Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Ruswara


__ADS_3

Lantai itu terasa lembab dan becek berbau pesing. Tidak ada jendela, ranjang, bahkan ******. Dia ingat tempat ini, sewaktu pengkhianat-pengkhianat dan pelaku dosa meringkuk mengisi setiap ruangan-ruangan dengan wajah muram. Mpu Moro pernah mengatakan padanya sewaktu Ruswara masih setinggi lutut sang ratu, ‘bahkan penjahat terkejam sekalipun benci dikurung dalam tempat ini, mereka memilih mati.’


            Sekarang prajurit-prajurit di istananya sendiri yang mendorongnya ke dalam. Begitu pintu dibanting menutup, dia melihat cahaya remang terpancar dari sebuah lilin yang mengantung di dinding. Kakinya berdenyut setiap dia melangkah pada lantai batu becek yang terasa lengket. Di dalam ruangan itu, tujuh orang meringkuk, dua di antaranya terbaring dengan tubuh membengkok karena terlalu sempit.


            Penjara bawah ini berada di bawah Kedaton Tarlingga, lebih dalam dan perlu menuruni bepuluh-puluh anak tangga untuk sampai. Kisah-kisah tentang masa lalu penjara ini mulai menjalar dalam otaknya. Pembunuh, penentang, penyihir, dan mungkin orang tidak bersalah pernah terbaring dan bahkan mati di penjara ini.


            Beberapa orang mengedarkan pandang heran, sambil mengangkat tangannya gemetar, mereka berkata, “Mahamantri Ruswara, andakah itu?”


            “Demi dewa keadilan, apa gerangan yang membuat tuan-tuan terkurung dalam penjara hina ini?”


            Selama beberapa saat, pertanyaan itu seolah mengambang di langit-langit penjara.  Satu orang mulai merengek sambil terisak-isak.


            “Tuan Mahendra, memfitnah kami.”


            “Kami bukan pengkhianat.” Sahut yang lain menimpali.


            Ruswara mengepalkan tangan, dia mengutuk Mahendra dan prajurit-prajurit pengawalnya. Dalam emosi yang meluap-luap, Ruswara meninju lantai batu penjara, seketika tangannya berdenyut dan membuatnya menyesali tindakan itu.


            “Bagaimana kondisi kalian sekarang?”


            “Kami takut Tuan,” kata seorang yang menangis terisak-isak.


            “Bebaskan kami Tuan, kumohon, kumohon,” kata yang lainnya.


Dua orang mulai merayap lemas memeluk kaki Ruswara. Pemandangan itu membuat jantung Ruswara bagai tertusuk belati.


            “Ketahuilah bahwa kakakku yang sinting pun mengurungku di sini,” dia bertutur lembut, lalu menunjuk tiga orang yang berbaring di sudut. “Bagaimana dengan kondisi mereka?”


            “Kami..., tidak tahu mahamantri, mereka tidak menjawab apa pun,” kata orang itu kini duduk terlungkup.


            Mati... mereka mati...


            “Maafkan jika kehadiranku seolah memberi harapan pada kalian, saat ini aku pun sama seperti kalian. Mahendra memasukanku ke dalam penjara ini dan mengambil alih kekuasaan Tarlingga dengan cara kotor,” katanya lirih, membuat para tahanan itu kecewa dan beringsut menekuk. “Semoga dewa-dewa langit memberi kalian kebahagiaan di kahyangan kelak.”


            Wajah Mahendra mengambang di depannya dalam keremangan ruangan. Dengus kakaknya nampak jelas sewaktu kilasan kejadian di kamar sang raja terbersit kembali, dengan cara hina dia tega berbohong di hadapan jenazah ayahnya. “Mengklaim takhtamu dengan cara kotor, kakak brengsek. Apa yang kau inginkan dari ambisi tolol itu,” dia berbisik.


Ketika memikirkan nasib Tarlingga kedepan, dengan enggan ia akan menangis, tapi air matanya tertahan oleh semerbak anyir para tahanan yang sudah tiada. Dia adalah Ruswara putra Sanjaya, yang seharusnya menjadi pewaris takhta Tarlingga, kesempatannya untuk memperbaiki segala gejolak politik di negerinya harus kandas.


Dia mencoba bersandar pada sudut dekat pintu, kakinya tidak bisa benar-benar lurus karena terhalang tahanan yang juga saling berdempet. Ruswara berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi gerakan. Entah sudah berapa lama. Tiada siang dan malam yang terlihat. Lilin-lilin semakin menipis, cahayanya berdenyut pelan. Ruswara memejam mata, dia tidur lalu bangun, dan tidur lagi. Berdiri untuk meregangkan tubuh atau sekedar menguping pada pintu kayu yang tebal. Tapi tidak ada bunyi langkah kaki seorang pun yang menghampiri penjara itu.


Merasa putus asa dia tertidur lagi, sebuah mimpi gelap mengerikan datang. Gurun pasir tandus sewarna senja berubah merah, menjadi lautan darah yang kental. Dia berada di tengah-tengah mimpinya menyaksikan kengerian yang lebih parah, dari dalam lautan merah itu muncul sosok-sosok manusia mati bertanduk, berwajah gelap bermata putih pucat. Mereka menatapnya dengan beringas dan kaku.


Ruswara terperangah, terjebak dan dia ingin lari. Dari tempat yang jauh kejadian yang lebih mencekam muncul. Sebuah telur besar berselaput membran dengan urat nadi berdenyut mencuat dari dalam lautan. Dalam beberapa saat selaput membran itu sobek, sebuah jari-jari ceking berwarna merah dengan kuku-kuku panjang berwarna hitam mengais keluar. Makhluk yang lebih besar itu keluar seutuhnya seperti bayi dewasa yang menetas dari telur. Dengan tatapan malas ia memandang Ruswara, berderap mendekatinya. Para pengikutnya mendekap ruswara dengan suara geraman orang mati, dia tidak bisa lari atau menghindar seolah lautan itu sendiri menjadi tangan yang mencengkram kakinya.


Seketika kuku makhluk itu menusuk badan Ruswara, menembus beberapa senti kulitnya. Ruwara tidak bergeming, tapi sensasi kering menyeruak datang seperti badai gurun yang berputar menghampirinya. Kulit-kulit di sekitar tusukan kuku itu terasa dingin, seketika berubah mengering seperti mayat, dirasakannya kehidupannya seolah terhisap oleh kuku-kuku hitam yang tajam. Tubuhnya menjadi sekurus mumi, daging-dagingnya menyusut dan dia berteriak sekencang-kencangnya.


Banaspati...


Saat terjaga para tahanan memandangnya ketakutan. Membayangkan mimpinya tadi membuatnya enggan terperangkap lebih lama. Dia bangun, mengedor-gedor pintu kayu ulin itu, menyebut dan memaki nama Mahendra. Namun, hanya kekosongan yang menjawab.


Jam berganti hari dan terus berganti. Dia dapat merasakan kulitnya kebas, dan mati rasa. Bau bangkai semakin semerbak memenuhi ruangan. Mereka tidak makan dan juga minum, kematian lima orang itu sungguh tragis, berpulang di dalam dinding penjara yang kokoh, tanpa sanak saudara yang menghantar napas terakhirnya. Setelah beberapa waktu, dia mulai bicara keras-keras, membangun sebuah negeri subur dan harapan-harapan lainnya dalam gelap. Lima hari... tidak mungkin enam hari berlalu...


Dia bertanya-tanya, dimana ibunya berada? Apa yang dilakukan Welino? Bagaimana dengan Pancha? Para prajurit itu pasti sudah menemukannya dan menghukum mati Pancha. Apakah dia akan menemui mereka lagi, apakah mereka masih peduli padanya, dia kembali bertanya.


“Bunuh aku... Tuan... aku tidak sanggup...,” rintih seorang tahanan.


“Bertahan, bertahanlah, harapan selalu ada,” kata Ruswara mengusap-ngusap orang itu, dia menerka usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Namun, tidak lama wajah orang itu terlungkup menghadap lantai, dan suara napasnya hilang, hanya suara napasnya sendiri yang Ruswara dengar kala itu.


Ruswara mendapati dirinya semakin sinting. Dia mendengar tawanya dalam kegelapan, berbicara pada dirinya sendiri, memaki dan menyumpah. Aku mengecewakan kalian rakyatku, ibunda, ayahanda, para leluhurku.


Ruswara setengah tidur ketika terdengar langkah kaki di lorong. Awalnya dia pikir seorang dewa maut datang menjemputnya. Seharusnya ini giliran dia mati, setelah dia menyadari tidak ada nyawa yang tersisa di dalam penjara itu selain dirinya. Ruswara demam, bibirnya sekering kertas dan pecah-pecah. Tubuhnya semakin kurus dan kurang gizi. Sewaktu pintu berderit terbuka, cahaya lentera menyusup masuk seperti fajar cerah yang menusuk matanya.


“Demi para raja-raja Tarlingga, Mahamantri,” suara orang itu terdengar lirih. Pipinya di tumbuhi pangkal janggut berwarna hitam bercampur putih. Ketegasan wajahnya hilang menjadi raut iba dan kerut.


Ruswara butuh waktu lama untuk mengenalinya, dengan sorot linglung dia menyebut satu nama, “Welino...”


Welino menyorongkan sebuah kendi. Ruswara menyambarnya dengan kedua tangan dan menegak air itu dengan bernafsu. “Malam ini kami akan membebaskan anda.”


“Kami...?” tanyanya lemah saat dia mendapati kendi itu sudah kosong.


“Aku dan Ratu,” dia menggopoh Ruswara dan berjalan dengan langkah cepat. Cara itu membuat kaki Ruswara terseret tak bertenaga, kukunya terasa ngilu sewaktu harus menahan deritan lantai batu yang kasar. “Maaf kalau ini menyakitkan, tapi aku tidak mempunyai banyak waktu, Mahamantri.”


Tangga-tangga itu terasa menyiksa bagi Ruswara. Satu-persatu anak tangga dia pijak dengan rasa sakit, sendinya terasa ngilu sewaktu langkah kaki memaksanya untuk menapak. Setelah mereka tiba di sebuah pintu setengah membundar, Ruswara mendapati sang ratu telah menunggunya, raut cemas terpancar dari wajahnya yang nampak tua.


“Demi darah dagingku, anakku,” dia memeluknya, tangisan pecah membasahi bahu Ruswara. Di dekat pintu, dua orang prajurit sudah terkapar menghadap lantai batu, entah pingsan atau mati Ruswara tidak peduli.


“Jadi ini pemberontakan untukku, ibunda maaf jika harus menemuimu dengan keadaan seperti ini. Mahendra..., dia berdusta ibunda.”


“Sudah nak sudah,” ucap sang ratu sambil terisak pilu. “Satu hal yang kuinginkan saat ini adalah tidak pernah melihatmu menjadi seperti ini anakku, ibu mempercayaimu, tapi ibu tidak bisa menahan kesintingan kakakmu.”


Dia memeluknya semakin erat, hatinya seketika remuk, air matanya semakin membanjiri rubuh Ruswara.


“Baginda, tidak ada waktu,” Welino menggeleng enggan memisahkan momen haru itu.

__ADS_1


Sambil terisak dengan wajah penuh air mata dan ingus, sang ratu mengangguk. Dengan enggan mereka  berjalan menyusuri lorong istana menuju sisi halaman yang dibatasi pilar-pilar berstruktur kuno berbahan bata oranye dengan langkah gugup. Welino mempimpin di depan, dia mengamati setiap sudut-sudut istana dan memastikan tidak ada prajurit yang melihat keberadaan mereka. Setelah perjalanan selama hampir lima belas menit menyusuri lorong istana. Mereka sampai di sisi halaman, nampak sekelompok prajurit berjaga sambil bergurau meminum kendi tuak.


Sang ratu dan Welino balas pandang, seolah ada sebuah rencana telah dipersiapkan dengan matang pada malam itu. Dalam jeda waktu singkat mereka mengangguk. Ratu Dyah berjalan terhuyung memasuki halaman, dengan hati-hati dia memainkan peran, di bawah taburan bintang tak berawan. Seketika kedatangannya memancing perhatian para prajurit.


“Baginda, apa yang anda lakukan di halaman tengah malam bolong seperti ini? Anda harus beristirahat,” kata salah seorang prajurit penjaga.


Dengan langkah tertatih, sang ratu bergerak menuju batang-batang aren, dia lalu menahan tubuhnya dengan satu tangan dan berkata, “Terkutuk kalian, aku masih berduka tentang suamiku.” Tak lama sang ratu menjatuhkan dirinya ke pasir.


“Demi ratuku, anda baik-baik saja?”


Beberapa prajurit tergopoh-gopoh berlari menuju sang ratu. Sepertinya sandiwara sang ratu berhasil memancing perhatian para penjaga lainnya dari gerbang istana.


“Apa yang kalian perbuat pada sang ratu?” kata prajurit lainnya mulai datang membaur.


“Demi para dewa gurun, kami tidak melakukan apa-apa, sang ratu terlihat sakit dan terjatuh.”


“Cepat bawakan tandu!” kata sang pengawal memerintah dayang-dayang yang mengintip dari balik jendela-jendela kedaton.


Sementara di sisi lainnya, Welino dan Satria berhasil mengendap-ngendap. Melalui sisi Timur mereka menyelinap di balik arca-arca Dewi Sri Sandhana, menuruni undakan berbahan batuan andesit menuju ke arah gapura kedaton.


“Apa ini sudah di rencanakan?” bisik Ruswara, kakinya sudah tak sanggup melangkah sampai-sampai Welino harus memikul tubuh Ruswara.


“Sudah Tuan, Mpu Moro sepakat untuk mendiskusikannya dengan ratu. Sayangnya Beliau terlalu tua untuk melakukan rencana ini, jadi aku diikut sertakan.”


“Bagaimana Mahendra?”


“Mpu Moro memberi ramuan tidur dalam cawan tuaknya, seharusnya dia sedang tertidur.”


“Mahendra, dia berdusta,” Ruswara meringis.


“Aku mempercayaimu Tuan.”


“Aku mengatakan sungguh-sungguh! Dia berdusta, di depan tubuh ayahanda!” cetus Ruswara meluap-luap, seolah sisa tenaganya ingin dihabiskan untuk melepas amarah.


“Tuan Ruswara, jika aku harus bersaksi, demi nyawaku aku akan mendukungmu, sayangnya pengurus istana lebih memilih untuk melanjutkan tradisi daripada harus mempercayai sesuatu yang tidak mereka lihat.”


“Mahendra keparat...”


“Sudah sampai.”


Mereka tiba di depan kediaman Pancha. Hanya suara angin gurun yang terdengar perih malam itu. Pancha dan Wira yang menyambut menemukan dirinya larut dalam kesedihan mendalam.


“Aku bersyukur kau masih hidup Pancha,” sapa Ruswara dengan pandangan sayu.


Ruswara dapat mendengar Welino menggigit bibir. Pasti banyak yang terjadi selama aku di dalam penjara terkutuk itu...


Mereka segera memasuki ruangan rumah Pancha, entah mengapa ruangan sederhana itu menjadi tempat yang sangat nyaman untuk Ruswara, setelah dia terkurung selama lebih dari seminggu dalam penjara bawah tanah istananya.


Wira membawakan satu piring penuh berisi keladi rebus dan menyuguhkannya pada Ruswara. Dia meraihnya dengan cepat dan memakan keladi itu bagaikan anjing kelaparan.


“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anda saat ini Tuan,” kata Wira tertegun melihat sepiring penuh itu lenyap dalam hitungan menit.


“Aku.. melihat mereka mati satu persatu.”


“Dan keluarga mereka akan menaruh dendam di kemudian hari,” sahut Wira.


“Keadaan ini semakin kacau balau,” Pancha kini mengaku. “Semenjak dia menjadi raja, semakin banyak penduduk terluka, dia menggunakan kekerasan seperti anak kecil yang tidak tahu aturan. Hanya waktu yang akan menjawab meletusnya perang di Tarlingga, lagipula kami tak lagi bisa menyembunyikan identitas lebih lama.”


“Apa Mahendra sudah mencurigaimu Wira?” tanya Ruswara setelah menenggak kendi air penuh, perutnya terasa perih.


“Kami bersyukur ternak-ternak menyelamatkan kami dari kecurigaan, selama kami bisa menyediakan pasokan ternak untuk upeti istana, Mahendra tidak mencurigai apa pun, tapi aku tidak bisa menyembunyikan itu dalam waktu yang lama.”


Ruswara menunduk, urat tangannya berkedut seolah dia ingin meninju bayangan wajah kakaknya yang terlintas melayang di ruangan itu.


“Tentang yang kita bicarakan kemarin, sudah kau persiapkan?” Welino tidak ingin membuang waktu lebih lama.


“Sudah Tuan, sudah kami siapkan sesuai yang anda minta.”


Wira menuntun Welino menuju sebuah gudang di belakang rumah. Di dalamnya terdapat dua kuda kelabu milik Kerajaan Tarlingga dan perbekalan berupa kendi-kendi minuman dan umbi-umbian kering. Pancha dengan teliti memastikan isi keranjang itu dan mengikatnya di punggung kuda. Bersama dengan Wira, dia menaiki kudanya, sang kuda meringkik gugup.


“Sepertinya kita akan pergi jauh Welino?” tanya Ruwara sewaktu Welino menuntunnya naik ke salah seekor kuda jantan. Welino menyusul menaiki sang kuda lalu menyelimuti tubuh Ruswara dengan kain tenun yang tebal. Dia membungkusnya sampai seluruh tubuhnya terbalut hangat, dan hanya menyisakan setengah wajahnya.


“Anda tidak boleh terlihat selama perjalanan, dan selimut ini akan melindungi tubuh anda dari dinginnya gurun panjang di depan kita nanti,” Welino mendekap erat Ruswara dan menangkupkan jemarinya pada tali kekang kuda, mencengkeramnya erat.


Kuda-kuda mereka keluar dari gudang menuju jalanan tepi desa yang jauh dari pengamatan menara kedaton. Jalanan itu gelap dan kering, tidak ada perdu dan pohon, hanya berupa tanah kering yang mengeras menjadi retakan-retakan seperti urat batu. Sekilas pendar cahaya obor-obor istana mulai terlihat redup seiring kuda mereka berderap  di jarak yang cukup jauh.


Rasa sedih menghampiri Ruswara ketika kilasan istana di belakangnya mulai terlihat mengecil dan menghilang. Bagaimanapun istana itu tempat dia tumbuh besar, beribu kenangan melayang-layang di setiap sudut-sudut istana. Kini tempat itu tidak sama seperti dulu, bayang-bayang teriakan Mahendra di ruangan itu selalu terngiang, membuatnya tidak ingin menatap istana itu lagi.


Rumahku... istanaku dan rakyatku... Suatu saat aku akan mengembalikan semua yang kau renggut dariku kakahanda. Akan aku bersihkan namaku dari kebohongan kotormu, dan aku memastikan lidah kotormu tercabut sampai dia mengatakan hal yang sebenarnya... 


“Saat ini, selama Tuan Mahendra menjadi raja, Tarlingga bukan tempat yang aman untuk anda,” Welino berkata sambil mengusap leher sang kuda, memastikan dia berjalan setenang mungkin. “Pilihan terbaik yang dimiliki sang ratu adalah membuat anda pergi sejauh mungkin dari Tarlingga, dan memintaku untuk memastikan keselamatan anda.”


“Lantas kemana kita akan pergi.”

__ADS_1


“Selatan, menuju Mayakarsa. Anda harus menemui Raja Dharma, untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam ruangan itu, saat sang raja meninggalkan wasiat untuk anda,” Welino menengadah menuju langit yang nampak berawan tipis, sehingga cahaya bintang nampak pudar. “Jika memang istana bukan tempat yang bersahabat, kita harus mencari sekutu di luar istana. Tapi... ada yang harus aku lakukan, tentang titipan dari Mpu Moro.”


“Apakah itu?”


“Mencari informasi tentang tombak Mustika Tarlingga.”


“Bukankah tombak itu telah lama hilang semenjak...”


“Semenjak Dewi Sri Sandhana murka dan melupakan manusia, tetapi bagaimanapun tombak itu masih ada di daerah Pegunungan Kakahan, Tuan,” Wira menimpali.


“Kau tau kisah itu juga?”


“Tentu Tuan, kami para anggota bulan purnama mempercayai semua hal tentang sejarah benua ini,” jawab Wira dia menunduk menghindari serbuan angin berdebu, dia memajukan kudanya sampai berjalan sejajar dengan kuda Welino. “Tuan Wikrama percaya bahwa kekuatan-kekuatan yang ada di masa sejarah mampu membantu kami menaklukan Raja Mahardhika.”


Ruswara tertegun dengan jawaban Wira, tetapi ketika udara gurun datang dengan hawa yang sangat dingin dan menusuk, dia membenahi kain selimut tubuhnya, merapatkan lebih erat, dengan suara mengigil dia berkata, “Apa ada petunjuk?”


“Ada, itu sebabnya kami ikut menemani pelarian anda, Tuan,” Pancha kini menjawab dengan suara serak, janggut putihnya bergerak-gerak, meskipun orang itu sudah terlihat tua, tetapi dia tidak tampak terganggu dengan cuaca dingin. Sambil memandang ke arah Ruswara dia melanjutkan, “Kami kenal seseorang di reruntuhan Candi Sandhana, dia seseorang yang selama ini mencari keberadaan tombak, aku berharap dia masih hidup.”


“Aku dan bapak sudah lama tidak menemuinya, sudah hampir lima tahun kami tidak bertukar pesan karena disibukkan ternak-ternak untuk istana,” Wira menambahkan.


Ruswara mengangguk, lelah datang menghampirinya bagai ombak pasang. Beberapa jam telah berlalu, semenjak dia terkurung dalam penjara gelap, menyaksikan orang tak bersalah mati depannya, dan mimpi buruk menyelinap di tengah keputusasaannya. Kini dia berada di tengah gurun pasir Tarlingga, gurun yang merupakan tempat yang seharusnya subur, hijau dan indah. Setidaknya itu menurut kisah-kisah sejarah yang terlupakan.


Setelah memastikan jarak mereka cukup jauh dari istana, Welino dengan siap menarik tali kekang sang kuda, membuat kuda itu berlari kencang. Suara derapan mereka terdengar bergemuruh meninggalkan jejak kabut debu yang berterbangan.


“Bisakah kau menyanyikan tembang? Aku rindu nyanyian tembang,” pinta Ruswara, kantuk mulai menyerangnya.


“Kalau anda mau. Aku bisa menyanyikan tembang ‘Dewi Tarlingga’,” Welino berdeham lembut:


 


Wajah sang Dewi cantik rupawan dan menawan,


Di atas permadani rumput hijau,


Dia duduk memandang, tersenyum pada manusia-manusia yang heran,


            Dia mempertimbangkan kehidupan kita, dia menyayangi kita,


            Anak-anak pun riang menebar tawa.


            Dewi Sandhana, itulah sebutannya,


            Mustika Tarlingga, itulah pusakanya,


Dengan tombak Tarlingga,


            Sandhana membasmi iblis jahat,


            Sang dewi menganugerahkan hadiah kehidupan,


            Dari yang tidak ada menjadi ada,


            Dari yang kuning menjadi hijau,


            Dia membangun negeri untuk anak-anak,


            Dia membenahi dunia untuk masa depan,


 


            Maka pejamkan mata, panggil namanya,


            Maka bisikkan kata, kata yang menghiburnya,


            Pejamkan saja mata, dan ucapkan bersama,


            Dewi Sandhana, terima kasih telah melahirkan negeri Tarlingga.


            Tarlingga..


           


            Ruswara teringat sewaktu sang ratu menyanyikan tembang itu saat dia berumur lima tahun, kala itu dia tidak mengerti tentang sang dewi, dia hanya menikmati tiap nada-nada yang melayang di kantuknya. Sebuah tembang untuk membuatnya tertidur di kala hawa panas menyerang. Namun, Ayahnya mendengar nyanyian itu dan menyerbu masuk dengan berang. “Lagu itu hanya bualan!” semenjak saat itu sang ratu enggan menyanyikan lagu itu lagi.


            Ruswara menyelipkan kedua telapak tangannya lagi ke balik selimut tubuhnya, “sewaktu di dalam penjara, aku berpikir aku akan mati Welino.”


            Welino menggeleng, dia bersyukur Ruswara tidak bisa menatap wajahnya, karena saat itu juga matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.


“Anda tidak akan mati, dan anda tidak boleh mati,” air matanya menetes tersapu angin malam. “Sampai waktunya tiba, hanya anda yang mampu menyelamatkan negeri ini.... Hanya anda Tuan... Hanya anda...”


 


***

__ADS_1


__ADS_2