Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Nirmala


__ADS_3

Pesta Penamaan itu dimulai dengan kemegahan barbar di halaman terbuka istana. Mahardhika memanggil para jawara-jawara untuk berbaris di lapangan tarung. Mereka datang dari berbagai sisi tribun, dan sudah saling bersenggolan hingga para prajurit-prajurit istana terpaksa harus memisahkan mereka sebelum pertarungan di mulai.


            Nirmala memandang ngeri jawara-jawara itu di bawah tandu bertirai sutra tujuh warna. Sewaktu Nirmala memandang ke arah langit, sutra itu terlihat sangat halus sampai-sampai dia ingin terus memandangnya tanpa berpaling ke tengah arena. Kesemarakan hari itu membuat Nirmala menahan napas, tubuh-tubuh kekar dengan sorot mata buas memandangnya, sorak-sorai kerumunan memekik telinganya, seolah bagaikan senandung untuk menyambut kematian.


            Dia menyaksikan para jawara berkumpul di kelilingi dayang-dayang yang menari di iringi tembang-tembang dari berbagai ketukan gamelan. Kelopak-kelopak bunga ditabur seperti pasir berwarna, kilaunya memenuhi sekujur tubuh sang jawara.


Setiap jawara bergerak maju ke arah tandu dan menunduk lalu menyebutkan nama di hadapan sang raja-raja. Nirmala enggan untuk mendengarkan nama-nama itu dan melupakan nama sang jawara secepat hembusan angin pagi.


Hanya ada beberapa nama jawara yang dia kenal, salah satunya Djayamantara. Dia adalah seorang pelatih kuda dan penjinak kuda-kuda perang di istana. Djayamantara pernah mengajari Nirmala berkuda sewaktu masih kecil, sayangnya Mpu Lodrok melarang berkuda sewaktu Nirmala beranjak remaja. Meskipun Djayamantara bertindak sebagai pengurus kuda, tetapi kemampuan bertempurnya layak disandingkan dengan para panglima-panglima Nusantara. Djayamantara juga menolak tawaran menjadi seorang panglima karena dia lebih senang mengurus kuda.


            Nama-nama itu terus terdengar sampai pada giliran memasuki pendekar terakhir ke tiga puluh, mata Nirmala tertegun. Penampilan sang jawara terakhir cukup menarik perhatiannya. Bobot tubuhnya berbeda dengan jawara lain, tubuh itu tidak semenonjol jawara lain. Raut wajahnya seperti kabut yang menyimpan misteri, Nirmala menebak usianya lebih tua sedikit dari dirinya. Warna kulit jawara itu kecoklatan terbakar dan rambut panjang tergerai sampai ke punggung. Di tengah dadanya terpahat luka goresan yang membentuk guratan menonjol sampai ke perutnya. Nirmala dapat menebak itu adalah luka sabetan keris.


Diam-diam Nirmala merasa iba, mengapa gerangan pemuda seusia muda dan setampan dia harus rela mempertaruhkan nyawa demi kepuasan sang ayahanda. Dia bisa memilih untuk menjadi prajurit dengan kehormatan yang lebih layak, semoga dewa memberinya keberuntungan di atas ketidak adilan, bisiknya sedih.


Pemuda itu menunduk ke arah tribun sang Raja Mahardhika, dengan suara tidak terlalu lantang ia bertutur, “Wikrama, dari tanah Barat. Siap mengabdi dan memenangkan turnamen persembahan, semoga dewa perang memberkati.”


Para pendekar di belakangnya tertawa mencibir sombong. Dari depan, Wikrama mendengar para jawara berbisik di belakangnya, salah satunya bernama Rolakwe. Dia adalah prajurit sewa yang dibayar para penguasa kota perbudakan.


“Kau dengar yang dia bilang? Memenangkan.”


“Tubuhnya sepeti tikus, aku bisa mematahkan lehernya dalam satu detik, kita lihat saja apakah bicaranya sebesar nyalinya.”


            Wikrama memilih untuk diam dan mundur kembali ke barisan.


            Raja Mahardika berdiri, rambut perunggunya berwarna lebih gelap berkibar seakan tiap helai sewarna logam itu hidup. Dengan panggilan lantang, ia memerintahkan si pemegang gong untuk segera memulai pertarungan. Bunyi gong berdengung keras di penjuru halaman istana, sekejap burung-burung merbah berterbangan seperti debu hitam di langit. Penonton mulai bersorak, bersiul dan berteriak bergairah mendukung sang jawara pilihan.


            Turnamen tarung itu berlangsung sepanjang hari dan terus berlanjut hingga senja. Lapangan arena berubah menjadi gumpalan-gumpalan tanah berantakan. Dari awal turnamen di mulai, tiga orang jawara sudah tumbang dengan luka hantaman sikut di rusuk, satu lagi gugur karena pukulan telak di jantung. Berkali-kali Nirmala berteriak sewaktu darah bercipratan di tanah arena, sedangkan Sri Sekar di sebelahnya berteriak menyerukan sang jawara-jawara dari Selatan yang bertubuh kekar.


            Momen paling mengerikan terjadi sewaktu duel sang jawara besar berhadapan dengan Wikrama. Jawara itu terlihat kuat, lamban, otot tubuhnya seperti batu. Dengan kepalan tangannya yang sebesar kentungan, dia nyaris memecahkan kepala Wikrama. Setelah Wikrama menghindari terjangan jawara lain di tengah arena. Dia melesat sepeti kijang, melompati mayat-mayat kaku jawara yang tumbang dan menyergap kepala si jawara besar itu.


            Satu gerakan puntir yang keras sudah cukup mematahkan lehernya. Sang jawara bertubuh gempal pun tewas dan terjatuh berdebam menimpa dua orang jawara yang sedang bertarung. Kematiannya itu membuat jawara lain segan terhadap Wikrama, tapi di lain sisi beberapa menganggap Wikrama lawan yang sepadan.


            Sampai berkas sinar senja membanjiri arena tarung, petarung yang tersisa hanya tiga orang. Menyisakan Wikrama, Djayamantara, dan Rolakwe. Mereka berdua adalah lawan yang gesit, tubuhnya selentur kucing dengan wajah tirus yang pucat. Mereka adalah petarung yang tidak ingin Wikrama remehkan di arena.

__ADS_1


            Di atas genangan dan gumpalan pasir merah, Wikrama melirik waspada kedua jawara itu. Mereka berdua terlatih seperti dirinya, dia harus hati-hati dan menunggu kesempatan untuk menyerang. Sewaktu Wikrama mengedipkan mata, Djayamantara dan Rolakwe menerjang dengan kaki melayang, ke arah rusuk Wikrama.


            Menyadari dirinya terkepung, Wikrama menjatuhkan diri dan menangkap kaki Rolakwe dengan kedua tangannya lalu membanting tubuh Rolakwe hingga kepala Rolakwe menghantam tanah dengan keras diiringi bunyi berderak yang membuat penonton terkesiap. Wajah Rolakwe hancur dan darahnya mengalir dalam denyutan lambat, semakin lama berhenti.


            Duel terakhir itu menyisakan rasa gugup di wajah Djayamantara, mereka saling  mengitari dan memandang tajam. Kemudian matahari menghilang di balik awan, sampai kilasannya lenyap. Tubuh keduanya dihiasi sulaman cahaya perak bulan penuh di atas pasir-pasir yang membeku oleh darah.


            “Apa sudah tiba waktunya?” bisik Wikrama, suaranya tertelan oleh sorak-sorai penonton.


            “Belum, kita perlu mengulur waktu lebih lama,” sahut Djayamantara.


            “Maafkan aku Djayamamtara, kau sudah melakukan sejauh ini.”


            “Tidak ada permohonan maaf untuk keputusan seorang pria, ini harus dilakukan.”


            “Tapi...”


            “Jangan terlalu menarik perhatian, Tuan Wikrama.”


Penonton merasa kecewa pada Wikrama, para bangsawan berdiri dan dan melempari kedua jawara terakhir itu dengan segala jenis sajian-sajian dan cacian. Para bangsawan kecewa menanti sang pemenang, tapi tidak ada satu pun dari mereka berdua yang menyerang.


Seketika Arena menjadi ricuh, di balik barisan penonton itu muncul sekelompok orang-orang yang menggunakan penutup wajah menebas para bangsawan-bangsawan kerajaan yang berlarian.


“Penyusup! Pasukan bulan purnama dari Utara!” sahut sang prajurit pengawal.


Raja Mahadhika berdiri dan menghalau tiga musuh yang mengacungkan keris berkarat ke arah tribun mereka. Beberapa kali sabetan keris mengenai sang raja, tapi kulitnya tidak tergores sedikit pun. Darah dewa yang mengalir di nadinya membuat kulit sang raja menjadi sekeras permata. Raja Mahardhika membalas dengan satu hentakan lengan, hingga memutus kepala penyusup lalu melempar tubuh mereka ke tengah keramaian.


“Bawa Nirmala, Sekar dan sang ratu ke istana! Kunci rapat gerbang, penyerangan ini sangat memalukan bagi nama kerajaan!” katanya meraung-raung.


“Aku tidak akan berdiam di istana!” seru Sri Sekar, dia menolak sewaktu para prajurit istana hendak mengiring dirinya. Sekar lalu mencabut tombak yang tertancap di tubuh bangsawan yang telah mati dan ikut bertempur di keramaian.


Raja Mahardhika tidak bisa berbuat apa-apa. Dia disibukkan oleh sepuluh pendekar bulan purnama yang menggelilingnya seperti sekumpulan anjing liar. “Demi nama dewa, kalian telah mengotori perayaan ini.”


“Kau seorang raja kotor Mahardhika, dinastimu akan berakhir karena tekad Dotulong tidak akan pernah mati, hanya kaulah yang akan mati!” ancam salah seorang prajurit bulan purnama.

__ADS_1


Nirmala, berlarian menunduk melewati lalu-lalang orang-orang yang bertempur sambil berjalan menunduk. Dia sangat ketakutan dan merasa akan mati saat itu juga. Kakinya sekaku pikirannya seolah dia menjadi sangat merindukan kamarnya.


Dalam sekejap mata, pendekar bulan purnama berhasil menumbangkan salah seorang prajurit Nusantara yang mengawal Nirmala dan sang Ratu dengan tusukan belati di leher. Ratu Ken Dara menjerit histeris, “Jangan, jangan sakiti kami!”


Wikrama dan Djayamantara muncul tepat waktu menghalau sang pendekar.


“Dewa memberkati kalian, raja akan memberi kalian imbalan,” kata si prajurit Nusantara yang masih sibuk menghalau terjangan anak panah dengan papan-papan kayu.


“Akan sangat berbahaya jika membiarkan ratu dan Tuan Putri berjalan bersamaan, aku akan mendampingi Putri Nirmala memutar melewati sisi Barat sampai ke pintu istana, kau akan membawa Ratu bersama pengawal lainnya. Keselamatan Putri Nirmala paling utama,” kata Wikrama pada Djayamantara. Djayamantara lalu mengangguk dan dia berbisik pada Wikrama. Samar-samar Nirmala mengintip di balik telapak tangan yang menutupi kepalanya sambil tertunduk.


Semoga berhasil Tuan Wikrama.


Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga Nirmala tidak mengingat setiap langkah-langkahnya. Sudah berkali-kali dia melewati mayat-mayat yang berserak kaku. Telinganya di hujani suara gemuruh teriakan dan jeritan mengerikan. Seketika langit seolah berubah menjadi merah darah. Matanya kunang-kunang dan Nirmala muntah. Dia mulai berjalan pendek-pendek, dan Nirmala pun pingsan.


Dia terjatuh di dekapan Wikrama. Dengan hati-hati Wikrama menggopoh Nirmala di pundaknya melewati pagar batu di sisi Barat dan mulai menjuhi medan perang. Sampai akhirnya pengawal yang berjaga melihat mereka lalu berderap mendekati Wikrama.


Dengan napas panjang, prajurit itu berkata, “Putri Nirmala sudah aman, kau bisa menurunkannya di sini dan bergabung dengan sang raja di halaman utama. Semua jerih upayamu akan menjadi penghormatan tertinggi dari keluarga kerajaan.”


“Kehormatan yang kucari jauh lebih besar,” kalimat itu terhenti secepat kilat, Wikrama lalu menusuk tenggorokan sang prajurit dengan kepalan jari yang di rapatkan. Darah merah gelap mengucur dari lubang di tengah leher prajurit. Prajurit itu tidak mendapatkan kesempatan untuk berteriak, Dia langsung terkapar dan tidak bernapas lagi.


Di balik semak-semak pepohonan halaman Istana, Wyat telah menunggu Wikrama, dengan isyarat siulan pendek. Wikrama melesat menuju semak-semak rimbun di bawah pohon bramastana besar. Wyat menggunakan penutup wajah serupa dengan prajurit bulan purnama. Kelopak matanya runcing dan alisnya tebal, ada sebuah selendang yang diikatkan pada dahinya yang tegas.


“Kuda anda telah menunggu di luar Tuan Wikrama,” katanya gugup, sambil memandang tubuh Nirmala di pundak Wikrama. “Apa Tuan Putri baik-baik saja?”


“Dia baik-baik saja, hanya saja semua anggota kita yang... Djayamantara...”


“Jangan bicara seperti itu Tuan, mereka telah siap menghadapi rencana hari ini. Selama lima belas tahun kita menunggu. Kematian mereka tidak sia-sia, mereka akan gugur dengan bangga demi kehormatan pendekar bulan purnama.”


“Kuharap benar.”


Suasana malam kembali mereda jauh dari halaman Barat istana, keheningan kembali mengudara dibarengi dengan sosok Wikrama, Wyat dan Nirmala yang menghilang di balik semak dan pepohonan.


 

__ADS_1


***


__ADS_2