
Zen pun mencium kening istrinya kemudian ujung hidung dan Zen mencium bibir Shera dengan lembut yang berwarna merah itu.. Zen kemudian mengatakan "Selamat tidur istri ku yang cantik.." sambil memegang pipi Shera yang halus..
Malam itu mereka lalui dengan keadaan terlelap dalam mimpi mereka masing-masing..
***
Pagi harinya papa mama Zen dan ayah bunda Shera terlihat bahagia karena mengira terjadi sesuatu di antara mereka berdua.. Zen dan Shera terlihat bingung kenapa pagi ini terlihat sangat berbeda dengan pagi-pagi lainnya..
Papa Zen : "Zen, bagaimana kemarin malam.?" tanya papa Zen seyara melemparkan senyum lebarnya..
Zen : "Kemarin malam.?" jawab Zen dengan ekspresi bingung yang tidak bisa ditutupi..
Ayah Shera : "Iyha.. Tadi malam..? Apakah tidur mu nyenyak dengan ranjang baru itu.." jawab ayah Shera dengan senyum tipisnya..
Zen : "Ohhhh.. Itu.. Zen dan Shera tidur nyenyak kok papa, ayah.. Ranjangan juga lembut.." jawab Zen seraya merangkul istrinya di depan orang tua mereka..
__ADS_1
Ayah dan papa mereka saling bertatapan dengan penuh arti.. Karena yang mereka tau itu merupakan kode dari mereka berdua bahwa yang mereka dengar itu memang benar.. Tapi sebenarnya mereka salah mengartikan jawaban dari Zen..
Mereka semua menuju meja makan untuk saparan bersama.. Mereka semua memakan sarapan mereka masing masing.. Tiba-tiba
Bunda Shera : "Ohh iyha.. Kalian mau punya momongan kapan.?" tanya bunda Shera..
Zen dan Shera : "Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Zen dan Shera mengambil air minum dan meminumnya karena tersedak akibat pertanyaan dari bunda mereka berdua..
Mama Zen : "Looo.. Makannya pelan-pelan dong kok bisa sampai tersedak seperti itu.... Lalu kapan kalian mau punya momongan..?? Kami sudah tua sayang.." jawab mama Zen..
Shera : "Umm.. Sepertinya tidak cepat-cepat, Shera juga masih mau melanjutkan S2 Shera disini.." jawab Shera mantap agar tidak menimbulkan kecurigaan mereka..
Ayah Shera : "Umm.. Sayang.. Sebenarnya ayah bunda papa dan mama ingin sekali cepat memiliki cucu.. Tapi.. Ya sudahlah.." ucap ayah Shera kemudian berlalu meninggalkan meja makan dengan tidak semangat..
__ADS_1
Zen dan Shera hanya bisa diam saat ayah meninggalkan meja makan disusul papa mama dan bunda mereka dengan raut wajah kecewa.. Shera merasakan ada banyak air mata di pelupuk matanya yang seakan meminta Shera untuk mengeluarkan air itu..
Shera pun berlari ke arah kamar mereka agar Zen tidak melihat dirinya menangis. Zen yang melihat istrinya berlari kemudian menyusulnya ke kamar..
Zen : "Ra.. Kamu kenapa..??" tanya Zen sambil mendekati Shera yang sedang berdiri menatap ke luar melihat wajah papa, mama, ayah dan bunda mereka bersedih di taman belakang rumah..
Shera tidak menjawab pertanyaan dari Zen air matanya bercucuran karena tidak bisa mewujudkan keinginan orang tua mereka.. Zen yang melihat Shera menangis kemudian menyeka air matanya dan menarik Shera ke arah pelukannya..
Entah kenapa Shera merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Zen.. Zen pun mengelus punggung Shera karena dia juga merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Shera..
Zen : "Menangis lah sepuas mu Ra.. Aku bersedia menjadi tempat bersandar mu.. Kalau kamu mau curhat aku akan dengan senang hati mendengarkan.. Jangan di pendam sendiri.. Beban akan berkuang jika kamu membaginya dengan seseorang Ra.." ucap Zen seraya mencium kepala Shera..
__ADS_1
Shera tak mampu berkata apa pun dan tangisannya semakin menjadi-jadi dalam pelukan Zen.. Zen pun terus berusaha menenangkan istrinya tersebut sambil mengusap ngusap kepala istrinya..