
Angin Utara menyibakkan rambut panjang Wikrama, dia bisa merasakan otot kuda sedang mengaduk-ngaduk perutnya. Di atas punggung kuda itu Wikrama mendengar suara gagak berkoak. Namun, bayangan sang burung tertutup oleh tajuk-tajuk pohon yang rapat. Udara di sekitarnya dingin, memunculkan kabut-kabut kelabu yang bergerak berayun melewati celah-celah batang pohon yang berlumut. Hutan itu seolah tidak menghendaki kehadiran mereka.
Tangan-tangan kasar menariknya turun dari kuda, saat para prajurit memaksanya berjalan dan mendorongnya jatuh menuju batang pohon mati. Perjalanan itu harus terhenti sejenak karena kuda-kuda dan prajurit perlu makan tapi Wikrama tidak diperbolehkan makan dan minum. Rambutnya kotor tergerai kusut dan bergumpal-gumpal akibat sisa darah peperangan yang mengeras di rambutnya seperti lilin beku. Liontin harimaunya terbalut darah kering menampilkan warna coklat kusam. Bekas luka sayatan keris yang menonjol di dadanya bertahun-tahun silam seakan berdenyut kembali. Wajahnya pucat dan kuyu, meskipun begitu kerupawanan seorang lelaki masih terlihat jelas.
Dengus menyembur dari bibirnya. Aku hidup, tapi mereka tiada. Kenapa aku masih bisa bernapas begitu entengnya dikala saudaraku terbaring kaku di atas rumput dan sekawanan burung pemakan bangkai menghampiri mereka.
Sebelumnya kuda-kuda mereka sudah berjalan setengah hari. Setelah melewati kegelapan malam begitu lama, fajar merah muda pucat tiba. Hutan itu terasa mistis dan kelam, meskipun begitu berkas sinar fajar masih memaksa masuk menembus daun-daun jarum. Tidak jauh di samping rombongan, sebuah tebing curam menjulang dibarengi suara deras sungai di dasarnya yang gelap. Para prajurit Nusantara bermaksud menepi beristirahat di punggung jurang.
Kuda-kuda mereka mulai kelelahan, begitupun para prajurit Nusantara. Mereka membangun kemah kecil, sembari mengirimkan merpati pembawa pesan untuk sang raja. Sekar duduk bersila di sebelah kudanya yang ditambatkan pada sebuah bebatuan cadas liar, Dia menatap Wikrama dengan sorot keras.
“Sudah bangun pecundang?” cetus Sekar, merengut.
Merengut lebih cocok dengan wajah lebarnya yang tidak cantik. Setelah melihatnya lebih dekat, wajah Sekar jauh lebih pantas disandingkan Mahda dengan wujud perempuan.
“Melihatmu dari dekat, kau lebih mirip pembajak sawah. Apakah para dewa telah mengutuk wajahmu?” cibir Wikrama, dia melupakan tatakramanya.
Sekar meludah, dan berderap mendekati Wikrama, sebuah pukulan mendarat di wajah Wikrama, sangat keras, cukup membuat kepala Wikrama berdengung. Asin darah terasa memenuhi mulutnya yang kering. Dengan kepalan tangan masih berdenyut, sekar menggerutu, “Mulutmu sama kotornya dengan tikus gorong-gorong, pantas saja kalian pandai bersembunyi.”
Prajurit di sekitarnya tertawa melihat kejadian itu.
Wikrama memakai borgol besi berbahan perunggu di pergelangan tangan dan sepasang borgol serupa di pergelangan kaki. “Aku terima penghormatan itu,” Wikrama bergurau selagi rantai-rantai itu membelenggunya.
Saat itu Wikrama bertanya-tanya, prajurit Nusantara tersebar di sekitarnya, mengasah tombak-tombak berkarat, menggosok kuda-kuda hitam yang meringkik lapar, bahkan sekedar menghangatkan tubuh di dekat api unggun kecil. Dimana Nirmala? Benaknya teralihkan.
“Aku merindukan Nusantara, istana megah tempat mereka memenjarakan putri yang dikaruniai kecantikan melebihi adiknya,” cetus Wikrama menghina.
Sekar nampak tidak mempedulikan, selagi menunggu kudanya selesai makan dia sibuk mengasah tombak perunggunya. Wikrama berseru lagi, “Mungkin suatu saat, dengan tombak itu kau harus turun langsung dalam pertarungan arena jawara, Tuan putri.”
“Apa semua pasukan bulan purnama seberisik dirimu?”
“Mungkin cuma aku.”
“Diamlah! Atau aku akan memotong satu tanganmu!”
“Coba saja, mungkin lebih mudah buatku untuk mati.”
Sekar melempar tombaknya, dia sudah tidak tahan. “Kau ingin menguji kesabaranku? Aku bisa membunuhmu sekarang juga.”
“Kau tidak menginginkanku mati, itu sebabnya aku terlungkup hina, di atas kuda kotor itu,” cetusnya sambil menunjuk kuda Sekar, sementara sang kuda hanya mendengus malas.
“Ayahku yang menginginkan kau hidup, bukan aku,” dia kembali memungut tombaknya. “Menjijikan jika aku harus bersusah payah membawamu menuju istana. Aku lebih memilih menelusuri seluruh seluk beluk benua ini selamanya, sampai aku selesai membasmi sarang pemberontak-pemberontak itu.”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang Zamrud.”
“Perlukah? Benua ini tidak lain hanyalah tempat mereka bersujud di kaki ayahanda.”
“Sungguh putri bijak, kau mirip dengan ayahmu,” Wikrama tersenyum lugu. “Pantas saja dewa menurunkan kekuatan itu pada Nirmala, bukan putri jantan sepertimu.”
“Aku tidak membutuhkan kekuatan apa-apa! Kekuatan itu justru membuat Nirmala menjadi sesosok yang lemah, begitu payah dia sampai seorang tikus kotor mampu menculiknya!” jawabnya menggebu-gebu, membuat prajurit di sekitar mendengar diam-diam.
“Bukan hanya kekuatan, dia memiliki sesuatu yang lebih besar, lebih bercahaya darimu,” kata Wikrama menyeringai. “Bahkan sang raja dari semua raja tidak menyadarinya.”
“Apa?” dia bertanya, rasa penasarannya menyelinap di balik rautnya yang serius.
“Kepedulian hati, dan kebaikan hati.”
“Hanya omong kosong tikus busuk.”.
“Kau cemburu pada Nirmala, akuilah bahwa dia lebih istimewa darimu.”
Amarah mengusasi putri berwajah laki-laki itu, “Sekali lagi kau bicara, tombak ini akan menancap di mulutmu menembus dan melubangi perutmu sama seperti aku membunuh rusa-rusa di hutan sewaktu kecil.”
“Menyeramkan,” Wikrama tertawa mengejek. “Dagingnya pasti jadi tidak enak.”
Sekar mencabut belati yang menancap pada daging-daging mentah di dekat api unggun, langkahnya terdengar kasar. “Aku sudah tidak tahan dengan lelaki yang banyak bicara sepertimu... aku penasaran, jadi seperti apa rupamu tanpa bibir.”
Belatinya sudah dekat dengan wajah Wikrama saat Nirmala tiba dengan langkah mendayu. “Sekar, sudah! Kalau kau melukainya, aku tidak akan menepati janjiku!”
Senyum seringai menggeser bibir Sekar, “Pintar. Setidaknya bibir si tikus masih utuh untuk saat ini.” Dia kembali menjauhi Wikrama, dan mengasah kembali tombaknya yang panjang. Sepertinya darah beku menyulitkannya menggosok sang tombak.
“Janji?” Wikrama bertanya dalam bisik parau, dia tidak ingin memandang wajah Nirmala. “Kenapa kau tidak membiarkan wanita perkasa itu membunuhku seperti dia membunuh Wyat dan saudara sesumpahku.”
“Aku...”
“Baru menyadarinya Tuan putri, kebengisan prajurit ayah anda?”
Nirmala menyeka darah hangat yang menetes melalui hidung Wikrama. “Jangan mulai, kumohon... aku memiliki rencana.”
Wikrama menyipitkan mata. “Rencana?” dia bertanya untuk kedua kalinya.
Nirmala menoleh ke sekeliling memastikan prajurit dan Sekar tidak mendengar, sambil menyeka lembut dahi Wikrama dia berbisik, “Suara-suara itu menggema dalam benakku, mereka akan mengetahuinya Wikrama, kedatangan kita.”
Wikrama terbelalak, tetapi dia tidak bisa memperlihatkan keterkejutan itu di tengah-tengah sekawanan prajurit Nusantara.
“Demi dewa hutan, apa yang anda maksud siluman?” suara Wikrama terdengar cukup tinggi, membuat Nirmala harus menyekap mulutnya dengan kain basah. Setelah Nirmala memastikan Wikrama lebih tenang, dia melepas kainnya.
“Rencana itu sangat buruk Tuan putri.”
“Aku ingin perhatian mereka teralihkan pada siluman-siluman itu, di saat kesempatan tiba dan mereka lengah aku akan kabur bersamamu.”
“Kedengarannya mudah,” kemuraman menghampiri wajah Wikrama, “tapi rencana itu sangat berbahaya. Anda telah melihat kengerian Ahool, bahkan untuk siluman ini, kita tidak tahu sama sekali namanya, kelemahannya, bahkan wujudnya.”
__ADS_1
“Orang Bati, nama itu yang mereka sebut sewaktu aku mencoba meraih benak mereka,” sekali lagi Nirmala memastikan prajurit di sekitarnya tidak mendengar bisikannya. “Perlu dicoba, aku tidak rela membiarkan mereka membawamu menuju istana, aku tidak ingin, dan aku akan melakukan cara apa pun untuk menyelamatkanmu.”
Saat itu juga Wikrama merasa tenang, ada sensasi aneh yang dirasakan semenjak dia memandang Nirmala dengan cara yang berbeda. Rambut perunggunya semakin berkilau, lembayung wajahnya seolah membutakan Wikrama, membuatnya lupa akan rasa duka yang mendalam.
“Minggir,” Suara Sekar tiba bagai bunyi gong, memecah kecanggungan. “Kita berangkat sekarang.”
Prajurit-prajurit menyeret paksa Wikrama, menuntunnya menuju kuda Sekar. Dengan cepat Nirmala beranjak menuju kuda putih yang dia tambatkan di dekat pohon angsana tua, menjauhi kuda-kuda hitam milik prajurit.
Aku menantangmu sang penghuni kegelapan hutan.
Tubuh Nirmala bergetar sewaktu suara-suara bergema di dalam benaknya.
Ah... suara itu lagi! kau dengar suara itu? manusia sudah melupakan ketakutannya, kata salah satu suara siluman betina yang nyaring. Sensasi dingin menyeruak dalam benak Nirmala, melebihi gelombang Ahool.
Sejak kapan manusia bisa berbicara pada kita? Tanya siluman jantan satunya, ia memiliki suara yang lebih serak dan berat, nampaknya ia tidak menyukai ide Nirmala.
Siapa yang peduli? Manusia tetaplah manusia, tidak ada daging di dunia ini yang melebihi kelezatan rasa daging manusia. Apa kau ingat kapan terakhir kita mengunyah manusia? Ratusan tahun lalu.
Kau benar, daging mereka gurih, membuatku lapar saja. Tapi lihatlah, mereka menantang kami seakan mereka lebih hebat dari kami... sahut si jantan, suaranya terkesan menjijikkan. Nirmala merasa kepalanya berdenyut, tetapi dia belum selesai.
Bukankah kalian hanyalah makhluk kegelapan yang pengecut, menghabiskan waktu untuk makan dan bersembunyi, bahkan anak-anak kecil tahu bahwa kalian tidak sepadan dengan para cindaku, Nirmala menyadari kata-katanya akan memantik kemurkaan sang siluman.
Detik-detik selanjutnya siluman itu diam tak menjawab, hanya mengeluarkan auman mencekam. Bulu kuduk Nirmala meremang, napasnya mendesah berat dan peluh mulai membasahi dahinya.
“Cepat jalan, apa kau ingin menunggu hutan suram ini menjadi sebuah ladang dan kandang ternak?” desak Sekar.
“I-iya”
Nirmala memacu sang kuda putih dengan lambat. Sang kuda melaju gugup, bahkan untuk hewan terganas sekalipun, hutan itu tidaklah bersahabat. Semakin dalam mereka masuk semakin pengap hawa menyusup. Sulur-sulur pohon mulai terlihat ramai bergelantungan bagai sebuah tali tambang yang bergerak-gerak. Tidak ada langit biru, hanya ada gemersak tajuk rimbun dan hewan-hewan reptil yang diam mengawasi para sekumpulan manusia-manusia asing menapaki tanah mereka.
“Keparat! Hutan ini memuakkan!” cetus Sekar, mulai gelisah.
“Kau takut putri jantan?” Wikrama berpura-pura, meskipun dia sendiri merasa cemas.
“Simpan ocehanmu sampai kau mati nanti,” Sekar menanggapi dengan malas.
Seolah hanyut dalam lamunan, Nirmala tidak memperdulikan kata-kata Sekar. Kini suara sang siluman kembali datang, lebih parau, lebih dekat.
Apa kau mencium bau mereka? Sepuluh... lima puluh... lebih...
Kita akan kenyang, tapi jangan makan dengan berisik atau yang lainnya akan tahu! Aku mau menyantap mereka semua... kata siluman yang bersuara nyaring, suaranya seperti perempuan dalam kisah-kisah seram.
Serang... bunuh... makan... tunjukkan pada mereka...
Kali ini Nirmala tak mampu menahan gelombang suara itu. Perasaan muak, jijik, cemas, dan takut bercampur bagaikan pusaran air. Di atas kudanya dia hampir jatuh tak berdaya. Nirmala lalu muntah, membuat para prajurit termasuk Sekar menghentikan kudanya.
“Ada apa Nirmala?”
“Sebentar lagi,” sahut Wikrama menimpal. “Mereka akan tiba.”
Tak sempat putri berwajah keras itu bertanya, suara auman datang menggelegar. Seketika burung hantu dan burung-burung pemakan daging terbang menghambur keluar. Para hewan pengerat lari bersembunyi memasuki lubang-lubang sarang di tanah. Kuda-kuda prajurit meringkik ngeri, menendang-nendang udara seakan meminta mereka untuk pergi.
Berkali-kali prajurit mencoba menenangkan kuda mereka, tetapi lebih dari setengah kuda-kuda berbalik arah, menjatuhkan penunggangnya yang kebingungan.
Dua sosok mahluk itu tiba, meretakkan dahan-dahan pohon tua yang berukuran hampir sama dengan tubuh manusia. Ia bertengger pada ujung tajuk, mengkaitkan cakar bengkoknya ke kulit pohon seperti kait jangkar kapal. Kedua mahkluk itu memiliki sayap berwarna hitam segelap tinta, lebih gelap dan hitam dari kuda-kuda prajurit. Ekor panjangnya menjuntai seperti sulur raksasa, di tutupi bulu hitam tebal, bergerak melecur-lecut.
Wajahnya menyerupai kera, dengan taring kuning yang panjang melebihi dagu. Bola matanya merah menyala seperti darah yang dibanjiri terik matahari. Dari atas pohon mereka berdua mengamati, si betina memiliki ekor yang lebih pendek. Tanpa ragu ia melesat terbang meraung, menuju sekawanan prajurit yang berkumpul di bawahnya. Para Prajurit Nusantara mengacungkan tombaknya tinggi-tinggi ke arah langit, mengisi celah-celah sempit dengan posisi bertahan.
Sambil memekak, siluman itu menerjang sekumpulan prajurit, mencengkram dan membelah tubuh mereka dengan cakar bengkoknya. Para lelaki-lekaki mundur, dengan tangan gemetar mereka membiarkan tombaknya tetap teracung pada salah satu siluman betina yang melayang di udara. Dengan sekuat tenaga, prajurit melemparinya dengan tombak. Dua puluh tombak tembaga melayang bagaikan kilasan anak panah.
Namun siluman itu menghindari hujaman tombak dengan gesit, membuat tombak para prajurit terpancang pada kulit kasar pohon mahoni dan pinus. Wajah si prajurit melorot ketakutan ketika sadar serangannya sia-sia, kini mereka tidak menggenggam senjata apa pun.
Mereka berusaha kabur, tetapi sebelum bergerak satu hasta, siluman itu menerkam para penyerangnya dari arah depan. Meluluh lantahkan barisan-barisan prajurit. Tubuh malang prajurit terhempas membentur bebatuan kelabu, sebagian tersangkut pada sulur-sulur yang menggantung.
“Demi ayahanda! Sesungguhnya bencana apa yang menghampiri kita!”
Masih megap-megap Nirmala memacu kudanya mundur, memutar menjauhi sisi sang siluman. “Kalau kau mau mengenalnya, siluman itu menyebutkan dirinya Orang Bati.”
“Sejak awal kau tahu tentang mereka? Dan tidak memberi tahuku?”
“Ya.”
“Kau memang berniat menuntun kami pada kematian!”
“Aku memperlihatkanmu kengerian yang sudah pernah aku lihat sebelumnya, Sekar.”
“Terkutuk kau!”
Teriakan-teriakan prajurit menggema bersama dengan debum dahan-dahan pohon yang berjatuhan. Para prajurit menghambur, berlarian ke segala arah. Namun orang bati selalu mengendus bau mangsanya, ia terbang melesat mengejar dan meneror. Hanya dalam waktu yang sebentar, prajurit itu berguguran, hampir setengah sudah tewas tercabik. Noda darah terciprat memenuhi sudut-sudut pohon. Dalam jeda waktu itu juga kedua siluman itu berhenti terbang, memakan mayat-mayat segar prajurit.
“Mundur!” perintah Sekar, sambil menyaksikan kengerian itu. “Tinggalkan hutan ini!”
Perintah Sekar memancing perhatian siluman betina. Menyadari siluman itu terbang kearahnya, dia bergegas menarik tali pelana sang kuda, memacunya menuju kerumunan pohon rapat. Sekar lebih tangkas dari prajurit lainnya, upaya itu berhasil membuat Orang Bati kesulitan untuk menyerang.
“Lindungi! Lindungi putri raja!” teriak para prajurit.
Mereka tiba dari beberapa arah, menghalau laju terbang sang siluman. Rapatnya pohon membuat siluman itu kesulitan bermanuver, ia mengurungkan niatnya untuk terbang menerjang. Salah satu prajurit mengambil kesempatan dan melesat melompati akar-akar pohon menuju dahan yang tumbuh rendah. Dengan serangan yang lebih siap, prajurit itu mengambil kesempatan dan lompat ke tubuh orang bati, menusukkan tombaknya pada bagian punggung yang tidak terlindung.
Tusukan tombak menancap cukup dalam, memercikkan darah hitam pekat panas. Ia melecutkan ekor ketika para prajurit lain melompati tubuhnya lagi. Sambil meraung-raung kesakitan, ia terbang menukik, menghantam tubuh-tubuh prajurit yang terjatuh, melubangi tubuh prajurit dengan cakar bengkoknya. Seketika prajurit kehilangan keberanian dan berlari mencari ceruk-ceruk untuk bersembunyi.
“yang satu itu harus di bereskan!” kata Sekar tidak rela melihat para prajuritnya meregang nyawa. Dia memutar kudanya, dengan satu tarikan, kudanya berlari kencang.
__ADS_1
“Itu, bukan ide bijak putri jantan,” hardik Wikrama di belakangnya. Perutnya bergejolak sewaktu guncangan kuda menghantam badannya tanpa henti.
Sekar memantapkan lengan, satu bilah tombak perunggu panjang teracung sejajar dengan bidikannya pada dada kanan sang siluman. “Seharusnya satu tusukan di jantung sudah cukup!”
Reaksi siluman tampak lambat, begitu pula luka tusukan tombak di punggung membuatnya terbang canggung. Dalam beberapa detik ia terlambat menghindari laju tombak perunggu Sekar. Gadis perkasa itu melontarkan tombak menembus dada kanan Orang Bati. Siluman betina mengaum parau, menandai kematiannya dengan terbang berputar kehilangan arah. Sewaktu ia mati di udara, ia jatuh berdebam keras menghantam tajuk hutan. Pohon-pohon tumbang, menimbulkan bunyi getaran yang mengerikan, menghantarkan kematian siluman betina itu.
Para manusia biadab! Suara kemurkaan menggaung di benak Nirmala.
Orang Bati jantan menjerit marah. Lengkingannya berdenging di telinga, membuat langkah prajurit melambat. Sewaktu ia terbang melintasi langit-langit dengan jarak yang dekat, para prajurit berteriak ketakutan, menyumpah kasar dengan menyebut nama sang raja. Mereka menyerang membabi buta, nahas serangannya meleset, hanya mampu melukai udara.
Bunuh...! bunuh...!
Para kuda berlarian tak tentu arah, beberapa menuju ke arah yang lebih gelap. Namun, ada sepuluh kuda yang berhasil mengikuti laju kuda Nirmala dan Sekar. Meski mencoba sekuat tenaga, kuda-kuda tidak bisa melebihi kecepatan sang siluman. Akhirnya prajurit garis belakang menyerah, mereka berbalik arah menantang sang siluman.
“Makhluk busuk! Kau tidak akan membuat takut pengawal sang...”
Sebelum kalimat itu selesai, kepala prajurit itu telah mengisi rongga mulut sang orang bati. Dengan satu tarikan lambat, ia mencungkil kepala si prajurit dari tubuhnya. Kuda tanpa tuan itu meringkik ketakutan, bahkan sebelum ia meninggalkan mayat penunggangnya, cakar orang bati telah mengait tulang rusuk sang kuda. Ia mengangkatnya tinggi-tingi lalu melempar si kuda ke tanah. Seketika bunyi buk keras berdebam.
Kau lihat itu manusia? Ini adalah dampak kemurkaanku karena telah membunuh pasanganku!
Tersisa delapan kuda, mereka berlari maju, menembus semak belukar, menuju arah tepi tebing. Ringkik kuda-kuda mereka yang ketakutan menggema di udara pengap. Siluman terakhir merangsek datang di antara pasukan seperti angin puyuh.
Sekar berseru, “Tombakku... Aku tidak punya senjata lagi!”
“Bebaskan rantai ini, aku juga ingin bertempur!”
“Jangan coba-coba!” sahut Sri Sekar, sewaktu mereka berbelok menuju tepi jurang yang menurun landai.
“Apa ini termasuk dalam rencana anda?” tanya Wikrama ke arah Nirwala sewaktu kuda mereka sejajar.
“Tentu saja tidak!” sang putri menjawab, dia terlihat gusar, rambut perunggunya berkibar diterpa angin tebing.
Selagi mereka berjuang kabur, siluman itu muncul dari lembah. Terbang melesat dengan deru angin yang berdesing. Dua orang prajurit menyumpah ketika siluman itu berhasil melumpuhkan kaki kuda mereka, membuat hewan malang itu terjatuh berguling memutar menabrak kuda-kuda lain. Sekar kehilangan pegangan saat kudanya menjerit dan ambruk. Sementara Wikrama terpelanting membentur bebatuan di bibir tebing, sampai dalam momen mengerikan itu, rantainya tersangkut pada sebuah retakan celah tebing, membuatnya bergelantungan menghadap dasar jurang yang gelap.
Sekar kurang beruntung, kuda hitam miliknya menimpa kaki kanan dengan bunyi derak yang keras. Membuatnya terjepit, dia meronta-ronta berusaha menyingkirkan beban kuda, tetapi kuda itu tidak bergerak seinci pun.
“Tolong aku, kakiku.”
Melihat ketidak berdayaan mangsanya, Orang Bati memutar lagi di udara, dengan dengus suram, ia terbang melesat ke arah Sekar. Namun, dengan siap, tiga prajurit pengawal melompat dan menghunus tombak itu, tepat melukai sayap kiri Orang Bati.
Selaput membran sayapnya berlubang, darah sehitam tinta bercucuran merembes membasahi tanah. Ia mencoba terbang lagi tetapi ketika setengah melayang, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Siluman itu belum ingin berhenti. Tangannya yang panjang dan ceking mangais-ngais udara seperti laba-laba berjari, seolah tidak ingin kehilangan keseimbangan. Ia memekak keras, dan dalam gerakan cepat taringnya menghancurkan tengkorak salah satu prajurit.
Serangan itu kembali membuka sisi bawah orang bati, dua prajurit lainnya bergegas menghunus tombak itu ke arah paha. Mata tombak mereka menancap di sendi orang bati diiringi bunyi jleb berdaging. Orang Bati itu murka, berjuang mencabut tusukan tombak dengan taringnya. Namun, ia malah membuka lukanya lebih dalam dan membuatnya pincang.
Mati! Mati! Teriaknya menjerit. Nirmala terjatuh dari kudanya, dia tidak kuat lagi membendung suara berat yang menghamtam benaknya seperti dinding rubuh.
Sesudah itu, berbagai hal terjadi bersamaan. Nirmala merayap ke arah Wikrama yang masih bergelantungan di tepi jurang. Dengan napas yang terengah-engah dia meraih rantai Wikrama, menariknya menuju daratan.
“Ini sinting Tuan putri.”
“Kau masih ingin membahas itu? awas!”
Orang bati yang sudah kepayahan, berjalan terhuyung-huyung. Mengibaskan sayapnya yang lebar sebagai usaha untuk menakut-nakuti prajurit. Sementara gejolak frustasi merayap memenuhi Sekar, dia mencabut belati di pinggangnya. Dengan kepalan tangan yang bergetar hebat, dia mengiris kaki kanannya, sambil mengejang dan berteriak. Butuh usaha yang luar biasa hingga pada akhirnya kakinya putus dan dia berhasil melepaskan diri dari beban mayat si kuda.
Dua prajurit itu terdesak ke pinggir tebing, sewaktu orang bati itu menggiringnya dengan langkah terhuyung. Mereka menggenggam belati dengan canggung di tangannya, perlahan mereka mencoba mundur tetapi semakin mundur mereka melangkah, dasar jurang yang gelap semakin menanti.
“Bebaskan! Bebaskan rantai ini putri jantan!” kata Wikrama sambil mengulurkan kedua lengannya.
Sekar sedang mengerang sambil memegangi kaki kanannya yang buntung, dia tidak sanggup menanggapi. Sakitnya terasa luar biasa seakan luka itu membakar dagingnya. “Di belatiku... putar gagangnya...”
Wikrama berderap dengan langkah melompat-lompat. Perasaan mual datang sewaktu dia melihat potongan kaki Sekar masih terselip di balik punggung mayat kuda Sekar. Dengan cepat dia meraih belati Sekar, memutar gagangnya hingga terlepas, mata belati satunya membentuk sebuah gerigi kunci yang rumit. Ketika kedua belenggu rantai itu terlepas dari kaki dan tangannya, Wikrama berlari menerjang mayat kuda-kuda dan prajurit.
Dia meraih tombak yang terbaring di tanah, dan melesat dengan langkah kijang. Dengan satu lompatan tinggi, dia menusuk punggung orang bati itu, menembus jantungnya sampai mata tombak itu mencuat dari sisi tubuh depan orang bati.
Siluman itu merengek, menjerit dan memekak keras. Langkahnya nampak goyah, bergerak terhuyung-huyung. Dua prajurit itu kurang beruntung. Orang bati yang telah kehilangan nyawa itu roboh ke dasar jurang menimpa kedua prajurit. Mereka jatuh bersama-sama dan hilang dalam gelapnya dasar jurang. Setelah beberapa detik, hanya suara deras air sungai dan hembusan angin yang terdengar.
Wikrama menoleh ke tempat Nirmala membalut luka dan mengikat luka buntung Sekar dengan kain selendang dari mayat prajurit. Darahnya terus menetes tiada henti seperi kran air.
Wajah Sekar nampat pucat, “Aku... tidak akan selamat.”
“Belum,” kata Nirmala menggopoh adiknya menuju kuda putih, membantunya naik, lalu dia menyusul menaiki kuda itu, memeluk Sekar dari belakang, untuk menjaganya tetap duduk.
“Dia benar Tuan putri, sebuah ksatria tanpa satu kaki bukanlah ksatria,” Wikrama mendekati mereka.
“Bawa Sekar menuju Wangsa, tabib-tabib akan melakukan sesuatu.”
“Membawa seseorang yang membunuh Wyat dan saudara sesumpah,” kata Wikrama mengerutkan kening, ketika melihat darah Sekar membanjiri tubuh kuda putih miliknya. “Anda pasti tahu, apa jadinya jika anda membawa Sekar menuju Wangsa.”
“Kalian semua yang membawa takdir kematian itu pada diri kalian!” Nirmala bersikeras, membuat Wikrama terkejut. “Wyat, para pendekar, dan para prajurit, mereka gugur membela harga diri kalian sendiri. Tapi Sekar belum mati, dan aku ingin menyelamatkannya, seperti aku ingin menyelamatkanmu Wikrama.”
Wikrama merasa begitu letih, tetapi dia tidak bisa mengelak lagi, dan dia tidak ingin berdebat dalam situasi itu. Dia menaiki kuda putih miliknya, mengusap lembut leher sang sang kuda, sembari bersyukur pada dewa-dewa keberuntungan bahwa sang betina putih itu masih selamat sampai saat ini.
Sewaktu mereka berderap menuruni tebing dengan kecepatan tinggi, Sekar berkata dalam suara pelan, “Jadi... pada bulan purnama... hatimu berlabuh... Nirmala....”
Sejenak dia tidak menjawab. Jemarinya yang lembut mengusap-usap dahi Sekar, benaknya melayang pada kenangan-kenangan kecil sewaktu Sekar terluka saat berburu dan dia menangis memeluk dirinya. Sepuluh tahun yang lalu...
Dengan suara lembut berbisik, Nirmala menjawab, “Hatiku tidak untuk Nusantara ataupun bulan purnama... Hatiku... untuk Wikrama.”
***
__ADS_1