
Shera tak mampu berkata apa pun dan tangisannya semakin menjadi-jadi dalam pelukan Zen.. Zen pun terus berusaha menenangkan istrinya tersebut sambil mengusap ngusap kepala istrinya..
Hampir 4 jam lamanya Shera menangis di pelukan Zen.. Dengan sabarnya Zen pun menenangkan istrinya tersebut.. Tak lama setelah itu badan Shera semakin lemah dan ternyata Shera tertidur di pelukan Zen karena terlalu lama menangis..
Zen pun menggendong Shera dengan gaya bridal style.. Zen meletakan Shera dengan lembut di ranjang, Zen pun menatap wajah istrinya.. Mata bengkak, pipi masih basah dengan air mata dan ujung hidung yang masih merah..
"Kau terlihat lucu saat tidur dengan wajah seperti ini.. Namun, aku tidak suka jika kau menangis.. Itu membuat ku sakit.. Terasa sesak.. Entah apa yang membuat ku seperti ini aku tak pernah mengalami ini semua.. Ahh.. Sudahlah.." Sambil mengelus rambut Shera..
Zen pun meninggalkan Shera menuju ke meja kerjanya untuk mengerjakan pekerjaannya yang ia tinggalkan.. Zen memang lebih suka mengerjakan pekerjannya di rumah dia datang ke kantor hanya ketika ada rapat atau meeting dengan koleganya..
***
Sore pun tiba Zen pun yang sedari siang di sibukkan dengan berbagai pekerjaan yang harus di sesesaikan..
"Uuhh.. Akhirnya selesai juga.." sambil meregangkan badannya..
__ADS_1
Zen mengalihkan pandangan menuju istrinya yang duduk termenung di atas ranjang.. Zen pun mendekati istrinya yang sedang termenung..
Zen : "Ra.. Kamu kenapa lagi..?? Masih memikirkan tadi pagi..?" tanya Zen dengan lembut..
Shera : "Sebenarnya kak.. Ayah baru menajukan 3 permintaan pada ku dari aku kecil sampai sebesar ini.. Yang pertama aku harus bahagia.. Yang kedua ayah meminta ku untuk menikah.. Yang ketiga ayah meminta cucu dari ku.. Hanya itu kemauan ayah.. Sedangkan aku, apa pun yang menjadi keinginan ku selalu di wujudkan oleh ayah.. Aku merasa tidak adil jika aku tidak mengabulkan keinginannya.." ucap Shera sambil meneteskan air mata..
Zen pun mendekati Shera kemudian memeluknya lagi..
Zen : "Sudah sudah.. Jangan menangis lagi.. Aku percaya kamu wanita kuat.. Kalo kamu nangis tambah jelek tu muka.." ucap Zen meyakinkan Shera..
Brukkk..
Zen pun seketika menoleh ke arah kamar mandi dia yakin tadi mendengar suara orang jatuh.. Zen pun bangkit dan kemudian lari mendekati pintu kamar mandi..
Tok.. Tok.. Tok.. Tok.. Tok
__ADS_1
Zen terus mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil manggil nama Shera.. Zen pun sangat khawatir karena tidak ada jawaban dari dalam.. Zen pun nekat masuk dan ternyata tidak di kunci oleh Shera.. Zen pun mendapati istrinya jatuh tergeletak di di lantai kamar mandi dengan kepala yang bersimbah darah karena terbentur ..
Zen sangat panik mencoba membangunkan istrinya itu.. Tapi nihil Shera tidak merespon sama sekali karena darah yang keluar cukup banyak..
Zen : "Ra.. Bangun Ra.. Bangun.. Hobby banget sih kamu kaya gini.." sambil menepuk pipi Shera berharap ada respon.
Zen pun mengendong Shera turun dengan tergesa-gesa karena luka di pelipis kanannya cukup lebar..
Zen yang tergesa-gesa menuruni tangga dan membuat papa mama dan ayah bunda mereka terkejut.. Zen yang menuruni tangga sambil berteriak kepada pak Ari dan menyuruhnya untuk menyiapkan mobil..
Bunda Shera pun berlari kearah Zen dan betapa terkejutnya dia mengetahui putri kesayangannya tak sadarkan diri dalam pelukan Zen dan terluka pada bagian kepala..
Bunda Shera : "Shera..!!!!" Bunda berteriak histeris dan menangis karena putrinya terluka..
Mama Zen : "Ada apa Mala.? Kenapa kamu teriak.?" mama Zen berlari mendekati mereka bertiga dan disusul oleh papa Zen dan juga Ayah Shera..
__ADS_1