
Zen berusaha tegar dan tidak mengeluarkan lagi kristal bening dari matanya lagi..
Zen : "Aku adalah Suami mu.. Nama ku Zen Davin Alfarezi.. Dan kamu adalah istri ku.. Nama mu adalah Shera Jasmine.. Bunda mu adalah Istida Kumalasari, ayah mu adalah Wildan Habibie, papa adalah Bayu Setiawan dan mama adalah Suci Yuliastuti.." ucap Zen dengan lembut dan tanpa dia sadari kristal bening telah mengalir bebas dari matanya.. Baru kali ini Zen merasa kehilangan orang yang ia cari selama kurang lebih 15 tahun itu..
Shera : "Lalu kenapa aku bisa ada di sini..??" tanya Shera pada Zen..
Zen : "Umm.." Zen ragu untuk menjawab pertanyan Shera.. "Kau.. Kau jatuh di kamar mandi dan kepala mu terbentur.." Jawab Zen sambil menundukkan kepalanya..
Shera hanya terdiam begitupun dengan papa, mama, ayah, bunda dan juga Zen sendiri.. Mereka merasa sedih karena Shera hilang ingatan, mereka ingin menangis tetapi tidak ingin membuat Shera semakin sedih dan tertekan..
***
Setelah 3 hari perawatan di rumah sakit mereka semua pulang ke rumah.. Dokter Sam berpesan kepada Zen jika istrinya sedang sakit kepala maka ia harus meminum obat yang sudah dia berikan.. Bunda Shera menyuruh Shera untuk melihat lihat seluruh bagian rumah berharap dia ingat sesuatu..
__ADS_1
Shera pun masuk ke kamar Zen dan kamarnya.. Dia merasa tidak asing dengan semua ini tetapi dia tidak ingat apa pun mengenai ini semua.. Zen yang melihat istrinya seperti memaksa untuk meningat sesuatu pun tidak tega..
Zen : "Ra.. Jangan di paksa.. Ayo kita makan dulu.. Nanti ku ajak kamu jalan-jalan.." Ucap Zen lembut..
Shera : "Umm.. Boleh kah aku bertanya sesuatu pada mu..?" tanya Shera sambil mengeluarkan ekspresi imutnya..
Zen : 'Imutnya..' batin Zen lalu tersadar akan pertanyaan Shera yang belum di jawab.. "Umm tentu.. Kau mau tanya apa..??" berjalan mendekati Shera yang duduk di tepi ranjang..
Shera menampakkan raut wajah ragu untuk bertanya pada Zen.. Namun dia berusaha menghilangkan semua ke raguannya..
Zen : "Kurasa begitu.. Tapi aku tidak tau karena kau tidak menyatakan perasaan mu.." jawab Zen berkata jujur..
Shera : "Lalu..? Apakah kau mencintai ku..??" tanya Shera dengan wajah malu..
Zen : "Iyaaa.. Aku mencintai mu.. Bahkan sangat sangat sangat mencintai mu.. Tapi aku belum sempat mengunggapkannya pada mu dan kau malah.." Zen menghentikan ucapannya lalu menghapus kristal bening yang akan mengalir dari matanya..
Shera : "Hey.. Jangan menangis begitu.. Kau laki-laki mana boleh kau menangis.." ucap Shera menenangkan Zen dan mengusap kristal bening yang ada di pipi Zen itu.. Zen langsung merarik Shera kedalam pelukannya, pelukan itu sangat erat dan sekarang Shera dapat mendengar degup jatung milik Zen..
__ADS_1
'Kenapa aku merasa sangat nyaman dengan dia.? Apa kah sebelum ini aku menyukainya..? Kenapa jantung ku berdetak sangat cepat..? Aku yakin muka ku sudah merah sekarang..' gumam Shera dalam hati..
'Shera.. Aku sangat mencintai mu.. Bukan.. Maksud ku sangat sangat sangat mencintai mu.. Aku takut kehilangan mu.. Jangan pernah tinggalin aku.. Dan aku tak akan pernah meninggalkan mu..' gumam Zen dalam hati..
***
Di sisi lain papa mama ayah dan bunda mereka merencanakan agar Zen dan Shera untuk pulang ke Indonesia.. Alasan mereka cukup masuk akal, yaitu kenangan Shera sangat banyak di Indonesia..
Bunda Shera : "Mungkin kalau di Indonesia.. Shera juga bisa ingat dengan sahabatnya dari kecil.." ucap Bunda Shera..
Mama Zen : "Sepertinya ide yang bagus.. Bagaimana jika kita biarkan mereka berdua saja yang pulang ke Indonesia..? Biarkan cinta tumbuh di antara mereka berdua tanpa campur tangan dari kita sebagai orang tua.." ucap mama Zen memberikan masukkan..
Ayah Shera : "Benar juga.. Aku juga masih perlu mengurus perusahaan ku yang ada di sini.. Masalah perusahaan ku yang ada di Indonesia biarkan Zen yang mengurusnya.." ucap ayah Shera membenarkan ucapan mama Zen..
Papa Zen : "Baiklah.. Kita semua sudah setuju.. Jadi, kapan kita mau memberitahukan ini pada mereka..?" ucap papa Zen..
__ADS_1