Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Satria


__ADS_3

Dia tak begitu ingat perjalananya sewaktu kembali menuju Candi Condok melalui rute tepi sungai. Membawa Purnapana menuju candi ternyata ide yang buruk. Dia berjalan selambat penyu, tongkat ulinnya menyulitkan langkahnya melalui batu-batu. Mereka memutuskan untuk kembali ke jalan tanah yang lebih sempit di dalam hutan, setidaknya jalan tanah memudahkan Purnapana untuk bergerak.


            Chana si kucing hutan merayap melalui jubah lusuh Purnapana, dia tidur terlungkup di bahu Purnapana sambil sesekali mengendus-ngendus rambut putih Purnapana. Rambut Purnapana memiliki bau yang khas, campuran bau darah dan bau kucing liar.


Mereka menyusuri jalan hutan yang berliku-liku. Satria merasa resah, dia memikirkan Asih dan Syam. Untuk sesaat Satria ingin merubah dirinya menjadi cindaku lagi dan berlari kencang menerjang hutan-hutan ini. Namun, Purnapana akan menentangnya, kekuatan itu tidak digunakan dalam keadaan amarah atau dia akan kehilangan kesadarannya lagi. Dia tidak ingin menjadi sesosok harimau buas tanpa hati, dia masih memiliki tekad.


Satria berjalan menyusuri jalan setapak itu dengan linglung. Sesaat dia ingin menangis, Apa yang akan terjadi selanjutnya dapat menjadi bencana untuk dirinya dan kedua sahabatnya. Satria juga ingin marah, kenapa Garung bisa mengendus lebih cepat dari yang dia bayangkan. Apakah para prajurit Nusantara turut andil?


Jauh di balik rimbun pepohonan, Candi Condok terlihat, dan suara bunyi kentungan terdengar.


“Apa lagi sekarang?” Satria berseru mempercepat langkah.


“Bunyi panggilan lagi adik kecil,” sahut Harsya sambil tersengal.


Satria berlari meluncur menembus jalan setapak itu, meninggalkan Purnapa dan Syam.


Di luar pelataran candi, budak-budak tersisa bergerak ke arah yang sama, bergegas untuk menuju ke sumber suara dentuman kentung dengan wajah muram. Kentungan itu sepertinya berdentum semakin keras, memanggil-manggil dengan teriakan lantang. Tidak ada raut gembira dari wajah para budak, mereka muak menanti sebuah berita yang sepertinya hanya buah malapetaka di siang itu. Satria tiba dan menyusup di antara aliran budak-budak, mencoba membaur dan memerhatikan dalam diam. Dia mendengar budak-budak meringis, cemas dan ketakutan.


Sebuah pedati datang dari gapura Selatan, lewat meninggalkan jejak roda yang dalam di jalan. Dhanu melompat dari pedati itu, seketika bunyi bum keras terdengar menggema. Dia mengenakan perhiasan dan gelang-gelang tembaga yang nampak berat. Suara gemerincing dari gelang-gelang di tangannya terdengar nyaring sewaktu dia mencongklang lewat. Kulitnya berminyak membuatnya terlihat berwarna gelap mengilap diterpa cahaya siang bagai permata hitam berkilau. Dia berjalan menuju kerumunan budak-budak, para budak berjuang berlutut sementara para prajurit pengawal yang bertubuh tambun memecut mereka dengan kasar.


“Beri jalan brengsek!” teriak seorang pengawal, kemudian budak-budak itu menghambur minggir. Garung si wakil kepala pengawas setengah berlutut sewaktu Dhanu menghampirinya dengan wajah garang.


“Kudengar ada keributan di sini.”


“Anu Tuan, tentang pencuri,” kata Garung enggan menatap wajah Dhanu.


“Perjelas.”


“Tarmigi si penjaga gudang melapor kalau gudang kecolongan. Awalnya dia mengira tikus dan kecoak, tapi ada beberapa keranjang kosong, beras tertumpah, buah berkurang, dan daging-daging di gantungan menghilang.”


“Apa ada kemungkinan anjing hutan? Atau codot?”


“Tidak mungkin karena anjing hutan akan meninggalkan bau pesing di gudang, keranjang buah itu kosong seakan ada yang mengambilnya dengan licik, bahkan ada tumpahan cengkih kering di sudut gudang.”


Dhanu mengangguk, dia diam sejenak, tetapi urat-urat wajahnya mulai berkedut.


“Kita punya kucing pencuri di candi ini,” dia berjalan menuju kerumunan budak-budak yang bersujud dalam sesak. Sambil memandang wajah-wajah gemetar itu Dhanu berkata, “lihat lah tubuh mereka; kurus, kotor, dan pastinya lapar. Siapa yang tidak tergoda memakan makanan nikmat yang diberkati untuk anak buahku?”


Dhanu mencapit jarinya pada dagu seorang budak yang ketakutan, dia menatapnya, seketika membuat budak itu semakin gemetar.


“Benarkan?” katanya berkata parau.


“Hamba tidak mencuri Tuan, sungguh.”


“Tutup mulutmu!” Dhanu melempar wajah budak itu sampai tubuhnya membentur budak-budak di sekitarnya.


Kehebohan mulai terjadi, mereka berdiri berdesakan. Satria membiarkan arus manusia itu menyeretnya mundur. Budak-budak itu semakin tidak terkendali, mereka tahu Dhanu murka dan kemurkaannya kali ini lebih mengerikan dari para pengawal-pengawal lainnya.


“Pencuri!” kata pengawal menyabetkan pecutnya pada sembarang budak-budak yang meringis ketakutan.


“Budak biadab!” timpal lainnya.


Suasana pelataran menjadi sangat mengerikan, Satria hanya bisa melihat lecutan tali cambuk melambai-lambai ganas di udara seperti ombak. Budak-budak mengerang, menjerit dan berteriak. Satria mencoba mundur ke sisi gerbang tetapi prajurit sudah menanti mereka, dengan pentungan kayu yang berukuran sedang, prajurit itu menghajar budak-budak yang ingin melarikan diri. Mereka terjatuh, darah keluar dari pelipisnya yang retak, sebagian mengalami kejang-kejang.


“Budak brengsek!” kata si prajurit pemukul.


Satria menjadi panik, dia beringsut bergabung pada kerumunan, menyelinap di antara tubuh-tubuh yang bedesakan  menuju menuju arca dewa kemakmuran. Dia terdorong ke tumpuan batu pahatan. Punggungnya terasa ngilu dan berdenyut. Dia mulai memanjat pada patung dewa. Kuku ibu jarinya patah dan meninggalkan noda darah pada batuan andesit sang arca, tetapi dia berhasil naik dan menjejalkan kaki diantara kaki sang arca dewa.


“Biadab, kalian manusia biadab!” raung salah seorang budak sewaktu amukan cambuk itu memecut tiada henti.


“Mau apa kau?” kata seorang prajurit ketika budak ceking mencengkeram tangannya, dia mengigit kulit lengan itu sampai daging merah si prajurit nampak jelas.


“Bajingan!”


Sebutir batu melayang dari kerumuman, menghantam mata prajurit, seketika bulatan putih bola matanya pecah dan darah merah memercik, serangan itu membuatnya terjatuh. Melihat kesempatan tiba, para budak berlomba-lomba menginjak kepalanya sampai wajah si prajurit terbenam setengah di atas tanah berumput tipis.


Tindakan itu memicu keberanian budak-budak lainnya, mereka mengerubuni para prajurit pemegang cambuk. Dengan tangan kering tak berdaging, mereka mendekap prajurit seperti perangkap tikus, di bawah kaki budak lainnya merayap mengigiti jari kakinya, serangan itu membuat mereka merasa mual, sampai salah seorang budak memuntahkan satu jempol kaki.


Prajurit itu menjerit, dia roboh seperti kerbau gemuk yang kehilangan keseimbangan. Seorang budak lainnya meraih cambuknya dan melilitkan tali rotan itu ke leher. Prajurit itu meronta-ronta dalam sesak, jemarinya yang besar mencoba mengais-ngais tanah. Namun, budak-budak itu menang jumlah, butuh tiga orang budak untuk menarik tali cambuk itu sampai akhirnya dia diam tak bernapas.


Garung berlari menuju kerumunan budak pembangkang sambil memekik tidak karuan. Dia menerjang sisi depan, menebaskan kentungannya pada lautan kepala yang ada di depannya. Bunyi buk keras terdengar mengerikan. Kentungan bambu itu menghantam puncak kepala budak dan membuatnya terbaring terlungkup seketika. Prajurit lainnya maju menerjang dan menusuki para budak dengan keris-kerisnya. Di mana-mana timbul kekacauan saat orang-orang bergelut.


Keris itu membuat keberanian budak memudar, mereka kalah senjata. Di lihat dari segala kemungkinan, tangan kosong sulit mengalahkan senjata tajam. Budak-budak mundur meninggalkan mayat kawannya, tetapi Dhanu terlanjur murka. Dia berusaha mengejar budak-budak itu dan melompat menerjang sambil menghunuskan keris berkaratnya. Satu, dua, tiga budak tewas oleh keris Dhanu.


Sewaktu berbalik, Dhanu melihat seorang budak berusaha melaju dengan mengacungkan batu pahat. Dhanu bergegas menghantam wajah prajurit itu dengan tinjunya, mematahkan hidung si budak hingga wajahnya bengkok.


“Kemari kalian pembangkang! Kalian pikir kalian bisa menyamai kekuatanku!”

__ADS_1


Raungan Dhanu menggema, membuat budak-budak segan.


“Akui saja siapa pencuri itu maka tidak ada lagi kematian! Sebutkan namanya dan kalian akan diampuni! Tapi jika kalian menginginkan ini, aku dengan senang hati membanjiri pelataran ini dengan darah kotor kalian, dan dewa akan menjadi saksi kematian kalian!”


Para budak terengah-engah dalam kebisuan, mereka kehilangan semangat.


Aku... akulah pencuri itu, bisik Satria mengintip di balik celah arca. Mereka mati, mereka tiada karena aku, aku terlalu pengecut menyaksikan ini, sedangkan aku yang mereka inginkan.


            “Jika tidak ada yang mengaku, pelataran ini akan menjadi lahan eksekusi untuk kalian semua!”


            Aku...


            “Hamba Tuan. Ampuni mereka,” Suara perempuan lirih muncul di balik kawalan prajurit pengawal.


            Dhanu mengangguk, wajahnya nampak sekeras batu. Para pengawal yang mendengar, langsung menyeret kasar Asih, membawahnya kehadapan Dhanu. Tangan-tangan kasar prajurit memaksanya bersujud di hadapan Dhanu. Asih tidak bisa membendung air matanya.


“Perempuan ini telah mengakui kejahatannya di hadapan arca dewa dan manusia, di candi suci ini. Kejahatannya membuat darah abdi setia tertumpah, begitu pun pengawal setiaku.” Bau anyir darah mengambang di sekeliling Dhanu saat dia menatap Asih dengan jijik.


            “Apa yang harus dilakukan pada tabib terkutuk ini, Tuan?” Garung bertanya setelah ia meludah, mulutnya masih terasa asin.


        “Penghakiman.”


            Dhanu menjambak rambut Asih dan mendesaknya menengadah ke arah depan. “Lihatlah wajah-wajah itu, berapa banyak nyawa yang sudah kau selamatkan selama lima belas tahun ini? dan sekarang banyak di antara mereka menjadi pembangkang dan harus mati karena menanggung dosamu!” dengan tarikan kuat, dia menarik rambut Asih lebih kencang sampai rasanya kulit kepala Asih hampir terkelupas. “Kau memiliki hati seperti dewi, tapi pengkhiatanan takkan pernah terampuni!”


            Dhanu menarik keris di pinggangnya, dalam hitungan detik dia menggorok leher Asih. Leher keriput itu terbelah memancurkan darah merah muda seperti pancuran lumpur. Tubuh Asih kejang dan dia tidak mampu berteriak.


            Kerumuman budak menjerit-jerit, dan Satria merasakan tubuhnya seolah berguncang. Dia terjatuh, meronta dan meraung. Satria menggeliat keluar dari kerumunan sambil melolong. Dia menimpa mayat-mayat budak dan pengawal. Tubuh-tubuh budak menghimpit di sekelilingnya, mereka ketakutan dan saling dorong. Air mata Satria mengalir di wajah, membutakannya.


            Sebuah tangan muncul dari kerumunan dan mencengkeram lengannya dengan keras, begitu kencang sampai-sampai dia harus terjatuh kesekian kalinya. Sebentuk wajah didekatkan ke wajahnya, wajah gemuk, dan gigi kuning berbau busuk. “Putranya Tuan! Putranya!” suara parau prajurit mengeram padanya.


            “Bawa ke sini!” sahut Dhanu lantang.


            Prajurit itu mengguncangnya begitu keras sampai kepala Satria berdengung. Dia menganga dan tubuhnya kejang. Seketika kenangan-kenangan Asih memutar dalam benaknya. Dia teringat kisah bertahun-tahun lamanya. Sewaktu Asih membawakannya bubur sirih karena lututnya membentur tumpukan bata merah.


            Satria menangis, tidak sanggup harus hidup seperti ini. Mengapa hidup begitu keras ibu? Mengapa dewa mengkaruniai kehidupan yang kejam pada kita?


            Karena berbagai alasan, ibu yakin. Tidak peduli seberapa banyak nikmat hidupnya, seberapa kaya hartanya, manusia tidak akan pernah puas akan kehidupannya. Dunia akan selalu bertindak kejam untuk mereka yang tidak pernah berjuang meraih kebahagiaan. Mungkin itu bukan pikiran yang menyenangkan nak, tapi itulah kenyataan. Begitulah dunia ini diatur. Meskipun takdir kejam itu menimpa kita, bukankah kita masih memiliki secercah nikmat itu Satria?


            Satria menggeleng.


            Satria tersenyum. Bisakah kita merubah nasib kita sebelum hari kebebasan itu tiba?


            Tentu nak, dan kuharap ibu bisa  menyaksikanmu tumbuh dan merubah dunia ini.


Asih tertawa kecil dan menggosok rambut Satria.


            Bagaimana jika saat itu ibu sudah pergi?


            Pergi? Kemanakah ibu harus pergi? Sedangkan kita bersama-sama hidup di candi ini.


            Pergi mmm, maksudku, mati.


            Asih tertawa lagi, kau tertalu berpikir jauh nak. Kalau itu terjadi, kau harus relakan ibu pergi.


            Pergi.


            Tiada.


            Hilang.


            Kebebasan.


            Pembalasan.


PEMBALASAN....


            Kabut hitam gelap menggantung di langit Candi Condok. Sementara orang-orang di pelataran bergidik menyaksikan kabut-kabut yang terserap tubuh Satria. Jantung satria berdetak kencang seirama dengan tubuhnya yang berguncang hebat. Dalam waktu yang bersamaan, uap kehitaman merembes melalui kulit-kulitnya yang licin karena keringat. Satria melolong, air matanya menetes dari sudut bola matanya yang memutih.


            Rambut berwarna kelabu tumbuh dari punggungnya, sedangkan rambut hitamnya berubah warna menjadi perak dengan loreng-loreng hitam. Ototnya bertambah besar sampai-sampai prajurit itu tak sanggup mendekapnya lagi. Mereka tersentak mundur, melongo dengan tatapan tolol menyaksikan kengerian yang lebih hebat. Cakar seputih tulang tumbuh dari jari-jarinya yang kurus, tajam dan kuat.


            Sewaktu wujud Cindaku itu berubah sempurna, Satria memandang mereka dengan mata kucingnya. Bibirnya terangkat, dan dia mengaum, suara khas harimau menggema di atas pelataran Candi Condok.


“Siluman! Siluman!” jerit prajurit yang tersentak.


Namun belum sampai dia berlari, Satria melompat dan menerkam prajurit itu dari belakang. Dengan beringas dia mengoyak punggungnya berkali-kali sampai akhirnya prajurit itu tidak bergerak. Dia takkan membiarkan mereka lolos. Dia akan menangkap mereka dan mencabik-cabik mereka, sampai Dia menghapuskan keberadaan mereka dari muka bumi.


Satria melihat prajurit-prajurit gemuk lainnya membeku, dia terjun ke arahnya dan meraungkan kesedihannya serta mempercepat laju lompatannya. Kedua prajurit itu berusaha berkelit, tetapi mereka terlalu lamban untuk menghindari seekor harimau. Satria mengigit perut dan menerbangkan isi perutnya. Hujan darah mengucur dari tubuh prajurit itu. Dia berteriak kesakitan tetapi Satria tidak perduli dan memutar tubuh pada prajurit satunya.

__ADS_1


Mati... Mati...!


Dengan satu hentakan kuku, kepala prajurit itu terlepas dan menggelinding diantara ratusan kaki-kaki budak.


Sontak kerumunan itu berteriak dan menjerit. Mereka berlarian seperti semut-semut kepanasan. Bunyi dentam kentungan garung menggema, dengan langkah payah dia berlari menuju kuda di pedati.


“Kabur! Lari! Iblis, ada iblis di Mayakarsa!”


Satria bisa merasakan benak orang lain di sekitarnya. Takut dan cemas. Namun kemarahannya, membutakan nuraninya. Dengan langkah kucing Satria berlari melompati dinding-dinding candi, hingga dia tiba di samping pedati. Garung kala itu sedang menaiki pedati harus terjatuh sewaktu Satria melolong dalam kegelapan. Kuda-kuda itu kabur menabrak sekerumunan lautan manusia, orang-orang terlempar dan terinjak. Namun, Garung jatuh tak berdaya menghadap Satria, dia menyeret tubuhnya ke belakang sambil mengangkat kedua tangannya.


“Ampuni hamba, hamba akan memastikan kebebasan anda, hamba bersumpah....”


Bualan itu terhenti ketika Satria mengigit wajahnya, mencabik dengan taringnya sampai serpihan kulit wajah garung terpercik di rumput hijau, membuat Garung kejang-kejang tersedak.


Bunuh... Bunuh....


Dhanu tertegun, dia masih terpaku sementara matanya tidak berkedip menyaksikan kematian dari keganasan Satria. “Seharusnya cindaku telah punah, dan sosok itu bersembunyi di dalam tubuh bocah budak ini.”


            “Serang aku binatang buas,” kata Dhanu. “Aku ingin mengujimu.”


            Tekanan memenuhi benak Satria. Pikirannya dikaluti kabut gelap dan tubuhnya bergerak mengikuti kebenciannya. Dhanu... Harus mati...


            Otot-otot Dhanu mengencang sewaktu Satria berlari ke arahnya, melompati tubuh prajurit dan meninggalkan hujaman darah di udara. Satu serangan di hindari Dhanu dengan sempurna, tubuh harimau Satria berguling menghantam pedati kayu sampai pecahan kayu memenuhi tanah.


            “Kau kuat, tapi kau tetap hewan buas. Apa wujud itu hanya menumpang padamu? Sungguh aku sangat kecewa, karena cindaku adalah sesosok penjaga yang tidak sehina dan selemah dirimu!”


            Konsentrasi Satria berangsur-angsur melemah dan Dhanu menyambar kesempatan ini untuk memaksa dirinya masuk ke dalam jangkauan Satria. Alih-alih menghindar, Satria melolong ke arah Dhanu dan seketika tekanan angin mendorong Dhanu dan menyeretnya jatuh.


            “Penyihir,” Dhanu terbelalak. Rasa menggelitik yang menyiksa merayapi tubuh Dhanu ketika dia merasa udara di sekitarnya menjadi semakin berat. “Wujud Siluman dengan kekuatan penyihir, kau membuat dirimu menjadi musuh dari Raja Mahardhika, wahai bocah budak.”


            Tangan Dhanu menggenggam gagang kerisnya. Lolongan kesedihan terdengar lagi dari mulut Satria. Dia melaju dan menerkam Dhanu, dan mereka pun berguling-guling di lantai rumput. Dhanu mencoba mendaratkan tusukan keris di kaki kanan Satria, tetapi tekanan udara berat kembali menyergapnya, seketika keris itu terlempar dan menancap jauh di sudut pelataran candi.


            Dalam sekejap, Satria mengigit lengan kanan Dhanu dan mencabiknya sampai tangan itu putus. Tanpa memikirkan apa pun, dia mengibaskan cakarnya ke wajah dan tubuh Dhanu secara bergantian membentuk bayang-bayang silang merah. Serangan itu terjadi terus menerus dan tidak berhenti, membuat tubuh Dhanu hancur.


            “Sudah cukup.” Suara itu berbisik di hadapannya.


            Satria hampir terlonjak dan dia melolong kepada suara di hadapannya.


            “Sudah cukup, Satria,” Purnapana berkata rendah, ada kepedihan yang mendalam dalam suaranya.


            Satria mengernyit dan menarik diri dari mayat Dhanu. Dia membuka mulut dan mengeram, kemudian mengendus-mengendus udara dengan liar seakan mencoba melacak musuh di sekitarnya.


            “Satria! Sudah cukup!”


            Satria tersentak, dia kembali mengeram memandang Purnapana.


            “Adik kecil, kau harus berhenti,” sahut Hasya menyusul di belakang, nampak di sebelahnya Syam yang berjalan mengerang tergopoh-gopoh.


            “Aku paham, aku mengerti kesedihanmu, aku paham rasa itu, seperti sewaktu aku melihat kembali masa-masa kegagalanku dulu. Tapi, aku tidak akan membiarkan kegagalan itu datang untuk kedua kalinya.” Dengan tongkat kayu ulinnya, dia berjalan perlahan mendekati Satria. Satria mengeram, tetapi tubuhnya lebih tenang. Chana mendesis di atas bahu Purnapana.


            “Guru,” sahut Harsya.


            Purnapana mengangkat tangannya, dan terus berjalan.


            “Aku sangat terpukul, hatiku seperti teriris. Sekali lagi aku melihat kebencian telah menutupi hatimu dan tekadmu, tapi aku mengerti Satria dan hanya aku yang paling mengerti hatimu,” Purnapana menunduk, suaranya serak dan pelan, sekejap air matanya menetes. “Tapi kekuatan itu ada untuk melindungi mereka yang hidup, melindungi mereka yang lemah. Ibu asuhmu telah pergi seperti para kaum-kaumku, seperti para pejuang-pejuang di masa lalu, tapi kita masih ada. Berjuang untuk mereka yang mengorbankan nyawanya untuk kita.”


            Purnapana semakin dekat dengan Satria, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti, dengan tangan panjang berkeriput, Purnapana membelai pipi Satria. Satria mengendus-ngendus ke arah Purnapana, air mata itu keluar dari pendar mata emasnya, seperti butir-butir mutiara. Sementara Chana mengendus wajah Satria, menjilati air mata yang menetes dari mata pendar Satria.


            “Jangan biarkan kekuatan itu menguasaimu, mematikan dirimu seperti kekuatan dewa yang mematikan hati Mahardhika. Tapi buat kekuatan itu menjadi tekadmu untuk mereka,” Purnapana memutar tubuhnya, membuat Satria memandang ke penjuru pelataran. Budak-budak memandangnya dengan cemas, lemah tidak berdaya, banyak diantaranya tertegun, berjalan pincang, timbul rasa ketertarikan dari sorot mata mereka.


            Matahari mulai terbenam ketika Satria mundur menyesal, dia mengendus-ngendus lagi dan melolong, kali ini suaranya lebih rendah. Uap kabut hitam keluar dari rambut peraknya, dalam hitungan menit tubuhnya kembali ke bentuk semula. Kemudian Satria tersadar di mana dirinya berada, dan kengerian situasi ini membuatnya terguncang. Dia melemparkan diri ke tanah dan terbaring meringkuk. Ratusan mata memandangnya, dengan rasa keingintahuan memenuhi benak budak-budak itu, mereka mencoba mendekat.


            Hanya kematian yang dapat membayar kebebasan.


            Tanpa suara, budak-budak barisan depan jatuh berlutut. Orang tua ataupun paruh baya, kurus ataupun tidak berdaya, kemudian yang lainnya menyusul, mereka berlutut dan bersujud.


            “Dewa pembalas.”


            “Dewa pembalas.”


            “Dewa kebebasan.”


            Sewaktu Purnapana membantu Satria berdiri, suara budak-budak terus menggema di pelataran bagai tabur gendang, meneriakan senandung yang sama. Di bawah berkas langit senja, Satria menatap mata para budak untuk tahu bahwa mereka adalah pengikutnya sekarang.  Untuk pertama kalinya selama lima belas tahun, Candi Condok menjadi saksi, bersamaan dengan senandung kebangkitan sang legenda masa lampau.


 


***

__ADS_1


__ADS_2