Takdir Menyatukan Kita

Takdir Menyatukan Kita
Chapter 9 #Pernikahan


__ADS_3

Shera : "Gimana ini kak.? Kalo kita menolak perjodohan ini, gimana kalo Ayah dan paman jadi terpengaruh kesehatannya.?" sambil mondar mandir pinggir kolam renang


Zen : "Aku juga bingung Ra.. Atau gini aja kita nurut dulu demi kesembuhan Papa ku dan Ayah mu.."


Shera : "Maksud kak Zen.. Kita nikah gitu.?" tanya Shera dengan bingung


Zen : "Iya.. Kita nikah, tapi cuma sebatas surat aja.. Kalo kita di rumah kita seperti layaknya teman dan di hadapan Ayah mu dan Papa ku kita seperti suami istri yang bahagia.."


Shera : "Tapi kak.."


Zen : "Stttt.. Jangan keras-keras.! Nanti semua dengar.." sambil menempelkan telunjuk ke bibir Shera yang merah..



***



Setelah percakapan panjang dan juga banyak negosiasi Shera dan Zen memutuskan untuk menikah..



Mereka berdua mengatakan jika mereka bersediha menikah.. Tanpa sepengetahuan Ayah dan Papa mereka, Shera dan Zen syudah merencanakan perceraian mereka seteleh Ayah dan Papa mereka sembuh dan juga sehat seperti sedia kala..



Perkataan mereka tentu saja itu membuat Ayah dan Papa mereka senang bukan kepalang.. Pernikahan akan di adakan dengan megah dan resepsi mweah yabg di impi-impikan setiap pasangan yang ada di dunia..



***



Kurang dari 1 minggu mereka berdua akan menikah.. Persiapan pernikahan sudah 75%.. Shera dan Zen sengaja memilih warna putih sebagai dekorasi.. Hari-hari semakin di sibukkan dengan acara pernikahan mereka.. Ayah Shera dan Papa Zen sangat bahagia.. Bahkan mereka berdua rutin sekali pergi ke rumah sakit agar pada saat pernikahan anaknya tidak ada masalah apapun terhadap kesehatan mereka berdua...



***



Hari pernikahan Shera dan Zen.. Semua tamu sudah hadir dan menunggu acara ijab qabul..



Ayah Shera menikahkan anaknya secara langsung karena Shera merupakan anak satu-satunya..


__ADS_1


Ayah Shera : "Sudah siap Zen.?"


Zen : "Siap Yah.."


Ayah Shera : "SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ANAK SAYA YANG BERNAMA SHERA JASMINE KEPADA ENGKAU..


DENGAN MASKAWIN BERUPA : SEPERANGKAT ALAT SHOLAT, EMAS SEBERAT 500g DAN UANG SEBESAR 15.052.019 DIBAYAR TUNAI.."


Zen : "SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA SHERA JASMINE BINTI WILDAN HABIBIE DENGAN MASKAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI." dengan lantang..


Ayah Shera : "Bagaimana para saksi.?"


Saksi : "Sah.."



Semua berdoa seperti layaknya pernikahan pada umumya, kemudian MC meminta mempelai wanitanya turun untuk menemui suaminya..



***



Shera berjalan menuruni tangga digandeng oleh Bunda dan Mamanya.. Shera tampak cantik sekali dengan mengenakan baju kebaya berwarna putih..




'Ya Tuhan, betapa cantiknya dia.. Aku tidak berpercaya bahwa dia adalah istri ku.. Alangkah indahnya ciptaan Mu ini Ya Tuhan..' dalam hati Zen..



Shera pun merasakan hal yang sama saat melihat Zen yang mengenakan baju berwarna putih senada dengan miliknya..



'Ya Tuhan.. Apakah itu kak Zen.? Upss salah.. Suami ku.? Dia terlihat sangat tampan..' gumam Shera dalam hati..



***



Resepi yang mewah, banyak tamu dari kalangan atas membuat mereka seperti Raja dan Ratu..


__ADS_1


***



Stella : "Shera.. Selamat ya atas pernikahan kalian berdua semoga menjadi keluarga sakinah mawwadah warrohmah.. Aamiin. " ambil memeluk Shera..


Shera : "Makasih ya La udah mau dateng ke acara pernikahan aku ini.."


Stella : "Gimana bisa aku nga hadir Ra! Kamu itu sahabat aku dari kecil.." sambil tertawa..


Shera : "Iyha iyha.. Jadi, kapan kamu nikah.?"


Stella : "3 bulan lagi Ra.. Hadir ya.. Sama suami mu yang ganteng ini.." tertawa sambil melirik ke arah Zen..


Shera : "Kalo nikah kasih tau aku.. Aku bakal pindah ke Amrik habis ini.. Ikut suami.."



Mereka berbincang-bincang karena calon suami Stella merupakan teman Zen semasa kuliah di Amerika..



***



Setelah melaksanakan pernikahan yang megah juga resepsi yang mewah.. Shera dan Zen memutuskan untuk tinggal di Amerika karena pusat perusahaan Papa Zen ada di sana.. Shera pun ingin melanjutkan kuliah S2nya di Stanford Jurusan Management Bisnis..



***



Perjalanan panjang yang melelahkan dan juga acaran pernikahan yang seperti tiada habisnya membuat mereka berdua kelelahan..



Sesampainya di rumah Zen mereka meletakkan barang-barang di dalam rumah.. Shera tertidur di sofa karena kelelahan..



Pelayan : "Tuan Zen ini tehnya.." sambil meletakkan teh kesukaan Zen..


Zen : "Untuk bibi saja.. Shera juga sudah tertidur dan aku pun sudah lelah.. Nanti minta tolong sama pak Ari agar barang-barang kami di bawa ke kamar ya bi.. Besuk juga tidak apa-apa.." ucapnya dengan sopan karena pelayan yang ada di rumahnya sudah 20 tahun berkerja di sana..


Pelayan : "Baik tuan Zen.."


__ADS_1


__ADS_2