Takdir Menyatukan Kita

Takdir Menyatukan Kita
Chapter 15 #Terpeleset


__ADS_3

Dan ternyata Shera pun sudah terlelap dengan manisnya di ranjang itu.. Zen yang merasa dirinya bodoh berulang kali mengutuk dirinya sendiri karena mengucapkan hal bodoh..



Zen : "Bodohnya aku ini.. Sampai salah tingkah hanya karena mengatakan hal ini.. Dan ternyata Shera sudah tidur.. Dasar bodoh..!! Zen! Kau benar-benar bodoh.." Zen bangkit dari tempat tidurnya kemudian menuju ke arah kamar mandi untuk cuci muka..



Setttt..



Brukk..



Bunyi sesorang yang terjatuh, Zen terpeleset karena tadi sebelum dia turun tidak sengaja menumpahkan air putih di depan pintu kamar mandi..



Zen : "Ahhhh.. Sakit..!! Dasar air sialan kenapa kamu harus tumpah disini sih..!! Kenapa ga milih tempat yang lain..!!Kamar ku masih luas..!!" gerutu Zen pada Air itu sambil memegang bokongnya yang tentu saja sakit..



Shera melihat hal itu mencoba menahan tawanya karena Zen bukanya bangun malah mengutuk air yang membuat dirinya jatuh.. Yap.. Shera memang belum tidur tapi pura-pura tidur..

__ADS_1



Shera : "Hahahahahhahhahhaha.. Kak.. Kau sangat mengemaskan.." Shera tertawa terbahak bahak melihat Zen jatuh..


Zen : "Ohhh.. Kamu membohongi ku yaa.. Dasar gadis nakal.." bangkit kemudian berlari ke arah Shera dan langsung mencubit kedua pipi Shera sampai merah..



Zen yang melihat Shera kesakitan pun tertawa lepas karena dia sudah berhasil membuat Shera marah..



Zen : "Hahahahahhahaahah.. Liat itu pipi mu sekarang mirip dengan pipi hamster.." ejek Zen.


Zen : "Salah sendiri sudah bohong pada ku.." sambil mengeluarkan lidah..



Zen mendekatkan wajahnya ke arah wajah Shera, tangan kanannya memegang dagu istrinya.. Tentu saja itu membuat Shera salah tingkah dan mukanya merah seperti tomat.. Shera dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya..



Zen : "Hey.. Kenapa muka mu itu.. Kok merah seperti tomat.." ejek Zen..


Shera : "Bukan urusan kakak.. Awas minggir aku mau tidur.." tidak melepaskan tangan dari wajahnya..

__ADS_1


Zen : "Tidak mau karena kamu sudah berani membohongi suamimu.." jawab Zen sambil terkekeh..


Shera : "Kak tolong.. Aku masih sakit.. Luka ku belum sembuh sepenuhnya.." rengek Shera pada Zen..


Zen : "Lalu kenapa kau pulang kalau luka mu belum sembuh.?" jawab Zen sambil terkekeh..



Shera hanya diam mendengar pertanyaan yang di lontarkan Zen.. Karena dia tidak tau lagi dengan alasan apa dia akan membohongi Zen.Zen yang melihat muka kikuk istrinya malah semakin mendekatkan wajah mereka berdua, semakin mendekat dan semakin mendekat..



Sehingga deru nafas Zen bisa di rasakan Shera di wajahnya 'Plis kak stop.. Jantung ku mau lari keluar kalo kaya gini.. Aku ga siap kalau harus kehilangan jatung ku yang mau lari ini.. Sayang kan kalo jatung ku lari..' gumam Shera dalam hati..



Zen : "Hmm.. Jangan di tutup wajah mu yang cantik itu.." pinta Zen.. Shera pun menurunkan kedua tangannya sehingga kini dia dan Zen sangat dekat bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.. Zen pun menatap dalam-dalam mata istrinya yang indah itu.. 'Hmm.. Kenapa matanya sangat menggoda.. Mata bulat hitam sayu yang indah.. Aku tidak ingin berpaling dari kedua mata indah ini.. Siapa pun yang menatap mata ini jiwanya akan terbang entah kemana karena terhanyut akan keindahan mata itu..' batin Zen



Shera pun ikut menatap dalam-dalam mata Zen yang sayu itu.. 'Hmm.. Kak Zen.. Mata mu menarik hati ku.. Mata sayu yang membuat semua orang nyaman saat di dekatnya.. Seakan hati ku akan jatuh kedalam lubang yang paling dalam.. Entah itu menyakitkan atau menyenangkan.. Semoga itu lubang yang paling membahagiakan..' batin Shera..



Wajah mereka semakin dekat, semakin dekat dan kini hidung mereka sama-sama menempel.. Kini Nafas mereka berdua sangat di rasakan satu sama lain.. Nafas yang terlihat santau tapi menyimpan penuh misteri.. Mereka sudah hampir berciuman..

__ADS_1


__ADS_2