Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Nirmala


__ADS_3

Seorang anak laki-laki itu akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Nirmala. Nirmala menoleh dengan lembut dan tersenyum, sesekali ia melayangkan sapaan padanya, tetapi anak itu memalingkan wajah tidak ingin menatapnya langsung. Dia tidak ingin membuat anak itu takut. Nirmala mencoba berjalan menjauhinya menuju tepi sungai.


            Nirmala sudah menyadari kehadiran anak-anak itu semenjak tiba di gapura desa. Kala  perdebatannya dengan Wyat tadi pagi dimenangkannya, Nirmala berhasil membujuk Wyat untuk mengizinkannya pergi ke tepi sungai. Dengan alasan kehormatan, Wyat bersedia menunggu di dekat gapura Desa Wangsa, lagipula Nirmala tidak berniat untuk kabur.


            Dia merindukan air jernih untuk mebasuh wajahnya yang terasa berminyak. Biasanya dalam istana, setiap pagi para dayang akan memandikannya dalam kolam megah berbahan perunggu dengan ukiran-ukiran kuda perang. Bermacam-macam kembang ditabur untuk wewangian. Nirmala rindu air hangat dalam istananya sekalipun dia merasa bosan dengan rutinitas itu.


            Setelah membasuh wajahnya dua kali, Nirmala merasa lebih segar. Setidaknya kerinduannya pada istana terbayar dengan salah satu impiannya untuk menikmati gemercik sungai-sungai dan air pegunungan murni di luar istana. Di sini dia tidak perlu berjalan layaknya putri raja, kenyataan itu seolah melepas rantai-rantai belenggu dalam tubuhnya.


Wangi tubuh Nirmala sudah memudar, bahkan itu membuatnya merasa lebih bebas dan alami. Nirmala lalu melepas tali sanggul di rambutnya hingga rambut perunggunya tergerai sampai punggung dan tertiup angin bagai perunggu cair.


            “Rambut Tuan Putri, indah sekali,” kata bocah laki-laki di belakangnya.


            Nirmala hampir terlonjak kaget, tetapi dia merasa senang karena akhirnya sang anak bersuara menyapanya.


            “Kau menyukainya?”


            Wajah anak itu memerah, dia memalingkan wajah. Namun, setelah beberapa saat dia menoleh lagi pada Nirmala.


“Suka. Rambutku kotor, dan kusut,” si anak menjawab sambil memperlihatkan rambut ikalnya dengan jemari bagai menyisir.


            “Mungkin rambutku juga akan kotor dan kusut, tapi tidak masalah, aku tetap menyukainya, biar nanti kita punya rambut yang sama.”


            Si anak kecil itu akhirnya tersenyum, gigi ompongnya nampak jelas. Tidak lama anak itu diam lagi, memandang Nirmala malu-malu.


            “Berapa umurmu?” tanya lembut Nirmala mendekati anak itu dan mencoba mencairkan suasana. Dia duduk bersimpu yang justru membuat anak itu semakin terlihat kaku.


            “Sepuluh.”


Mata anak itu bertatapan dengan mata perunggu Nirmala, membuatnya terkesima. “Tu-Tuan Putri sangat cantik.”


            Wajah Nirmala memerah, Nirmala membalas senyum dan bertutur, “kau pintar memuji ya... Kalau aku cantik, lalu kenapa takut padaku?”


“Aku tidak takut. Mereka yang takut,” kata anak itu sembari menunjuk satu pohon pinus berlumut. Di baliknya ada dua orang anak yang berusia lebih muda sedang mengintip.  Seorang laki-laki dan perempuan. “Adik-adikku, yang laki-laki umurnya delapan tahun, yang perempuan itu enam.”


“Kalau Tuan Putri?” si anak tersipu kaku.


“Aku?” tanya Nirmala dengan nada mendayu. “Tujuh belas.”


Nirmala lalu melambai pada anak-anak yang bersembunyi, yang dibalas senyum bisikan gembira. Dua orang anak itu keluar dari balik pohon, berlari merayap dan bersembunyi di balik sang kakak.


“Lihat, mereka ketakutan kan,” kata si anak lelaki tertua, dia tertawa lagi. Gigi ompongnya membuat Nirmala tergelitik, tapi dia merasa sangat bahagia.


“Siapa nama kalian adik-adik kecil?”


Mereka bertiga berbisik-bisik.


“Aku Damar,” kata kakak tertua. “yang ini Arka, dan dia si bungsu, Naya.”


Naya si bungsu mengamati Nirmala dengan sorot penuh kekaguman dari balik pinggang Damar. Naya pun memberanikan bertanya, “Kenapa mata dan rambut Tuan Putri berwarna perunggu?”


Nirmala menengadah ke arah langit, mencoba mencari jawaban. “Mungkin dewa ingin rambutku sewarna ini.”


“Apa dewa itu jahat?” bisik Naya penasaran, dia bertanya pada sang kakak.


“Dia jahat!” sahut Arka.


“Itu kata paman-paman di desa,” Damar kini menjelaskan.

__ADS_1


“Aku pun tidak bisa menilai jahat atau baik,” Nirmala mencoba tersenyum, mata perunggunya berkaca-kaca. Nirmala menerka paman yang dimaksud adalah para petani atau penduduk desa, karena anak itu masih sepolos kertas putih, kebencian bisa ditorehkan melalui tinta-tinta kisah penuh dendam. “Apa yang paman itu katakan tentang dewa?”


“Pembunuh!” tukas Arka. “Bapak kami di bunuh dewa, itu kata mereka!”


“Tuan Putri juga pembunuh?” Naya bertanya lagi dengan polosnya.


Senyum Nirmala mengendur, “bukan, aku tidak pernah membunuh siapa pun, tapi aku bisa menari.”


Ketiga anak-anak itu terperangah, sampai Arka diam-diam menaruh minat.


“Aku percaya, Tuan Wikrama bilang Tuan Putri bukan orang jahat, karena yang jahat itu siluman bukan dewa,” kata Damar.


Nirmala merasa riang tapi heran, “siluman?”


“Bukan kak!” sahut Arka tidak menyetujui sang kakak. “Siluman jahat karena dia lapar! dewa jahat karena...,” suara Arka terhenti seolah mencari jawaban yang tepat, tetapi bocah itu kebingungan. Dia akhirnya meneruskan kata-kata yang terlintas seadanya,  “karena memang jahat!”


“Siluman... Kambing hilang! Sapi hilang! Hanya ada bercak darah,” kata Damar sambil memperagakan hewan-hewan itu lenyap dari kepalan tangannya. Adik-adiknya bergidik ngeri. “Orang dewasa bilang, hewan ternak dimakan siluman.”


“Sungguh mengerikan, apa kalian pernah melihatnya?”


“Tidak, pendekar-pendekar kuat selalu menjaga rumah-rumah tempatku tidur bersama adik-adik,” kini Damar memperagakan posisi berjaga para pendekar.


“Aku pernah lihat bayangannya kak! Mereka terbang!” Naya berbisik, tapi bisikannya terdengar cukup jelas di telinga Nirmala.


“Sst... diam, jangan di beritahu!” bisik Damar.


“Kenapa aku tidak boleh tahu?” Nirmala berpura-pura polos.


“Karena hanya sang dewa yang mampu memerintahkan siluman kembali ke sarangnya,” suara itu datang dalam irama yang berbeda dan tegas. Dia adalah Wyat, datang bersama dua pendekar pengawal.


“Apa maksud perkataan anak-anak itu?”


“Keadaan kami di desa ini juga tidak dalam keadaan baik Tuan Putri. Ikut hamba, Tuan Wikrama ingin anda menghadiri pertemuan penting.”


Nirmala berdiri gugup, dia lalu mengangguk. “Apa tentang siluman?”


“Benar.”


Mereka berjalan kembali menuju jalan utama. Nirmala merasakan tatapan penduduk yang jauh lebih menekan sejak terakhir dia melewati jalan di desa. Seolah kebencian itu semakin bertambah setiap menitnya. Nenek-nenek tua tidak hentinya meludah ke arah tanah ketika Nirmala berpapasan. Tindakan itu membuat Nirmala sedih. Hatinya perih tetapi dia hanya pasrah, menanggung beban kebencian di punggungnya yang bahkan tidak dia perbuat.


Nirmala tiba di depan balai panggung yang berbentuk persegi panjang. Terbuat dari papan-papan kayu nangka, di tengahnya berkumpul beberapa orang pendekar yang duduk bersila membundar saling bertatapan.


Wyat memberi salam pada Wikrama, setelah itu Wikrama mempersilakan Wyat untuk menempati tempat kosong di belakangnya. Nirmala berdiri canggung, menyadari ketidak nyamanan Nirmala, Wikrama mencairkan suasana.


“Tuan Putri selamat datang, silakan menempati tempat di sana,” sapanya sambil tersenyum. Kali ini rambut wikrama di kuncir seperti ekor kuda.


Nirmala berjalan layaknya Tuan Putri, tetapi begitu Nirmala menempati tempat kosong, para pendekar menjauhinya, seakan kehadirannya tidak diinginkan. Nirmala bergidik ngeri sewaktu melihat seorang pendekar bertubuh kekar. Janggut keritingnya dikuncir melingkar sampai menutupi jakunnya. Wajahnya nampak tegas dengan sorot matanya sekeras batu.


“Sampe sekarang aku masih tidak menginginkan keberadaan Putri pembantai, bagaimana jika rencana itu gagal dan dia mengkhianati kita?” cetus seorang pendekar bertubuh kekar.


“Mahda sang bulan purnama terkuat,” Wikrama menyebut nama sang pendekar. “Suka atau tidak, dia harus di sini. Aku mengerti perasaan kalian seperti aku memikul beban-beban desa ini dengan tulus. Keputusan itu sudah dibuat, aku tidak menghakimi beberapa pertentangan kalian. Aku percaya kesetiaan kalian melebihi kesetiaan seluruh raja-raja di Zamrud. Perang ini semakin membawa kita menuju kegelapan, musuh kita bukan hanya Mahardhika seorang, tapi sesuatu yang lebih kelam dan busuk.”


“Apa ini tentang siluman?” celetuk Nirmala.


Perkataan itu sontak menuai reaksi beragam dari para hadirin di dalam balai.


“Bagaimana Tuan Putri...,” sebelum Wikrama menyelesaikan pertanyaannya, Wyat membisiki Wikrama.

__ADS_1


Wikrama menghela napas, “Anda benar Tuan Putri. Semenjak cindaku tidak lagi menjaga daratan kita beberapa tahun ini, keberadaan siluman mulai diperhitungkan adanya. Para siluman menjadi musuh yang menunggu di balik kegelapan benua, menunggu hingga musuh-musuhnya binasa dan akhirnya muncul ke permukaan. Kebanyakan dari mereka memangsa manusia. Meskipun sifatnya bukanlah sebuah penaklukan, tetap saja dia menjadi ancaman.”


“Sudah sejak tiga bulan ini teror itu mulai berlangsung di daerah Hutan Mustika Raja, dan sekarang menghampiri desa kami. Ternak-ternak menghilang setiap minggu, para penduduk semakin takut berburu dan merasa tidak aman, mungkin saat ini korban mereka hanya ternak, tapi aku khawatir rasa lapar mereka akan bertambah lebih dan lebih.”


“Apa hubungannya denganku? Aku tidak bisa bertempur,” jawab Nirmala, dia mencoba menerka keinginan Wikrama. “Apa jangan-jangan kalian ingin menebus keamanan kalian dengan nyawaku?”


“Tuan Putri, jangan cepat berkesimpulan,” sahut Wyat, nadanya tegas seperti biasa.


Tangan Wikrama menepuk paha Wyat, mengisyatkan dia untuk tenang, Wikrama lalu berkata, “sejak awal kami tidak berniat seperti itu, ada cara lain yang bisa dilakukan oleh manusia berdarah dewa selain harus bertempur.”


Nirmala bertanya-tanya, tetapi dia hanya diam, menolak untuk bersuara.


“Anda mampu berkomunikasi dengan para siluman.”


Nirmala terbelalak, dia mencoba mencerna perkataan itu. Semakin lama dia semakin pusing. Nirmala menyadari raut Wikrama berubah menjadi sangat serius.


“Keturunan dewa memiliki berkah yang tertinggi dalam sejarah peradaban ini. Sejak dulu para manusia tidak pernah saling memahami tentang pemikiran siluman. Manusia hanya berkomunikasi dengan siluman melalui tumpah darah, begitu pun kaum leluhurku. Cindaku tidak bisa berbicara dengan siluman, sehingga mereka hanya membuatnya bersembunyi dengan cakar dan taringnya.”


“Tapi anda akan menjadi jembatan kami, anda bisa memasuki benak pikiran siluman, mengetahui apa tujuannya, hasratnya, hingga berkomunikasi dengannya, bahkan anda dapat menuntun kami ke sarangnya jika memang itu harus dilakukan.”


Nirmala memundurkan tubuh, dia mulai berkeringat, “Aku tidak bisa berbicara dengan siluman, selama di istana aku tidak pernah mendengar suara apa pun selain tembang-tembang gamelan dan suara para dayangku.”


“Soal itu, aku menduga hal yang sama mengerikannya,” ujar Wikrama, tangannya mengepal erat. “Ada kemungkinan Mahardhika telah bersekutu dengan para siluman.”


“Tidak mungkin!” Nirmala menggeleng.


Wikrama merasa kata-katanya bagai belati, dia sedikit menyesal, “itu hanya dugaan, tapi aku merasakan firasat buruk tentang itu.”


“Firasat Tuan muda sering tepat,” Wikrama meyakinkan.


“Aku benci menduga-duga, sekalipun dugaan selalu datang bagai kereta kuda tiada henti dalam benakku,” kata-kata itu terhenti sejenak. Wikrama memandang Nirmala dengan kepala merendah, dia melanjutkan, “Kumohon, Tuan Putri harus membantu kami.”


“Aku menolak,” Nirmala menunduk sopan. “Kalian membenciku seperti kalian membenci ayahku, kalian menculikku dan membawaku untuk masalah kalian. Aku tidak ingin berbicara dengan siluman. Oh! Mungkin itu cara licik kalian untuk menukar nyawaku demi ketentraman kalian. Sungguh aku merindukan istanaku yang megah,” Nirmala berdusta, suasana hatinya bagai hujan badai.


“Kurang ajar! Kau dengar Tuan muda, dia hanya putri manja yang tidak berguna!” raung Mahda sambil menggebrak lantai kayu balai, seketika ruangan balai seakan bergetar.


“Kalian bebas mencaciku,” Nirmala tidak tahan, air matanya menetes. Dia lalu bangkit dan pergi, meninggalkan balai.


Wyat berdiri untuk mengejar, tetapi Wikrama dengan sigap menahan Wyat. “Jangan, mungkin ini terlalu cepat baginya, kita harus bersabar.”


Pernyataan itu seolah mengambang di udara.


“Bagaimana jika Putri Nirmala kabur?”


“Demi para leluhurku, Nirmala seorang yang baik hati. Aku bisa merasakan dari sorot matanya,” dia meminta Wyat kembali duduk. “Kalau memang Nirmala memutuskan untuk pergi, maka izinkan dia untuk pergi. Namun sayangnya, itu tidak akan terjadi, kebaikan hatinya akan menuntunnya kembali pada kita.”


Wikrama memaklumi rasa kecewa yang nampak dari  mimik wajah para pendekar dan Wyat.


“Wyat... Apa kau menyadari ketakutan terbesar Mahardhika selain kekuatan dewa yang menurun padanya?”


“Apa itu Tuan?”


“Aku dapat melihat gambaran itu Wyat.  Ketakutan, kekhawatiran, bahkan kecemasan sang raja bengis,” Wikrama tersenyum tipis. “Mahardhika... dia takut kebaikan yang tumbuh dalam hati Nirmala kelak menjadi keris tajam yang menusuk jantungnya.”


 


***

__ADS_1


__ADS_2