insyaallah ka! benar didepan sana, kaka stop didepan perempuan yang baju merah itu ya!
Meskipun heran namun Bryan tetap menurutinya. "sudah nggak ngerti dengan Nisa, yang begroundnya seperti apa! tapi menyuruh mampir ditempat seperti ini? "begitulah kira-kira yang ada di dalam fikiran ian dan Bryan juga Lan.
Namun tidak dengan Aisyah dan Rara yang sudah bisa menebak akan apa yang dilakukan Nisa.
Kendaraan super mewah seharga milyaran itupun berhenti tepat didepan seorang perempuan berbaju merah, betapa girangnya perempuan itu menghampiri mobil tersebut. setelah sekian lama menunggu akhirnya ada yang menghampirinya, namun betapa terkejutnya ia kala mobil mewah itu terbuka dan menampilkan sosok perempuan muda, cantik dengan tubuh tertutup sempurna berbalut syar'i.
"Assalamualaikum ibu! sahutnya sembari tersenyum ramah
"Wa, wa, wa'alaikumsalam! "jawab ibu itu gugup
"Maaf ibu! Nisa ada sedikit rezeki untuk ibu, mohon diterima ya! meskipun Nisa tidak tahu didalam amplop itu nominalnya ada berapa, tapi insyaallah itu halal.
"Apa orang tua Neng yang menyuruh Neng kesini?
Sembari tersenyum, "ALhamduLillah bukan seperti itu ibu! amplop ini bukan dari orang tua Nisa dan beliau sama sekali tidak tahu-menahu soal ini, Nisa tadi habis isi tausyiah. dan Nisa sama sekali tidak pernah tahu berapa isinya, karena menurut Nisa yang dari umat harus kembali kepada umat.
"Tapi bukan umat seperti saya Neng yang pantas menerima titipan umat itu.
"Astaghfirullah! jangan seperti itu ibu, rendah dihadapan manusia belum tentu rendah dihadapan Allah SWT, Nisa belum tentu lebih tinggi derajatnya dihadapan Allah SWT dari ibu. Nisa yakin didalam hati ibu, ibu seorang yang baik. hanya keadaanlah mungkin yang memaksa ibu untuk berada ditempat ini, sungguh Allah SWT maha melihat ibu, dan tidak akan ada doa yang sia-sia. mungkin pertemuan kita hari ini adalah bentuk dari diijabahnya doa-doa ibu, jangan pernah putus asa dengan rahmat Allah SWT.
"Allah SWT, lebih sayang kepada pelaku maksiat yang bertobat daripada orang Sholeh yang tidak pernah merasa salah.
"Jadi tidak ada alasan untuk ibu menolak karena merasa tidak pantas, anggap ini rezeki dari sang maha Pemberi untuk ibu lewat Nisa,
gunakan sebaik-baiknya dan jangan lagi pernah kembali ketempat ini, kecuali untuk sesuatu yang baik.
"Terimakasih nak, terimakasih. "ucap ibu itu menunduk
Nisa kemudian memeluk ibu itu erat, sembari terus menitikkan air mata, betapa dirinya akan sangat muda terharu jika dihadapkan dengan hal seperti itu.
"Maaf ibu, baju ibu jadu basah karena air mata Nisa.
"Itu tidak ada apa-apanya nak, jika dibandingkan dengan sesuatu yang berharga yang telah nak Nisa berikan hari ini! Semoga nak Nisa selalu sehat dipanjangkan umurnya, murah rezekinya, didekatkan dengan jodoh yang terbaik, "doa ibu itu tulus
__ADS_1
"Aamiin aamiin aamiin ya rabbal alamin, Masya Allah Syukron ibu atas doanya untuk Nisa, "apa mau sekalian diantar pulang ibu?
"Tidak usah nak, rumah ibu dibelakang gang sini, cukup hanya dengan berjalan kaki.
"Baiklah! Nisa pamit terlebih dahulu ibu, teruslah bermunajat, bangun disepertiga malam seringin lagi, shalat Dhuha untuk mensyukuri rezeki yang kita dapat dihari ini, semua memandang takjub Nisa, tak terkecuali ian yang semakin bertambah kagumnya kepada sosok Khairunnisa,
"Alhamdulillah, kita sudah sampai dengan selamat tanpa berkurang satu apapun, "sahut Rara kala mereka memasuki parkiran pesantren Nazulul Qur'an
"Tapi ini sudah larut, apa tidak sebaiknya ka ian, dan ka Bryan menginap saja untuk malam ini! "sahut Lan yang berucap namun sambil menunduk, meskipun ian adalah kakak kandungnya namun mereka tidak seakrab itu.
Bryan terlihat memandangi ian, berharap sahabatnya tersebut merenungi perkataannya tempo hari, yang tidak melibatkan adiknya itu dalam apapun konflik yang terjadi antara orang tua mereka.
"Namun yang dipandangi malah sibuk memandangi Nisa.
Nisa yang merasa heranpun bertanya! "kak ian jangan sungkan, insyaallah di tempat ini tersedia banyak tempat untuk beristirahat, tapi maaf ka, tentu tidak sebagus yang Kaka punya tapi insyaallah nyaman. lagipula kasihan juga kalau harus nyetir terlalu malam begini, takutnya tidak fokus malah berbahaya nantinya.
"Apaan si Nisa itu! apa tidak melihat ya? orang yang nyetir dari tadi aku, "batin Bryan
Ian terpaku ditempat, perasaannya kini seakan melayang-layang, setelah sekian lama mengaguminya ini untuk pertama kalinya Nisa berbicara langsung dengannya, dan itupun karena perhatian. beribu kupu-kupu seakan menari-nari di kepalanya, pandangannya pun tidak bisa lepas pada sosok bidadari dihadapannya tersebut.
"Alhamdulillah! terimakasih. kalian masuk saja terlebih dahulu, nanti kami akan menyusul.
"Kalau butuh sesuatu tanya saja pada Ustadz yang ada disana, insyaallah disini lengkap namun tidak semahal yang Kakak-kakak punya, "sahut Aisyah sembari menunjuk kearah para Ustadz pembimbing yang sedang mengawasi keadaan sekeliling pesantren.
"Hai tuan muda, yang anda lihat sudah pergi, "sahut Bryan sembari menepuk pundak ian
"Eh, "sahut ian terkejut
"Astaghfirullah, kemana wibawamu tuan muda? bikin malu tau nggak! baru saja Nisa perhatian seperti itu, kaki lho sudah seperti tidak menapaki bumi. lagipula Nisa tadi itu bukannya perhatian, hanya sebagai tuan rumah yang menghargai atau menghormati tamunya, karena dalam Islam sangat dianjurkan memuliakan tamu, anda faham?
"Bilang aja lho iri karena tidak ada yang perhatian sama lho, "sahut ian kemudian sambil berjalan meninggalkan Bryan
"Ee yang malu-maluin siapa? kenapa seperti aku yang berbuat! anda memang selalu diatas tuan muda, tidak peduli apapun perbuatan lho, huhhh semoga si Nisa terbuka pintu hatinya, sehingga membuat tuan muda yang tadinya sok berkuasa jadi punya akhlak Aamiin.
Tepat disepertiga malam, Nisa dan yang lainnya bangun untuk bermunajat kepada sang maha pencipta, mereka tidak tidur kembali melainkan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sembari menunggu masuknya waktu Subuh.
Setelah melaksanakan sholat subuh, para santri memulai rutinitas sesuai jadwal masing-masing. ada yang bertugas didapur, ada yang bersih-bersih. sementara dirumah utama Nisa, Aisyah, Rara, dan juga Lan tengah sibuk didapur. mereka terbiasa memasak sendiri, sebab mereka diajarkan sedari awal sebagai perempuan harus bisa memasak.
Dan ada juga seorang suami, yang menginginkan makanan yang dimasak isterinya meskipun sederhana, apa adanya. tapi jika bisa enak seperti masakan restoran kan, pahalanya ALhamduLillah berlimpah.
Sementara kita kan tidak bisa memilih akan seperti apa jodoh kita yang telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfudz.
Itulah pesan para Ummu mereka, yang menjadi motivasi.
"Pasti lebih ramai nih, jika ka Rani, Ka Gres, ka Acaa dan Ka Wiwit ada disini, "sahut Nisa ditengah aktivitasnya menumis udang
"Pastinya! mereka semua kan biangnya rusuh, insyaallah mungkin dua tiga hari mereka semua akan kembali kesini lagi, soalnya mereka kan jarang sekali ke Indonesia, malah ada yang tidak pernah sama sekali seperti Wiwit, padahal kan ia asli sini banget. "jawab Rara
"Seperti aku si Wiwit itu, "sahut Lan kemudian
"Kalau kak Lan kan lain, ada masa lalu yang harus diluruskan terlebih dahulu, tapi insyaallah semua akan baik-baik saja, kak Lan harusnya bersyukur punya Abi dan Abang. "sahut Aisyah
"Alhamdulillah! masaknya sudah selesai, Nisa mau olahraga di taman depan, ada yang mau ikut? "sahutnya meredakan haru yang terjadi
"Let's go! kita semua ikut, "sahut Aisyah
Keadaan pagi ini begitu ramai dari biasanya! itu karena hari ini weekend, hari dimana para pekerja dan para pelajar cuti dari kesibukan dan kini beralih berkumpul sembari bersenda gurau dengan kerabat, tetangga, dan teman-teman.
Nisa dan yang lainnya berjalan dengan santai menuju taman tersebut, sementara yang lain terlihat fokus untuk merenggangkan otot-otot namun tidak dengan Nisa, ia malah sibuk melihat kesana-kemari seolah mencari sesuatu.
"Kaka! Nisa kesana ya, "sahutnya tatkala menemukan apa yang dicarinya.
Yang dijawab anggukan oleh mereka semua
"Assalamualaikum ibu! ini anaknya ya? "tanya Nisa ketika menghampiri seorang ibu
"Wa'alaikumsalam neng! iya benar mereka bertiga anak-anak ibu, kalau yang dua ini anak-anak tetangga, ibunya sedang sakit jadi tidak bisa ikut hari ini untuk mencari rezeki!
"Maaf kalau Nisa lancang ibu! Memangnya suami ibu kemana?
__ADS_1
"Kalau bapak dari anak-anak saya telah berpulang kesisi yang maha kuasa neng, kalau bapak dari dua anak ini, beberapa tahun yang lalu keluar kota untuk bekerja namun sampai sekarang tidak ada kabar.
"InnaLillahi! maaf ibu Nisa sudah lancang
"Tidak apa-apa neng, memang kenyataannya sudah seperti itu ya ALhamduLillah saja neng karena yang maha kuasa masih memberi kami kesehatan, "sahut ibu tersebut
"Makan tidak makan kamipun menganggapnya sebagai rezeki, "sahut anak ibu itu yang berusia sekitar lima tahun
"Masya Allah ibu, "sahut Nisa berurai air mata
"Neng kenapa menangis? ibu minta maaf jika sekiranya ada perkataan ibu atau anak ibu yang menyinggung
"Bukan itu ibu, Nisa terharu sekaligus malu dengan keadaan yang ALhamduLillah seperti sekarang Nisa masih terkadang suka mengeluh. sementara anak ibu ini? yang masih belia menganggap kelaparan itupun adalah rezeki, ibu'lah yang semulia-mulianya orang tua, yang mampu menanamkan nilai-nilai agama pada anak ibu di tengah keterbatasan yang ibu miliki.
"Apa Ade-ade tidak lapar? tanya Nisa pada kelima anak laki-laki tersebut
"Lapar sih ka! cuma mau bagaimana lagi, rezeki untuk hari ini kami belum mendapatkannya, "jawab seorang anak yang lebih tua diantara mereka
"Bagaimana jika Kaka yang traktir!
"Terimakasih ka, tapi maaf kami tidak terbiasa menerima sesuatu secara percuma!
"Maksudnya, "sahut Nisa heran
"Iya kalau kami ingin mendapatkan uang ya kami harus bekerja terlebih dahulu, bukankah memang seperti itu kodratnya? berusahalah jika menginginkan sesuatu, karena tidak ada rezeki yang datang jika kita hanya diam melamun
"Harus bekerja, "sahut Nisa lagi masih heran
"Oo haha, Aku faham akhirnya! Kaka pasti mikirnya kami pengemis ya? makanya kakak heran.
"Alhamdulillah ka, kami ikhlas jika harus makan empat hari dalam seminggu, asalkan kami tidak mengemis.
"Kami memang buta huruf tapi insyaallah kami tidak buta dalam urusan agama, karena biarpun kami tinggal ditempat Kumuh tapi ALhamduLillah, didekat kami ada masjid yang setiap hari menghadirkan Ustadz untuk mengisi tausyiah dan kamipun selalu hadir, yang Ustadz itu sering katakan insyaallah kami ikuti, karena kami menginginkan mendapat pahala, dan sangat ingin berjumpa dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW,
"Masya Allah, oh ya ada yang ingat apa saja kata pak ustadz, "sahut Nisa
"Saya ka, "sahut seorang anak yang paling kecil diantara mereka.
"Tangan yang diatas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan *yang dibawah (peminta-minta)
"Dan katanya lagi kebanyakan penghuni surga adalah kaum miskin*.
"Alhamdulillah, sungguh benar Ade-ade, tapi bukan semata-mata kemiskinan yang membawa masuk surga, melainkan kesabaran dan ketakwaan dalam hidup serba kekurangan itulah yang menghantarkan masuk kedalam surganya Allah SWT.
"Maksudnya ka, "sahut salah satu diantara mereka
"Kaka akan menjelaskannya tapi dengan syarat, kalian harus sambil makan. anggap saja kalian lagi mengikuti kajian dan disediakan konsumsi disana, bagaimana? "sahut Nisa berharap alasannya itu mampu membuat para anak-anak ini mau menerima tawarannya untuk memberi makan
"Hmhm Baiklah ka, "sahut mereka kemudian
"Alhamdulillah! disitu ada Bakso, Nasi goreng, Nasi padang, dan berbagai olahan mie. kalian mau yang mana?
"Bakso, Nasi goreng, mie goreng, mie ayam, Nasi ayam, Nasi padang. "sahut mereka serempak
"Masya Allah! iya-iya pesannya satu-satu ya.
"Berapa semuanya mba, "sahut seorang laki-laki dari belakang
"Kak ian! sahut Nisa sedikit kaget karena kehadiran ian yang tiba-tiba
"Kaka dari tadi disini, dan malah mendengar semua perkataan kamu dengan mereka, "sahut ian seakan mengerti kebingungan Nisa yang menatapnya
"Ka, kita makan di pondok kecil itu yu! sembari Kaka menjelaskan yang tadi Kaka janjikan.
"Abang ian boleh ikutan nggak?
"Boleh dong Abang tampan, "sahut anak yang paling muda
,,,,,,,,,,,,,,
__ADS_1
Afwan ππ sekali lagi jika masih belum puas dengan coretan author. Masya Allah author sungguh terharu baca komentar kalian teman-teman, maaf kalau nggak kebalas. dan mengenai ketidak hadiran Nisa di murojaah setiap malam, Nisa benar-benar mohon maaf. Nisa sebenarnya lagi menjaga family yang sedang sakit, yang mana beliau sudah tidak bisa merespon orang-orang disekitarnya. untuk nulis saja Author benar-benar harus curi-curi kesempatan. karena tanggung jawab up setiap hari, jika ingin karyanya dapat penghasilan. Afwan π bukan curhat hanya meminta Doa,y .. Semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah SWT aamiin aamiin aamiin ya rabbal alamin. Syukron π Syukron π untuk yang terus membaca. memberi like, koment, rate dan vote.