
Papa Zen : "Wow.. Itu baru anak ku.. Sepertinya mereka sangat bersemangat. Ayo Zen.. Papa mendukung mu dari sini.." sambil tertawa geli mendengarkan percakapan anak-anak mereka yang aslinya tidak sama dengan yang mereka bayangkan...
Ayah Shera : "Diam lah dengarkan dan nantikan adegan yang lebih seru yang akan terjadi setelah ini.. Sepertinya kita akan punya cucu.." jawab ayah Shera dengan Semangatnya..
Di sisi lain Shera sedang membuka kemejanya dan berganti piyama tipis tanpa lengan yang panjangnya hanya sampai 10 cm si atas paha.. Zen yang melihat istrinya itu hanya bisa menelan ludah kerena perjanjian yang mereka buat sendiri..
Zen : "Cepat lah..!! Dasar lambat..!!" perintah Zen..
Shera : "Ya sabar dong.. Sejak kapan kakak menjadi tidak sabar seperti ini.." karena memang Zen tidak pernah seperti ini sebelumnya..
Papa, mama, ayah, dan bunda mereka yang mendengar percakapan mereka melalui alat penyadap yang mereka letakkan di ranjang baru.. Sedikit keterlaluan memang tapi ini satu-satunya cara mereka agar mengetahui hubungan mereka berdua.. Papa, mama, ayah dan bunda mereka hanya tertawa geli mendengar percakapan yang tidak sesui dengan ekspektasi mereka..
Shera berjalan menuju ke arah ranjang dan kemudian naik ke atas ranjang..
Zen : "Sini.. Mendekatlah.. Aku bukan penjahat yang harus kau jauhi.." goda Zen pada istrinya itu..
Shera : "Emm.. Ba-baiklah.." dengan sedikit rasa canggung..
__ADS_1
Kemudian Zen mengoleskan salep pada luka bakar Shera yang ada di lengan..
Shera : "Aaahhhh.. Sakit.. Lebih haluslah sedikit kak.. Itu sakit..!" teriak Shera..
Zen : "Iyha iyha.. Bawel banget.. Tahan sebentar kenapa sih.. Kaya bocah deh.." jawab Zen yang sedikit kesal..
Di kamar sebelah malah semakin heboh tak kala mendengar percakapan mereka berdua..
Bunda Shera : "Kasar sekali Zen.. Sampai Shera berteriak kesakitan seperti itu.." sambil tertawa geli..
Ayah Zen : "Hahaha.. Dasar anak muda.. Tidak lebih lembut terhadap pasangan.. Lebih baik kita matikan saja alat penyadap ini.. Kita semua tau apa yang akan terjadi.. Hihihi.." tertawa geli mendengar ucapan bunda Shera..
Tak perlu waktu lama bagi Zen untuk mengoleskan salep pada lengan Shera..
Zen : "Enakkan salepnya.. Makanya kalo di kasih tau ga usah bantah.." ucap Zen kepada Shera..
Shera : "Iyha iyha kak.. Ini dingin.. Terima kasih.." sambil menunjukkan senyum manisnya..
__ADS_1
Zen : "Yang di paha mana.? Mau ku oleskan atau oles sendiri.." goda Zen sambil mengangkat angkat kedua alisnya..
Shera : "Emm.. Terserah kakak.." ucap Shera pasarah karena obat yang tadi di minum sudah berreaksi..
Zen : "Umm baiklah aku oleskan.." sambil menelan ludahnya..
Shera : "Ayo cepat kak.. Aku sudah mengantuk.." sambil mengucek- ngucek matanya..
Zen : "Iyha iyha bawell.." sambil menaikan sedikit bagian bawah piyama Shera..
Tentu saja itu membuat Zen herus menahan lebih lagi dirinya dan membuatnya menelan ludahnya berkali-kali saat melihat paha mulus dan putih milik Shera.. Luka yang berada di paha itu sangat mencolok karena bagian yang lain sangat mulus dan putih..
Zen : "Hmmm.. Sudah selesai.." sambil menyeka keringat yang sedari tadi mengucur bebas di pelipisnya..
Tidak ada jawaban dari Shera, Zen pun mendekatkan wajahnya dengan wajah Shera karena ingin memastikan bahwa dia sudah benar benar tertidur.. Zen yang melihat wajah istrinya yang damai saat tertidur membuat Zen ingin menciumnya..
Zen pun mencium kening istrinya kemudian ujung hidung dan Zen mencium bibir Shera dengan lembut yang berwarna merah itu.. Zen kemudian mengatakan "Selamat tidur istri ku yang cantik.." sambil memegang pipi Shera yang halus..
__ADS_1