
Ada kalanya, sesekali Satria merasa lega dan bersyukur pada dewa dirinya dipertemukan dengan sosok Purnapana. Mungkinkah dewa ingin memberi harapan padanya melalui petapa itu? Terpikir olehnya mungkin memang ini salah satu momen terbaik.
Selama beberapa hari sesudahnya, Satria melewatkan banyak hari untuk mempertajam tenaga murninya. Di sela-sela waktu, dia menghindari prajurit pengawas, mengambil sudut-sudut candi ataupun daerah petirtaan untuk berkonsentrasi. Semakin hari ia semakin mahir, bahkan ia merasa tidak kelelahan setiap kali dia berhasil membuat sebuah ranting menjadi sekeras batu.
Sedangkan Harsya kemajuannya lebih lambat dari yang Satria duga, dia berpikir mungkin daun talas yang dipilihnya bukan daun yang cocok sehingga Harsya harus mencoba daun-daun yang lebih lunak. Namun, alih-alih sobekannya menyambung, Harsya malah semakin kelelahan dan mudah pegal.
Setiap malam mereka pun menjadi rutin membawa makanan yang dicuri, bahkan Satria berani menyisakan makanan-makanan itu untuk Syam dan para budak-budak yang terluka di kemah. Para budak-budak itu merasa girang dan gembira. Kalau seandainya para prajurit Mayakarsa mendapati seorang budak makan enak, akankah mereka menyadarinya?
Para prajurit itu hanyalah manusia tambun yang bodoh, pikirnya.
Hingga pada suatu malam mereka kembali menyelinap di balik gelapnya malam di hutan untuk kembali mengunjungi Purnapana. Namun, malam ini sangat aneh, udara berkabut tipis bergerak-gerak menyusuri semak-semak berduri. Mereka berdua kedinginan dan bulu kuduk berdiri menegak.
“Perasaanku tidak enak malam ini, adik kecil.”
“Jangan begitu, kita sudah sering melakukan ini,” Satria berpura-pura tegar.
Suara gagak berkoak di balik rimbunnya kanopi hutan. Mereka terus berjalan melewati pohon bramastana yang rimbun. Perhatiannya teralihkan dengan sisa-sisa kayu arang yang berasap. Baranya sudah padam tapi arang itu masih terasa hangat.
“Lihat! Ada orang di sekitar sini, sebaiknya kita kembali!” Ujar Harsya, ketakutan menjalar dibalik kabut malam.
“Mungkinkah prajurit yang kita temui malam lampau?”
“Siapa pun itu, aku ingin kembali ke kemah!” Harsya berbisik.
“Jangan dulu, aku akan mencoba melihat-lihat.”
Pipi Satria terasa tergelitik. Dia melihat gerakan sekilas di sebelah kanannya, lalu tinju keras melontarkan dirinya hingga ke semak-semak di sekitar pohon bramastana. Sesosok prajurit berdiri menjulang di depannya, kekar dan lebih tinggi dari prajurit di Candi Condok, dengan kulit sewarna tembaga. Otot-ototnya menggembung di lengan dan dadanya. Dia menggunakan selendang dengan simbol matahari berwarna perunggu.
“Lihat siapa yang aku temukan? Anak hutan?” kata prajurit itu.
Di belakangnya, Satria melihat dua prajurit datang menyusul sambil menggenggam obor. Raut mereka keheranan, tertutupi oleh cibiran-cibiran mengerikan.
“Anak hutan sekurus dan sekotor ini? Mereka lebih mirip gelandangan.”
“Atau mungkin budak?”
Seorang prajurit itu mendekati Harsya yang berdiri kaku. Dia lalu mencekik dan mengangkat Harsya hingga kakinya meronta-ronta di udara. “Aneh sekali bagaimana bisa budak berjalan-jalan di hutan, sepertinya mereka milik Mayakarsa.”
“Jangan Tuan kumohon,” suara Satria meringis di balik semak.
Salah seorang prajurit di belakangnya mendekat, Satria dapat merasakan dengus garang dari prajurit itu.
“Lantas mengapa kalian di sini?”
“Tuan kami meminta kami untuk mencari tumbuhan obat,” Satria berkata dalam gemetar.
Prajurit itu terkekeh, “Kau tidak pandai berbohong.”
“Apa jangan-jangan mereka mengenal Purnapana?” tanya seorang prajurit di belakangnya, rasa ingin tahu tersirat dalam wajahnya yang tegas.
“Mustahil. Lihatlah bocah dungu ini. Apa kau pikir Purnapana mau report-repot berteman dengan mereka?”
Satria berusaha menampakkan raut bodoh, meskipun dia tertegun melihat para prajurit-prajurit gagah itu. Mereka yang memburu si petapa, jadi mereka prajurit dari Nusantara? Kekuatannya sangat jauh berbeda dengan para prajurit di daerah Candi Condok.
Harsya masih terangkat di udara, wajahnya mulai berkedut seakan dia hampir kehabisan napas. Hanya beberapa menit lagi Harsya akan selesai.
Pada satu kesempatan cepat Satria meraih sebuah kerikil kecil. Dia mengalirkan tenaga murninya secepat kilat di langit mendung, lalu melemparnya pada tangan si prajurit. Kerikil itu melesat seperti sebuah anak panah yang cepat dan menebas kulit si prajurit hingga darahnya terciprat di udara, Harsya terjatuh masih megap-megap.
“Lari! Lari menuju gua!”
Si prajurit meraung-raung sambil mencengkeram lengan yang terluka, “Keparat, sakit! Apa itu barusan?”
“Gelandangan itu bukan orang biasa! Mereka bisa menggunakan tenaga murni, Tangkap mereka!”
Prajurit Nusantara itu mengejarnya, langkah mereka berdebam berat menginjak lantai lembab hutan. Satria dan Harsya berlarian memacu langkah sambil mengerang dengan putus asa. Mereka memaksa diri untuk terus berlari sekalipun telapak kakinya terasa panas dan perih karena tertusuk semak-semak berduri. Prajurit itu dengan cepat berhasil mengejarnya walaupun mereka berdua berusaha menghindar. Raut wajah sombong terpampang, seolah mereka tidak akan pernah melepaskan buruan di hadapannya.
“Budak gelandangan, mau lari lagi?” kata si Prajurit, kali ini mendekat sambil menggenggam keris. Tak lama waktu berselang, jeritan memekakkan telinga menghambur darinya ketika Chana melompat menerjang wajahnya. Cakar tajam Chana mengoyak kedua bola mata si prajurit sampai ia terjatuh. Darah cair merembes melalui kedua kelopaknya. Kedua rekannya terkejut mengamati, lalu mereka melaju dengan marah.
“Kenapa bisa ada kucing liar!”
Ia mengayunkan sebilah keris ke arah Chana, tapi dengan gesit Chana menghindari dan melompat menuju dahan pohon di ketinggian. Kedua prajurit di belakangnya mengernyit murka.
“Jangan perdulikan kucing itu! Tangkap si gelandangan!” teriak si prajurit buta, sambil menahan kelopak matanya dari kucuran darah hangat.
Satria mencoba mundur kembali tetapi prajurit itu memblokir dari kedua sisi. Mereka melangkah maju, menyumpah serapah dengan suara berat. Di sebelahnya Harsya nampak tidak berdaya, cekikan tadi meninggalkan bekas lebam yang membiru, jika Satria terlambat melempar kerikil itu mungkil leher Harsya sudah patah.
Saat menghadapi kedua prajurit itu, bayangan melintas cepat dalam kegelapan malam. Sesosok tubuh besar melesat seperti kibasan angin menerjang salah seorang prajurit. Sosok itu mencabik dada telanjang sang prajurit dengan satu hempasan. Percikan daging dan kulit si prajurit beterbangan seperti debu-debu berwarna merah, meninggalkan bekas luka cakar terbuka.
__ADS_1
“Cindaku! Purnapana! Dia datang!” kata si prajurit yang terluka.
Sosok itu berdiri tegak membungkuk, pendar mata emasnya menyala penuh amarah. Bulu kelabunya merumbai-rumbai seperti gelombang air. Uap putih hangat keluar melalui mulutnya, memperlihatkan taring-taring berwarna gading.
“Aku tidak bisa melihat!” kata si prajurit yang telah buta.
Purnapana mengangkat kedua tangannya dengan sigap, dengan satu lompatan tinggi dia menerjang si prajurit yang masih sehat. Prajurit itu memiliki reaksi cepat, dia hampir bisa menghindari wujud cindaku itu, tetapi Purnapana memiliki cakar yang panjang. Satu kibasan cakar kanannya mengenai telak urat nadi leher si prajurit. Seketika darah membanjiri rumput hutan menjadi merah gelap, prajurit itu terbujur kaku dan selesai.
Menyerahlah! Pinta Purnapana, sesungguhnya dia merasa prihatin dan kelelahan. Menjadi sosok cindaku di usianya kini bukan ide yang bijak. Luka di pahanya belum sepenuhnya sembuh, sedangkan satu lompatan itu membutuhkan tenaga yang besar. Sambil menahan perih luka tusukan pahanya silam, dia mengamati kedua prajurit tersisa. Mereka nampak tidak berdaya dan bimbang.
Prajurit dengan luka dada menjawab sombong, “Keparat kau siluman, Raja Mahardhika suatu saat akan menghabisimu, kau menjadi hama terakhir di benua ini! Lihat saja kau...”
Alih-alih meneruskan, kata-kata itu terhenti seiring dengan tenggorokan si prajurit yang tersedak oleh cakar Purnapana. Tanpa bisa berkata lagi, dia jatuh menghadap langit, dengan mulut menganga dan pandangan kosong.
“Demi kebebasan, aku tidak mempercayai apa yang kulihat!” Sambil terengah-engah Harsya tersentak mundur. Satria pun mendekati sahabatnya, ditangkapnya tangan Harsya, dia mencoba menenangkan.
Tiba-tiba saja Satria menarik Harsya ke tanah lagi dan mengeram, “Masih belum selesai!”
Bumi pun menderum seperti gempa. Lewat kulit tubuhnya mereka merasa sebuah badai gemuruh sedang datang, dan semakin mendekat. Barisan-barisan kuda sehitam jelaga meluncur menuju mereka.
“Akhirnya kau keluar dari persembunyianmu Purnapana!” kata salah seorang prajurit berkuda itu.
“Tolong aku, aku tidak bisa melihat,” si prajurit yang telah buta meraba-raba sekelilingnya. Darah di kelopaknya hampir membeku membentuk jeli-jeli merah.
“Memalukan sekali harus melihat seorang prajurit terhormat sepertimu dipermainkan seperti ini? Pastikan kabar ini sampai pada Tuan Pragantara. Purnapana akan mati malam ini.”
Seketika ketika seorang pasukan kuda itu memutar arah menuju arah berlawanan, Purnapana meloncat dengan dua langkah seperti lompatan kucing liar, mencengkeram sang penunggang kuda hingga dia terjatuh dan mencabik tubuhnya. Bulu-bulu kelabunya beterbangan ketika dia melakukan gerakan-gerakan tangkas. Para prajurit bergerak maju, sambil mengunus tombak mereka berteriak menyebut nama sang raja. Purnapana menghindari hujaman tombak dari para pasukan kuda dengan lompatan-lompatan anggun.
Lari! Aku bisa menahan mereka! Kata Purnapana, suaranya segaram auman harimau belantara. Satria dan Harsya bergidik, tetapi mereka tidak sempat memikirkan hal itu. kedua sahabat itu saling bantu berdiri dengan susah payah, lalu berlari menerobos semak-semak rimbun untuk mengecoh para kuda.
“Kejar! Sebagian kejar anak muda itu!” perintah prajurit berkuda.
Barisan itu terpecah menjadi dua bagian yang mengarah para arah Satria dan Harsya. Purnapana sudah mengantisipasi itu, dia dengan cepat menerkam leher kuda pengejar sampai kuda itu melolong kesakitan. Para pengejar berjumlah tiga pasukan, dua pengejar berhasil lolos. Kobaran oranye obor menyala-nyala di belakang purnapana, bagaimanapun dia tidak bisa melenyapkan dua pengejar itu sebelum empat prajurit kuda di belakangnya mati.
Dengan perasaan muak, Purnapana memandang ke wajah-wajah prajurit itu. Dia mengerang mengancam, sehingga kuda-kuda hitam itu mulai gugup. Tidak lama kemudian salah satu prajurit menarik tali kekangnya, si kuda menerjang ke arah Purnapana dengan tombak yang teracung.
Sambil menahan sakit Purnapana menghindar ke sisi samping kuda, melepaskan cengkraman pada paha si kuda. Kuda itu melolong dan terjatuh, tetapi dua prajurit lainnya menusuk-nusuk tombak itu dengan panik ke arah punggung Purnapana. Untuk pertama kalinya, mata tombak itu berhasil menusuk punggung Purnapana. Darah merembes melalui rambut-rambut lebat kelabu cindaku itu.
“Kau semakin melemah Purnapana!”
Kali ini Purnapana memulai serangan dengan melompati mayat si prajurit. Dia mendekati kedua prajurit yang sedang mengacungkan tombak. Otot-otot para prajurit itu tegang, siap menangkis serangan cepat Purnapana. Setiap langkah dalam dirinya kini penuh perhitungan, Purnapana tidak bisa lagi menyerang sembarang. Mereka prajurit terbaik yang dikirim Mahardhika, bukan prajurit rendah yang di bawa Toro.
Sebelum para Prajurit menyadari apa yang terjadi, Purnapana menebaskan cakar tajamnya ke arah pinggang si prajurit. Namun prajurit itu mereflek dengan sangat baik, menangkis dengan tombak panjangnya sampai tombak itu terpental dan menancap di batang pohon angsana.
“Dia sangat cepat!” jerit salah seorang prajurit.
Purnapana mengulangi taktik itu sekali lagi, dia memutar dan menerkam prajurit tak bersenjata itu. Seketika si prajurit hanya bisa menangkis gigi-gigi purnapana dengan kedua lengannya yang menyilang. Dengan ganas, Purnapana mencabik kedua lengan itu dengan gigi taringnya yang dipuntir memutar. Prajurit itu terkapar tak berlengan, dia menjerit-jerit.
Prajurit satunya mencoba kabur, dia memecut kudanya dengan cepat. Kudanya melesat dan menukik menuruni hutan yang semakin curam, bahkan kuda itu merasa takdirnya semakin dekat. Dia berlari tidak tentu arah, menabrak batang-batang pohon besar yang gelap sampai langkahnya terpincang-pincang.
Kuda-kuda hitam milik Kerajaan Nusantara adalah kuda paling berani yang dikisahkan menjadi momok menakutkan bagi para pasukan kuda. Namun, di hadapan wujud cindaku, mereka nampak ragu. Kuda itu keletihan, meskipun si prajurit penunggang memecut kudanya dengan keras hingga kulit sang kuda lecet. Si kuda nampak gemetar dan mendengus sedih.
“Bajingan kau Purnapana,” cetus prajurit itu menolak menyerah.
Dalam gelapnya malam prajurit itu dapat melihat sorot pendar emas mata kucing menyala. Purnapana tidak menunjukkan belas kasihan pada prajurit terakhir. Dengan auman yang menggema di langit hutan itu dia kembali melompat dan menerjang. Prajurit itu tidak menyerah begitu saja, dia memutar tali kekangnya untuk menghadap sang cindaku.
Setiap kali Purnapana mengibaskan cakarnya, suara yang dihasilkan bagai senandung kematian yang melayang di udara sekitar si prajurit. Serangan pertama berhasil dihindari, sampai serangan kedua, prajurit itu menyiapkan serangan balasan, ayunan tombak melesat menuju arah tubuh harimau Purnapana yang sedang melompat menerjang.
Prajurit itu terhempas dan jatuh dari pelananya, sedangkan sang kuda berhasil lari ketakutan meninggalkan si prajurit. Dalam keadaan tertegun dia berusaha bangkit, tetapi Purnapana bersiap-siap mengakhiri.
“Pada akhirnya kali ini kau menang, keparat.”
Gigi-gigi tajam Purnapana terlihat dalam seringainya yang buas, Purnapana lalu menebas leher prajurit terakhir itu sebagai penutup dari serangan terakhirnya.
Masih tertegun akibat tusukan tombak yang diterimanya, Purnapana berhasil menegakkan tubuhnya. Sakit dan panas terasa di bagian punggungnya yang lembab. Dulu dia bisa dengan mudah menghindari berbagai hujaman tombak dan anak panah, tetapi ia sendiri bertanya-tanya mengapa dia semakin melemah dengan wujud ini. Purnapana mencoba melupakan itu dan bergerak menerjang semak-semak perdu hutan, sambil mengendus bau Satria, masih ada yang harus dia selamatkan malam ini.
Di sisi hutan lainnya, Satria berlari dan terus berlari, dia tidak perduli kemana langkah kaki itu membawanya. Di sebelahnya, Harsya terlihat semakin kelelahan, keringat membanjiri tubuh mereka berdua. Ini menjadi mimpi buruk bagi Satria, suara derap kuda itu semakin mendekat. Seluruh tubuhnya terasa sakit terutama di bagian kaki. Setiap kali mereka melangkah, dia meringis kesakitan.
Seekor kuda melompat ke arah depan Satria tanpa ragu. Prajurit penunggangnya mengayunkan tombak tembaga dengan ganas. Satria berjongkok untuk menghindari mata tombak yang melesat, tetapi kengerian itu seolah datang bertubi-tubi. Seekor kuda hitam datang lagi berderap dari arah belakangnya, hampir menghantam Harsya.
“Masuk ke hutan lebih dalam lagi, Harsya!”
Mereka berdua menerjang tubuh kuda untuk menghindar, langkahnya tersentak terbuka, berjuang keras untuk mengecoh kuda-kuda hitam itu.
“Kau baik-baik saja? Tanya Satria, prihatin. Dia dapat melihat wajah gemetar Harsya.
“Kita harus keluar dari hutan ini, Adik kecil, aku sudah tidak sanggup,” jawabnya tidak berdaya.
__ADS_1
“Tahan sahabatku, guru Purnapana akan menolong kita!”
“Maksudmu sosok cindaku tadi? Aku tidak menyangka bahwa guru ternyata....”
“Awas!”
Kuda hitam pengejar kembali menerjang melompati bebatuan berlumut, kini mereka berada di depan Satria dan harsya.
“Sejak kapan manusia bisa berpikir mereka bisa menyamai kecepatan kuda?” cetus si prajurit.
Merasa lelah, Satria berhenti dan memaki. Seakan lelah untuk berlari, Satria berusaha mengalirkan tenaga murninya pada telapak tangannya. Dia melaju dan menyambar prajurit yang mengamati dengan waspada.
“Mereka bukan anak muda sembarangan.”
Satria tidak pernah bertempur sebelumnya, semua gerakan-gerakannya hanya simulasi latihan kanugaran yang diajarkan oleh Purnapana beberapa hari belakangan. Prajurit itu tertawa melihatnya, lalu Dia turun dari kudanya dan menantang Satria.
“Jadi kau bisa beladiri? Tunjukan.”
Prajurit itu membuang tombaknya dan berhadapan dengan Satria, sedangkan salah satu prajurit lainnya mengarahkan tombaknya pada Harsya, “Kalau kau kalah berduel, biarkan tombak ini menjadi penghantar kematian kawanmu, dan kalau kau mencoba lari, tombak ini juga akan menembus kepalanya.”
Mereka mempermainkan kami.
Prajurit itu berkuda-kuda menyilangkan kedua lengan dengan wujud yang aneh. Di lihat dari segala kemungkinan, Satria kalah telak. Prajurit itu bertubuh lebih besar, tinggi dan berisi. Dia melesat seketika dengan kecepatan yang menakutkan, meluncurkan tendangan tumit ke arah perut Satria.
Serangan itu mengenai telak tubuh Satria, menghempaskannya ke tanah. Perutnya terasa melilit dan berguncang. Satria membaringkan diri, menengadah menghadap langit gelap berawan berharap sakit di perutnya memudar. Dengan susah payah kemudian dia bangkit sambil mengerang.
“Jadi itu ilmu kanuraganmu? Lebih mirip boneka jerami tak bernyawa,” cibir prajurit itu.
Sewaktu akhirnya Satria berdiri, dia terlalu pusing untuk berkonsentrasi. Usahanya untuk berdiri menyebabkan tubuhnya kikuk, dia meringkuk memegangi perutnya dan menunggu segala sakitnya mereda. Sesudah merasa baik, dia berkuda-kuda lagi memandang benci prajurit di hadapannya.
Satria memusatkan tenaga murninya pada kedua telapak tangan sekali lagi, sambil merasakan uap-uap hangat itu mulai mengaliri sendi-sendi lengannya. Dia membayangkan kenangan-kenangan suram yang terbesit di dalam benaknya. Kebencian, amarah, dan letih membanjiri tenaga murninya seperti air bah yang memecahkan bendungan.
“Suatu saat kalian para kacung raja-raja akan menerima akibatnya!”
Udara di sekitar mereka seolah berputar dengan sensasi yang aneh. Prajurit di hadapannya mundur selangkah, dia dapat merasakan tekanan udara menjadi semakin berat dan dingin. Uap-uap gelap tampak merembes dari tubuh Satria, membuat prajurit itu membeku. Sedangkan kuda hitam mereka lari terbirit-birit sambil meringkik ketakutan.
“Keparat! Dia penyihir! Habisi kawannya!”
Seketika kehebohan itu menjadi kesunyian yang mengganggu. Bola mata Satria berubah menjadi pendar emas menyala dengan pupil yang menyempit dan menajam seperti hewan nokturnal. Tanpa pikir panjang kawan prajurit yang ketakutan itu hendak menusukkan tombak itu pada Harsya, tetapi dengan satu ledakan udara yang besar, tombak itu terlepas dari genggamannya.
“Dia! Anak sinting!” Jerit si prajurit tersentak mundur.
Satria tidak menyadari sejauh mana dirinya kini. Luapan itu terus mengalir liar, seketika berubah menjadi ketakutan yang aneh. Bayang-bayang ibu asuhnya muncul dari kenangan-kenangan penuh derita, memeluknya penuh rindu, dan membisikkan nyanyian-nyanyian penghantar tidur. Suara Asih menggema bagaikan titik air yang jernih menetes kian tenang. Air mata Satria menitik dari pendar mata emasnya, dia merasa sangat lelah sekali. Sekerjap tekanan udara kembali mereda dan Satria jatuh pingsan.
“Ra-raja Mahardhika harus tahu tentang ini!”
Dia tidak akan tahu, sebab kalian tidak tidak akan melihat matahari pagi lagi..
Suara berat di belakang kedua prajurit itu mengagetkan mereka. Namun, belum sempat mereka memutar pandangan, kedua cakar Purnapana telah menembus kedua tubuh prajurit itu.
Takdir.... ramalan itu telah tiba.... Sosok cindaku Purnapana berjalan terhuyung-huyung.
Harsya memandangi Purnapana dengan iba, rambut lebat tubuh kelabunya terlihat kusut, asap-asap keluar dari celah rambut megarnya, membuat rambut itu seketika mulai memendek dan menghilang, menampakkan kulit keriput Purnapana. Ukuran tubuhnya juga semakin menyusut membuatnya kembali ke wujud manusia.
Purnapana Meringkuk kepayahan, tombak prajurit itu masih menancap di punggungnya, dengan gerakan letih, Harsya mencabut tombak itu.
“Guru!”
Harsya mendekati Purnapana, kali ini kesedihan menyeruak. Dia mencoba menyembuhkan luka-luka Purnapana. Hawa dingin dan sejuk terasa menyebar dalam telapak tangannya.
“Aku tidak berguna guru, aku hanyalah pecundang,” Harsya menangis kecewa.
“Tidak semua manusia dibebankan kekuatan untuk bertempur, Harsya,” sahut Purnapana.
Tenaga murni itu terus mengalir ke dalam luka Purnapana selama beberapa menit setelahnya. Lambat laun luka purnapana bergerak-gerak, seakan daging-daging baru tumbuh hampir menutupi lukanya. Purnapana merasa enteng dan tenang.
“Apa guru melihatnya? Satria, dia...,” kata Harsya terisak-isak, memecah keheningan.
“Tidak sekarang,” Purnapana enggan menjelaskan. “Mulai hari ini, Satria akan berlatih sesuatu yang lebih dalam, lebih serius. Kau kembalilah ke kemah budak, sementara ini Satria akan menetap di guaku. Mulai besok dan seterusnya, hutan ini menjadi bahaya untuk kalian, para prajurit Nusantara tidak akan berhenti sampai di sini, hingga waktunya tiba, Satria akan kembali.”
“Ham-hamba mengerti, apa ini tentang tenaga murni Satria, guru?”
“Lebih dari itu,” Purnapana mencoba bangkit sambil terengah-engah. Dia memandang Satria yang terbaring pingsan. “Malam ini dewa membuktikan, bahwa kejayaan cindaku akan bangkit sekali lagi.”
***
__ADS_1