Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Ruswara


__ADS_3

“Kenapa engkau tidak memakannya?” tanya Ruswara sambil memperhatikan beragam buah dan daging yang tersaji di meja kamar Pancha. Kamar itu hampir penuh sesak, beragam kitab-kitab berisikan lembaran rontal tertumpuk di setiap sudut ruangan itu.


            Pancha kelaparan, dia memandang wajah Ruswara dengan lesu. Ruswara langsung berpaling, Ruswara tidak terlalu suka wajahnya dipandang lama. Ia cukup mengakui keburukan wajahnya tidak semenyangkan perkataannya.  


Pancha menolak makanan itu, hidangan yang disajikan terlalu istimewa untuknya. “Hamba tidak berhak memakannya.”


            “Lantas hak apa yang diperlukan rakyatku untuk menikmati sebuah makanan?”


            “Bukan maksud hamba menyinggung kebaikan hati anda, wahai Mahamantri Ruswara,” dia menjawab mendesah. Kerut-kerut wajahnya berkedut. “Aku hanyalah peternak dan rakyat jelata. Hidangan ini bukan diperuntukkan untuk orang seperti hamba.”


            Ruswara mengambil satu potong paha ayam jantan, “engkau sungguh kepala desa yang rendah hati. Lihatlah betapa tebal daging ayam ini? Siapa pun yang merawat ayam ini pasti dia seorang yang mengerti bagaimana caranya bersyukur. Di tengah kemarau yang melanda negeri kita, seorang rakyat yang engkau sebut jelata mampu membesarkan ayam-ayam ini, engkaulah orang itu, Pancha. Kemarilah, ini adalah sumberdaya yang engkau hasilkan untuk kami para pemangku istana, makanlah.”


            Pancha bangkit kaku, hidungnya masih terasa sakit, darah di hidungnya seolah membeku tapi kata-kata Ruswara bagai angin pagi yang menyejukkan. Selama berpuluh-puluh tahun, Pancha menyaksikan begitu banyak sikap buruk tertorehkan oleh sang raja maupun sang anak pertama, Mahendra. Namun, tidak pernah sekalipun sikap itu tercermin pada putra bungsu sang raja.


            “Tapi, bagaimana jika Mahamantri Mahendra...”


            “Tidak akan ada yang mengetahuinya, aku sudah memastikan,” senyum Ruswara terpancar.


            Sebagai tanggapan Pancha si tua akhirnya menyantap beberapa daging dengan nikmat. Sebagai peternak sekalipun dia hampir lupa bagaimana rasa sebuah daging. Kebanyakan hasil ayam-ayam miliknya disetor kepada kerajaan dalam bentuk upeti, dan dia hanya memperoleh keping logam dalam jumlah sedikit. Uang itu pun hanya cukup untuk membeli beberapa cangkir beras dan potong ketela.


            Dengan mata berurai air mata Pancha berkata dalam lirih, “kumohon, kami berharap anda yang menggantikan Raja Sanjaya suatu hari nanti.”


            “Aku tidak bisa memutuskan itu,” dia bangkit dan memandang ke arah jendela kamar, daratan gersang berwarna kuning membentang tanpa ujung, tandus dan menyedihkan. “Tapi aku ingin mengubah nasib negeri ini.”


            “Maka hamba akan jadi orang pertama yang berdiri di belakang anda Tuan Ruswara.”


            “Tidak semudah itu,” Ruswara berkata lirih. “Saat ini keadaan istana pun tidak begitu baik. Ayahhanda semakin sinting, semua rencananya memang akan membawa negeri ini ke ambang kehancuran. Namun, para prajurit-prajuritku pun masih bersumpah setia padanya. Aku tidak bisa membangkang, tidak dalam situasi ini atau aku akan berakhir dalam penjara di bawah sana.”


            Suasana hati Ruswara terlalu muram untuk menggunakan akal sehat. Dia dilanda rasa malu, dalam aturan turun temurun kerajaan, putra bungsu tidak memiliki hak untuk mendahului wewenang putra pertama. Tapi penderitaan rakyat-rakyat di Tarlingga bagaikan penghinaan yang menyulut nuraninya.


            Raja seharusnya menjadi sosok yang dicintai, begitupun putra-putranya, lantas mengapa kesintingan itu mendera dua sosok yang penting dalam negeri ini?


            Dia seharusnya ingat apa yang dikatakan ayahnya, siapa pun yang menentang akan masuk dalam penjara bawah tanah miliknya termasuk dia. Kesintingan sang raja memang bagaikan lelucon wayang yang tidak kunjung usai. Haruskan dia diam-diam menggerakkan hati rakyat untuk bersuara menentang sang ayah bersama dirinya.


            Ruswara mendesah, rakyatnya kini kelaparan, mereka bahkan tidak mempunyai tenaga untuk mengangkat cangkul sekalipun. Aku harus bisa menguatkan hati mereka dulu.


            “Aku memiliki rencana Pancha, dan itu beresiko sangat tinggi.”


            “Katakanlah mahamantri.”


            “Jika tiba waktu dimana Mahendra pergi bersama ayahanda untuk melamar Putri Nirmala, aku ingin engkau membantuku meyakinkan para penduduk untuk...”


            “Untuk?”


        “Menggulingkan istana.”


            Tangan Pancha gemetar hebat. Dia tidak menganggap ucapan itu adalah guyonan. Sorot mata Ruswara yang berapi-api memberikan kesan harga diri yang tinggi dari seorang pangeran. Seorang putra bungsu raja rela mengkhianati ayahnya untuk masa depan rakyatnya, sebuah prospek yang mengerikan.


            “Engkau adalah kepala desa, engkau mengenal para penduduk jauh lebih baik dariku, katakan pada mereka tekad terpendamku ini untuk merubah nasib kalian. Sayangnya saat ini aku tidak bisa membiarkanmu keluar dari kamar karena Mahendra masih menganggapmu telah mati. Kita harus menunggu, saat ayahanda dan Mahendra meninggalkan istana.”


            Ruswara ingin tahu apa rencana itu terdengar cukup mengerikan untuk Pancha, dan apakah dia akan bersekongkol untuk melakukan pemberontakan itu dikemudian hari. Seandainya Pancha benar-benar orang pertama yang akan berdiri bersamanya. Ruswara harus memikirkan cara yang lebih terampil dan halus untuk mengalahkan prajurit-prajurit setia milik ayahnya.


            “Kalau begitu Wira harus tahu tentang ini.”


            “Siapakah gerangan?”

__ADS_1


            “Putra pertamaku Tuan, katakan padanya aku masih hidup dan dia akan memberitahu sebuah rahasia tentang kami,” sahut Pancha.


            Ruangan itu sekerjap diam, sediam pasir-pasir di halaman istana. Pancha tidak meragukan Ruswara, dia telah melihat kecintaan Ruswara pada rakyatnya melebihi semua bangsawan di Tarlingga. Setidaknya ia merasa sang pangeran harus tahu tentang itu.


            “Rahasia apa itu Pancha?”


            “Hamba akan membiarkan Wira yang bertutur untuk anda.”


            Ruswara mengangguk, kemudian dia merasa ada kehadiran seseorang di luar kamar. Tepat pada beberapa waktu kemudian terdengar suara ketukan pintu. “Jangan takut, dia bukan Mahendra. Ruangan ini adalah tempat kitab-kitab dan sejarah Tarlingga ditulis oleh leluhurku. Engkau bisa melihat tumpukan-tumpukan itu hampir di sudut ruangan ini, Mahendra tidak suka membacanya.”


            Welino memasuki ruangan, dia mengenakan selendang berlambang panji Tarlingga, tombak hijau bermata dua, wajahnya yang keras nampak muram siang ini. “Ratu Dyah ingin menemui anda Tuan.”


            Ruswara mengangguk ke arah Welino.


“Aku undur diri Pancha, jaga kesehatanmu, aku akan mengunjungimu esok, setelah menemui Wira.”


           “Terberkatilah ketulusan anda Mahamantri, terima kasih.”


            Dia keluar bersama Welino. Mereka berjalan menuju ruang ratu melalui lorong panjang istana, melewati dinding-dinding berbahan batu bata kuno dan andesit penuh pahatan ukiran tombak-tombak bersulur. Selama perjalanan Welino masih terlihat gelisah.


            “Welino?”


            “Ratu masih terpukul karena kejadian semalam.”


            “Begitupun diriku,” Ruswara tersenyum lemah. “Mengagumkan memang, bagaimana ibunda terus menanggung beban-beban yang dilakukan ayahanda. Ada kabar tentang keberangkatan lamaran?”


            Dengan pandangan cemas, Welino mengangguk, “Dua hari lagi, dan sore ini para prajurit akan mendatangi semua rumah penduduk untuk...”


            “Merampas upeti?” cetus Ruswara menggelengkan kepala, kemudian tangannya terlipat di dada, seakan ia menahan ledakan emosi di dalam tubuhnya.


            “Hamba tidak menyangka keadaan menjadi seperti ini,” Welino mendesah.


            “Tentang Mahendra, hari ini dia berencana bermabuk-mabukan.”


            “Biarkan itu terjadi, sementara ini kita harus melindungi Pancha, orang itu kunci keberhasilan rencanaku.”


            “Apa anda berniat memberi tahu Baginda ratu?”


            Ruswara mengangkat bahu, “Pilihan sulit, aku ingin tetap merahasiakannya.”


            Akhirnya mereka tiba di depan ruangan sang ratu, dua orang prajurit pengawal sedang berdiri berjaga, mereka membungkuk ketika Ruswara tiba di depan pintu sang ratu. Ruswara lalu menepuk bahu Welino dan berbisik, “Aku ingin engkau terus mengawasi kakahanda menjelang keberangkatannya, meskipun dia sedang bergembira atas berita palsu itu, aku ingin engkau memastikan keselamatan putra Pancha.”


            Welino menimbang-nimbang permintaan itu, “Hamba siap melaksanakan Tuan.” Derap langkah Welino menghilang di kejauhan, menuju aula istana.


Ruswara mengetuk dan membuka pintu. Sewaktu ia masuk ke dalam ruangan, suara burung bondol berteriak terdengar di teras istana sang ratu, kicaunya parau dan terasa menyedihkan. Bahkan kawanan burung pun rela mengemis berharap manusia berbelas kasih di tengah penderitaan panjang itu. Ruswara melintas sambil mengarahkan pandangannya pada sang ratu.


Suara isak tangis masih terdengar datang dari ranjang ratu yang berlapis selendang dan wewangian. Sang ratu menangis sesenggukan atas rasa kepedihan dan luka yang diakibatkan sang raja. Dayang-dayang berusaha menenangkan, tetapi rupanya sang ratu tidak pernah kehabisan air mata. Matanya menjadi sembab dan bengkak sampai wajahnya nampak sangat tua sekali.


“Ibunda,” sapaan Ruswara, nadanya lembut dan tenang.


“Ibu tahu apa yang akan kau lakukan wahai anakku,” katanya masih terisak.


“Ada apa ibunda, aku bahkan tidak mengatakan apa-apa padamu.”


“Apa kau pikir kejadian semalam membuatku buta anakku?” dengan mata bengkak dia menatap serius Ruswara. “Perkataanmu, dan sorot matamu malam itu bagaikan ujung mata tombak yang terhunus di wajah ayahmu.”

__ADS_1


Ruswara mendekat dan duduk di sebelah sang ratu. Dipandanginya wajah ibunda, jika dia tidak menahannya, mungkin dia sudah menyeret sang raja untuk berlutut memohon maaf.


“Kau adalah anakku, kau adalah darah dagingku, semua yang berkobar di dadamu, aku pun merasakannya, seakan panas itu ikut membakar dadaku.”


“Ibunda.”


“Apa pun yang kau rencanakan, jangan membuat peperangan dalam keluarga ini, wahai anakku.”


“Aku sependapat denganmu ibunda, tapi rakyat kita memiliki batas, mereka sudah lama menderita, kemarau sudah menyiksa hidup mereka dan sikap ayahhanda memperparah penderitaan itu. Apa pun keputusan yang aku ambil, semua demi rakyat Tarlingga.”


Ratu Dyah menghirup tarikan napas amat berat, mendengar nama mereka pun sudah membuat sang ratu sakit kepala. “Lantas apa kau ingin membanjiri istana dengan darah dari prajurit maupun rakyat kita?”


“Ibunda, istana kita seperti surga di tengah bara api, tapi lihat dimana raykat kita berpijak? Mereka tidak bisa mencicipi daging yang kita makan, ataupun buah manis kita nikmati. Aku ingin istana ini membuka pintunya untuk mereka, dan memang jika harus, aku akan merampas kuda-kuda di istana beserta bahan makanannya, dan kubawa mereka pergi dari Tarlingga.”


“Ke mana kau akan membawa mereka, wahai anakku? Menuju tanah tandus dengan malapetaka lainnya?” Ratu bertanya dengan isak mereda.


“Negeri hijau di Selatan.”


Sang ratu bangkit dari ranjangnya, dia menuju ke sebuah meja berbahan kayu ulin gelap, kemudian meneguk air. Setelah menaruh cangkir itu sang ratu meraba lengannya sendiri, dia dapat merasakan tubuhnya yang semakin kurus.


Selama hampir tiga puluh tahun sejak pernikahannya dengan Sanjaya, dia begitu merindukan daratan Mayakarsa. Ingatannya tertuju pada hari-hari yang cerah bersama adiknya Mayang, memetik bunga-bunga melati liar di halaman istana dan meniup bunga dandelion. Dyah tidak menyesali keputusannya menikahi Sanjaya, jauh sebelum Sanjaya berubah menjadi laki-laki yang sinting. Namun, Dyah tetap mencintainya seperti awal pertama kali dia bertemu dengannya.


Udara hangat kering berpusar di sekeliling ruangan saat dia berdiri menghadap Ruswara. Anak bungsunya memiliki wajah yang berbeda dengan anak pertamanya. Dia berhidung pesek dengan segumpal jerawat merah lebam tumbuh di dagu dan lehernya. Bibirnya tebal dengan mata yang mirip mendiang ibunya, tapi wajah buruk itu berlainan dengan hatinya. Entah bagaimana Ruswara nampak rapuh jika dibandingkan dengan Mahendra.


“Anakku, sungguh sifatmu mirip sekali dengan kakekmu, Manjaya.”


            Kini rautnya berubah dengan segumpal pertanyaan membingungkan. Apa yang akan dihadapinya kelak tak ubahnya bagai buah simalakama, pilihan yang sama-sama berat meskipun tak ayal dapat merubah nasih rakyatnya, tetapi juga dapat menjadi bencana.


            “Ibunda, Tarlingga bukanlah tanah warisan yang bisa dibelah dan dibagi untuk beberapa orang. Kerajaan ini harus utuh, rakyat kita adalah bagian dari kerajaan ini, jika aku hanya berdiam diri melihat mereka mengais makan di luar istana, yang demikian akan memicu pergejolakan lebih dari ini.”


            Ratu Dyah akhirnya sampai pada pilihan. Sejatinya sebuah keputusan anaknya dapat dipertimbangkan, karena dia adalah salah satu pewaris sah Tarlingga. Dia akan menjadi Raja bagi istrinya kelak. Jika memang harapan itu ada, Dyah hanya ingin penyakit yang ada di istana sirna menjadi buah manis untuk kehidupan rakyatnya.


            “Tapi kau harus hati-hati anakku, prajurit Tarlingga bersumpah setia untuk ayahmu, mereka bisa menjadi mata dan telinga yang tak terlihat.”


“Aku masih memiliki Welino, hatinya sejujur hatiku untuk urusan rakyat,” kata Ruswara sambil mengepalkan tangan.


“Bahkan Welino ataupun dirimu tidak akan sanggup melawan ratusan prajurit di istana ini anakku,” Sang ratu mulai gelisah, tapi suatu hal membuatnya tersadar. “Apa kau akan melakukannya saat lamaran itu?”


“Benar.”


Dalam waktu yang bersamaan, suara riuh penuh mengudara di luar kamar. Welino mengetuk pintu sang ratu yang kemudian dipersilakan untuk masuk.


“Ada apa Welino? Kedatanganmu seperti badai di pagi hari,” sang ratu memandangnya cemas.


“Kabar tiba dari gerbang utama istana, Baginda. Sebuah iringan kuda hitam dari Nusantara tiba, pasukan itu dipimpin oleh Pragantara, dia memohon izin memasuki kedaton istana.”


“Demi Tarlingga, ada apa gerangan ini? Dimana suamiku?”


Welino ragu menjawab, “Beliau dikabarkan sedang bersama sundal di kedai.”


Ratu Dyah menahan kesedihannya dan berusaha terlihat tegar, “Untuk apa para iringan itu datang kemari?”


“Memberikan berita penting, Baginda Ratu, mereka ingin mengadakan pertemuan bersama sang raja dan pemangku Tarlingga,” Welino setengah berlutut, dia kemudian melanjutkan, “Tentang Putri Sri Nirmala, dia dikabarkan menghilang.”


“Menghilang?” tukas Ruswara.

__ADS_1


“Tidak, lebih tepatnya..., diculik.”


***


__ADS_2