
Satria tentu tidak mungkin melupakan kejadian siang yang masih membekas di wajah seluruh budak-budak. Ia hampir saja membatalkan rencananya untuk mencuri makanan di gudang penyimpanan malam ini. Ada ketakutan menjalar dalam hatinya, tetapi ada juga kobaran api yang membakar jiwanya. Kebencianya pada prajurit Mayakarsa semakin meningkat dan tumbuh bagaikan bara yang menyala menjadi percikan-percikan api.
Meski Harsya dan Syam telah menghiburnya, Satria tidak bisa berhenti untuk tenang. Nyawa Asih hampir melayang tepat di depan matanya. Apabila Asih mati saat itu juga, entah apa yang akan terjadi dalam hidup Satria sekarang. Namun, upaya keras Harsya dan Syam memberikan hasil yang cukup baik. Satria memutuskan untuk tetap melakukan rencananya bersama Harsa dan Syam.
Malam ini, Satria bersama Harsya dan Syam mengintip di balik pohon bramastana. Tarmigi sedang duduk di depan api unggun sambil menenggak kendi berisi tuak. Prajurit itu bertubuh gemuk dengan lipatan-lipatan kulit perut yang nampak jelas. Janggut hitam tipis menghias dagunya seperti sebuah titik-titik hitam.
“Sebentar lagi dia akan terlelap,” kata Satria.
Selagi mengawasi pengawal itu lengah, mereka mengamati gudang penyimpanan yang berada di sebelah Tarmigi. Bangunan penyimpanan itu dibangun dengan batu bata yang memiliki delapan tiang, batu bata di susun tanpa perekat, atapnya terbuat dari genting tanah liat bakar berwarna kemerahan.
Mereka lalu berjalan mengendap-ngendap melewati semak alang-alang setinggi pinggang hingga sampai ke dinding timur gudang penyimpanan. Terdengar suara sendawa keras dari Tarmigi. Mereka sangat muak, betapa selama ini mereka tidak pernah menikmati makanan yang hangat dan nikmat. Sedangkan para prajurit dilimpahi makanan sampai gerakan mereka selambat lembu.
Ketika bulan hampir tertutup awan, Tarmigi mulai mendengkur. Satria sekali lagi mengintip di balik tiang, memastikan Tarmigi tertidur pulas, lalu mereka berjalan beriringan menyusuri dinding utama gudang dan masuk ke dalam gudang.
Mereka bertiga tertegun sewaktu melihat isi gudang dipenuhi segala bahan makanan. Di setiap penjuru ruangan tersedia bermacam-macam karung berisi rempah seperti, cengkih, kayu manis, kapulaga, lengkuas. Di dindingnya mengantung daging-daging yang sudah dikeringkan dan buah-buahan seperti pisang, pepaya, dan mangga. Bahkan harum daging kering itu membuat Satria merasa bergairah.
“Ini luar biasa, selama ini kita kelaparan dan mereka memiliki ini semua?” kata Syam memancarkan seluruh pandangan ke seluruh isi gudang.
“Mereka terlalu serakah,” Harsya menanggapi, sambil mengunyah tomat seperti ternak kelaparan.
“Begitupun kita, kita akan mengambil makanan dan membawanya ke tempat Purnapana,” sahut Satria, dia lalu memilah makanan-makanan seperti potongan paha lembu, dua sisir pisang, dan singkong. “Aku tidak bisa membawa banyak.”
“Bagaimana kalau kita kosongkan karung itu dan mengisinya dengan daging dan buah?” kata Harsya menunjuk sebuah karung berisi beras di ujung gudang.
“Jangan,” Satria menjawab kecewa. “Bagaimana jika prajurit mengetahui seseorang telah menyusup?”
“Apa menurutmu mereka akan sadar ada tikus yang mengambil dua butir beras di dalam bertumpuk-tumpuk karung? Lihatlah ruangan ini adik kecil. Bahkan aku tidak bisa menghitung seluruh makanan di sini,” Harsya mengakui.
Satria berpikir sejenak, dia menyukai gagasan Harysa, meskipun itu beresiko. Gudang itu seperti surga untuknya. Satria merasa dia berhak menikmati makanan-makanan itu. Tidakkah dewa juga berpendapat sama. Sungguh orang yang kejam selalu dilimpahi keberuntungan, pikirnya.
“Ide bagus, pilih karung yang tidak terlalu besar, tidak boleh mencolok.”
“Setelah berunding dan memastikan, mereka memilih sebuah karung cengkih yang berukuran tinggi selutut. Syam menumpahkan cengkih itu di ujung gudang dan menutupi cengkih-cengkih itu dengan beras. Begitu karung itu kosong, mereka mengisinya dengan bermacam-macam daging kering dan buah-buahan.
Sewaku Syam hendak mengikat karung itu, bunyi gemersak terdengar dari luar. Seseorang turun dari undakan menuju ke arah gudang penyimpan. Mereka bergegas menaruh karung itu tanpa sempat menyembunyikannya. Dengan sigap mereka berlindung di balik dinding depan dan menutupi tubuh mereka dengan rempah-rempah kering.
“Bangun Tarmigi,” kata Garung.
Tarmigi menjawab dengan dengkur yang pendek-pendek, setelah membuka matanya dia kaget dan melompat dari ranjang kapuknya.
“Aku tidak lama.”
“Ada apa gerangan?”
“Kerajaan Nusantara sedang dilanda kekacauan.”
Sesungguhnya Tarmigi enggan untuk mendengar kabar itu. Dia masih mengantuk dan mengangguk tidak berselera, “Bagaimana mungkin? Raja dari segala raja bertahkta di sana.”
“Putri Nirmala di culik, tapi siapa yang peduli? Sungguh aku tidak ingin berbicara tentang hal ini. Ada yang lebih penting.”
“Apa itu?” tanya Tarmigi sambil menggaruk perut besarnya.
“Ketika Candi Condok selesai, Raja Dharma akan datang sebagai bentuk peresmian.”
“Demi langit, tidak lebih dari dua minggu,” Tarmigi terkejut, perutnya bergoyang-goyang.
“Kau harus memastikan gudang memiliki bahan makanan yang cukup untuk kedatangan raja nantinya, begitu pun kualitasnya harus kau amati,” Garung memperingati, ia melirik ke arah pintu gudang yang terlihat cukup gelap. “Sampai beberapa hari ini, pastikan tidak ada hewan yang masuk, tikus dan kecoak sekalipun.”
“Tentu akan hamba laksanakan,” Jawab Tarmigi malas, jangankan mengingat seluruh bahan makanan, mimpinya barusan pun dia sudah lupa. Tarmigi hanya ingin segera lanjut tidur.
__ADS_1
Setelah Garung meninggalkan gudang penyimpanan, Tarmigi merasa lega. Begitu suara langkah Garung tidak terdengar, dia membaringkan tubuhnya sambil bergumam.
“Siapa yang peduli pada tikus dan kecoak, yang penting sang raja kenyang,” katanya mendengus. Tidak lama Tarmigi tertidur lagi, kali ini dengkurannya terdengar lebih panjang.
“Prajurit-prajurit ini memang keparat,” kata Satria sambil menepak-nepak tubuhnya yang berbau kayu manis.
“Kita harus bersyukur pada dewa malam ini, setidaknya karung ini sudah terisi penuh,” kata Syam tersenyum. Dia lalu menggopoh karung itu di bahunya. “Lebih baik kita segera meninggalkan gudang ini sebelum ada yang datang lagi.”
Satria dan Harsya sepakat. Setelah mereka keluar gudang penyimpanan, mereka berjalan menuju hutan di Utara candi. Satria memahami hutan ini lebih baik dari semua budak di Mayakarsa. Mereka meninggalkan kawasan candi pada tengah malam, udara semakin dingin dan keheningan semakin meraja.
Daratan pun menjadi tanah bergelombang dengan pohon-pohon besar yang renggang. Dekuk burung hantu terdengar misterius di balik rimbun tajuk hutan yang gelap. Bulu kuduk Harsya dan Syam meremang. Ini kali pertamanya mereka pergi sejauh ini selama bertahun-tahun. Tentu jika mereka tidak tertarik dengan keberanian Satria, selamanya mereka akan terjebak di kawasan candi.
“Gelap, kita butuh api, adik kecil,” Harsya berkata tiba-tiba ke arah Satria.
Satria tidak menjawab, dia berpikir sejenak.
“Ide bagus, mengapa tidak sekalian bakar api unggun, selagi menunggu prajurit datang ikut menari bersama kita?” Syam menyahut menggoda.
Harsya tidak menyukai lelucon itu, dia ketakutan.
“Adik kecil apakah masih jauh?”
“Ingat pohon asam kranji pada saat kita memasuki hutan? Itu adalah tanda pertama. Sebentar lagi bukit akan terlihat, meskipun hutan ini gelap, bukit itu akan nampak jelas dari celah pepohonan. Sayangnya kita akan berbelok ke Timur, karena gua itu tidak berada di bukit.”
Harsya dan Syam saling melirik, sesungguhnya mereka ingin pergi ke bukit melihat keindahan galaksi, tapi mereka sadar tujuannya malam ini bukan bukit itu.
“Yah mungkin lain kali, bersabarlah,” bisik Syam.
Bunyi gemersak datang beriringan dengan langkah kaki mereka. Suara itu berasal dari semak belukar yang tumbuh rapat menutupi akar-akar pohon besar. Bulu kuduk Satria menegak lagi. Mereka menghentikan langkah seraya memastikan tidak ada yang mengikuti.
“Ada suara?” bisik Satria curiga.
“Jangan lari,” Syam kini menahan punggung Harsya.
Satria mengambil ranting sepanjang lengan tubuhnya, dengan langkah hati-hati dia mendekati semak yang bergerak-gerak.
“Adik kecil hati-hati!”
Satria dapat mendengar suara mendesis di balik semak rimbun tumbuhan berbulu. Bahkan dengan ranting kecil itu, Satria seolah sudah siap menaklukan hewan apa pun.
Saat ini mereka tidak bisa lari, tidak tanpa obor. Meskipun begitu, Satria tidak boleh lengah, hutan Mayakarsa memang tidak semenakutkan hutan-hutan di Utara. Tetapi hewan buas tetap hidup dan dapat mengancam mereka bertiga kapan saja.
Setelah membuka sulur daun dengan ujung ranting, Satria terkejut. Dia mendapati seekor anak kucing hutan yang memandangnya dengan waspada. Sesekali kucing itu membuka mulut seolah mengancam, tetapi ukuran tubuh si kucing tidak membuat Satria takut.
Anak kucing itu berwarna coklat tanah dengan guratan loreng putih yang jelas pada punggung sampai ke perut. Telinganya runcing memanjang dengan bulu-bulu halus yang mencuat keluar. Warna putih bersih terpampang jelas dari moncong sampai ke leher.
“Kita punya tamu,” kata Satria, dia mulai jongkok mendekati si kucing hutan.
“Hewan buas!” Harsya memperingati.
“Tapi masih kecil, sepertinya dia mengikuti kita karena bau daging kering dalam karung.”
“Itu artinya akan lebih banyak kucing, anjing dan bahkan macan yang akan tertarik dengan bau itu,” kini giliran bulu kuduk Syam meremang.
Satria tidak menjawab. Dia mengamati anak kucing itu sekali lagi, ada rasa iba muncul dalam hatinya. Secara perlahan dia menyorongkan tangannya untuk mengusap. Si kucing nampak gelisah, dia mulai mendesis. Satria merasa akal sehatnya menghilang, bisa saja kucing itu melompat dan mencakar matanya. Namun, ada hal yang dia percayai dari ibu asuhnya, naluri hewan lebih jujur dari manusia. Jika dia melakukan tidak dengan niat jahat, sesuatu akan berbalik baik. Apa itu berlaku untuk anak kucing liar? Pikirnya singkat.
Kucing itu masih memandang waspada, sorot matanya tertuju pada wajah Satria yang berjongkok di hadapannya. Pupil mata sang kucing meruncing membesar dan dia bergerak mundur. Tapi tidak lama timbul rasa penasaran dari kucing itu. Dia bergerak maju dengan rasa ingin tahu, hidungnya bergerak-gerak lalu mengendus jari Satria.
“Bahaya adik kecil,” Harsya masih tidak terima.
__ADS_1
“Dia cuma lapar.”
“Sudah tentu dia lapar, karena masih kecil dia tidak mampu memakan kita,” kata Syam.
“Tapi kita punya daging banyak di karung, kita bisa memberinya sedikit,” balas Satria, kini sang kucing berguling-guling di kepalan tangan Satria.
“Aku rasa tidak masalah,” Syam menyetujui. Dia lalu membuka karung yang Harsya bawa. Syam meraih daging lembu kering dan menyobeknya menjadi potongan-potongan kecil. “Cukup?”
“Cukup untuk membuatnya kenyang malam ini.”
Satria menabur potongan-potongan daging itu di luar semak, membuat si kucing bergerak bersemangat. Dia keluar dari semak dengan melompat-lompat. Ekornya yang panjang meliuk-liuk di udara. Sesaat kucing itu diam memandang mereka bertiga, dan akhirnya menyambar dengan lahap potongan daging itu. Satria tersenyum lepas.
“Kita tidak akan melihat pemandangan ini di candi!” kata Satria.
“Entah mengapa aku seperti melihat sesuatu yang baru, padahal sebelum aku berakhir di candi ini, aku besar di pantai, aku sering melihat hiu yang memakai umpan-umpan kami,” Syam tersenyum. “Aku rindu hidup sebagai nelayan.”
“Semoga kalau dia sudah besar nanti dia tidak menganggap kita mangsa,” Harsya mengangguk. Setelah mengaitkan karung itu di pundaknya dia melanjutkan, “Saatnya berpisah dengan si kucing, kita harus berjalan terus adik kecil, atau yang lebih besar dari dia akan datang.”
Satria setuju, mereka kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan si anak kucing kecil yang bersantap lahap di belakangnya.
Mereka telah berjalan selama tiga puluh menit, lantai hutan terasa semakin kasar ditandai dengan derak ranting-rating yang terinjak, dari kejauan Satria dapat melihat bibir gua yang gelap. Tidak ada tanda-tanda asap mengepul. Satria mempercepat langkahnya, Syam dan Harsya kaget, mereka berusaha mengikuti kecepatan Satria. Namun, usaha itu membuatnya hampir tersandung akar-akar pohon yang menjuntai.
Sewaktu tiba di bibir gua, mereka tidak mendapati tanda Purnapana. Gua itu nampak sepi seolah tidak pernah ditinggali seseorang, angin berhembus dingin dari dalam gua bersamaan bunyi kelelawar berdecit. Di sekelilingnya tidak terlihat adanya bekas api unggun ataupun pijakan.
Syam mendekati mulut gua dengan hati-hati, rambut cepaknya membuat kepalanya terlihat seperti telur hitam. “Apa benar di sini tempatnya?”
“Aku tidak bermimpi semalam, di sinilah seharusnya Tuan Purnapana bernaung.”
“Sungguh aku merasa tidak enak badan, sebaiknya kita kembali adik kecil,” ajak Harsya.
“Tunggu ada suara dari dalam!” kata Syam tiba-tiba.
“Budak muda pemberani datang kembali di malam bulan bersinar penuh. Siapa gerangan yang kau bawa kali ini wahai budak muda, Satria?”
Suara itu mengalir sangat sejuk, menghilang perlahan bersama gema dalam gua yang berpantul lembut. Bayang-bayang dari dalam gua muncul hingga akhirnya sosok Purnapana terlihat dibanjiri cahaya bulan.
Dia berjalan dengan menggunakan tongkat ulin hitam. Jubahnya hitamnya masih compang-camping lusuh, seolah tidak pernah lepas dari tubuhnya. Bekas lukanya terlihat membaik ditandai langkah Purnapana yang terseok ringan. Rautnya wajahnya menunjukan ketenangan malam, sorot matanya sejernih air.
Satria setengah bersujud, Syam yang kaget mengikuti Satria diikuti Harsya.
“Tidak... tidak perlu bersujud. Penghormatan itu tidak dibutuhkan, aku bukanlah raja, juga bukan Tuan kalian, aku hanyalah pengembara tua,” jawab Purnapana. Dia lalu menepuk bahu Satria, Syam dan Harsya, memintanya untuk berdiri.
“Mereka berdua adalah sahabat hamba, hamba sudah menganggapnya sebagai kakak, Tuan Purnapana.”
Syam dan Harsya menunduk.
“Hamba Syam.”
“Hamba Harsya.”
Purnapana lalu terdiam cukup lama. Satria merasakan tatapan yang berbeda dari Purnapana yang di temui kemarin malam, seolah kedatangan mereka bertiga tidak mengancam dan hangat.
“Kalian tidak memperkenalkan dia?” kata Purnapana memecah keheningan. Purnapana lalu berjalan melewati mereka, langkahnya terlihat payah tertuju pada sesuatu di belakang yang berada cukup jauh. Purnapana berjongkok dan mengangkat sesuatu dengan telapaknya. Hewan itu sedikit meronta dalam genggaman lembut Purnapana, tetapi dalam usapan dan belaian di leher, hewan itu luluh dan menggeliat menikmati.
Purnapana tersenyum melihat hewan itu, “rupanya, kalian mengajak seekor anak kucing hutan jantan.”
***
__ADS_1