Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Ruswara


__ADS_3

Lantai batu di kamarnya terasa kasar pada telapak kaki telanjang Ruswara. Saat itu malam telah tiba, Ruswara bergumam dalam kegelapan remang-remang sambil mengukir keresahan-keresahannya pada lembar rontal. Dia menyesal membiarkan emosi membakar harga diri kakaknya sendiri siang tadi. Namun, jauh di dasar hatinya, ia sendiri kecewa pada sifat sang kakak.


            Barangkali, seharusnya aku tidak perlu mempermalukan kakahanda seperti itu, gumamnya hampir kesekian puluh kali.


            Sore sebelumnya dia sudah mengecek luka Pancha, tubuhnya masih lemah dan mengalami trauma hebat. Darah di hidungnya sudah berhenti, tetapi kesadarannya masih mengambang tak berdaya. Ruswara memerintahkan tabib-tabib istana untuk membiarkan Pancha beristirahat beberapa hari lagi, ia juga meminta dayang-dayang memenuhi kamar Pancha dengan buah-buahan manis, mengunci pintu kamar Pancha dan merahasiakan keberadaan Pancha dari Mahendra.


            Seharusnya Mahendra malam ini sedang bermabuk-mabukan di kedai bersama para prajurit. Ruswara mengetahui hal itu dari Welino. Sewaktu pagi tadi Mahendra tersadar dari pingsannya dan mengamuk berteriak mencari-cari keberadaan Pancha. Namun, atas perintah Ruswara, Welino mengabarkan berita palsu bahwa Pancha sudah mati dan mayatnya telah di buang di kali kering jauh dari istana. Mahendra mendadak girang dan berencana berpesta malam ini demi kematian si tua Pancha.


            Pikiran yang mengganggu Ruswara malam ini adalah tentang rencana lamaran sang kakak. Setelah Ruswara berkali-kali memintanya untuk merayu ayahnya. Welino berkata bahwa dia akan segera mengabari hasil pertemuannya dengan sang raja.


            Kegelisahan menerpanya, dan dia tak ingin berdiam diri menunggu Welino. Ruswara keluar kamar dan mendapati lorong istana sepi. Dia berjalan menyusuri koridor dengan kobaran kecil obor-obor yang tertancap di dinding. Setelah beberapa waktu, dia mendengar suara-suara menggema kecil dari dalam ruang raja.


            Ruswara memastikan tempat aman untuk menguping, dia bersandar dan mendapati ayahnya sedang berbicara di dalam ruangan bersama Welino dan Mpu Moro.


            “Putri Nirmala sudah cukup umur, dan wilayah pusat sedang dilanda masa panen yang melimpah. Jika Mahendra bisa mengambil hati Nirmala dan menikahinya, maka kerajaan ini akan disambut bagaikan musim penghujan,” kata Raja Sanjaya, lalu serangan batuk menyerangnya.


            “Baginda, Raja Mahardhika menganggap kita tidak lebih dari setitik debu diantara padang pasir, mereka tidak pernah menganggap keberadaan kita. Hamba khawatir lamaran itu berdampak pada nama baik kerajaan. Raja Mahadhika dapat dengan mudah menginjak harga diri kita di hadapan seluruh para bangsawan,” kata Mpu Moro dengan suara serak memelas.


            Welino yang berdiri seperti manusia batu pun menambahkan, “Baginda, hamba setuju, rencana itu tidak mungkin...”


            Raja Sanjaya menggebrak meja hingga gelas-gelas logam terbanting menghasilkan bunyi gemerincing yang hebat. Sekali lagi dia mendapat serangan batuk hingga matanya berair. Sebelum batuknya menyerang lagi dia menjawab dengan murka, “tidak adakah seorang majelis di ruangan ini yang berhenti untuk berkata ‘tidak’?”


            “Dengan penuh rasa hormat, rakyat kita kekurangan sumberdaya yang mulia,” kata Welino dengan suara rendah. “Semua ternak bertubuh kurus bahkan hari ini dua puluh ekor lembu dikabarkan mati kelaparan. Kabar juga datang dari petani-petani di luar desa, tanaman padi mereka terbakar seluas seribu hasta. Sudah enam bulan daerah Timur dilanda kemarau panjang, bahkan bertahun-tahun selalu seperti ini, Baginda.”


Raja Sanjaya mendegus seolah bosan mendengar pembelaan itu, dia lalu mengusap-usap cincin-cincin emas di jarinya. Napasnya menjadi pendek-pendek tidak teratur.


“Bagaimana kabar tentang pengepul dari jalur perdagangan di Mayakarsa?” tanya Raja Sanjaya pada Mpu Moro.


“Mengenai itu Baginda, pembawa pesan dari jalur perdagangan di Selatan belum memberi kabar, dipastikan pembawa pesan kita belum kembali.”


“Keparat Dharma, sudah kuduga Mayang telah salah menikahi seorang lelaki egois yang dungu! Mayakarsa tidak pernah tahu caranya membalas budi.”


Mpu Moro menunduk, rambut putihnya terlihat menipis seperti benang-benang seputih kapas.


“Perjalanan itu sangat panjang Baginda, Pegunungan Helmaer membatasi Mayakarsa dan Tarlingga, pegunungan itu curam dan berbatu, jalannya berliku-liku dan sering menyesatkan para pelancong, bahkan seekor kuda tercepat sekaligus tidak sanggup menyebrangi gunung itu dalam waktu sepuluh hari. Hamba berfirasat pembawa pesan kita gugur selama perjalanan.”

__ADS_1


Urat kepala Raja Sanjaya berkedut. Dia seolah terjebak oleh rencananya sendiri. Sesaat ia ingin menggebrak meja majelis itu sekali lagi untuk melampiaskan amarahnya. Namun, lagi-lagi serangan batuk menyerang di saat-saat tak terduga. Kali ini serangan itu lebih hebat hingga darah sang raja terciprat pada telapak tangannya.


“Baginda, anda harus istirahat, anda tidak dalam kondisi yang bagus untuk rapat ini,” kata Mpu Moro setelah bangkit mendekati Raja Sanjaya. Matanya berkaca seperti kristal hujan.


“Perintahkan prajurit..” jawab sang Raja tidak mengindahkan kekhawatiran Mpu Moro. Setelah dia menarik napas panjang, Sanjaya melanjutkan, “suruh mereka mengumpulkan ternak desa, kirim mereka ke setiap rumah. Mulai besok mereka akan dibebankan upeti dan bahan makanan tambahan. Sita kalau perlu, kalau menolak penjarakan. Dalam dua hari ini Mahendra akan diberangkatkan menuju Kerajaan Nusantara dengan puluhan iringan kuda cokelat, izinkan pada budak-budak pelayan membawa permata dan seratus ekor lembu. Kirim sang pembawa pesan menuju Kerajaan Nusantara malam ini juga, beritakan tentang rencana kedatangan kita.”


Mpu Moro meringis, dia ingin menyela, tetapi begitu menatap wajah sang Raja yang semakin pucat, niatnya terhenti. Raja yang dikenalnya memang seorang keras kepala, sekalipun matahari berhenti terbit, sang raja tidak akan menarik keputusannya. Mpu Moro akan mencoba memancing raja dengan cara yang lebih halus.


“Sebuah keberkahan datang dari kebahagiaan, kemarau telah membuat hati kita kering dan rapuh, wahai Baginda. Kekeringan telah menghanguskan tawa menjadi derita. Alangkah lebih baiknya jika kita bisa membuat rakyat ikut berbahagia dengan rencana lamaran itu. Menarik paksa sumberdaya rakyat kita tentu akan memicu pertentangan, itu akan menjadi malapetaka bagi kerajaan. Jika memang rencana itu harus dijalankan, biarkan rakyat Tarlingga ikut bersuka cita.”


“Ayahku pun dulu orang yang rapuh, kecintaannya pada rakyat tidak bisa menyelamatkan kerajaan ini,” balas sang Raja, dia kembali memerintahkan dayang untuk membawa satu kendi tuak. “Inilah waktunya aku akan mengambil keputusan penting demi masa depan kerajaan ini, mengerahkan semua harga diriku demi memperbaiki hubungan kita dengan Raja Mahardhika.”


Welino menggeleng kepala, air mata hampir pecah. Raja telah benar-benar kehilangan akal sehat, gerutunya.


Seorang dayang datang membawakan kendi tuak dari getah aren terbaik di halaman istana. Dengan beberapa tegukan raja menghabiskan tuak itu seperti meminum secangkir air putih. Dia lalu mengembalikan lagi kendi itu pada sang dayang dan memintanya mengisi lagi.


“Sudah kuputuskan,” sang raja berkata, sorot matanya semakin mengendur. “Aku akan menemani Mahendra menuju Kerajaan Nusantara, Welino akan memimpin barisan prajurit-prajurit selama perjalanan.”


Tidak membutuhkan waktu lama bagi seorang dayang untuk datang kembali membawa kendi penuh berisi tuak pesanan sang raja. Sewaktu raja menenggak pada dua tegukan, dia terbatuk-batuk lagi, hidungnya mengeluarkan air tuak bercampur sedikit darah.


“Aku adalah Raja dari Tarlingga, batuk tidak akan membunuhku!” cetus Sanjaya dia mulai mabuk. “Akan aku buat Mahardhika mengakui Tarlingga, begitu pun putri Nimala akan jatuh cinta pada Mahendra!”


Pintu ruang raja berdebam keras sewaktu Ratu Dyah Wuri dan Ruswara memasuki ruang raja. Sang ratu terlihat sedih dan nampak kusut, seolah tidak bisa tidur selama berhari-hari.


“Hentikan kegilaan ini wahai suamiku,” Dyah menegaskan, suaranya selembut harpa. Dyah menepuk bahu Mpu Moro dan memintanya duduk tanpa harus berlutut. “Mahendra belum siap menikah, dia sama kekanak-kanakannya dengan dirimu, seperti cerminan dirimu yang belum siap menghadapi kemarau panjang ini wahai suamiku tercinta.”


“Jika kehadiranmu hanya untuk mengingatkanku pada kesengsaraan mereka, kau bisa meninggalkan ruangan ini Dyah!”


“Kesengsaraan kita!” kecam Dyah, kini sang ratu mulai terisak-isak. “Mereka adalah rakyatmu juga rakyatku! Mereka menangis meminta hujan di saat kau tertawa dalam mabukmu!”


“Salahkan pada Dharma! Apa yang Mayakarsa berikan pada kita? Setelah aku menyetujui perjodohan adikmu dengan Dharma?”


“Apa seorang raja hanya mengharap belas kasihan di balik penderitaan ratyatnya? Apa itu yang diajarkan leluhurmu wahai suamiku?”


“Kau semakin lancang Dyah!” Raja sanjaya murka. Dia berdiri dari dampar kencananya, dan berjalan sempoyongan. Namun, hanya dalam beberapa langkah ia hampir terjatuh sampai-sampai Welino harus menggopohnya kembali ke kursi.

__ADS_1


“Lihat dirimu, kebiasaan mabuk itu sudah menenggelamkan hatimu ke dalam kegelapan wahai suamiku, kepalamu sudah tertutup kabut, dan kini Mahendra mengikuti jejakmu, sungguh kerajaan ini sudah diambang keruntuhan!” jerit Dyah, dia jatuh ke lantai, air matanya tidak bisa terbendung lagi.


 Raja Sanjaya nampak mengacuhkan kata-kata Dyah, dia lalu mengalihkan pandangan pada Welino dan berkata lesu, “sampaikan berita itu besok, mulai siang nanti rakyat harus menyerahkan semua ternaknya sebelum matahari terbenam, jika menolak penjarakan mereka.”


Welino mengigit bibirnya, jarinya serasa kebas dan dia tidak bisa berkata-kata lagi selain menunduk memandang Ratu Dyah yang masih menangis tersedu-sedu.


“Nuranimu sudah mati bersama arak-arakmu! Kau tidak lagi menjadi seorang raja yang dicintai, tidak juga sebagai seorang ayah yang mengayomi, kau sudah tenggelam terlalu dalam!”


Raja Sanjaya bangkit sekali lagi. Walaupun terhuyung-huyung, dia mendekati Dyah dengan langkah hati-hati. Raut wajahnya semakin mengendur, sewaktu Welino hendak menuntunnya berjalan, sang raja menolak dengan santun dan meminta Welino kembali duduk.


Sang Raja lalu memeluk Dyah, harum napasnya berbau aren busuk. Di pandangnya Dyah yang sedang menangis, kecantikannya sudah memudar, terus memudar setiap hari, seakan usia menggerus setiap senti kulit halusnya.


Tanpa segan, Raja Sanjaya menampar Dyah hingga istrinya tersungkur. Tamparan itu memicu jeritan Dyah yang melengking hingga para prajurit istana berdatangan dari arah luar ruangan. Dengan tangan masih terangkat Sanjaya berkata, “Mulutmu semakin lancang Dyah! Kelancanganmu semakin membuatku muak!”


“Ayahanda!” teriak Ruswara.


“Kau juga diam!”


Dalam hitungan menit, ruangan raja di penuhi prajurit-prajurit istana yang berdatangan. Mereka hanya diam mengamati sambil kebingungan, sebagian berbisik-bisik pelan. Tidak ada satu pun prajurit yang menegur ataupun berbuat sesuatu sampai-sampai mereka saling memandang satu sama lain.


Raja Sanjaya memijit dahinya. Sakit kepala hebat menyerang kepalanya, dia sudah cukup mabuk malam itu. Setelah usaha pelik sampai ke dampar kencana, sang raja memerintahkan prajurit untuk keluar ruangannya, nada suaranya menegaskan seolah tidak terjadi apa-apa di ruangan itu. Sejenak para prajurit nampak ragu. Namun, akhirnya mereka keluar satu-persatu dari ruang raja.


            Ruswara memandang wajah ibunda dengan tatapan merintih. Ada luka pedih yang ia rasakan ketimbang luka tamparan di pipi ibunya. Hati Ruswara bergejolak. Apa gerangan yang diperbuat ibunda hingga dia harus menanggung malu yang begitu besar.


           Membangkang bukan sifat yang di miliki Ruswara, dia lebih memilih meredam amarah itu dan menuntun ibunya berdiri. Dia lalu menuntun sang ratu keluar ruang istana. Ketika Ruswara sampai pada pintu istana, pintu itu terasa berat, entah mengapa dia enggan menatap pintu itu lagi, ruangan sang raja seharusnya menjadi tempat para raja-raja terdahulu menguras pikirannya untuk menjaga kejayaan negeri ini. Namun, ruangan itu hanya dikuasai kesintingan ayahnya, dan sekarang sang ratu harus menanggung malu dan sakit akibat kegilaan ayahnya.


Ruswara berucap, “ketahuilah ayahanda, ketika suatu hari nanti rakyat tidak lagi mendukungmu, maka aku akan berdiri di depan rakyat untuk mendukung mereka.”


            Sanjaya samar-samar mendengar perkataan Ruswara tapi ia memilih untuk menggerutu. Raja terbatuk lagi sampai berdeham hebat, dia pun terlihat sangat lelah setelah itu dia menyandarkan kepala pada dampar kencananya.


            “Itu tidak akan terjadi, semua yang menentang perintahku akan berakhir di penjaraku, itu juga berlaku untukmu wahai anakku yang buruk rupa.”


            Ruswara mengacuhkan perkataan ayahnya. Bunyi pintu ruang raja berdebam sewaktu Ruswara meninggalkan ruang raja, meninggalkan ayahnya beserta sang penasihat dan Welino. Dia berharap malam ini adalah yang terakhir dia melihat ibunya menangis.


 

__ADS_1


***


__ADS_2