Takdir Menyatukan Kita

Takdir Menyatukan Kita
Chapter 10 #Ungkapan


__ADS_3

Zen yang melihat Shera yang tertidur di sofa kemudian membawanya menuju kamar.. Zen yang merasa badannya cukup langket bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan..



'Shera tidak akan marah kan.. Kalau aku tidur di sampingnya.. Toh dia kan sekarang istri sah ku..' gumam Zen dalam hati.. Kemudian dia tidur di sebelah Shera..



***



Paginya Shera terbangun dan mendapati dirinya tidur dengan posisi dalam pelukan Zen.. Shera pun melihat wajah Zen yang sangat tampan dan dia seakan menikmati pelukan hangat dari Zen.. Zen pun terbangun dari tidurnya dan mendapati Shera masih tertidur (pura-pura tidur karena tidak mau membangunkan Zen).. "Kamu cantik sekali.. Aku takut aku jatuh cinta padamu.." sambil mencium kening Shera dan bangun untuk mandi..



Shera diam terpaku di tempat tidur tidak bisa mengatakan apapun dan mukanya terlihat merah seperti tomat.. 'Apa.? Apakah kak Zen sedang menyatakan cintanya padaku.' gumam Shera sambil berguling guling kesana kemari karena senangnya sampai-sampai dia terjatuh dari tempat tidur..



Shera : "Aw.. Sakit sekali.." sambil memegang pinggangnya..


Zen : "Shera.. Kamu kenapa.? Jangan bilang kamu jatuh dari tempat tidur.." menahan tawa..


Shera : "Aku memang terjatuh dari tempat tidur.. Mau tertawa.." kesal


Zen : "Shera.. Shera.. Kamu selalu bisa bikin aku tertawa.." sambil mengendong Shera ke ranjang..



***



Zen membantu Shera mengobati luka kecil yang ada di lututnya dan menyuruh Shera mandi kemudian turun untuk sarapan karena Zen akan mengajak Shera ke suatu tempat..



Zen menunggu Shera di meja makan untuk saparan..



Shera : "Bagaimana kak Zen tau ukuran baju ku ya.." sambil melihat dirinya di cermin..

__ADS_1



Shera pun turun mengenakan gaun yang sudah di siapkan Zen tadi dan terihat sangat sangat sangat cantik.. Zen pun melihat ke arah Shera dan dia terpana akan kecantikan gadis di hadapannya tersebut..



Dengan rambut terurai sebahu, riasan make up yang natural, bibir merah, dan senyuman kecil dari Shera membuat jantung Zen berdetak semakin kencang..



'Ada apa dengan ku.? Kenapa jantung ku berdetak cepat.? Apakah aku sakit.?' gumam Zen dalam hati.. Sambil melihat terus ke arah Shera yang duduk di hadapannya..



***



Mereka telah tiba di suatu tempat yang sedang mengadakan pesta pernikahan..



Shera : "Kak kita mau apa kesini.?" sambil melihat sekeliling..


Shera : "Umm.. Baiklah.. Aku tak kan membuat mu malu sayang.." bisik Shera yang menahan tawa pada Zen namun membuat muka Zen menjadi agak merah.


Shera : "Kakak ups.. Suamiku kamu kenapa kok mukanya merah.? Apa kamu sedang sakit.?" tanya Shera dengan polosnya



***



Mereka pun pulang malam karena mendadak Zen ada urusan tadi dan sekalian makan malam di luar..



Semua orang yang ada di restoran tempat mereka makan menatap seolah ada Raja dan Ratu yang datang ke tempat itu..



Siapa yang tidak akan menatap mereka berdua, mereka terihat sangat cocok.. Shera dan Zen merasa tidak nyaman karena di tatap oleh banyak oranh saat mereka berjalan bahkan sampai mereka duduk..

__ADS_1



Shera : "Kak Zen.. Kenapa mereka semua menatap kita ya..?? Apakah hanya perasaan ku saja.?"


Zen : "Mereka memang menatap kita.. Mungkin karena kamu sangat sangat cantik.." ucap Zen tanpa disadari..


Shera : "Apa.? Kak Zen tadi bilang apa.?" sebenarnya Shera mendengar semuanya mukanya pun ikut merah..


Zen : "Ti.. Tidak.. Aku.. Aku tidak mengatakan apa-apa.. Hanya.. Hanya mengatakan bahwa mereka menatap kita karena aku tampan.." jawab Zen dengan muka yang merah..



***



Setelah mereka selesai makan malam kemudian mereka pulang ke rumah.. Shera seperti memiliki kebiasaan untuk tertidur di mana saja karena dia juga tertidur di mobil saat pulang dari restoran..



'Dasar tukang tidur.. Tidak di sofa tidak di mobil sama aja.. Tapi kamu cantik sekali saat tertidur seperti ini..' gumam Zen sambil menatap Shera dalam dalam..



Tanpa sadar Zen mencium kening Shera dan membuatnya terbangun..



Shera : "A.. Apa yang kakak lakukan..?"


Zen : "Aku.. Aku tidak melakukan apapun.." sambil mengalihkan pandangan.. "Ayo turun ini sudah sampai di rumah.."


Shera : "Baiklah.."



***



Setelah itu mereka masuk dan mandi.. Shera mengenakan baju piyama warna merah muda, tanpa lengan, dan tidak sampai selutut membuat Zen harus benar-benar menelan ludah.. Karena mereka sudah membuat perjanjian yang isinya tidak akan melakukan hal itu tanpa rasa saling mencintai..


__ADS_1


Dalam kamar Zen terdapat 2 tempat tidur, tentu saja ranjang mereka agak berjauhan karena jika Zen libur dia memilih untuk tidur siang di ruang kerja.. Ruang kerja itu masih satu ruangan dengan kamar Zen tetapi terpisahkan oleh dinding penyekat seperti mika.. Apapun yang di lakukan di ruangan itu akan terlihat dari ranjang utama Zen..


__ADS_2