
Zen tidak menyadari bahwa papa mama dan kedua mertuanya sudah ada di dalam kamar tempat Shera di rawat..
Papa Zen : "Zen.. Bagaimana keadaan Shera.?" sambil meletakan barang yang di bawa dan duduk di sofa yang terdapat di kamar tersebut..
Zen : "Ah.. Kapan Papa, mama, Ayah dan bunda datang..?? Kenapa tidak memberitahuku kalau kalian akan datang.?" Zen heran melihat semua sudah datang tanpa memberitahunya..
Ayah Shera : "Umm.. Kami sudah memberitahu Dokter Sam bahwa kami akan datang.. Apa dia tidak bilang pada mu..?"
Zen : "Dokter Sam.?" tanya Zen heran..
Bunda Shera : "Lihat Zen.. Dokter Sam meninggalkan memo untuk mu.. Bacalah" dengan lembut sambil memberikan kertas kecil itu..
Zen membaca tulisan itu sambil tersenyum lebar.. Shera pun bangun karena mendengar percakapan tersebut..
Mama Zen : "Kamu bangun juga sayang.. Mana yang terluka tunjukkan sama mama.?! Kenapa bisa begini.?! Apakah Zen tidak menjaga mu.! Dasar anak kurang ajar. Kenapa bisa membuat anak mama ini terluka seperti sekarang.." sambil menarik telinga Zen sampai merah..
Zen : "Mama itu sakit.." sambil memegang telinganya yang masih merah itu..
Shera : "Tidak apa-apa kok ma.. Ini cuma luka kecil.."
Bunda Shera : "Kenapa bisa ada kamu terkena Kopi panas sayang.. Itu bukan gaya mu.?! Kenapa kopi itu bisa mengenai lengan atas mu bahkan sampai ke paha mu juga.?" tanya bunda Shera dengan penasaran..
__ADS_1
***
Shera menceritakan semua yang dia alami di kantor kemarin.. Ayah, Bunda dan kedua mertuanya geram mendengar penjelasan Shera.. Shera pun berusaha agar mereka semua tenang dan langsung mengalihkan topik pembicaraan..
Shera : "Ayah, Bunda, Papa, Mama.. Sebaiknya pulang dulu istirahat.. Kan kalian baru sampai juga.. Lagi pula ada kak Zen yang menjaga Shera di sini.." sambil tersenyum..
Zen : "Iya, Shera benar.. Kalian baru sampai.. Zen antar pulang dulu ya.."
Papa Zen : "Tidak usah.. Papa sudah menelfon sopir papa untuk kemari.. Mungkin sekarang sudah ada di depan rumah sakit.. Kalau begitu, Mama, Papa, Ayah dan Bunda pulang dulu.. Zen.! Jaga dia baik-baik.. Papa tidak mau mendengar Shera terluka sedikit pun..! Kamu mengerti.?!"
Zen mengantar mereka keluar sambil membelikan sarapan yang di sukai Shera.. Zen pun kembali ke kamar tempat Shera di rawat.. Zen menyuruh Shera untuk makan sarapan yang sudah dia bawa dan minum obat yang sudah di berikan Dokter Sam..
***
Setelah Shera minum obat dia tertidur lagi mungkin karena efek obat itu.. Zen baru ingat dia di minta Dokter Sam untuk mengoleskan salep pada luka Shera.. Zen pun melakukannya dengan sangat pelan agar Shera tidak bagun dari tidurnya.. Zen baru ingat ada luka di paha Shera, dia ragu untuk mengoleskan salep pada luka itu..
__ADS_1
'Gimana nih.. Aku oleskan tidak ya.? Tapi Dokter Sam bilang harus di oleskan.. Tapi aku ragu.. Apa tidak usah aku oleskan aja.. Biar dia sendiri yang oleskan itu.. Tapi tulisan yang ada di kotak mengharuskan itu di oleskan tiap 4 jam sekali dan ini sudah lewat 4 jam.. Aku bingung.? Nanti dia kira aku laki-laki yang tidak sopan.? Hmm.. Tidak sopan dimananya ya.? Aku kan suaminya jadi tidak apa-apa.. Tapi bagaimana nanti jika dia bangun.. Ahhh.. Membuat ku sakit kepala..' gumam Zen sambil memegang kepalanya..
Setelah berdebat dengan jiwanya sendiri, Zen pun berencana mengoleskan salep pada luka bakar Shera yang ada di paha.. Zen memberanikan diri membuka sedikit selimut tipis yang menutupi kaki jenjang milik Shera..
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan Zen pun bergegas menutup kembali selimut Shera karena dia tidak suka ada yang melihat tubuh istrinya walau hanya kaki..
Ternyata yang datang adalah bunda Shera dan mama Zen.. Zen mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa..
Bunda : "Zen.? Apa kamu sedang mengoleskan salep pada luka Shera.?" karena melihat salep masih ada di tangan Zen dan terlihat tidak ada tutupnya..
Zen : "Iyha bunda.. Ini Zen baru selesai yang ada di lengan Shera dan yang di paha belum.. Bunda mau oleskan sebentar Zen mau beli minuman untuk mama dan bunda.." sambil memberikan salep pada bundanya.. Sebenarnya Zen malu kalau dia harus mengoleskan salep pada paha istrinya di hadapan mama dan bundanya sendiri..
Bunda : "Baiklah.. Kalau kamu capek, kamu pulang istirahat dulu.."
Zen : "Zen tidak lelah bun.. Sebentar ya ma, Zen mau beli minum dulu.." pergi meminggalkan mama dan bundanya di kamar..
__ADS_1