
Wajah mereka semakin dekat, semakin dekat dan kini hidung mereka sama-sama menempel.. Nafas mereka berdua bisa di rasakan satu sama lain.. Mereka sudah hampir berciuman..
Tok tok tok..
Terdengar di telinga mereka berdua ada yang mengetuk pintu kamar mereka.. Zen yang menyadari ada seseorang di depan pintu pun menghentikan aktivitas yang mereka lakukan.. 'Ahh.. Sial..!! Hampir saja aku menciumnya..!! Siapa juga ini berani-beraninya ngetuk pintu kamar ku malam-malam begini..!! Awas aja kalau bukan hal yang penting..!! Hahhhhhhh.!! Geramnya aku..!!!' umpat Zen dalam hati..
Di sisi lain, Shera yang tadi mukanya merah sekarang berubah seperti sedang kecewa.. 'Ahhhh.. Kenapa aku.? Kenapa aku merasa kecewa..!! Seharusnya aku merasa beruntung karena di tolong oleh sesorang itu.. Tapi kenapa aku malah sedikit kesal..? Shera kembalikan kesadaran mu itu..? Apakah kamu sudah gila karena berada di rumah sakit selama 2 hari..?! Apa kamu juga kehilangan kesadaran mu saat minum obat itu..? Dasar obat sialan..!!' Shera marah-marah dengan dirinya sendiri..
Zen yang sudah tiba di depan pintu pun membuka pintu untuk mengetahi siapa yang berani menganggunya malam-malam begini..
Mama : "Ah.. Zen.. Kamu belum tidur nak..??"
Zen : "Ah.. Mama.. Baru mau tidur.. Ada apa ma..?" dengan cepat menyembunyikan rasa kesalnya karena yang di hadapi sekarang adalah mama bukan pembantu ataupun yang lain..
__ADS_1
Mama : "Tidak sayang.. Mama kesini untuk mengantarkan salep luka milik istri mu.. Tadi masih tertinggal di meja.." sambil menyodorkan salep itu..
Zen : "Oh.. Iyha ma.. Terima kasih mama ku sayang karena sudah repot-repot mengantarkan ini kesini.." sambil memeluk mamanya.. Dibalik sikapnya dan tubuhnya yang gagah terselip anak yang sangat manja jika sedang bersama dengan mamanya..
Mamanya pun pergi menuju ke kamarnya sendiri yang terletak di samping kamar Zen dan Shera.. Kemudian Zen pun berjalan ke arah Shera untuk memberikan salep itu pada Shera..
Zen : "Nih.. Salep kamu ketinggalan.. Kamu belum pakai ini ya..?" Sambil menyodorkan salep kepada Shera..
Zen : "Kamu ini gimana..! Udah gede juga masih kaya anak kecil aja..! Sini aku pake in..!!" perintahnya kepada Shera..
Shera : "Engak usah kak.. Shera bisa sendiri..!!"
Zen : "Kamu malu ya.. Padahal waktu di rumah sakit aku loo yang selalu pakaikan.. Tidak perlu malu lagi.. Lagian aku juga SU-A-MI SAH MU..!!" ada penekanan yang tidak bisa di bantah pada kata SUAMI SAH MU..
Muka Shera pun merah tak kala mendengar ucapan Zen tadi.. 'Apa?! Kak Zen yang selalu memakaikan..?! Aaaa.. Aku malu sekali..!' batin Shera dalam hati..
__ADS_1
Di sisi lain 'Ahhahahahah.. Kena kamu..!! Kamu tadi sudah membohongi aku..!! Sekarang aku yang membohongi kamu.!! Sebenarnya aku tidak pernah memakaikan itu.. Karena aku malu..' tawa jahat Zen dalam hati..
Zen : "Buka Kemeja mu itu.." sambil naik ke ranjang dan mendekat ke arah Shera..
Shera : "Apa?! Kakak tidak bercanda kan?!" tanya Shera dengan heran..
Zen : "Tentu tidak..!! Dasar bodoh.! Bagaimana bisa aku melakukan itu jika kemeja mu menutupi itu..!!" membuka tutup salep..
Shera : "Umm.. Ini.. Tidak sakit kan.?" tanya Shera seperti anak kecil..
Zen : "Tentu tidak.. Ini akan membuat mu melayang karena nyaman yang tak karuan.. Hahahah.." balas Zen sambil mengejek Shera..
Siapa pun yang mendengarkan percakapan mereka akan tertawa geli membayangkan hal lain yang terjadi di antara mereka.. Seprti saat ini mereka tidak tau di kamar sebelah lebih tepatnya kamar papa mama Zen yang berisi papa mama Zen dan ayah bunda Shera sedang asyik menguping pembicaraan mereka..
Papa Zen : "Wow.. Itu baru anak ku.. Sepertinya mereka sangat bersemangat. Ayo Zen.. Papa mendukung mu dari sini.." sambil tertawa geli mendengarkan percakapan anak-anak mereka yang aslinya tidak sama dengan yang mereka bayangkan...
Ayah Shera : "Diam lah dengarkan dan nantikan adegan yang lebih seru yang akan terjadi setelah ini.. Sepertinya kita akan punya cucu.." jawab ayah Shera dengan Semangatnya..
__ADS_1