Takdir Cinta Sang Hafidzah

Takdir Cinta Sang Hafidzah
Bab 56 Kebahagiaan Anak-anak ibu Ningsih


__ADS_3

"Tangan yang diatas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan yang dibawah (peminta-minta)


"Menurut Al-khauli dalam Al-adab an-nabawi, Jika sipengemis itu sebenarnya mampu mencari nafkah, tetapi dia lebih memilih untuk menjadi pengemis maka dia telah kufur terhadap Nikmat Allah SWT. disebut demikian karena dia tidak mau mensyukuri nikmat Anggota tubuh yang dikaruniakan Allah SWT, sebab jika dia bersyukur seharusnya dia memanfaatkan anggota tubuhnya.


"Dan tatkala beliau Nabi Muhammad SAW, melakukan Isra-mi'raj, beliau berkata, "Aku telah meninjau Surga dan aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum miskin.


"Syekh Manshur Ali Hasan dalam kitabnya Al-taa menyatakan, keutamaan orang-orang miskin (yang banyak masuk surga) itu bukan karena semata kemiskinannya, tapi karena Kesabaran, Takwa, dan Amal saleh mereka yang (biasanya) menyebabkan mereka miskin.


Mereka miskin bukan karena kurang usaha, melainkan karena sentiasa mengorbankan banyak harta-benda dijalan Allah SWT, karena mereka lebih mengutamakan orang lain daripada kepentingan mereka sendiri.


"Kekayaan pun adalah Rahmat dari Allah SWT, oleh karena itu, memohon Rezeki pun diajarkan oleh Rasulullah SAW. bahkan, doa beliau itu dibaca berkali-kali setiap kita duduk diantara dua sujud dalam shalat. hanya saja, kekayaan menjadi keutamaan ketika diamalkan di jalan Allah SWT.


"Adapun kemiskinan, adalah ujian terhadap ketabahan dan kesabaran seorang mukmin.


Kemiskinan bukanlah keutamaan yang secara otomatis menjadikan seseorang masuk Surga. Kesabaran, ketabahan dan ketakwaannya itulah yang mesti diperhatikan, begitu pula dengan amal saleh lainnya.


"Karena itu, kaum miskin penghuni Surga dalam Hadits tersebut harus dimaknai sebagai! "orang-orang miskin yang saleh dan bertakwa bukan kemiskinan itu semata.


"Jadi kurang lebih seperti itu Ade-ade penjelasannya!


"Masya Allah! apakah nak Nisa adalah seorang Ustadzah? kata ibu Ningsih, ibu dari tiga anak itu.


"Bukan cuma Ustadzah tapi seorang Hafidzah, "sahut ian menyela


"Kak Nisa seorang Hafidzah? Masya Allah, boleh dong ka ajarin kami, "sahut Ridwan


"Kalian serius ingin belajar?


"Serius! "sahut mereka serempak


"Kalian tahu pondok pesantren Nazulul Qur'an?


"Siapa yang tidak tahu ka! pesantren itu sangat terkenal. pondok pesantren itu berhasil mencetak penghafal-penghafal AlQur'an setiap tahunnya, bukan hanya itu disana juga tercipta banyak sekali Ustadz Ustadzah muda.


"Kalau kalian tahu banyak kenapa tidak mondok disana?


"Nak Nisa kan tahu sendiri kami tidak punya penghasilan tetap, jangankan untuk membiayai yang lain, makan saja sekali sehari semalam itu ALhamduLillah sekali.


"Tapi mondok disana tidak pakai biaya sepeserpun ibu!


"Tapi pesantren disana katanya sangat lengkap dan yang mondok disana hanya dari kalangan orang-orang berada.


"Subhanallah! disana pesantren ibu, bukan sekolah internasional.


"Jangan dengarkan yang katanya, katanya ibu. yang menginformasikan itu jelas bukan orang pesantren melainkan hanya orang luar yang sok tahu. "sahut ian geram


"Kak ian, kak ian tidak baik loh sedikit-sedikit marah, marah itu sifatnya syaitan. kalau perlu diluruskan, luruskan saja tidak perlu pakai marah oke! "sahut Nisa lembut


"Oke siap, apapun asalkan Nisa yang minta kak ian mah oke-oke saja udah, "sahutnya sembari tersenyum.


Tidak sia-sia ia bangun pagi, berniat untuk mengetahui kegiatan para santri Dipagi hari malah melihat sang bidadari jalan-jalan pagi, alhasil dia ikuti.


"Terserah Kaka Lah. "Jadi begini ibu, memang benar kata kak ian tadi, menempuh pendidikan di pesantren Nazulul Qur'an sama sekali tidak dipungut biaya sedikitpun.


"Tapi tetap saja orang-orang seperti kami pasti tidak bisa sekolah disana!


"Kenapa ibu berbicara seperti itu? tidak ada yang berbeda antara ibu, Nisa dan yang lainnya. jadi beda darimana yang ibu maksud?


Maaf tapi disana anak-anak yatim, yang berkebutuhan khusus justru lebih diprioritaskan. bukannya membeda-bedakan hanya saja kehidupan anak-anak yang masih utuh kedua orang tuanya terlebih jika mereka mampu secara finansial tentu kehidupannya berbeda dengan anak-anak yatim ataupun yang berkebutuhan khusus. dan ALhamduLillah disana sangat memahami tentang hal tersebut, karenanya sebisa mungkin para pembimbing disana melakukan yang terbaik, dan mengenai biaya siapapun yang masuk kesana semua sama.


"Karena ALhamduLillah, disana banyak donatur, agar harta yang mereka sisihkan menjadi berkah makanya biaya untuk mondok disana digratiskan, makan, fasilitas insyaallah semua gratis.


"Jika memang kalian ingin berterimakasih, nih donatur tetapnya ada disamping


"Masya Allah, nak ian! sudah tampan, gagah, kaya, dermawan lagi! "semoga nak ian murah rezekinya, selalu sehat, dan selalu dalam perlindungan yang maha kuasa di manapun berada. "sahut ibu Ningsih tulus

__ADS_1


"Nggak didoain sekalian dapat jodoh seorang Hafidzah gitu ibu! "sahut ian seolah bercanda tapi benar.


"Tertanya pertanyaan didalam hati ibu terjawab juga, kalian memang ada apa-apa. semoga yang maha kuasa menuliskan takdir bersama untuk kalian berdua aamiin aamiin aamiin ya rabbal alamin.


Nisa hanya menatap mereka dengan bingung. seorang Hafidzah, jodoh, takdir. benar-benar tidak bisa dicernanya. andaikan ayat dan hadits mungkin sebelum soalnya habis dia sudah menjawabnya.


"Masya Allah, ALhamduLillah cita-cita anak ini akhirnya sebentar lagi bisa terkabul. terimakasih nak Nisa atas semuanya, "sahut ibu itu haru sembari memeluk Nisa


"Nisa tidak melakukan apa-apa ibu, Allah SWT lah yang telah menganugerahkan semua kepada ibu dan anak-anak ibu, beserta tetangga ibu dan anak-anaknya juga. mungkin ini berkat doa kalian semua yang diijabah yang kebetulan perantaranya Nisa, jadi bersyukurlah dan berterima kasihlah kepada sang pencipta, sang maha pemberi.


"Nisa dicariin ternyata disini! bagaimana sudah ketemu yang dicari? "sahut Aisyah menghampiri diikuti Rara juga Lan


"Alhamdulillah ka! malah ketemunya banyak, dan katanya mereka semua sangat ingin mondok di pesantren Nazulul Qur'an.


"Alhamdulillah! ya sudah tunggu apalagi? kita ajak saja mereka sekarang. sudah masuk waktu Dhuha juga, "sahut Rara menyela


"Apa kalian semua juga tinggal didekat pesantren? sahut ibu Ningsih


Pertanyaan ibu Ningsih berhasil membuat mereka saling pandang, lalu kemudian tersenyum Mereka seolah faham akan karakter Nisa, yang menganggap semua yang dimilikinya adalah titipan jadi dia tidak pernah mengakui semua itu adalah miliknya, jadi tidak mungkin jika ia mengatakan kepada mereka, bahwa ialah pemilik Nazulul Qur'an itu.


"Ikut saja ibu, Ade-ade semua. nanti juga kalian akan tahu.


"Oh ya perkenalkan nama Kaka, Rara sepupu Nisa, kalau yang di sebelah kiri! ka Lan adiknya kak ian, kalau yang sebelah kanan! kak Aisyah, kakaknya Nisa


"Saya Ningsih nak, panggil saja ibu Ningsih. yang ini Ridwan, Rahman, Rahim ketiganya adalah anak-anak ibu.


"Kalau yang ini Adam, Ali, Agung. mereka anak-anak tetangga ibu, ibunya lagi sakit karenanya tidak bisa ikut untuk mencari rezeki hari ini.


"Mari ibu, Ade-ade semua. kita jalan kaki sekalian olahraga ya, insyaallah dekat ko tempatnya.


"Berjalan kaki itu sudah kebiasaan kami setiap hari ka! bahkan sampai berpuluh-puluh kilo jauhnya, "sahut Ridwan


"Berjalan berpuluh-puluh kilo jauhnya untuk apa memang? "sahut Lan heran


"Untuk mencari Rezeki ka apalagi! "sahut anak-anak itu


"Nis ka,ian boleh bertanya tidak? "sahut ian di tengah-tengah aktivitasnya berjalan kaki, entah mengapa momen yang sangat sederhana tetapi mampu membuatnya nyaman.


"Boleh saja ka! memangnya mau tanya apa?


"Apakah seorang perempuan yang faham agama akan mencari pasangan yang faham agama juga?


"Tentu semua orang menginginkan yang terbaik untuk kehidupannya ka, tapi jika benar mereka faham agama justru mereka tidak akan dipusingkan dengan hal-hal yang sifatnya sudah takdir dari yang maha kuasa.


karena baik tidaknya seseorang itu hanya Allah SWT yang tahu.


"Itukan pandangan kebanyakan orang yang mungkin disekitar Nisa! kalau menurut Nisa sendiri?


Aisyah dan ibu Ningsih yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa tersenyum, mereka sangat faham kemana arah pembicaraan tuan muda tampan tersebut.


"Kalau Nisa, disetiap sujud pasti selalu berdoa untuk ditakdirkan dengan orang baik. tidak harus Ustadz ataupun profesi tertentu.


"Kalau mengenai sifat-sifatnya? "tanya ian lagi


"Standar saja sih ka, dan Nisa tidak pernah mentargetkan seperti apa itu, karena sekali lagi jodoh kita sudah dituliskan di Lauhul Mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia. karenanya itu Nisa tidak bisa menjawab mengenai itu jika ada yang bertanya, sebab jika memang sudah dekat jodohnya Allah SWT pasti akan menuntunnya untuk mendekat, "sahut Nisa panjang lebar namun tidak faham kemana arah pembicaraan ian.


Dan obrolan penuh makna bagi ian tersebut harus terhenti karena kini mereka telah tiba di gerbang pesantren Nazulul Qur'an.


"Alhamdulillah kita sudah sampai, silahkan ibu-ibu, adik-adik


Namun mereka semua hanya diam, mereka bingung untuk masuk dan bagaimana selanjutnya karena yang menyuruh masuk adalah orang luar, "begitulah kira-kira yang mengganggu fikiran mereka


"Jangan melamun nanti kalian kesambet lho, "ayo masuk! anggap saja memasuki tempat sendiri, "sahut Nisa


"Ustadzah Nisa, tadi di cari pak kyai. beliau ada diruangannya. "sahut salah satu Ustadz pengajar disana

__ADS_1


"Oh iya nanti Nisa menemui beliau, ini Ustadz keenam anak ini ingin mondok disini, dan ini ibu Ningsih ibu mereka, tolong diurus semuanya.


"Alhamdulillah, insyaallah Ustadzah


"Adik-adik, ibu maaf Nisa tinggal sebentar ya! ikuti saja Ustadz Musa, beliau yang akan mengurus semuanya, nanti jika Nisa sudah selesai Nisa akan menemui kalian


Mereka hanya diam namun tetap mengangguk, mereka masih heran dengan peran Nisa, kenapa seolah instruksinya didengar disini.


"Oh iya Ustadz, Nak Nisa apa mondok disini juga? "sahut ibu Ningsih penasaran


"Beliau bukan mondok disini namun beliau tinggal dirumah utama tempat ini!


"Maksudnya Ustadz?


"Beliaulah pemilik tempat ini, dan beliau memang tidak akan pernah mengatakan kepada orang lain kecuali kita tahu sendiri


"Masya Allah, pantes saja dari tadi bahasanya halus, lembut dan faham tentang segala sesuatu. betapa sayangnya engkau kepada kami ya Allah, sehingga engkau pertemukan kami dengan pemilik tempat yang sangat indah ini, "sahut ibu Ningsih sembari sujud syukur


"Assalamualaikum Abi, Abi memanggil Nisa? "sahut Nisa tatkala memasuki ruangan kerja Abi,nya yang mana beliau tengah berbincang dengan seseorang.


"Wa'alaikumsalam, iya benar Abi mencari Nisa, silahkan duduk!


"Ada apa Abi? kenapa seperti serius? "sahut Nisa heran mengenai perubahan raut wajah Abi, nya


"Jadi begini ini Ustadz Amri, beliau datang kemari ingin mengkhitbah Nisa! bagaimana pendapat Nisa?


"Kalau menurut Abi sendiri? "sahut Nisa balik


"Kalau Abi bagaimana putri Abi saja! karena kalian yang menjalani, Abi hanya mendoakan yang terbaik


"Maaf sekali Ustadz Amri, Ustadz adalah seorang yang sangat faham Agama, anda lulusan Kairo, Masya Allah. tapi maaf jodoh sudah ditentukan, dan yang maha kuasa pasti akan menuntun hati kita untuk merasakan sesuatu bila bertemu dengan takdir yang sudah dituliskan itu. dan maaf sedari dulu Ustadz sudah Nisa anggap sebagai abang, sebagai panutan.


"Ustadz tahu Nisa pasti terkejut kan dengan pernyataan Abang yang tiba-tiba, karena itu mungkin Nisa berucap seperti itu, Ustadz beri waktu untuk Nisa berfikir.


"Justru karena Nisa tidak mau zholim terhadap Ustadz karenanya itu Nisa beri tahu sekarang. Afwan Ustadz, untuk saat ini Nisa belum bisa, insyaallah jika kita ditakdirkan bersama, kita pasti akan dipersatukan diwaktu yang telah ditentukan.


"Kalau begitu Afwan Abi, Ustadz Nisa permisi dulu, ada sesuatu yang harus Nisa selesaikan.


Ustadz Amri agak kecewa dengan keputusan Nisa, namun ia bertekad untuk terus berusaha.


Sementara Nisa keluar dari ruangan tersebut. merasa tidak enak, bagaimana pun Ustadz Amri adalah rekan Ustadz Yusuf yang sudah dianggapnya sebagai abang sendiri. namun jika untuk menjadi teman hidup ia keberatan kecuali jika memang ia ditakdirkan untuk itu. mudah-mudahan keputusannya yang baru saja adalah langkah yang tepat. ia saja sebenarnya bingung bagaimana bisa ia bisa mengatakan penolakan secara langsung, sementara ia selalu berusaha untuk tidak membuat seorang pun tersinggung atas segala ucapan yang keluar dari mulutnya. tapi entahlah apa karena didalam doanya telah tersebut nama seseorang atau yang lainnya? yang jelas ia lega karena tidak menerima Khitbah Ustadz Amri.


"Bang Yusuf! "sahut Nisa tatkala berpapasan dengannya


"Nisa! baru saja Abang ingin menyusulmu! ada apa dipanggil Abi? karena tidak biasanya tidak mengikut sertakan Abang!


"Hmhm bukan apa-apa Abang! "sahut Nisa sembari menunduk


"Hai adik manis kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Abang, Abang telah bersamamu sedari lahir, jadi Abang tahu semua tentangmu! lagipula sejak kapan Nisa punya sesuatu tapi disembunyikan dari Abang hm? "sahut Ustadz Yusuf penuh penekanan


"Tapi janji Abang jangan kecewa sama Nisa ya! sebenarnya rekan sesama Ustadz Abang yaitu Ustadz Amri datang untuk mengkhitbah Nisa, tapi entahlah Nisa keberatan untuk itu, lalu Nisa mengatakan jika Nisa belum siap, Jujur Nisa paling tidak bisa jika ada yang sakit hati atau merasa tersinggung dengan ucapan Nisa tapi bagaimana lagi yang dibicarakan itu adalah hal yang sangat sensitif, dan tidak mungkin Nisa menjawab iya, sementara hati Nisa mengatakan tidak.


"sahut Nisa panjang lebar


"Tidak apa-apa Nis, Abang kira apaan! insyaallah Ustadz Amri tidak akan tersinggung, karena yang sudah ditakdirkan untuk bersama pasti Allah SWT akan menuntun hatinya untuk kearah sana.


"Tapi apa karena si tuan muda Arga Zulian itu? "sahut Ustadz Yusuf sembari tersenyum


"Ustadz Yusuf, anda jangan mengada-ada ya! "sahut Nisa sembari tersenyum lalu bergegas meninggalkan Ustadz Yusuf yang tertawa melihat tingkah laku Nisa.


"Abang dapat melihat melalui interaksi kalian tadi pagi ditaman, kelak suatu saat nanti kamu tidak dapat mengelak. entah kenapa Abang yakin jika Arga Zulian itu yang terbaik untukmu. "batin Ustadz Yusuf sembari terus melihat Nisa yang terus menjauh darinya.


"Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang mendengar percakapan mereka.


"Kita lihat saja nanti apakah kamu masih bisa tersenyum nantinya? "sahut seseorang dibalik tembok.

__ADS_1


,,,,,,,,,,,,,,


Selamat membaca teman-teman, semoga kalian suka. jangan lupa kritik dan sarannya ya, agar author,y bisa introspeksi diri. Syukron πŸ™ atas semuanya. semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT aamiin aamiin aamiin ya rabbal alamin 🀲🀲🀲🀲


__ADS_2